[ Kamis, 02 Juli 2009 ]
SURABAYA - Keluhan demi keluhan dari wali murid yang repot mengurus anaknya mencari sekolah terus terjadi. Bukan lantaran website penerimaan siswa baru (PSB) online-paperless reguler tak bisa diakses. Sebab, website tersebut berjalan lancar pada hari pertama PSB kemarin (1/7). Namun, orang tua bingung mendaftar.
Sebagian orang merasa salah mendaftar. Sebagian lagi merasa salah memilih jurusan di SMK. Orang-orang itu ingin mengganti pilihan, sehingga mereka berbondong-bondong ke Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya, Jalan Jagir Wonokromo.
Salah seorang di antaranya adalah Sudarmi. Wanita asal Pogot Kenjeran tersebut mendatangi Dispendik untuk mengubah jurusan sekolah. Dia menceritakan, anaknya, Agung Purnomo, lulus dari SMP YP 17 dan ingin mendaftar di SMKN 7.
Nah, kata Sudarmi, yang mendaftarkan adalah kakak Agung. Agung ingin pilihan pertama jurusan teknik mekanik otomotif. Pilihan kedua jurusan teknik permesinan. Namun, pilihan kakaknya terbalik. Pilihan pertama jadi kedua, yang kedua jadi pilihan pertama.
''Ini sekarang anaknya ngambek dan tidak mau sekolah jika masuk teknik permesinan. Lalu, saya harus bagaimana kalau tidak boleh mengganti?'' ujar Sudarmi sesenggukan di Dispendik kemarin.
Orang-orang yang komplain seperti itu bukan satu atau dua. Jumlahnya puluhan. Rata-rata mereka mengaku bahwa yang mendaftar bukan diri sendiri atau anaknya langsung. Misalnya, kakak si anak atau ibunya tanpa konsultasi.
Menurut petugas PSB di Dispendik, pengakuan sebagian orang malah berbeda. Katanya, komputernya bisa ''jalan sendiri''. Karena itu, mau mengeklik B, yang muncul malah A.
Ditengarai, sebagian orang memanipulasi data. Mereka membuat semacam printout bukti pendaftaran PSB rekomendasi. Lalu, mereka mengaku sudah mendaftar, tapi namanya tidak terdapat di website, sehingga tidak mendapatkan personal identification number (PIN).
Ketika dicek di database pusat, nama anak mereka memang tidak ada sama sekali. Setelah ditanya berkali-kali, akhirnya orang tua tersebut mengaku bahwa dirinya membuat sendiri lembar tersebut untuk memasukkan anaknya di sekolah Surabaya.
Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Kejuruan (Kabid Dikmenjur) Dispendik Ruddy Winarko menjelaskan, tiap tahun masalah-masalah seperti itu selalu ada. Untungnya, karena menggunakan sistem online, sekarang orang tua tidak bisa lagi memanipulasi data. Sebab, semua orang yang telah mendaftar tentu tercatat dalam data base di pusat.
Untuk orang tua yang komplain karena salah memilih jurusan, Ruddy menegaskan bahwa sudah ada kesepakatan sejak awal. Yaitu, ketika sudah mendaftar dan mencetak bukti pendaftaran, jurusan atau pilihan lain tidak bisa diganti.
Karena itu, pihaknya sudah berusaha mengantisipasi. Ketika pendaftar telah selesai mengisi, akan ada tulisan daftar atau ubah. Pada tahap itu, pendaftar berkesempatan mengecek pilihan sekolahnya. Setelah itu, ketika daftar diklik, masih ada pertanyaan, ''Apakah Anda yakin ingin mendaftar'' sampai dua kali.
''Kalau mengeklik ya, terus berarti kan sudah yakin pada pilihannya. Lalu, bagaimana bisa keliru?'' ujar mantan kepala SMKN 1 tersebut.
Pada PSB tahun lalu, ketika masih menggunakan kertas dan datang ke sekolah, sebagian pendaftar mengaku dipaksa menentukan pilihan oleh panitia. Sekarang, pendaftar menyalahkan sistem website atau mengaku didaftarkan orang lain.
''Lha kalau semua kami layani dan kami gantikan pilihannya, kan bisa kacau,'' tegas Ruddy. ''Mereka itu mulai komplain semua karena saat ini saja sudah ada ribuan pendaftar yang terlempar dan tidak diterima di negeri,'' ungkapnya.
Ruddy menyarankan agar pendaftar berpikir dulu sebelum menentukan pilihan. Ada baiknya melihat ranking terbaru sekolah yang akan dituju. Kalau toh akhirnya terlempar dari pilihan pertama dan kedua, dia meminta orang tua berbesar hati.
''Kan sekarang juga banyak sekolah swasta yang bagus dan pemerintah kota memberikan perhatian yang sama kepada sekolah swasta,'' ujarnya.
Pelaksanaan PSB online berlangsung lancar. Itu sesuai prediksi Dispendik beberapa waktu lalu. Satu-satunya trouble dalam sistem website PSB online terjadi pukul 09.30. Itu pun hanya sesaat. Yaitu, halaman pe-ranking-an tidak bisa diakses karena perbaikan data.
''Pada dasarnya, memang tidak ada masalah dengan sistem. Semua telah dipersiapkan. Masalah kekacauan saat pendaftaran RSBI muncul karena tidak punya database, bukan masalah sistem,'' tegasnya.
Banyak wali murid yang datang ke sekolah hanya bertanya, tapi tidak mendaftar. Eni Setyaningrum, misalnya. Dia mengantarkan anaknya, Fany Widya Kusumaningrum, ke SMKN 1. Sebenarnya, dia telah mendaftar di PSB online. Dia ke SMKN 1 hanya untuk memastikan apakah pendaftarannya benar.
Hal serupa terjadi di mal-mal yang menyediakan jasa pelayanan PSB online. Orang tua mampir ke stan PSB online untuk mengecek saja. Salah satunya adalah di Plaza Marina. Di tempat tersebut, para orang tua hanya bertanya proses mendaftar dan mengecek hasil pendaftaran. Memang ada satu dua yang mendaftar.
Menurut Stevanus Hadianto, guru SMK 11 Surabaya yang juga penjaga PSB online di Telkom Kafe Plaza Marina, kebanyakan mereka kurang yakin dengan PSB online, walaupun mereka sudah mendapatkan bukti pendaftaran.
Hal itu dibenarkan oleh Ismarianto, salah seorang wali siswa yang kemarin (1/7) datang ke tempat tersebut. Rian menyatakan kurang yakin dengan bukti pendaftaran karena di surat tersebut tidak ada stempel atau tanda yang bisa memperkuat bukti pendaftaran. ''Setiap warnet bisa saja membuat bukti seperti itu atau mengada-ada sendiri," jelasnya.
Dia baru yakin setelah melihat sendiri nama anaknya di website PSB online. Anaknya sudah tercantum di pendaftaran SMA Negeri 17. "Kalau sudah masuk, kan lega saya," ujar pria yang tinggal di Jetis Wetan itu ketika dikonfirmasi Jawa Pos. (sha/lum/dos)
http://www.jawapos.com/

Post a Comment