Jum'at, 26 Juni 2009 | 23:11 WIB
TEMPO Interaktif, Beijing - Bank sentral Cina, People's Bank of China, kembali mengungkapkan keinginannya untuk mengganti cadangan devisanya dari dolar Amerika Serikat. Bank tersebut mengatakan sebuah mata uang super-sovereign akan menjadi penggantinya.
Pemimpin bank sentral Cina Zhou Xiaochuan telah berulang kali mengimbau agar dolar AS diganti sebagai cadangan devisa setiap negara di dunia selama krisis keuangan global melanda negeri Paman Sam. Imbauan senada disampaikan Bank sentral Cina ke Dana Moneter Internasional (IMF).
"Sebuah sistem moneter internasional yang didominasi oleh satu mata uang (dolar) telah meningkatkan intensitas resiko dan menyebarkan krisis," demikian laporan tertulis bank sentral Cina, Jumat (26/6).
Laporan tersebut memicu pergerakan nilai dolar AS turun 1 persen terhadap euro menjadi US$ 1,4088 dan terhadap poundsterling ke level US$ 1,6848.
Presiden Rusia Dmitry Medvedev beberapa waktu lalu mendukung niat Cina. Medvedev mengatakan tiba saatnya untuk mempertimbankan patokan mata uang alternatif untuk utang internasional. Namun, Menteri Keuangan Rusia Alexei Kudrin menyatakan, "Sekarang terlalu dini untuk berbicara sebuah alternatif."
Maret lalu, Gubernur BI Boediono mengungkapkan, Cina transaksi di Hong Kong dan Makau telah mulai menggunakan RMB (renminbi). Provinsi Guang Zhi dan Yunan juga sudah boleh digunakan RMB untuk penyelesaian transaksi dengan negara-negara ASEAN.
BBC | SORTA TOBING
http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2009/06/26/brk,20090626-184051,id.html

Post a Comment