04/11/2009 - 09:20
Liana Garcia
INILAH.COM, Auckland - Siapa yang tak menyukai es krim? Anak-anak maupun orang dewasa menyukai jenis makanan yang satu ini. Makanan yang dianggap penyebab obesitas atau kegemukan ini sedang dikembangkan untuk dijadikan resep mengobati kanker.
Beberapa peneliti ilmuwan dari Universitas Auckland di Selandia Baru, bekerjasama dengan perusahaan susu terbesar Fonterra, saat ini sedang melakukan penelitian dan menciptakan sebuah obat pencuci mulut yang dapat memerangi efek samping dari kemoterapi pada penderita kanker.
Es krim yang diberi nama Recharge, ini menggunakan bahan-bahan aktif dari produk susu untuk mengurangi diare, anemia dan kurangnya nafsu makan pada orang-orang yang sedang menjalani kemoterapi.
Selain menemukan manfaat susu untuk penyembuhan pasien kanker, peneliti juga mendapatkan fakta jika susu yang terdapat dalam es krim diyakini dapat memulihkan kondisi kesehatan pasien kanker dengan cepat. Penelitian es krim ini terbagi atas dua uji klinis yang berfungsi untuk mengurangi berat badan dan memperbaiki sistim imun tubuh setelah kemoterapi.
Dari beberapa penelitian yang dilakukan, boleh dibilang, penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mengidentifiklasi sejumlah lemak susu dan protein susu dapat melindungi dari efek samping pemakaian obat kanker, dan bermanfaat untuk pemulihan kesehatan pasien.
"Kedua komponen bio aktif susu dikembangkan untuk diisi ulang dan memiliki potensi unik untuk membantu tubuh dalam mengatasi efek samping dari kemoterapi," ujar Jeremy Hill, Kepala Kantor Teknologi Fonterra, seperti dilansir dari Telegraph,
Lembaga penelitian kanker di Selandia Baru telah melakukan penelitian terhadap 10 pasien kanker yang bersedia menjadi sukarelawan atas penelitian ini. Peserta diberikan 100 gram es krim rasa stroberi setiap hari. Rasa stroberi dijadikan pilihan, karena merupakan rasa yang digemari banyak orang.
LactoPharma, mitra antara Fonterra dan Universitas menunjukkan dampak komponen susu bagi kesehatan. Mereka bersama-sama menginvestasikan $2 juta AS atau sekitar Rp 20 miliar untuk mengembangkan es krim tersebut.
Es krim itu sendiri saat ini sedang diuji ulang dan dilakukan penelitian di pusat onkologi di daerah Whangarei, Auckland, Waikato, Palmerston North, Wellington, Christchurch, Dunedin dan Invercargill.
http://www.inilah.com/berita/gaya-hidup/2009/11/04/176435/es-krim-mampu-atasi-kanker/

Post a Comment