Selasa, 07 Juli 2009 | 15:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Orang tua membantu anak melakukan sesuatu – seperti mencuci tangan sebelum makan – biasanya dianggap hal yang lumrah terjadi. Tapi tindakan ini justru akan kontraproduktif jika si anak mengidap kelainan perilaku obsesif kompulsif (OCD), kata peneliti dari University of Florida.
Membantu anak-anak pengidap OCD untuk menyempurnakan ritual yang berkaitan dengan kondisi mereka itu ternyata justru meningkatkan keinginan anak untuk mengulangi perilaku obsesif mereka itu.
“Orang tua sering melakukan hal itu, karena biasanya itulah yang dilakukan orang tua,” kata Lisa Merlo, peneliti dan asisten profesor psikiatri. “ Seperti jika anak sedih, Anda tentu akan mencoba untuk menenangkan mereka. Tapi apa yang kami temukan, untuk pengidap OCD, jika mereka dibantu justru malah mendorong kelainan ini.”
“Tindakan membantu ini malah seperti memberi pembenaran pada tindakan OCD di pikiran anak,” kata Merlo. Temuan itu akan dipublikasikan di edisi terbaru Journal of Consulting and Clinical Psychology, berdasarkan analisa terhadap 49 anak dengan OCD berusia 6-18 tahun.
Para peneliti menemukan, anak-anak dengan tingkat OCD parah, justru berasal dari keluarga yang sangat mengakomodasi perilaku anak. “Jika Anda berpikir bantuan orangtua akan membuat anak merasa lebih baik, yang terjadi justru sebaliknya. Ibarat bola salju kondisi anak akan semakin dan semakin buruk,” kata Merlo.
Namun para peneliti yakin apakah bantuan keluarga membuat kelainan ini jadi semakin buruk atau sebaliknya justru bantuan yang terus menerus diberikan adalah respon terhadap kondisi anak yang semakin memburuk.
Setelah analisis, anggota keluarga pasien mengikuti 14 sesi latihan terapi perilaku-kognitif, untuk mengajari anak OCD menghadapi ketakutan mereka dengan menggunakan metode alternatif untuk menghadapi anak OCD. Para orang tua dilatih bagaimana seharusnya mereka merespon ketika perilaku OCD mereka muncul.
Setelah latihan, para peneliti mengamati ada penurunan signigfikan seringnya keluarga membantu anak ketika perilaku dan ritual OCD-nya muncul. Anak-anak dengan dengan skor keluarga paling tinggi penurunannya dalam membantu anak, juga mengalami perbaikan kondisi paling tinggi dalam gejala OCD mereka.
Jonathan Abramowitz, profesor dan salah satu pimpinan Fakultas Psikologi University of North Carolina di Chapel Hill, mencatat bahwa dorongan tak sengaja pada pengidap OCD ini pernah dilaporkan secara tak resmi dalam konteks hubungan dua orang dewasa. “Dalam usaha untuk menolong pasangan hidup yang mengidap OCD, biasanya akan berakhir dengan semakin memburuknya masalah yang dihadapi.”
HEALTH DAY NEWS
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/07/07/brk,20090707-185680,id.html

Post a Comment