Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Jangan Lupa Pendidikan

Labels:
2009-07-01 18:33:18

Peringatan yang disampaikan tokoh pendidikan Prof Arief Rachman pantas untuk menjadi perhatian kita bersama. Di tengah hiruk-pikuk memperebutkan kekuasaan, kita tidak boleh lupa masalah pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu tema yang dibahas dalam debat calon wakil presiden kemarin. Persoalan ini merupakan isu yang paling krusial yang sepantasnya juga dipakai untuk menguji para calon presiden. Mengapa? Karena pendidikan berkaitan dengan kualitas manusia Indonesia di masa mendatang.

Postur Indonesia masa depan tidak ditentukan nanti, tetapi merupakan hasil investasi yang dilakukan mulai dari sekarang. Visi untuk masalah yang satu ini tidak bisa sekadar dibicarakan secara sepintas dan dalam tataran yang normatif. Tetapi harus jelas manusia Indonesia seperti apa yang akan kita bentuk untuk 25 tahun mendatang, satu generasi yang akan datang.

Kalau kita mengangkat isu ini bukan untuk memojokkan mereka yang sedang memegang tampuk kekuasaan. Tetapi sebuah kenyataan yang harus kita terima bersama bahwa kualitas manusia kita berjalan tanpa arah. Dan kalau kita terus biarkan sistem itu berjalan seperti sekarang, maka semakin tidak jelas Indonesia seperti apa yang akan kita ciptakan.

Penjelasan Prof Arief Rachman pantas untuk dijadikan acuan. Menurut dia, pendidikan bukan hanya dilakukan untuk menghasilkan orang yang pintar. Lebih dari itu pendidikan harus dipakai untuk melahirkan orang yang berakhlak mulia dan beradab. Undang-Undang Pendidikan secara tegas juga menyatakan hal itu. Bahwa pendidikan yang kita lakukan dimaksudkan untuk menghasilkan anak-anak yang pintar, jujur, dan berhati mulia.

Namun dalam praktiknya, pendidikan kita hanya mengarahkan untuk menghasilkan anak-anak yang pintar. Bahkan lebih jauh pendidikan hanya ditujukan untuk mereka yang kaya, sehingga akibatnya kelompok anak-anak yang tidak kaya dan kurang pintar tidak mendapatkan perhatian dan penanganan. Padahal jumlah kelompok anak-anak yang tidak kaya dan kurang pintar sangatlah besar. Apabila sistem pendidikan kita tidak dibenahi, maka yang terjadi akan banyak kelompok orang yang tidak produktif dan mereka akan menjadi beban bagi bangsa ini.

Ironis ketika kita berbicara masalah pendidikan, maka inti persoalan lebih terfokus kepada besaran anggaran. Kita terjebak seakan-akan apabila sudah menyisihkan 20 persen anggaran untuk pendidikan, kita sudah berhasil melakukan pendidikan bangsa. Teringat peringatan yang disampaikan kolomnis International Herald Tribune,
Thomas Friedman kepada Presiden AS Terpilih Barack Obama tentang pentingnya Amerika untuk lebih memperhatikan pendidikan anak-anak muda.

Friedman mengingatkan, "We can bail-out bank, but we can not bail-out generation", kita bisa menyelamatkan bank, tetapi kita tidak bisa menyelamatkan generasi. Ia tambahkan, "We can print money, but we can not print knowledge", kita bisa mencetak uang, tetapi kita tidak bisa mencetak ilmu pengetahuan.

Amerika pantas berkonsentrasi untuk membenahi kembali sistem pendidikan mereka karena di masa mendatang persaingan antarnegara lebih tertumpu kepada persaingan antarmanusianya. Bangsa Amerika sadar apabila anak-anak muda mereka mulai dikejar dan disaingi anak-anak China dan India.

Kita seringkali tidak sadar bahwa keadaan sudah berubah dan kita mulai ketinggalan bahkan dari negara-negara tertangga. Kita lebih senang mengagung-agungkan masa lalu (glorifying the past), padahal kita sudah tertinggal. Lihat saja anak-anak Malaysia yang tahun 1970-an berlomba-lomba menimba ilmu di sini, sekarang justru anak-anak Indonesia yang menimba ilmu di sana.

Pembangunan manusia Indonesia tidak boleh hanya dibatasi pada persoalan anggaran semata. Yang jauh lebih penting untuk diperhatikan adalah manusia Indonesia seperti apa yang akan dibentuk dan bagaimana sistem pendidikan yang akan diterapkan. Prof Arief Rachman mengingatkan tiga prinsip yang harus diperhatikan.

Pertama adalah kualitas pendidikan bahwa pendidikan Indonesia bukan hanya menghasilkan anak yang pintar tetapi berbudi luhur dan beradab. Kedua masalah keadilan (equality) bahwa pendidikan itu harus adil, bukan hanya bagi orang yang tidak mampu, tetapi juga memikirkan anak yang kurang pintar agar mereka tidak
menjadi beban bagi bangsanya. Ketiga, pendidikan harus dilakukan secara efisien artinya anggaran yang tersedia harus dipakai untuk meningkatkan mutu anak-anak Indonesia bukan untuk hal lainnya.

Kita tidak bisa membiarkan masalah ini tidak segera dipecahkan. Bahkan itu harus dimulai sejak sekarang ketika kita sedang memilih pemimpin bangsa agar jelas arah ke depan bangsa dan negara ini. Kita tentunya tidak ingin menjadi bangsa pariah di antara bangsa-bangsa yang lain, tetapi ingin menjadi bangsa besar yang dihormati. Itu tidak bisa terjadi dengan sendiri, tetapi harus diraih dengan kemauan dan kesungguhan serta kerja keras dari kita semua.(suryopratomo@metrotvnews.com)

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/tajuk/6/1/7/2009/Jangan-Lupa-Pendidikan
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts