Rabu, 8 Juli 2009 | 04:44 WIB
Jakarta, Kompas - Pendidikan selama puluhan tahun dikerdilkan hanya menjadi persekolahan dan jauh dari nilai-nilai sehingga akhirnya kurang bermakna.
Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk ”Mencari Profil Sosok Ideal Menteri Pendidikan” yang diselenggarakan Education Forum, Selasa (7/7). Salah satu pembicara, yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dari 1978 sampai 1983, Daoed Joesoef, mengatakan, sistem pendidikan nasional semakin jauh dari cita-cita para pendiri bangsa.
”Pendidikan dijalankan dengan konsep persekolahan dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan. Lebih celaka lagi, materi yang sudah dikuasai, antara lain dibuktikan dengan lulus ujian itu, dianggap sebagai pengetahuan. Agar anak-anak mempunyai pengetahuan yang banyak, mereka dijejali dengan berbagai materi pelajaran sehingga terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan tingkat pertumbuhan kognitif anak,” kata Daoed Joesoef.
Pokok lain dari pendidikan ialah nilai-nilai. Selain itu, Daoed berpandangan, pendidikan harus visioner karena menyiapkan anak membentuk masa depan di tengah lingkungan yang terus berubah. Dengan demikian, individu tidak terbawa oleh arus informasi begitu saja. Pemikiran-pemikiran pendidikan tersebut berupaya diterapkannya ketika menjabat, tetapi belum dapat diterima dalam praktiknya saat itu.
Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, HAR Tilaar, mengatakan bahwa pengembangan kebudayaan dan manusia Indonesia yang berbudaya tidak bisa lepas dari pendidikan. Oleh karena itu, seorang menteri pendidikan haruslah seorang nasionalis dan punya visi kebangsaan. ”Jabatan menteri pendidikan tidak bisa diberikan kepada siapa saja, tetapi harus orang yang paham pendidikan, visioner, dan bukan tipe birokrat,” ujarnya. (INE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/08/04443295/pendidikan.dikerdilkan.jadi.persekolahan

Post a Comment