Wednesday, 04 November 2009 06:10
MEDAN - Sejumlah warga di berbagai kelurahan di kota Medan mengeluhkan kutipan uang dalam program konversi minyak tanah ke elpiji dengan dalih petugas untuk biaya operasional.
"Apa yang gratis. Kami disuruh bayar paling murah Rp5.000 per orang," kata sejumlah warga kelurahan Amplas di Medan, tadi malam.
Menurut warga yang enggan disebut identitasnya itu, kalau tidak dibayar, penerimaan paket perdana elpiji itu dipersulit bahkan terancam tidak diberi. Petugas kelurahan yang melakukan pengutipan mengaku uang itu untuk biaya operasional. Keluhan serupa juga disampaikan warga Perumnas Helvetia.
"Katanya sih pemberian seikhlas hati, tapi nyatanya petugas pembagi tak mau pemberian di bawah Rp5.000 per orang," kata warga yang mengaku pedagang di Pasar Sei Sikambing Medan.
Anehnya, kata warga yang juga tidak mau disebutkan identitasnya itu, petugas pembagi bukan dari kelurahan sehingga dikhawatirkan pembagian paket perdana elpiji itu tidak tepat sasaran.
Asistant customer relation PT Pertamina Region I, Rustam Aji, yang dihubungi menegaskan, pembagian paket perdana elpiji itu benar-benar gratis.
"Masyarakat diminta melaporkan tentunya dengan bukti akurat, pemerintah dan Pertamina pasti akan memberi tindakan tegas," katanya.
Kalau yang melakukan pungutan dari pihak kelurahan, maka warga diminta melapor ke Pemko Medan karena yang akan menindak adalah Pemko/Pemkab.
Sedangkan kalau pihak konsultan yang mengutip, maka Pertamina yang akan menjatuhkan sanksi.
Disebutkan, program konversi di Medan dinilai sukses, dan dari penerimaan yang ditargetkan sebanyak 323.221 kepala keluarga (KK) yang sudah dicacah sebanyak 263.957 KK.
"Sedangkan yang didistribusikan mencapai 162.952 KK dan sisanya diharapkan bisa selesai dalam tahun ini juga," katanya.
Pemerintah berharap agar program konversi di berbagai daerah bisa diselesaikan lebih cepat dan sukses.
(dat02/ann)
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=63907:warga-medan-keluhkan-kutipan-untuk-konversi-elpiji&catid=77:fokusutama&Itemid=131

Post a Comment