Sekarang ini di pasar pasar swalayan maupun beberapa outlet eceran di area tertentu ada menyediakan sayur atau makanan dengan label yg menarik dan dipajang dengan cantik "Organic Food" kadang ditambahkan kata kata slogan yg bernada "Hjiau". Dan sudah barang tentu yang penting sekali, eh, ente mesti bayar premium kalau mau makan yang "organik".
Slogan ini banyak diusung oleh perusahaan kecil maupun yang besar. Entah trend atau fashion saya kurang tahu, tapi yang penting ujung ujungnya agar cash register krincingan dengan kencang menampung laba. Bahkan Supercar Race V8 di Hamilton New Zealand pun mengusung sebuah subsite "Greening the Supercar" utk balapan bulan April mendatang di jalan raya kota ini.
Sebenarnya baik bahwa kita bisa menkonsumsi makanan yang tidak ditanam atau dibesarkan dng pupuk, herbisida, pestisida, insektisida berbasis bahan kimia.
Karena kita tidak pernah tahu berapa banyak kandungan bahan kimia yang disebar di pertanian.Itu bisa karena kekurangan pengetahuan di kalangan petani, maupun disengaja untuk mendapatkan yield (hasil) panen yang lebih banyak. Memang resiko berbisnis agro ini tinggi taruhannya.
Bahkan di Amerika dan Inggris pernah ada kejadian yang mencengangkan untuk kita. Sapi sapi diberi antibiotika dng dosis berlebihan agar sehat terus. Residu Antibiotika ini kelak akan diturunkan ke kita yang mengkonsumsi daging daging tersebut. Jadi soal pelanggaran aturan bukan monopoli negeri kita saja.
Dipikir lagi, asal muasal pupuk, insektisida (melawan hama serangga), herbisida, dan sida sida lainnya adalah agar hasil pertanian bisa mencukupi untuk menghidupi rakyat banyak. Jadi tujuannya baik. Hanya dalam proses, kemudian terjadi banyak perkembangan yang tidak begitu sehat lagi utk kebanyakan konsumen spt disebutkan di atas. Peningkatan rendemen (yield) per hektar misalnya, menjadi tolok ukur dibanyak statistika, penting untuk tingkat prestasi pejabat juga. Sragen hasil padi per hektar 10 ton, weleh weleh, kalah dong sampiyan ama Cianjur yang 12 ton dsb.
Akan pertanian organik, kita tahu bahwa hasilnya dengan diberi pupuk alami (kalau iya masih gampang didapatkan, wong pupuk kimia aja suka kosong stoknya), kemudian tanpa dikasih sida sida apakah akan memberi rendemen sebesar pertanian an-organik? Rasanya jawabannya masih tidak. Lantas kalau pemasaran dng slogan diatas tadi yang ijo ijo royo royo itu berhasil, artinya permintaan akan hasil pertanian peternakan organik akan meningkat secara drastis. Semua orang mau makan yang organik. Lalu siapa yang akan memenuhi permintaan tersebut? Bagaimana caranya?
Selama ada permintaan tentu akan ada penawaran. Sisi penawaran akan mencoba meningkatkan supaya gemerincing doku itu terus berjalan. Caranya ya tingkatkan hasil. Bagaimana caranya? Kalau mereka etis dan moralnya tinggi, urat malunya masih gede gede, tentu akan memperluas lahan. Secara nasional (ga usah kita pikirin yang global dulu), berarti akan ada permintaan perluasan lahan. Kemana itu dicarikan? Salah satu nya tentu hutan hutan primer yang masih katanya prawan ting ting.
Seperti yang terjadi dengan perluasan lahan kebon kelapa sawit, atau eksplorasi pertambangan, kelak pertanian akan berebut meminta lahan lebih banyak.
Jadi, menjadi hijau royo royo dalam soal asupan makanan juga bikin pusing ya.
Mungkin paling baik seperti dilakukan oleh kawan saya di Selandia Baru itu. Rumahnya seperti kebanyakan kita masih suka tinggal di bumi bukan di pencakar langit. Dan ia menyediakan sekitar 30m2 dikebunnya utk menanam sendiri berbagai sayuran. Satu jenis cuman ditanam 2 - 3 pohon, kemudian setiap dia mau makan salad ya dia petik sendiri. Kalau berlebih ia berbagi pada aa, teteh, uwak, opung, paklik, ponakan dan tetangga. Emang susah untuk soal daging, tapi mudah buat dia karena ia vegetarian. Intinya barangkali, hidup lebih seimbang, tidak berlebihan.
Tentang GMO (Genetically Modified Organism) yang ramai hiruk pikuk di demo dll, saya sih berpikir sebenarnya kita sudah melakukan cukup banyak pemuliaan tanaman yang merubah wujud dan fisik asli tanaman. Caranya memang dulu sederhana, dengan persilangan bibit dll. Tapi itu intinya tetap untuk mendapatkan bibit yang lebih baik, lebih sempurna, lebih menghasilkan, lebih ini lebih itu...
Jadi GMO mungkin juga membawa jawaban terhadap tantangan populasi dunia ini yang dalam 12 tahun (2020) mendatang akan ada dikisaran 7.5 ~ 8 milyar orang (dari sekitar 6,658,232,097 hari ini).
Kontroversi GMO, Organic Food ini ramai seperti barangkali dulu kasus minyak kelapa diburuk burukan oleh pemasaran minyak kedele, minyak kacang oleh sekelompok pemasaran di Barat sana. Selalu ada kelompok termotivasi yang ingin membela kepentingan masing masing baik itu finansial maupun keunggulan kompetitif.
Jadi sebelum panik dan memutuskan sesuatu tindakan, baca dulu dan ditimbang baik baik mana yang memang baik untuk konsumsi kita, jangan lupa pelajari kearifan lokal kita, warisan pengamatan nenek moyang kita kadang kadang kita lupakan dan terbutakan oleh eforia media media.
Nantikan terus kisah bersambung soal pertarungan .... "Being Green" itu apa akhirnya yang betul. Sementara kita tentu patut menjaga diri dengan baik agar hidup sehat, ingat sakit itu barang mewah di Indonesia ini. Asupan asupan, pola hidup, itu patut kita jaga agar baik badan maupun jiwa, batin, pikiran kita sehat adanya.
By: Teddy Halim
Source: Media Konsumen, 2 April 2008
Slogan ini banyak diusung oleh perusahaan kecil maupun yang besar. Entah trend atau fashion saya kurang tahu, tapi yang penting ujung ujungnya agar cash register krincingan dengan kencang menampung laba. Bahkan Supercar Race V8 di Hamilton New Zealand pun mengusung sebuah subsite "Greening the Supercar" utk balapan bulan April mendatang di jalan raya kota ini.
Sebenarnya baik bahwa kita bisa menkonsumsi makanan yang tidak ditanam atau dibesarkan dng pupuk, herbisida, pestisida, insektisida berbasis bahan kimia.
Karena kita tidak pernah tahu berapa banyak kandungan bahan kimia yang disebar di pertanian.Itu bisa karena kekurangan pengetahuan di kalangan petani, maupun disengaja untuk mendapatkan yield (hasil) panen yang lebih banyak. Memang resiko berbisnis agro ini tinggi taruhannya.
Bahkan di Amerika dan Inggris pernah ada kejadian yang mencengangkan untuk kita. Sapi sapi diberi antibiotika dng dosis berlebihan agar sehat terus. Residu Antibiotika ini kelak akan diturunkan ke kita yang mengkonsumsi daging daging tersebut. Jadi soal pelanggaran aturan bukan monopoli negeri kita saja.
Dipikir lagi, asal muasal pupuk, insektisida (melawan hama serangga), herbisida, dan sida sida lainnya adalah agar hasil pertanian bisa mencukupi untuk menghidupi rakyat banyak. Jadi tujuannya baik. Hanya dalam proses, kemudian terjadi banyak perkembangan yang tidak begitu sehat lagi utk kebanyakan konsumen spt disebutkan di atas. Peningkatan rendemen (yield) per hektar misalnya, menjadi tolok ukur dibanyak statistika, penting untuk tingkat prestasi pejabat juga. Sragen hasil padi per hektar 10 ton, weleh weleh, kalah dong sampiyan ama Cianjur yang 12 ton dsb.
Akan pertanian organik, kita tahu bahwa hasilnya dengan diberi pupuk alami (kalau iya masih gampang didapatkan, wong pupuk kimia aja suka kosong stoknya), kemudian tanpa dikasih sida sida apakah akan memberi rendemen sebesar pertanian an-organik? Rasanya jawabannya masih tidak. Lantas kalau pemasaran dng slogan diatas tadi yang ijo ijo royo royo itu berhasil, artinya permintaan akan hasil pertanian peternakan organik akan meningkat secara drastis. Semua orang mau makan yang organik. Lalu siapa yang akan memenuhi permintaan tersebut? Bagaimana caranya?
Selama ada permintaan tentu akan ada penawaran. Sisi penawaran akan mencoba meningkatkan supaya gemerincing doku itu terus berjalan. Caranya ya tingkatkan hasil. Bagaimana caranya? Kalau mereka etis dan moralnya tinggi, urat malunya masih gede gede, tentu akan memperluas lahan. Secara nasional (ga usah kita pikirin yang global dulu), berarti akan ada permintaan perluasan lahan. Kemana itu dicarikan? Salah satu nya tentu hutan hutan primer yang masih katanya prawan ting ting.
Seperti yang terjadi dengan perluasan lahan kebon kelapa sawit, atau eksplorasi pertambangan, kelak pertanian akan berebut meminta lahan lebih banyak.
Jadi, menjadi hijau royo royo dalam soal asupan makanan juga bikin pusing ya.
Mungkin paling baik seperti dilakukan oleh kawan saya di Selandia Baru itu. Rumahnya seperti kebanyakan kita masih suka tinggal di bumi bukan di pencakar langit. Dan ia menyediakan sekitar 30m2 dikebunnya utk menanam sendiri berbagai sayuran. Satu jenis cuman ditanam 2 - 3 pohon, kemudian setiap dia mau makan salad ya dia petik sendiri. Kalau berlebih ia berbagi pada aa, teteh, uwak, opung, paklik, ponakan dan tetangga. Emang susah untuk soal daging, tapi mudah buat dia karena ia vegetarian. Intinya barangkali, hidup lebih seimbang, tidak berlebihan.
Tentang GMO (Genetically Modified Organism) yang ramai hiruk pikuk di demo dll, saya sih berpikir sebenarnya kita sudah melakukan cukup banyak pemuliaan tanaman yang merubah wujud dan fisik asli tanaman. Caranya memang dulu sederhana, dengan persilangan bibit dll. Tapi itu intinya tetap untuk mendapatkan bibit yang lebih baik, lebih sempurna, lebih menghasilkan, lebih ini lebih itu...
Jadi GMO mungkin juga membawa jawaban terhadap tantangan populasi dunia ini yang dalam 12 tahun (2020) mendatang akan ada dikisaran 7.5 ~ 8 milyar orang (dari sekitar 6,658,232,097 hari ini).
Kontroversi GMO, Organic Food ini ramai seperti barangkali dulu kasus minyak kelapa diburuk burukan oleh pemasaran minyak kedele, minyak kacang oleh sekelompok pemasaran di Barat sana. Selalu ada kelompok termotivasi yang ingin membela kepentingan masing masing baik itu finansial maupun keunggulan kompetitif.
Jadi sebelum panik dan memutuskan sesuatu tindakan, baca dulu dan ditimbang baik baik mana yang memang baik untuk konsumsi kita, jangan lupa pelajari kearifan lokal kita, warisan pengamatan nenek moyang kita kadang kadang kita lupakan dan terbutakan oleh eforia media media.
Nantikan terus kisah bersambung soal pertarungan .... "Being Green" itu apa akhirnya yang betul. Sementara kita tentu patut menjaga diri dengan baik agar hidup sehat, ingat sakit itu barang mewah di Indonesia ini. Asupan asupan, pola hidup, itu patut kita jaga agar baik badan maupun jiwa, batin, pikiran kita sehat adanya.
By: Teddy Halim
Source: Media Konsumen, 2 April 2008

Post a Comment