Syekh Yusuf adalah ulama besar yang mewariskan semangat memperdalam ilmu dan kegigihan berdakwah serta berjuang. Lelaki pemberani yang menjalani pembuangan/pemikir dalam sunyi yang mengguratkan tulisan. Demikian penyair Taufiq Ismail menyebut tokoh sejarah dan pahlawan nasional asal Makassar, Syekh Yusuf, dalam puisinya yang berjudul "Tanjung dan Sembilan Burung Camar Tuan Yusuf".
Tak hanya seorang pemikir dengan puluhan buku, Syekh Yusuf, tulis antropolog Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf Seorang Ulama Sufi dan Pejuang, adalah seorang ulama, sufi, dan khalifah tarekat serta pejuang melawan penjajahan Belanda. Perannya tak hanya di Indonesia, tapi juga di negeri pembuangannya, Afrika Selatan. Lahir, hidup, dan matinya berliput legenda dan penuh rahasia. "Beliau adalah pahlawan besar," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika berziarah ke makamnya pada Maret lalu. Bahkan, Nelson Mandela, Bapak Afrika Selatan yang berhasil membebaskan negerinya dari politik apartheid, mengaku terinspirasi oleh perjuangan Syekh Yusuf.
Sosok Syekh Yusuf pulalah yang mempererat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan, yang dikukuhkan oleh Presiden Yudhoyono dan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki menjadi kerjasama bilateral di bidang kebudayaan pada tahun ini. Indonesia, misalnya, menawarkan beasiswa kepada pelajar Afrika Selatan untuk belajar kebudayaan Nusantara. Presiden Yudhoyono juga meminta cendekiawan Indonesia untuk menerjemahkan biografi Syekh Yusuf ke bahasa Inggris agar dapat dipahami warga Afrika.
Sebagai ulama yang banyak melahirkan karya, sedikitnya Yusuf telah menulis 25 judul buku, yang sebagian besar tentang tasawuf. Dia memperoleh pendidikan agama yang mendalam di Timur Tengah dan buku-bukunya berbahasa Arab, Bugis dan Jawa. Penguasaannya terhadap sejumlah bahasa ini karena Yusuf asli Makassar dan merantau ke Banten dan Timur Tengah serta Afrika Selatan. Salah satu buku karyanya adalah Kayfiyyat Al-Tasawwuf. Buku tentang tasawuf ini ditulis atas dorongan Syekh Ibrahim Ibn Mi'an, ulama besar yang dihormati dari India, ketika Yusuf dalam pembuangan di Ceylon, Sri Lanka.
Lelaki kelahiran 3 Juli 1626 di Gowa, Sulawesi Selatan, ini masih mengalir darah bangsawan dari pihak ibu, Sitti Aminah, yang mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan Gowa. Dibesarkan dalam lingkungan kerajaan dan sebuah keluarga Islam yang taat, sejak belia ia sudah belajar agama: mengaji Al-Quran, kitab-kitab fikih, dan tauhid. Pertama kali ia menuntut ilmu agama kepada guru kerajaan, Daeng Ri Tassamang, kemudian berguru kepada Sayyid Ba-lawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Jalaludin Al-Aydit untuk memperdalam bahasa Arab, ilmu fikih, dan tasawuf.
Tak cukup belajar agama di tanah kelahiran, pada usia 18 tahun, Yusuf yang haus ilmu itu berlayar menuju Timur Tengah. Sesuai dengan jalur niaga pada zaman itu, sebagaimana diceritakan oleh Saarah Jappie dari Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah penelitiannya, perjalanan itu melewati Aceh dan Banten, Jawa Barat.
Pada masa itu, Banten merupakan salah satu kerajaan Islam yang terpenting di Pulau Jawa. Dia singgah beberapa lama di Banten dan memperdalam agama Islam di salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa Barat itu. Yusuf juga sempat menjalin persahabatan dengan kerabat kesultanan Banten, Pangeran Surya, yang kemudian menjadi Sultan Ageng Tirtayasa.
Perjalanan dilanjutkan menuju Aceh untuk berguru kepada ulama terpandang Syekh Nuruddin Ar-Raniri hingga ia mendapat ijazah tarekat Qadiriyah. Qadiriyah adalah tarekat (jalan menuju kebenaran) yang menekankan pentingnya syariat dan menentang paham wahdatul wujud (menyatunya hamba dan pencipta).
Setelah sekitar lima tahun menimba ilmu di Aceh, selanjutnya Yusuf menuntut ilmu di pusat-pusat pendidikan Islam Timur Tengah seraya menunaikan ibadah haji di Mekah. Berangkat pada 1649 dengan menempuh pelayaran selama 56 hari, sampailah Yusuf ke Yaman. Di sana ia berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi sampai mendapat ijazah tarekat Naqsabandiyah. Sementara itu, tarekat Assa'adah Al Ba'laiyah ia peroleh dari Sayyid Ali Al-Zahli.
Yang menarik, walau sudah menamatkan tiga tarekat, yakni Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Assa'adah Al Ba'laiyah, Syekh Yusuf masih berniat memperdalam ilmu agama dan mempelajari tarekat yang lain. Setelah menunaikan ibadah haji, Yusuf menimba tarekat Syattariyah pada Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani di Madinah. Berikutnya Yusuf mempelajari tarekat Khalwatiyah kepada Syekh Abu al Barakat Ayyub di Damaskus. Dari Ayyub itulah Yusuf memperoleh gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah.
Setelah 20 tahun perantauannya di jazirah Arab, Yusuf pulang ke Gowa. Namun, dia kecewa melihat keadaan Gowa yang baru saja ditaklukkan kolonial Belanda. Hal ini yang mendorong Yusuf meninggalkan Gowa pada 1672 menuju Banten untuk menemui sahabatnya yang telah bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.
Pengembaraannya kali ini tidak saja untuk berdakwah, tapi juga berjuang melawan penjajah Belanda. Ia bukan saja seorang ulama, melainkan juga pejuang. Sebagai ulama, ia diangkat sebagai mufti kerajaan dan guru bidang agama dengan murid dari berbagai daerah, termasuk dari Makassar. Berkat peran dialah Banten menjadi salah satu pusat pendidikan agama yang penting di Jawa.
Sebagai pejuang, ketika di Banten--juga daerah lain--tengah meletus peperangan melawan Belanda, Syekh Yusuf berada di pihak Sultan Ageng dengan memimpin sebuah pasukan Makassar. Namun, pada 1682 Banten menyerah, karena kekuatan tak berimbang. Syekh Yusuf ditahan, awalnya di Cirebon, kemudian di Batavia (Jakarta). Selanjutnya, mulai September 1684, Yusuf dan keluarga menjalani babak kehidupan dalam pembuangan dan pengasingan di Sri Lanka.
Bagi Syekh Yusuf, pengasingan bukan halangan untuk terus berdakwah dan berjuang. Ia juga tetap leluasa bertemu dengan sanak keluarga dan murid-muridnya. Sementara itu, bagi Belanda, aktivitas Yusuf di pembuangan--yang muridnya mencapai ratusan dari berbagai negara Islam--merupakan ancaman. Pengikutnya dikhawatirkan akan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Karena itu, Belanda memindahkan Yusuf ke Afrika Selatan.
Menumpang kapal De Voetboog, bersama 49 pengikutnya, pada Juli 1693, Syekh Yusuf tiba di Afrika Selatan. Ia diberi sepetak tanah di perkebunan Zandvliet, milik seorang pendeta bernama P. Kalden, untuk tempat tinggalnya. Kendati tempat itu bagian dari Kota Constantia, sejak dihuni oleh Syekh Yusuf, penduduk setempat mengenalinya sebagai Macassar.
Di negeri itu pun Yusuf kembali berdakwah. Seiring bertambahnya usia, kesehatannya menurun. Empat tahun kemudian, pada pada 23 Mei 1699, ia wafat dalam usia 73 tahun.
Makamnya di Constantia dikeramatkan masyarakat setempat. Oleh pengikutnya di Afrika Selatan, kediamannya di Constantia dijadikan sebagai bangunan peringatan yang kerap dikunjungi peziarah.
Beberapa tahun kemudian, atas permintaan Raja Gowa, Sultan Abdul Djalil, pada 1704 tulang belulang Syekh Yusuf dibawa pulang dan dimakamkan di Lakiung, Sulawesi Selatan, pada 6 April 1705.
Yusuf dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 1995. Sementara itu, pada 2005, pemerintah Afrika Selatan menganugerahi Syekh Yusuf dengan penghargaan Oliver Thambo, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki kepada tiga ahli warisnya.
Sepeninggal Syekh Yusuf, letak makamnya pun menjadi perdebatan dan klaim, dari yang memiliki argumentasi historis sampai yang berbau mitos. Seperti dilukiskan oleh penelitian Saarah Jappie (2006), masyarakat Talango, Madura, meyakini bahwa Syekh Yusuf pernah menyebarkan Islam dan dimakamkan di Madura. Padahal, tidak ada dokumentasi yang memberikan konfirmasi bahwa Syekh Yusuf pernah datang ke daerah Madura.
Versi lain menyebut makam Syekh terdapat di Banten, Jawa Barat; di Palembang, Sumatera; serta di Sri Lanka. "Makam-makam tersebut masih berfungsi dalam masyarakat dan didatangi para peziarah," tulis Saarah. Sementara itu, masyarakat Afrika Selatan meyakini makam Syekh Yusuf tetap di Tanjung Harapan.
Syekh Yusuf menulis buku ketika dalam perantauan dan pada saat menjalani pengasingan. Beberapa buku ditulis atas dorongan gurunya. Ketika menulis Kayfiyyat Al-Tasawwuf di Sri Lanka, misalnya, dia didorong ulama dari India, Syekh Ibrahim Ibn Mi'an. Ketika di Banten, Yusuf menulis sejumlah karya demi mengenalkan ajaran tasawuf kepada umat Islam Nusantara.
Salah satu bukunya, Al-Barakat al-Sailaniyya, berisi informasi tentang cara bagaimana mengikuti jalan sufisme, seperti berzikir, syahadat, dan cara bagaimana mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah). Pendapatnya dalam buku ini, ada tiga cara mengingat Allah: dzikr al-nafi wa'l ithbat dengan mengucap "la illaha illa Allah", dzikir al-mudjarrad wa'l djalala, dengan mengucap "Allah", dan dzikir al-ishara wa'l anfas dengan mengucap "hu".
Mengenai syahadat, ia membaginya menjadi dua macam: al-syahadah al-mukhtassa dan al-syahadah al-mutlaqa. Pertama, syahadat adalah kalimat Asyhadu an la illa ha illa Allah wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasulu Allah. Adapun yang kedua adalah Asyhadu an la illaha illa Allah wahdahu la sharika lahu wa asyhadu anna muhammad 'abduhu wa rasuluhu. Ia menyatakan bahwa ada tiga alasan mengapa orang mendekatkan diri pada Allah, yakni karena takut siksa Allah; kedua, menjadi bagian dari Allah; dan ketiga, mengetahui bahwa Allah lebih dekat daripada jiwa mereka sendiri.
Bukunya yang lain, Al-Fawa'ih al-Yusufiyya fi Bayan Tahqiq al-Sufiyya, ditulis ketika dia menjawab pertanyaan orang mengenai beberapa masalah agama. Ia menganjurkan orang untuk banyak membaca Al-Quran dan memperkuat tauhid, di samping mengamalkan kewajiban agama.
Dalam buku itu, Yusuf juga merekomendasikan kepada mereka untuk sabar, syukur, dan jujur. Seperti halnya Al-Fawa'ih al-Yusufiyya fi Bayan Tahqiq al-Sufiyya, dalam bukunya Hashiyya, Yusuf juga menjelaskan makna syahadat, yang berarti kekuasaan apa pun berasal dari Allah. Itu semua hampir sama seperti buku-buku Yusuf sebelumnya, Kaifiyat al-Mun-ghi wal Ithbat bil Hadit al-Qudsi, yang dia tulis di Ceylon (Sri Lanka) karena ada sejumlah orang meminta kepadanya untuk menulis tentang zikir, menjelaskan bahwa orang harus mengingat Allah kapan pun seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Dalam buku ini ia juga menyediakan informasi bagaimana bertobat.
Bukunya yang berjudul Matalib al-Salikin mirip dengan buku-buku Yusuf yang lain. Dalam buku ini ia menjelaskan keesaan Allah sebagai landasan untuk menjadi seorang Muslim. Menurut dia, seorang Muslim harus percaya pada konsep tauhid (keesaan Allah) dan ma'rifa (pengetahuan tentang Allah) serta menjalankan ibadah. Urutannya dapat dilihat sebagaimana pohon: tauhid ibarat batang, ma'rifa cabang dan daun-daunnya, sementara itu ibadah sebagai buahnya.
By: Ngarto Februana/berbagai sumber
Source: Tempo (Ruang Baca), 1 Juli 2008
Tak hanya seorang pemikir dengan puluhan buku, Syekh Yusuf, tulis antropolog Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf Seorang Ulama Sufi dan Pejuang, adalah seorang ulama, sufi, dan khalifah tarekat serta pejuang melawan penjajahan Belanda. Perannya tak hanya di Indonesia, tapi juga di negeri pembuangannya, Afrika Selatan. Lahir, hidup, dan matinya berliput legenda dan penuh rahasia. "Beliau adalah pahlawan besar," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika berziarah ke makamnya pada Maret lalu. Bahkan, Nelson Mandela, Bapak Afrika Selatan yang berhasil membebaskan negerinya dari politik apartheid, mengaku terinspirasi oleh perjuangan Syekh Yusuf.
Sosok Syekh Yusuf pulalah yang mempererat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan, yang dikukuhkan oleh Presiden Yudhoyono dan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki menjadi kerjasama bilateral di bidang kebudayaan pada tahun ini. Indonesia, misalnya, menawarkan beasiswa kepada pelajar Afrika Selatan untuk belajar kebudayaan Nusantara. Presiden Yudhoyono juga meminta cendekiawan Indonesia untuk menerjemahkan biografi Syekh Yusuf ke bahasa Inggris agar dapat dipahami warga Afrika.
Sebagai ulama yang banyak melahirkan karya, sedikitnya Yusuf telah menulis 25 judul buku, yang sebagian besar tentang tasawuf. Dia memperoleh pendidikan agama yang mendalam di Timur Tengah dan buku-bukunya berbahasa Arab, Bugis dan Jawa. Penguasaannya terhadap sejumlah bahasa ini karena Yusuf asli Makassar dan merantau ke Banten dan Timur Tengah serta Afrika Selatan. Salah satu buku karyanya adalah Kayfiyyat Al-Tasawwuf. Buku tentang tasawuf ini ditulis atas dorongan Syekh Ibrahim Ibn Mi'an, ulama besar yang dihormati dari India, ketika Yusuf dalam pembuangan di Ceylon, Sri Lanka.
Lelaki kelahiran 3 Juli 1626 di Gowa, Sulawesi Selatan, ini masih mengalir darah bangsawan dari pihak ibu, Sitti Aminah, yang mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan Gowa. Dibesarkan dalam lingkungan kerajaan dan sebuah keluarga Islam yang taat, sejak belia ia sudah belajar agama: mengaji Al-Quran, kitab-kitab fikih, dan tauhid. Pertama kali ia menuntut ilmu agama kepada guru kerajaan, Daeng Ri Tassamang, kemudian berguru kepada Sayyid Ba-lawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Jalaludin Al-Aydit untuk memperdalam bahasa Arab, ilmu fikih, dan tasawuf.
Tak cukup belajar agama di tanah kelahiran, pada usia 18 tahun, Yusuf yang haus ilmu itu berlayar menuju Timur Tengah. Sesuai dengan jalur niaga pada zaman itu, sebagaimana diceritakan oleh Saarah Jappie dari Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah penelitiannya, perjalanan itu melewati Aceh dan Banten, Jawa Barat.
Pada masa itu, Banten merupakan salah satu kerajaan Islam yang terpenting di Pulau Jawa. Dia singgah beberapa lama di Banten dan memperdalam agama Islam di salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa Barat itu. Yusuf juga sempat menjalin persahabatan dengan kerabat kesultanan Banten, Pangeran Surya, yang kemudian menjadi Sultan Ageng Tirtayasa.
Perjalanan dilanjutkan menuju Aceh untuk berguru kepada ulama terpandang Syekh Nuruddin Ar-Raniri hingga ia mendapat ijazah tarekat Qadiriyah. Qadiriyah adalah tarekat (jalan menuju kebenaran) yang menekankan pentingnya syariat dan menentang paham wahdatul wujud (menyatunya hamba dan pencipta).
Setelah sekitar lima tahun menimba ilmu di Aceh, selanjutnya Yusuf menuntut ilmu di pusat-pusat pendidikan Islam Timur Tengah seraya menunaikan ibadah haji di Mekah. Berangkat pada 1649 dengan menempuh pelayaran selama 56 hari, sampailah Yusuf ke Yaman. Di sana ia berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi sampai mendapat ijazah tarekat Naqsabandiyah. Sementara itu, tarekat Assa'adah Al Ba'laiyah ia peroleh dari Sayyid Ali Al-Zahli.
Yang menarik, walau sudah menamatkan tiga tarekat, yakni Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Assa'adah Al Ba'laiyah, Syekh Yusuf masih berniat memperdalam ilmu agama dan mempelajari tarekat yang lain. Setelah menunaikan ibadah haji, Yusuf menimba tarekat Syattariyah pada Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani di Madinah. Berikutnya Yusuf mempelajari tarekat Khalwatiyah kepada Syekh Abu al Barakat Ayyub di Damaskus. Dari Ayyub itulah Yusuf memperoleh gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah.
Setelah 20 tahun perantauannya di jazirah Arab, Yusuf pulang ke Gowa. Namun, dia kecewa melihat keadaan Gowa yang baru saja ditaklukkan kolonial Belanda. Hal ini yang mendorong Yusuf meninggalkan Gowa pada 1672 menuju Banten untuk menemui sahabatnya yang telah bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.
Pengembaraannya kali ini tidak saja untuk berdakwah, tapi juga berjuang melawan penjajah Belanda. Ia bukan saja seorang ulama, melainkan juga pejuang. Sebagai ulama, ia diangkat sebagai mufti kerajaan dan guru bidang agama dengan murid dari berbagai daerah, termasuk dari Makassar. Berkat peran dialah Banten menjadi salah satu pusat pendidikan agama yang penting di Jawa.
Sebagai pejuang, ketika di Banten--juga daerah lain--tengah meletus peperangan melawan Belanda, Syekh Yusuf berada di pihak Sultan Ageng dengan memimpin sebuah pasukan Makassar. Namun, pada 1682 Banten menyerah, karena kekuatan tak berimbang. Syekh Yusuf ditahan, awalnya di Cirebon, kemudian di Batavia (Jakarta). Selanjutnya, mulai September 1684, Yusuf dan keluarga menjalani babak kehidupan dalam pembuangan dan pengasingan di Sri Lanka.
Bagi Syekh Yusuf, pengasingan bukan halangan untuk terus berdakwah dan berjuang. Ia juga tetap leluasa bertemu dengan sanak keluarga dan murid-muridnya. Sementara itu, bagi Belanda, aktivitas Yusuf di pembuangan--yang muridnya mencapai ratusan dari berbagai negara Islam--merupakan ancaman. Pengikutnya dikhawatirkan akan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Karena itu, Belanda memindahkan Yusuf ke Afrika Selatan.
Menumpang kapal De Voetboog, bersama 49 pengikutnya, pada Juli 1693, Syekh Yusuf tiba di Afrika Selatan. Ia diberi sepetak tanah di perkebunan Zandvliet, milik seorang pendeta bernama P. Kalden, untuk tempat tinggalnya. Kendati tempat itu bagian dari Kota Constantia, sejak dihuni oleh Syekh Yusuf, penduduk setempat mengenalinya sebagai Macassar.
Di negeri itu pun Yusuf kembali berdakwah. Seiring bertambahnya usia, kesehatannya menurun. Empat tahun kemudian, pada pada 23 Mei 1699, ia wafat dalam usia 73 tahun.
Makamnya di Constantia dikeramatkan masyarakat setempat. Oleh pengikutnya di Afrika Selatan, kediamannya di Constantia dijadikan sebagai bangunan peringatan yang kerap dikunjungi peziarah.
Beberapa tahun kemudian, atas permintaan Raja Gowa, Sultan Abdul Djalil, pada 1704 tulang belulang Syekh Yusuf dibawa pulang dan dimakamkan di Lakiung, Sulawesi Selatan, pada 6 April 1705.
Yusuf dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 1995. Sementara itu, pada 2005, pemerintah Afrika Selatan menganugerahi Syekh Yusuf dengan penghargaan Oliver Thambo, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki kepada tiga ahli warisnya.
Sepeninggal Syekh Yusuf, letak makamnya pun menjadi perdebatan dan klaim, dari yang memiliki argumentasi historis sampai yang berbau mitos. Seperti dilukiskan oleh penelitian Saarah Jappie (2006), masyarakat Talango, Madura, meyakini bahwa Syekh Yusuf pernah menyebarkan Islam dan dimakamkan di Madura. Padahal, tidak ada dokumentasi yang memberikan konfirmasi bahwa Syekh Yusuf pernah datang ke daerah Madura.
Versi lain menyebut makam Syekh terdapat di Banten, Jawa Barat; di Palembang, Sumatera; serta di Sri Lanka. "Makam-makam tersebut masih berfungsi dalam masyarakat dan didatangi para peziarah," tulis Saarah. Sementara itu, masyarakat Afrika Selatan meyakini makam Syekh Yusuf tetap di Tanjung Harapan.
Syekh Yusuf menulis buku ketika dalam perantauan dan pada saat menjalani pengasingan. Beberapa buku ditulis atas dorongan gurunya. Ketika menulis Kayfiyyat Al-Tasawwuf di Sri Lanka, misalnya, dia didorong ulama dari India, Syekh Ibrahim Ibn Mi'an. Ketika di Banten, Yusuf menulis sejumlah karya demi mengenalkan ajaran tasawuf kepada umat Islam Nusantara.
Salah satu bukunya, Al-Barakat al-Sailaniyya, berisi informasi tentang cara bagaimana mengikuti jalan sufisme, seperti berzikir, syahadat, dan cara bagaimana mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah). Pendapatnya dalam buku ini, ada tiga cara mengingat Allah: dzikr al-nafi wa'l ithbat dengan mengucap "la illaha illa Allah", dzikir al-mudjarrad wa'l djalala, dengan mengucap "Allah", dan dzikir al-ishara wa'l anfas dengan mengucap "hu".
Mengenai syahadat, ia membaginya menjadi dua macam: al-syahadah al-mukhtassa dan al-syahadah al-mutlaqa. Pertama, syahadat adalah kalimat Asyhadu an la illa ha illa Allah wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasulu Allah. Adapun yang kedua adalah Asyhadu an la illaha illa Allah wahdahu la sharika lahu wa asyhadu anna muhammad 'abduhu wa rasuluhu. Ia menyatakan bahwa ada tiga alasan mengapa orang mendekatkan diri pada Allah, yakni karena takut siksa Allah; kedua, menjadi bagian dari Allah; dan ketiga, mengetahui bahwa Allah lebih dekat daripada jiwa mereka sendiri.
Bukunya yang lain, Al-Fawa'ih al-Yusufiyya fi Bayan Tahqiq al-Sufiyya, ditulis ketika dia menjawab pertanyaan orang mengenai beberapa masalah agama. Ia menganjurkan orang untuk banyak membaca Al-Quran dan memperkuat tauhid, di samping mengamalkan kewajiban agama.
Dalam buku itu, Yusuf juga merekomendasikan kepada mereka untuk sabar, syukur, dan jujur. Seperti halnya Al-Fawa'ih al-Yusufiyya fi Bayan Tahqiq al-Sufiyya, dalam bukunya Hashiyya, Yusuf juga menjelaskan makna syahadat, yang berarti kekuasaan apa pun berasal dari Allah. Itu semua hampir sama seperti buku-buku Yusuf sebelumnya, Kaifiyat al-Mun-ghi wal Ithbat bil Hadit al-Qudsi, yang dia tulis di Ceylon (Sri Lanka) karena ada sejumlah orang meminta kepadanya untuk menulis tentang zikir, menjelaskan bahwa orang harus mengingat Allah kapan pun seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Dalam buku ini ia juga menyediakan informasi bagaimana bertobat.
Bukunya yang berjudul Matalib al-Salikin mirip dengan buku-buku Yusuf yang lain. Dalam buku ini ia menjelaskan keesaan Allah sebagai landasan untuk menjadi seorang Muslim. Menurut dia, seorang Muslim harus percaya pada konsep tauhid (keesaan Allah) dan ma'rifa (pengetahuan tentang Allah) serta menjalankan ibadah. Urutannya dapat dilihat sebagaimana pohon: tauhid ibarat batang, ma'rifa cabang dan daun-daunnya, sementara itu ibadah sebagai buahnya.
By: Ngarto Februana/berbagai sumber
Source: Tempo (Ruang Baca), 1 Juli 2008

Post a Comment