Kamis, 25 Juni 2009 | 15:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kasus penyakit lepra di Indonesia masih tinggi, menduduki peringkat tiga di dunia. Setiap tahun tercatat 17 ribu hingga 20 ribu kasus lepra baru. "Itu yang terdeteksi, belum lagi yang tidak lapor dan tidak diobati," kata A.B. Susanto, Duta Besar The Leprosy Mission International untuk Indonesia dalam jumpa pers, Kamis (26/6).
Jumlah penderita di Indonesia masih lebih tinggi di bandingkan Cina yang memiliki penduduk lebih banyak. Kasus lepra barunya hanya 16.500. Dibandingkan negara miskin seperti Nigeria dan Etopia juga masih lebih tinggi, kasus barunya hanya sekitar 4.000-5.000 per tahun.
Belum dapat dipastikan berapa jumlah penderita sesungguhnya, namun diperkirakan mencapai 400 ribu - 500 ribu, dan terus bertambah setiap tahun. Penderita penyakit lepra sebenarnya dapat sembuh total dengan mengkonsumsi obat multydrugtherapy (MDT) selama 6-12 bulan.
Dokter di Rumah Sakit Kusta Sitanala, J.P. Handoko Soewono mengatakan penyakit lepra berasal dari bakteri mycrobacterium leprae. Penyakit tersebut menular tetapi tidak mudah ditularkan. Hanya mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah yang mudah tertular. "Kalau orang normal tidak mungkin mudah ketularan," kata Handoko.
Mereka yang mudah tertular biasanya kurang gizi, dan saat di dalam kandungan tidak tumbuh dengan sistem kekebalan tubuh yang baik. Meski demikian, sebenarnya belum diketahui secara pasti bentuk penularannya karena bakteri penyebab lepra memiliki masa inkubasi antara 2-15 tahun.
Tidak dapat diketahui secara pasti paparan bakteri mana yang menyebabkan sakit. Penularan kemungkinan besar lewat udara atau saluran pernafasan, "Tapi yang sehat tidak mudah tertular," kata dokter yang telah menangani lepra sejak 1980 tersebut.
Handoko menambahkan, penderita lepra tersebar di seluruh provinsi. Daerah kantong-kantong penderita antara lain terdapat di Aceh, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, daerah pantai utara Jawa, Jawa Timur, Madura, dan Papua.
Duta Lepra Keliling Sandra Dewi mengatakan penderita lepra mengalami diskirimasi karena adanya stigma di masyarakat, "Padahal mereka tidak lagi menular," katanya.
AQIDA SWAMURTI
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/06/25/brk,20090625-183778,id.html

Post a Comment