Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Kopi Organik Kulon Progo Sulit Dipasarkan

Kamis, 25 Juni 2009 | 16:02 WIB

KULON PROGO, KOMPAS.com - Kopi organik jenis robusta dari Dusun Nglambur, Desa Sidoh arjo, Samigaluh, Kulon Progo, sulit dipasarkan karena ketiadaan sarana transportasi. Kondisi yang tidak menguntungkan ini menyurutkan semangat petani untuk merawat tanaman. Padahal, harga jual kopi tinggi.

Dikatakan Ketua Kelompok Usaha Bersama Menoreh Suroloyo Daryanto, hanya sedikit pengepul bersedia datang ke dusun yang terletak di perbukitan Menoreh, sekitar 40 kilometer arah barat laut Kota Yogyakarta. Petani tidak bisa menjual hasil panen ke kota karena tidak punya mobil pengangkut.

Biji kopi hanya kami pasarkan di sekitar Samigaluh saja. Paling jauh ke Wates, Ibukota Kulon Progo. "Sementara untuk ke seluruh wilayah DI Yogyakarta, kami belum mampu," kata Daryanto, Kamis (25/6).

Karena pemasaran terbatas, petani hanya menjual biji kopi yang dirawat tanpa menggunakan pupuk atau obat kimia itu dalam kondisi mentah. Penjualan kopi berbentuk bubuk atau biji sangrai sulit dilakukan karena akan kalah dengan kopi bubuk kemasan bermerk yang beredar di pasar.

Padahal, harga jual biji kopi mentah amat rendah, hanya sekitar Rp 11.000 per kilogram. Jika sudah disangrai, harga kopi naik menjadi Rp 35.000 per kilogram, dan akan semakin mahal untuk kopi berbentuk bubuk, yakni sekitar Rp 50.000-Rp 55.000 per kilogram .

Sulitnya pemasaran juga membuat petani enggan merawat tanaman dengan baik. Tanaman kopi seluas sekitar 132 hektar yang tersebar di Pedukuhan Nglambur, Wonogiri, Nyemani, dan Madigondo, dibiarkan tumbuh seadanya. Meski begitu, hasil panen kopi tetap baik, sekitar enam ton per tahun.

"Kami membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah dalam bentuk penyuluhan pertanian dan bimbingan pemasaran. Sebab, jika kondisi ini dibiarkan, kami khawatir perkebunan kopi di Sidoharjo akan punah. Lahan perkebunan kopi yang digarap serius juga bisa menjadi lokasi agrowisata," kata Sumardi, penyuluh swakarsa di pedukuhan Madigondo.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo Agus Langgeng Basuki mengatakan pihaknya sudah mengerahkan para petugas penyuluh lapangan untuk memberi pengarahan teknis kepada petani. Sementara untuk pemasaran, Agus berpendapat hal itu seharusnya diupayakan sendiri oleh kelompok.

Ia menambahkan, tahun ini kelompok usaha bersama sudah mendapat dana hibah Rp 60 juta dari APBD Provinsi DIY. Dana tersebut bisa digunakan untuk membeli hasil panen kopi dari petani. Dengan begitu, petani tidak perlu pusing memikirkan pemasaran dan bisa lebih fokus mengurus tanaman kopi.

Pengurus kelompok kemudian bisa menjalin kemitraan dengan perusahaan atau distributor kopi. Apabila sudah ada kepastian dan kelancaran suplai kopi, maka perusahaan tentu tidak segan memberi fasilitas sarana angkut bahkan hingga ke daerah-daerah terpencil, kata Agus.

Selain di Desa Sidoharjo, biji kopi juga dihasilkan oleh petani di Kecamatan Girimulyo dan Pengasih. Akan tetapi, hampir sama seperti di Sidoharjo, sektor perkebunan kopi di kedua kecamatan itu juga kurang bergairah karena berlokasi di daerah perbukitan yang sulit dijangkau.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/06/25/1602389/Kopi.Organik.Kulon.Progo.Sulit.Dipasarkan.
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts