[ Kamis, 02 Juli 2009 ]
JAKARTA - Langkah pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM dipandang Direktur Reforminer Institute Priagung Rakhmanto tepat, baik secara politis maupun hitungan ekonomi. Namun, dia mengingatkan bahwa pembengkakan subsidi energi akan mengakibatkan defisit APBN apabila rata-rata harga minyak dunia terus meroket.
''Apa yang dilakukan pemerintah sekarang hanya bisa hingga batas-batas tertentu. Saat ini pembengkakan subsidi tidak memengaruhi APBN karena ada kompensasi dari penerimaan sektor migas. Sebab, rata-rata harga minyak mulai Januari hingga Juni 2009 sebesar USD 51-52 per barel,'' kata Priagung saat dihubungi kemarin (1/7). ''Tapi, keadaan bisa berubah (APBN defisit, Red) apabila harga minyak rata-rata pada semester kedua 2009 mencapai USD 65 per barel,'' tambahnya.
Karena itu, harga BBM yang tidak naik dinilai wajar. Apalagi, harga keekonomisan premium per Juni di kisaran Rp 5.000-Rp 5.300 per liter dan Rp 5.500-Rp 5.800 per liter. Harga rata-rata minyak dunia bisa mencapai USD 65 per barel apabila dalam enam bulan ke depan secara terus-menerus berada di posisi USD 80 per barel. ''Ini mungkin saja terjadi,'' ujarnya.
Faktor lain yang memengaruhi besaran subsidi energi adalah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan volume BBM itu sendiri. ''Asumsi yang saya gunakan untuk perhitungan di atas adalah Rp 11 ribu per USD untuk nilai tukar. Jika kurs rupiah terus melemah, level defisit APBN bisa tercapai dengan harga rata-rata minyak dunia USD 60 per barel. Volume konsumsi yang terus naik juga akan semakin membebani pemerintah,'' tuturnya.
Tetapi, yang saat ini perlu diwaspadai adalah apabila target produksi siap jual (lifting) dari pemerintah tidak tercapai. ''Ada risiko besar jika lifting tidak masuk. Sebab, produksi blok Cepu molor,'' kata dia.
''Saat ini level lifting pemerintah di 960 ribu barel per hari termasuk bagus karena saya perkirakan hanya 950 ribu barel per hari,'' ujarnya.
Secara terpisah, kalangan swasta nasional berharap agar pemenang tender distributor BBM bersubsidi (public service obligation -PSO) bisa diberikan kepada perusahaan hilir minyak dan gas nasional. Apalagi, alfa yang ditawarkan lebih rendah daripada tawaran Pertamina sehingga bisa lebih menghemat subsidi BBM.
Presdir PT AKR Corporindo Tbk Haryanto Adikoesoemo mengharapkan pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada perusahaan swasta nasional. Sebab, pendistribusian BBM PSO selama ini jatuh ke tangan Pertamina. Menurut Haryanto, alfa pendistribusian BBM yang ditawarkan swasta lebih kompetitif jika dibandingkan dengan yang ditawarkan Pertamina. ''Saya percaya, kalau swasta nasional diikutkan tender distribusi, akan ada penghematan subsidi yang cukup signifikan,'' katanya di sela-sela Media Briefing Ernst & Young Entrepreneur of the Year di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (1/7/2009).
Apa lagi, infrastruktur yang dimiliki perusahaan swasta nasional tidak kalah dengan sistem yang dimiliki Pertamina. Sebut saja, infrastruktur AKR sudah bagus di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga daerah terpencil. ''Kami sudah punya storage, tanker. Bahkan, kami juga berencana membangun di pulau-pulau,'' ujarnya.
Dia mengakui bahwa untuk pasokan BBM, perusahaan masih impor dari Singapura dan beberapa perusahaan migas asing di Indonesia seperti Chevron, BP, dan Petrochina. ''Tahun ini rencana impor sekitar 6-7 juta barel untuk solar dan marine fuel oil (MFO). Meningkat dari tahun lalu 5 juta barel,'' lanjut dia. Hingga semester I 2009, realisasi impor BBM sampai semester satu ini sudah 2,5-2,6 juta barel untuk solar dan MFO.
AKR juga mengklaim bahwa proyek Jakarta Tank Terminal di Tanjung Priok yang merupakan joint venture dengan perusahaan minyak asal Belanda VOPAK Royal akan selesai Oktober 2009. Proyek dengan nilai investasi total USD 150 juta tersebut terdiri atas tangki minyak dengan kapasitas 250 ribu kiloliter (KL) yang dilengkapi dengan dua dermaga masing-masing bisa menampung tanker dengan 65 ribu ton dan 80 ribu ton. Proyek tersebut akan dilanjutkan dengan pembangunan kedua yang memiliki kapasitas 220 ribu KL. (aan/iro)
http://www.jawapos.com/

Post a Comment