Kamis, 16 Juli 2009 | 22:11 WIB
SLAWI, KOMPAS.com — Seiring dengan makin terbatasnya ketersediaan air pada musim kemarau ini, Pemerintah Kabupaten Tegal mulai menerima permintaan air bersih dari sejumlah desa.
Kepala Bagian Kesejahteraan Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal, Nurcholis, Kamis (16/7), mengatakan, permintaan air bersih diperoleh dari 10 desa di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Jatinegara dan Surodadi. Kedua daerah tersebut merupakan daerah rawan kekeringan.
Menurut dia, pemerintah daerah telah menyiapkan 673 tangki air bersih untuk membantu warga yang mengalami kesulitan air bersih. "Ini sedang diproses, mudah-mudahan minggu depan bisa disalurkan," ujarnya.
Untuk menyalurkan air bersih tersebut, pihaknya menyiapkan dua mobil tangki. Nurcholis juga mengaku siap berkoordinasi dengan instansi lainnya, apabila terjadi wabah penyakit yang diakibatkan kekurangan air bersih. "Paling parah belum tahu desa mana, akan dievaluasi dulu, mana yang membutuhkan," katanya.
Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan Masyarakat Kabupaten Tegal, Bambang Puji Waluyo mengatakan, sebanyak empat wilayah kecamatan di Kabupaten Tegal rawan kekeringan. Keempat kecamatan tersebut meliputi Kecamatan Kedungbanteng, Jatinegara, Warurejo, dan Surodadi.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah telah melakukan sosialisasi ke masyarakat. Para camat juga diminta untuk waspada dan melaporkan secara dini, baik potensi kekeringan maupun bahaya kebakaran, yang mungkin terjadi. Selain itu, masyarakat juga diminta memanfaatkan sumber air yang ada secara efisien.
Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kebakaran, masyarakat juga diminta menjauhkan perapian. Biasanya pada musim kemarau cuaca menjadi dingin sehingga banyak warga yang membuat perapian. Pemerintah telah menyiapkan empat armada pemadam kebakaran yang dapat dioperasikan selama 24 jam.
Meskipun demikian, masyarakat diimbau untuk ikut membantu memadamkan sumber api, apabila terjadi kebakaran. Camat Jatinegara, Kabupaten Tegal, Suharinto mengakui, sebagian masyarakat di wilayahnya sudah kesulitan air bersih.
Sumber air atau sumur-sumur sudah mulai mengering. Untuk minum, saat ini masyarakat terpaksa membeli, seharga Rp 500 per jeriken. "Untuk mencuci masih menggunakan air dari sungai," katanya.
WIE
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/07/16/22111128/sejumlah.desa.mulai.ajukan.permintaan.air.bersih.

Post a Comment