Senin, 27/07/2009 11:15 WIB
Nurul Ulfah - detikHealth
Jakarta, Sebagian masyarakat Indonesia mungkin masih menganggap imunisasi sebagai kegiatan yang tidak terlalu penting bahkan menyebabkan efek samping yang merugikan.
Ketakutan yang berlebihan tersebut menjadi salah satu kendala yang saat ini dihadapi kalangan dokter dan pemerintah.
Prof Dr dr Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A(K) menegaskan pentingnya imunisasi karena pemberian vaksin merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup anak.
"Makin banyak anak yang diimunisasi, makin banyak pula anak yang tidak diimunisasi terlindungi ", ujarnya ketika ditemui detikHealth belum lama ini.
Imunisasi begitu vital dilakukan karena imunitas pada suatu populasi sangat rentan. Sehingga semakin banyak benteng pertahanan imunisasi, maka semakin sedikit pula penyakit yang dapat masuk ke dalam populasi tersebut.
Imunisasi ada karena lahirnya beberapa angka kejadian penyakit yang menyebabkan kematian bahkan kecacatan pada anak. Adanya imunisasi diharapkan mampu mengurangi serta mencegah tersebarnya penyakit tersebut lebih luas lagi.
Sebagai upaya pencegahan primer yang utama, imunisasi akan memberikan kekebalan pada manusia dengan memberikan zat imuno-biologik (vaksin) yang berasal dari jasad renik.
Dalam upaya menyejahterakan masyarakatnya, Indonesia pun menandatangani Deklarasi Milenium tahun 2000 yang sepakat menargetkan penurunan kematian bayi dan balita pada tahun 2015.
Namun melihat kendala yang dihadapi saat ini di lapangan, tampaknya pihak pemerintah harus lebih giat lagi melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
Banyak orang menganggap pemberian imunisasi menghasilkan efek samping yang kurang baik bagi anak, seperti vaksin Mumps, Measles, Rubella (MMR) untuk penyakit gondongan yang disebut-sebut bisa membuat anak autis. Menanggapi isu tersebut, Dr Sri menjelaskan bahwa terdapat kekeliruan dan miskonsepsi mengenai hal tersebut.
"Vaksin tersebut pertama kali dicobakan pada anak yang punya penyakit tersebut, namun setelah diketahui lebih lanjut, si anak ternyata punya penyakit autis juga. Jadi bukan berarti anak yang diberi vaksin tersebut bisa jadi autis, hanya saja waktu itu kebetulan anak tersebut memang menderita autis", jelasnya.
Yang harus diketahui, imunisasi tidak dapat mencegah datangnya penyakit secara 100%, kecuali polio. Suntikan yang salah, penyimpanan suntikan yang kurang baik serta kemampuan pembentukan antibodi yang berbeda-beda pada setiap anak merupakan faktor kegagalan imunisasi.
Perlu dihilangkan dalam persepsi masyarakat adalah adanya efek samping yang dihasilkan setelah menjalani imunisasi seperti munculnya gejala kejang, demam bahkan tidak sadarkan diri.
"Masyarakat jangan mau dikalahkan dengan ketakutan terhadap efek samping imunisasi, tapi takutlah pada penyakit yang muncul itu sendiri", tegas dokter yang saat ini menjabat sebagai ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tersebut.
Pentingnya imunisasi ini contohnya untuk penyakit campak yang tidak mungkin diberikan 1 kali saja untuk seumur hidup, tetapi harus rutin.
Di negara Kuba contohnya, vaksin campak diberikan kepada seseorang sebanyak 3 kali dalam periode hidupnya, yaitu pada waktu bayi, usia sekolah dan usia dewasa.
Imunisasi yang penting buat balita adalah:
1. Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) gunanya mencegah TB (Tuberkulosis). Diberikan satu kali saja untuk bayi di bawah 2 bulan.
2. Imunisasi Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis. Diberikan sebanyak 3 kali, dengan jarak 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua, serta 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga. Suntikan pertama sebaiknya diberikan 12 jam setelah bayi lahir.
3. Imunisasi Polio untuk menangkal kelumpuhan akibat virus polio. Polio pertama diberikan setelah lahir. Kemudian vaksin ini diberikan 3 kali, saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan. Pemberian vaksin ini dulang pada usia 18 bulan dan 5 tahun.
4. Imunisasi DPT untuk menghindari penyakit difteri, tetanus, dan pentusis. Vaksin ini diberikan pertama kali saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Lalu saat bayi berumur 4 dan 6 bulan. Ulangan DTP diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun serta pada anak umur 12 tahun.
5. Imunisasi campak untuk kekebalan terhadap penyakit campak. Campak pertama kali diberikan saat anak umur 9 bulan. Campak ke-2 diberikan pada umur 6 tahun.
(fah/ir)
http://health.detik.com/read/2009/07/27/111515/1171987/775/imunisasi-bukan-hantu-yang-menakutkan

Post a Comment