Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Malanutrisi, Penyebab Utama Kematian Anak

Labels: ,

2009-07-23

[JAKARTA] Kekurangan gizi (malanutrisi) dan penyakit infeksi, atau penyakit menular, merupakan penyebab utama kematian anak di Indonesia. Padahal, berbagai penyakit itu bisa dicegah dan diobati.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Badriul Hegar SpA(K) dan Ketua Satgas Imunisasi IDAI Profesor Sri Rezeki S Hadinegoro mengungkapkan hal itu, di Jakarta, Rabu (22/7).

Menurut Badriul, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2003, penyebab langsung kematian balita didominasi malanutrisi 54 persen, disusul diare 19 persen, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) 19 persen. Kondisi di tahun 2003, tak berbeda jauh dengan kondisi pada tahun 2007, dan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) penyebab kematian umur 1-4 tahun adalah pneumonia (ISPA) 15,5 persen, diare 25,2 persen, campak 5,8 persen, dan DBD 6,8 persen.

Sementara itu, penyebab kematian bayi baru lahir (berusia hingga 28 hari) adalah berat badan rendah (29 persen), gangguan pernapasan (27 persen), masalah pemberian makanan (10 persen), tetanus (10 persen), gangguan darah 6 persen, dan infeksi 5 persen.

Anak, kata Badriul, adalah orang yang berusia 0-18 tahun, dan berhak mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas. Seorang anak dikatakan sehat, jika bebas dari penyakit, sehat fisik mental dan sosial baik, dan berkesempatan meraih potensi hidup paling optimal.

Di dunia, 11 juta anak berusia kurang dari 5 tahun meninggal karena penyakit, yang sebenarnya bisa dicegah dan diobati. Kematian ini, umumnya terjadi di negara berkembang, dengan sosial ekonomi rendah. Berbagai penyakit itu, antara lain pneumonia, diare, HIV/TB, campak, nutrisi, dan lingkungan. "Bayi-bayi yang lahir dengan selamat menghadapi masalah penyakit infeksi dan masalah lingkungan," katanya.


ASI dan Imunisasi

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Drs Hadi Supeno, angka kematian bayi (AKB) di Tanah Air masih tinggi, dibanding negara-negara ASEAN, yakni 31/1.000 kelahiran hidup (target MDG 17/1.000 kelahiran tahun 2015). Jumlah anak penderita kurang gizi sekitar 4,5 juta.

Jumlah anak mengidap HIV/AIDS, gagal dikendalikan. Pada tahun 2004, kasus HIV/AIDS dari 154 menjadi 650 orang, atau meningkat 400 persen pada pertengahan tahun 2009. Hadi juga menyoroti prevalensi perokok pemula yang meningkat tajam. "Sepuluh tahun lalu, perokok pemula berusia 12 tahun. Sepuluh tahun terakhir menjadi. 5 hingga 9 tahun atau rata-rata7 tahun. Jumlah perokok anak kini mencapai 25 juta orang, atau 40 persen dari total perokok aktif," tegas Hadi.

Menurutnya, hal itu disebabkan longgarnya kebijakan pemerintah terhadap pengendalian bahaya tembakau. Secara terpisah, Sri mengatakan, berbagai penyakit infeksi dapat dicegah dengan pemberian air susu ibu (ASI) dan imunisasi. ASI, kata dr IG Ayu Partiwi SpA, adalah cairan biologis kompleks yang bersifat spesifik, mengandung semua nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan anak, yang disesuaikan dengan keperluan, laju pertumbuhan.

Bayi, katanya, memperoleh nutrisi terbaik, perlindungan terhadap infeksi dan stimulasi sejak dini dari proses menyusui. Sri menambahkan, penyakit yang dicegah dengan imunisasi, antara lain TB, polio, kanker hati, difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, campak, pneumonia, dan meningitis. [N-4]

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=9373
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts