[ Sabtu, 26 Desember 2009 ]
MEROKETNYA harga gula dunia menimbulkan kecemasan pengusaha gula nasional. Sebab, berkaca dari pengalaman, harga gula lokal ikut meroket pada akhir Agustus lalu setelah harga gula dunia menembus level tertinggi.
Di pasar lokal, harga gula masih bertahan di kisaran Rp 10.500 per kilogram. Harga gula di pasar lokal naik mulai akhir pekan lalu. Sebelumnya, selama dua pekan berturut-turut, harga gula bertengger di posisi Rp 9.000 per kilogram.
Adig Suwandi, sekretaris PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI), menilai bahwa tingginya harga gula memang sudah tidak rasional. Pada Bursa Berjangka London, harga gula pada (23/12) untuk pengapalan Maret 2010 menyentuh USD 684,4 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium).
Padahal, akhir pekan lalu (18/12) harga gula masih di kisaran USD 678,30 per ton FOB, dan sempat turun pada awal pekan ini (21/12) menjadi sebesar USD 668,4 ton per ton FOB. ''Harga tersebut memang di atas batas kewajaran dan tertinggi sejak 28 tahun terakhir,'' katanya kemarin (25/12).
Apalagi, lanjut dia, standar impor untuk gula kristal putih (GKP) sangat tinggi. Yakni, GKP dengan butiran ICUMSA yang lebih dari 120 IU (parameter nilai kemurnian). Karena itu, pasar meresponsnya lewat kenaikan harga gula. Adig juga menegaskan, meski harga gula meroket, pemerintah belum perlu impor. "Impor gula tidak mendesak sehingga tidak perlu tergesa-gesa," timpalnya.
Secara terpisah, Arum Sabil dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengatakan, reaksi pasar internasional tidak ubahnya hukum pasar tentang permintaan dan penawaran. Itu ditunjang faktor negara-negara eksporter seperti India yang kini malah menjadi importer.
''Dengan begitu, ada peluang bagi produsen gula internasional untuk menaikkan harga gula,'' katanya. Selain itu, adanya penggantian pengolahan tebu dari gula menjadi bioetanol di Brazil ikut mengurangi stok gula di pasar internasional. (res/bas)
http://www.jawapos.com/

Post a Comment