Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Produk China Mengancam

Selasa, 22 Desember 2009 18:07 WIB

Tahun Baru tinggal beberapa hari menjelang. Biasanya Tahun Baru selalu diwarnai dengan optimisme yang tinggi. Namun kali ini Tahun Baru ditandai kekhawatiran yang sangat tinggi.

Mengapa? Karena awal tahun baru 2010 akan menjadi awal dijalankannya secara penuh Perjanjian Perdagangan Bebas dengan China. Kekhawatiran akan membanjirnya produk China sangat dirasakan kalangan pengusaha.

Sekarang ini saja tanpa ada perjanjian perdagangan bebas, pasar-pasar sudah dibanjiri produk China baik secara legal maupun ilegal. Mulai tanggal 1 Januari 2010 nanti, tidak perlu lagi ada yang ilegal. Semua jenis barang bisa masuk Indonesia dengan bea masuk yang rendah.

Bagi kalangan pengusaha, khususnya pengusaha kecil dan menengah, itu benar-benar merupakan mimpi buruk. Sekarang ini saja barang yang mereka hasilnya tidak mampu bersaing dengan produk-produk China.

Banyak faktor yang menyebabkan produk China bisa begitu murah. Pertama adalah biaya uang (cost of fund). Dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah dibandingkan di Indonesia, pengusaha China akan jauh lebih diuntungkan.

Kedua, infrastruktur yang ada di China lebih tersedia sehingga bisa membuat perusahaan lebih efisien. Ketiga, Pemerintah China memberikan insentif pengurangan pajak hingga 15 persen kepada perusahaan yang berorientasi ekspor. Keempat, kepastian berusaha di China jauh lebih kondusif sehingga segala macam proses perizinan bisa berjalan cepat.

Ketika perjanjian perdagangan bebas dipersiapkan, faktor-faktor di atas menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kita hanya akan mampu bersaing dengan produk-produk China kalau para pengusaha memiliki kemewahan yang sama dengan pengusaha China.

Namun semua pekerjaan rumah itu tidak pernah kita kerjakan. Sampai waktu berlalu keadaan kita masih sama seperti dulu, sehingga ketika kini perjanjian perdagangan bebas kita semua khawatir.

Kita mendengar kabar bahwa kekhawatiran kalangan dunia usaha sudah sampai ke Presiden. Bahkan Presiden telah memerintahkan Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian untuk bertemu pemeritah China menegosiasi ulang pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas tersebut.

Pelaksanaan perdagangan bebas tanpa memperhatikan kepentingan dalam negeri merupakan sebuah bunuh diri. Kita tidak bisa hanya berpijak kepada keuntungan konsumen yang mendapatkan harga yang murah. Kalau akhirnya bangsa ini hanya bisa menjadi konsumen bagi produk dunia, maka satu saat negara ini akan ambruk.

Keharusan sebuah negara untuk mampu berproduksi bukan hanya dimaksudkan untuk membuat bangsa itu memiliki produk yang bisa dibanggakan. Yang jauh lebih penting adalah dengan kemampuan memproduksi, bangsa itu bisa menjadi produktif. Rakyatnya mempunyai pekerjaan.

Manusia akan merasa menjadi manusia berarti apabila memiliki pekerjaan. Salah satu yang paling didambakan setiap orang ketika dia beranjak dewasa adalah mempunyai pekerjaan. Setiap orang bermimpi untuk menjadi mahkluk yang produktif.

Orang akan menjadi frustasi kalau merasa dirinya tidak berguna. Orang-orang seperti itu akan berpikiran pendek. Mereka akan mau melakukan apa saja, asal kemudian dianggap menjadi orang yang bermanfaat.

Dalam konteks itulah kita harus mencegah jangan sampai penerapan perdagangan bebas China justru menjadi bumerang bagi bangsa ini. Untuk itu pemerintah harus mendengar suara masyarakat, suara kalangan pengusaha khususnya pengusaha kecil dan menengah akan apa yang mereka rasakan dan hadapi.

Jangan sampai mereka merasa dibiarkan berjalan sendiri, merasa dibiarkan bertarung sendiri. Itu bukan hanya memperkuat kesan neoliberal dari pemerintahan sekarang ini, tetapi bisa memancing kemarahan di tingkat masyarakat luas.

Kita harus menyadari bahwa bangsa-bangsa yang lebih maju pun, yang fondasi ekonominya kokoh tidak berdaya terhadap serbuan produk China. Apalagi kita yang industrinya belum begitu kokoh. Kita masih harus bekerja keras untuk membuat fondasi industri kita lebih menancap kuat.

Apakah peninjauan kembali perdagangan bebas dengan China akan mengganggu kredibilitas kita? Sepanjang dikomunikasikan dengan baik tentunya tidak ada hal yang perlu dirisaukan. Pemerintah China akan bisa memahami apabila diinformasikan bahwa pelaksanaan perdagangan bebas terpaksa ditunda pelaksanaan secara penuh karena ada hal-hal yang harus dipersiapkan di dalam negeri.

Perjanjian perdagangan bebas bukan dimaksudkan untuk mematikan perekonomian salah satu negara. Perjanjian perdagangan bebas dimaksudkan justru untuk membuat perekonomian dua bangsa berkembang lebih cepat karena lalu lintas perdagangan yang semakin lancar.

Dengan dasar itu memang perjanjian perdagangan bebas tidak salah untuk ditinjau kembali apabila tidak memenuhi apa yang diinginkan. Apalagi kalau sampai memunculkan potensi kerugian ekonomi dari satu negara. Inilah yang sedang kita hadapi apabila perjanjian perdagangan bebas dengan China dipaksakan untuk diberlakukan 1 Januari 2010 nanti.

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/tajuk/2009/12/22/194/Produk-China-Mengancam
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts