Jumat, 18 Desember 2009 | 09:46 WIB
TASIKMALAYA, TRIBUN – Nurhikmah, bayi perempuan berusia 11 hari, harus menderita akibat munculnya bejolan di belakang kanan kepalanya. Sewaktu lahir benjolan itu hanya sebesar kelereng. Dalam tempo 11 hari kini ukurannya sudah sebesar telur ayam.
Tak hanya itu, bagian kelopak kedua mata bayi itu tampak ada kelainan. Bagian kelopak dalam berwarna merah seperti keluar, sehingga tampak kedua mata dilingkari kelopak berwarna merah. Bibir pun memperlihatkan gejala sumbing, namun tidak sampai terputus. Namun begitu kondisi bayi tampak sehat.
Ny Masitoh (29), ibu kandung korban yang ditemui Tribun di rumahnya di Kampung Cidahu, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (16/12) sore, menuturkan, selama menjalani kehamilan tidak merasakan ada hal yang janggal. Setiap bulan selalu memeriksakan diri ke bidan.
“Beberapa hari sebelum melahirkan, saya berangkat ke Serang karena ada urusan keluarga. Di sana perut saya merasa akan melahirkan dan akhirnya memanggil bidan terdekat,” ujar Masitoh. Beberapa jam kemudian lahirlah bayi yang merupakan anak kedua pasangan Masitoh dan Ilham Mulyadi (30) ini.
Betapa terkejutnya keduanya setelah bidan memperlihatkan kondisi fisik bayi. Masitoh sempat menangis namun naluri sebagai ibunya lebih kuat. Ia segera menimang bayinya dan memberinya ASI. Beberapa hari kemudian bayi dibawa ke sebuah klinik dan sempat dirawat tiga hari. Tapi benjolan malah terus membesar.
“Karena khawatir, kami akhirnya pulang ke Tasikmalaya. Esok paginya membawa Nurhikmah ke rumah sakit tapi ditolak dengan alasan penuh,” ungkap Masitoh. Namun ia tak sempat menyebutkan rumah sakit mana. Nurhikmah dibawa lagi ke rumah dan akhirnya hanya mendapat perawatan seadanya.
Benjolannya terus membesar dan kini sudah sebesar telor ayam. Dari bejolan itu keluar cairan seperti nanah dan menimbulkan aroma tak sedap. Dari benjolan ke arah mata kanan bayi malang ini, terdapat kulit yang mengerut. Seolah benjolan menarik kulit hingga ke mata. Tetangga berdatangan menengok sekalian memberi doa.
Masitoh menyatakan hanya bisa pasrah terhadap keadaan anak keduanya itu. Namun begitu, suaminya berupaya mengurusi surat-surat keluarga agar bisa mendapatkan Jamkesda dari Pemkab Tasikmalaya. Sebab hanya dengan cara itulah anak mereka bisa dirawat. “Jika mengandalkan biaya sendiri mau dari mana. Untuk makan sehari-hari saja kerepotan,” ujar Ilham nelangsa. (stf)
http://tribunjabar.co.id/read/artikel/13740/rumah-sakit-sempat-menolak-dengan-alasan-penuh

Post a Comment