Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Beras Operasi Pasar Tak Terbeli, Konsumsi Singkong Meluas

Sabtu, 6 Februari 2010 | 03:16 WIB

Cirebon, Kompas - Warga miskin yang mengonsumsi singkong di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, ternyata tidak hanya ditemukan di Kecamatan Kapetakan. Dalam sebulan terakhir, jumlah warga yang mengonsumsi singkong karena tak mampu membeli beras di temukan di tiga kecamatan lain, yakni Suranenggala, Gegesik, dan Klangenan.

Kecuali Klangenan, tiga kecamatan lain masuk kategori kawasan penghasil beras dan berlahan subur. Sejak sebulan terakhir, para buruh tani dan warga miskin memilih mengurangi konsumsi beras dan menggantinya dengan ubi atau singkong karena tingginya harga beras yang mencapai Rp 6.000 per kilogram. Adapun harga singkong atau ubi saat ini rata-rata Rp 1.500 per kg, lebih mahal dibandingkan dengan harga biasanya, Rp 1.000-Rp 1.250 per kg.

”Tak mungkin beli beras terus. Jadi, kalau tak dapat beras, ya, diganjal ubi atau singkong,” kata Turmin, pengemudi becak dan buruh tani dari Suranenggala Lor, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Jumat (5/2).

Hal yang sama diungkapkan Casna, buruh tani dari Desa Gegesik, Kecamatan Gegesik. Dengan penghasilan Rp 25.000, sekarang keluarganya hanya makan nasi satu kali sehari. Dua kali di antaranya diganjal ubi atau singkong.

Tasrib Abubakar, Wakil Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia di Cirebon, mengatakan, harga beras seharusnya jangan mahal, idealnya Rp 5.000 saja. Itu sebabnya, operasi pasar tidak efektif karena harga beras operasi pasar Rp 5.500 tak terjangkau buruh tani. ”Pemerintah harus mengusahakan lebih murahlah,” kata Tasrib, sambil menyebut jumlah buruh tani di Kabupaten Cirebon yang lebih dari 100.000 dari total 2 juta penduduk kabupaten itu.

Dia mengakui, makan singkong memang jadi tradisi hampir semua buruh, khususnya pada Desember-Januari, seusai masa tanam.

Jika harga singkong sekarang juga naik menjadi Rp 1.500 per kg, harga menir (beras berbulir pecah lebih dari 50 persen) juga naik Rp 3.000-Rp 4.000 per kg. Menir ini sejak sebulan lalu laris dibeli karena murah.

Bupati Cirebon Dedi Supardi mengakui masih ada dua daerah yang paling rawan pangan di Cirebon, yakni Kapetakan dan Suranenggala. Selama ini warga miskin disuplai oleh beras jatah untuk orang miskin. ”Singkong dan ubi, kan, langkah diversifikasi untuk mengatasi mahalnya pangan,” kata Dedi. (NIT)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/06/03160349/beras.operasi.pasar.tak.terbeli.konsumsi.singkong.meluas.
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

There was an error in this gadget

Recent Posts