Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Bila Asupan Serba Minim

Dua bocah berpakaian sederhana asyik mengisap botol susu. Yang satu berusia 2 tahun, sedangkan kakaknya lebih tua 1,5 tahun. Isi botol bening itu bukanlah cairan berwarna putih pekat, melainkan kecokelatan. Sudah bisa ditebak, itu adalah air teh. "Mau gimana lagi, sekarang semua pada mahal, terpaksa jatah minum susu si kecil dikurangi," ujar Ani, 28 tahun, ketika ditanya alasannya tidak memberikan susu kepada kedua putrinya itu.
Untuk menyiasati dana yang terbatas, dia berhemat dengan mengganti sebagian jatah susu dengan air teh, bahkan air tajin. Miris memang, tapi itulah kenyataan. Bukan hanya kedua putri Ani yang kekurangan susu. Menurut Profesor Dr Ir Ali Khomsan, guru besar pangan dan gizi Institut Pertanian Bogor, ada jutaan anak yang mengkonsumsi susu dalam jumlah sangat minim. "Anak-anak Indonesia sangat kurang minum susu, bahkan kita paling rendah bila dibandingkan dengan negara Asia lainnya," ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Senin lalu.
Tak mengherankan bila pada 2002 tercatat 4 juta anak balita Indonesia mengalami gizi kurang dan 700 ribu anak menderita gizi buruk. Dari jumlah tersebut, hanya 39 ribu anak yang memperoleh makanan tambahan. Sisanya, kebanyakan tidak mendapat asupan gizi yang memadai sehingga kehilangan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. "Dengan kondisi seperti ini, 20 tahun mendatang kita akan mendapati bangsa-bangsa yang tidak cerdas," katanya.
Jumlah anak balita kurang gizi dan gizi buruk ini sebenarnya mulai menunjukkan tren menurun, tapi belum bergeser dari kisaran 4 juta. Data Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa pada 2004, kasus anak kurang gizi dan gizi buruk naik menjadi 5,1 juta. Kemudian pada 2005 turun menjadi 4,42 juta, 2006 menjadi 4,2 juta dengan 944.246 kasus gizi buruk, dan pada 2007 sebanyak 4,1 juta dengan 755.395 kasus gizi buruk.
Organisasi Pangan Dunia (FAO) mencatat tingkat konsumsi susu Indonesia rata-rata 9 liter setiap tahun per kapita. Angka ini tertinggal jauh dibanding Malaysia 25,4 liter, Singapura 32 liter, bahkan Vietnam 10,7 liter dan Filipina 11,3 liter. Ali menjelaskan, pada awalnya semua bayi yang baru lahir memiliki berat dan panjang badan yang relatif sama. Setelah mengenal makanan pendamping air susu ibu, umumnya pertumbuhan bayi di Indonesia terganggu.
Salah satu faktornya, menurut Ali, adalah mahalnya harga kebutuhan pokok sehingga masyarakat terpaksa menerapkan skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. "Bahkan tak jarang konsumsi susu untuk anak di bawah tiga tahun terpaksa dikorbankan karena harga susu terlalu mahal bagi keluarga berpenghasilan rendah," ia menjelaskan.
Orang tua biasanya menggantinya dengan air teh atau air tajin. Padahal, ujar Ali, air tajin memang mengandung karbohidrat dan vitamin B, tapi tidak mengandung bahan-bahan yang dibutuhkan oleh bayi. "Akibatnya, ketika mencapai usia 18 tahun, di saat pertumbuhan sudah berhenti, pertumbuhan anak-anak Indonesia akan jauh berbeda dengan anak-anak di negara lain," dia memaparkan.
Orang awam sekalipun sebenarnya paham bahwa susu penting untuk pertumbuhan anak batita. Mereka sadar bahwa usia tersebut merupakan masa penting untuk pertumbuhan otak. Usia ini merupakan periode yang singkat yang ditandai dengan pesatnya pertumbuhan jumlah dan ukuran sel tubuh. Kita bisa melihatnya dari tiga aspek, yaitu berat, panjang badan, dan lingkar kepala. Sebenarnya fase cepat pertumbuhan otak telah dimulai sejak janin berumur 30 minggu hingga 18 bulan.
Dia menjelaskan, ketika lahir, berat otak bayi 350 gram, ketika usia 1 tahun 1.000 gram, dan usia 2 tahun sudah mencapai 1.200 gram. Sementara itu, berat otak pria dewasa 1.400 gram dan wanita dewasa 1.250 gram. Jadi, menurut Ali, pada usia 2 tahun hampir 90 persen otak bayi sudah sama beratnya dengan otak orang dewasa. Bila diukur dari pertambahan berat, panjang badan, dan lingkar kepala, pada usia 1 tahun sudah mencapai tiga kali berat badan lahir (BBL) dan pada usia 2 tahun empat kali BBL. Berat badan anak idealnya bertambah 2 hingga 3 kilogram per tahun. Sedangkan panjang badan, bayi usia 1 tahun sudah mencapai 25 sentimeter dari panjang badan lahir.
Untuk itu, apabila bayi kekurangan gizi pada masa tersebut, tidak bisa "ditebus" di masa yang akan datang. "Tidak bisa dikembalikan lagi. Ya, selanjutnya dia akan tumbuh dengan otak yang pas-pasan," ujar ahli gizi yang mendapat gelar doktor dari Iowa State University, Amerika Serikat, itu.
Agar pertumbuhan bayi Anda tidak mengalami hal tersebut, Ali mengatakan penting memperoleh gizi dan nutrisi lengkap dan cukup. Mulai energi (yang terdiri atas karbohidrat dan lemak), protein sempurna (yang terdiri atas asam amino esensial lengkap) yang berguna mensintesis sel dan antibodi, lemak esensial (EFA), linoleat (LA) dan linolenat (ALA) DHA (penting untuk otak), vitamin dan mineral (untuk perlindungan tubuh), serta serat (untuk fungsi pencernaan).
Bahan-bahan bermanfaat tersebut bisa diperoleh dari makanan dan buah-buahan. Misalnya, ALA banyak terdapat di rumput laut dan minyak ikan serta LA dari minyak jagung. Barangkali hal inilah yang tak diketahui banyak orang. Tak mengherankan bila kondisi kurang gizi disebut erat dengan tiga hal, yakni kemiskinan, pendidikan yang rendah, dan lapangan kerja nan minim. Ketiganya membuat orang tua tak paham akan sumber gizi yang baik untuk anak. Sajian pun tak bisa tersedia secara memadai.

By: Marlina Marianna Siahaan
Source: www.tempointeraktif.com, 21 Agustus 2008
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts