Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Mengapa Perlu Solidaritas Konsumen - Petani?

Kita selalu diminta cinta produk dalam negeri. Masalahnya tidak pernah mau dilihat/pura pura tidak lihat, adalah betapa konsumen dalam negeri selalu diberi produk kelas 3, asal jadi. Contoh 3 bulan lalu saya beli 2 antene tv dlm ruangan, bikinin dalam negeri di Walmart Jakarta. Sekarang udah tinggal separuh nyawanya. Lha kalau di Walmart ada lagi buatan luar negeri, apa saya pura pura tidak lihat to? Lho yang nonton tv, yang bayar aku.. dan diberi produk sampahmasa aku beli lagi antene dlm negeri? Guoblok tenan kalau kata Basuki... YLKI dikebiri abis oleh Pemerintah. Kalau susah keadaannya kita di oyok oyok suruh cinta produk dalam negeri. Wis wis zaman edan opo..

Dalam Rangka Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2001 Satu (1) Indonesia adalah Negara Agraris Pengimpor Pangan Berjumlah Besar di Dunia Saat ini, lebih dari 50% penduduk Indonesia menjadikan bidang pertanian sebagai tumpuan utama penghidupan dirinya dan keluarganya. Mereka telah menjalankan peran penting dalam pencapaian prestasi Indonesia sebagai negara yang mampu berswasembada pangan (beras) dan mendapat penghargaan Food and Agriculture Organization (FAO) pada 1984 yang diterimaPresiden RI Soeharto. Prestasi tersebut memang membuat banyak pihak terkesan. Beberapa negara yang memiliki basis pertanian di negaranya seakan menaruh antusias yang begitu tinggi untuk belajar tentang pertanian di Indonesia. Dalam beberapa tahun kemudian, terbukti bahwa mereka betul-betul belajar dari Indonesia. Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Bagaimana konsumen pangan, khususnya beras di Indonesia? Selama ini, konsumen di Indonesia bisa memperoleh pangan (beras) dengan harga murah.Kondisi ini terus berlangsung dan didukung kebijakan kontrol harga komando sehingga masyarakat merasa tidak perlu meningkatkan daya beli mereka. Saat itu, negara memang masih sanggup menyediakan subsidi harga dalam jumlah besar untuk menjamin agar harga beli di tingkat konsumen tetap murah. Bagaimana kondisi Indonesia saat ini? Sebagai Negara Agraris, Indonesia saat ini justru berada dalam kondisi rawan pangan (food insecurity) dan berstatus sebagai net-food importing country. Kondisi memalukan ini terjadi bukan dalam arti bahwa tidak ada pangan yang cukup bagi warga negara Indonesia tetapi pangan yang dikonsumsi warga negara Indonesia saat ini banyak yang tergantung dari pasokan luar negeridengan tingkat ketergantungan yang semakin besar.Dua (2) Politik Harga Pangan Murah Merugikan Pelestarian Sumber Daya Pangan Nasional dan Ketahanan Pangan Nasional Konsumen pangan di Indonesia yang berpenghasilan pas-pasan selama ini memang merasa aman-aman saja. Sementara mereka yang berkelebihan dan dengan daya beli kuat, memiliki daya pilih yang lebih besar. Mereka dengan mudah membelanjakan uang mereka untuk panganyang lebih bergengsi. Pangan yang berharga murah akhirnya dipandang murahan. Bagaimana dengan petani sendiri? Apakah harga jual gabah kering panen dan gabah kering giling adalah harga yang layak? Apakah petani mendapatkan penghargaan yang layak atas jerih payahnya menghasilkan pangan untuk warga negara Indonesia yang sebagian diantaranya berada di perkotaan? Petani yang 90% diantaranya hanya memiliki lahan kurang dari 1 hektar - bahkan banyak diantaranya hanya berstatus sebagai petani penggarap atau buruh tani -- itu bertugas menghasilkan pangan berharga murah yang dipandang murahan.Dalam suatu penelitian yang diadakan pada bulan November 1998, yaitu dua minggu setelah panen berlangsung, terungkap hitungan gross margin dari tingkat petani ke konsumen. Angkanya hanya sebesar 18%, suatu nilai yang tidak terlalu besar. Kalau ditelusur lebih jauh, sebenarnya petani hanya menikmati gross margin 4% karena petani harus menjual hasil cucuran keringatnya kepada pedagang perantara atau perusahaan penggilingan beras (Rice Milling Unit-RMU). Untuk mendapat gambaran lebih gamblang, dalam penelitian itu petani produsen pemilik lahan satu hektar akan dapat menghasilkan sekitar 5 ton gabah. Bila harga gabah mencapai Rp 1000 per kg, maka petani tersebut akan mendapat Rp 5 juta, yang bila dipotong biaya produksi sekitar Rp 2,285 juta, maka ia akan mendapat untung sekitar Rp 2,715 juta. Angka ini tentu saja kecil nilainya bila dibandingkan dengan jerih payah mereka selama sekitar empat bulan. Ironisnya, petani di Pulau Jawa umumnya hanya memiliki lahan kurang dari satu hektar.Angka ini bisa kita bandingkan dengan keuntungan pedagang beras. Dengan harga sekitar Rp 2300 per kg beras kualitas sedang, maka gross margin pemasaran (dengan rumus yang digunakan LPEM FEUI) yang dinikmati pedagang (dari pedagang perantara hingga pengecer kecil yang sekitar 14%)
--------------------------------------------------------------------------------
Page 2
adalah sekitar Rp 322 per kg atau Rp 1,61 juta per hektar. Bayangkan besarnya keuntungan para pedagang itu bila menguasai ribuan ton perdagangan beras. Gambaran diatas adalah gambaran dalam kondisi baik. Gambaran dalam kondisi tidak baik, misalnya gagal panen atau tanaman diserang hama, akan jauh lebih mengenaskan. Petani tidak memiliki mekanisme seperti asuransi yang akan mengganti kerugian akibat gagal panen atauserangan hama. Biaya kegagalan itu umumnya akan ditanggung petani. Sementara pedagang beras, terutama yang berskala besar, akan bisa mendapatkan pasokan beras dari daerah lain atau dari impor. Lain pedagang, lain petani. Bagaimana dengan konsumen di perkotaan? Ketika terjadi gagal panen, konsumen yang terbiasa dengan beras murah, hanya bersedia membayar sesuai daya belinya. Keran impor beras pun dibuka. Berapa jumlah pastinya, seringmenjadi tanda tanya. Dalam beberapa analisis, impor beras ini seringkali tidaklah diperlukan. Pasokan beras masih tetap memadai untuk mencukupi kebutuhan beras nasional. Impor beras tetap dilakukan karena pihak yang terbiasa dengan proyek impor beras tak rela impor beras terhenti begitu saja. Akibatnya, devisa melayang dan harga beras di pasaran menurun, bahkanjatuh. Yang tertimpa tangganya adalah petani karena harga jual gabah juta ikut jatuh. Konsumen justru senang, namun secara tidak sadar senang diatas penderitaan petani.Dalam beberapawaktu terakhir memang sempat muncul kebijakan menaikkan harga jual gabah. Sekitar paruhpertama tahun 2001, harga gabah kering panen memang sempat mencapai Rp 1000 per kg, lebih tinggi dari harga tahun sebelumnya yang Rp 800 per kg. Namun para petani masih harus menelan kepahitan karena harga pupuk urea di pasaran mencapai Rp 1200 per kg. Hitungan sederhana seorang petani adalah setiap kilogram gabah yang terjual harus sama dengan harga satu kilogram pupuk. Kondisi ini terjadi karena adanya kebijakan pengurangan subsidi pupuk. Di sisi lain, sekarang memang sedang tumbuh gerakan pertanian organik. Pertanian ini dijalankan dengan prinsip pemanfaatan pupuk organik (bukan pupuk kimia seperti yang telah berlangsung selama revolusi hijau) dan penggunaan bibit yang disemaikan sendiri oleh petani (bukan benih sekali pakai). Kabarnya, untuk membasmi hama tanaman, digunakan predatoralami.Hasilnya pun sudah mulai bisa dinikmati. Beras yang dijual sering diberi label fair trade dimana selisih harga jualnya dengan harga jual beras lain di pasaran cukup banyak. Fair trade menghendaki iklim usaha dilakukan secara terbuka dan adil sehingga tidak ada yang dirugikan. Fair trade jelas berbeda dengan free trade dimana siapa yang memiliki modal besar dan posisi kuat, bebas menguasai pasar. Sebagai gambaran, di tingkat petani, harga satu kilogram beras organik berkisar Rp 3000 harga ini sudah dihitung dan dijual dengan harga bervariasi. Ada yang mematok Rp 5000 per kg untuk beras Rojolele. Pertanian organik akan lebih cepat menuai prestasi bila mendapat dukungan dari konsumen, selain dukungan kebijakan nasional bidang pangan dan pertanian.Dengan cara demikian, petani mendapat keuntungan yang layak atas usaha tani yang mereka jalankan. Dalam jangka panjang, cara ini akan meningkatkan kesejahteraan petani. Dampaknya, citra petani dan pertanian akan meningkat. Untuk saat ini, dalam kondisi pemerintah Indonesia tak punya dana cukup untuk mensubsidi pertanian organik - hasil minyak bumi Indonesia pun sudah diijonkan untuk mendapatkan pinjaman utang untuk membiayai operasional pemerintahan -- rasanya memang pihak yangpertama kali dapat mendukung upaya ini adalah konsumen yang memiliki daya beli kuat. Upaya demikian memang perlu dilakukan secara kolektif dan menjadi sebuah gerakan. Secara bertahap, gerakan ini akan mendorong terciptanya iklim usaha pertanian yang sehat dimanapetani tak lagi dikorbankan demi murahnya harga jual beras di tingkat konsumen. Walaupun masalah yang menghadang adalah kerelaan konsumen berdaya beli kuat untukmendukung gerakan ini, kesuksesan gerakan pertanian organik ini merupakan ujian apakah solidaritas konsumen pangan (beras) terhadap petanian pertanian di Indonesia bisa lebih baik dibandingkan solidaritas serupa di Jepang. Tragisnya nasib petani Indonesia selama masa berlangsungnya revolusi hijau akan dapat dibenahi dengan dukungan konsumen berdaya beli kuat. Dengan semangat gotong royong demi perbaikan nasib petani dan pertanian di negara agraris ini, kita bisa lebih memberikan makna dalam peringatan Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2001 di Indonesia.
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts