Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Waspada Makanan Transgenik

Kita tak pernah mengerti berawal dari mana makanan yang kita makan. Beberapa makanan bisa saja berasal dari pangan transgenik, sebuah proses asal pangan yang belum pernah diteliti dampak kesehatannya bagi manusia.
Jangan kaget kalau dijabarkan berapa banyak pangan transgenik di sekitar kita. Bahan pangan yang berasal dari rekayasa gen di dalam tumbuhan tersebut ternyata mulai menyebar di bahan-bahan dasar pangan.
Seperti tempe dan tahu, dua makanan asli Indonesia itupun berasal dari tumbuhan transgenik, yaitu kedelai, kedelai dari negara pemrakarsa tumbuhan transgenik, AS. Dari kebutuhan tiga juta ton kedelai dalam negeri, 70 hingga 80 persennya diimpor dari negeri Paman Sam tersebut.
Lalu sebenarnya sudah mengertikah bagaimana efek kesehatan memakan bahan pangan dari tumbuhan rekayasa tersebut. Kita tak pernah tahu mungkin. Ini yang memiriskan.
Di negeri gemah ripah loh jinawi ini, hal seperti itu seperti tak dipedulikan. Di AS sendiri, kini banyak pihak mulai khawatir. Lantaran mulai banyak ditemukan beras transgenik dalam makanan mereka. Mereka sewot lantaran ternyata pihak pemerintah AS belum pernah sedikit pun melakukan penelitian kesehatan mengenai dampak makanan berasal dari tumbuhan transgenik pada kesehatan manusia.
Inilah yang seharusnya diusut juga di Indonesia. Seperti kata Ilyani S Andang dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, “Bukan masalah apa-apa, sebagai konsumen kita seharusnya mendapatkan hak untuk memperoleh informasi yang benar,” jelas dia. “Konsumen berhak mendapatkan informasi keamanan pangan dan pemerintah pelindung masyarakat harus bisa memfasilitasinya,” lanjutnya lagi.
Sampai saat ini, pemerintah kita malah cenderung diam saja dalam masalah ini. Memang mereka telah memiliki peraturan mengenai hal ini, yang termaktub dalam PP no 21/2005 mengenai Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik. Namun, petunjuk praktis di lapangan hingga kini belum pernah ada. Akibatnya, ratusan produk trangenik menyerbu negeri ini.
Hal ini juga yang disesalkan oleh Tedjo Wahyu Djatmiko, selaku pengamat dalam masalah tumbuhan rekayasa genetik. Meski ia sendiri mengakui tak tahu apa saja dampak kesehatan bagi manusia bila mengonsumsi hasil tumbuhan transgenik. Namun secara hak dasar, memang diperlukan uji menyeluruh dahulu sebelum melepaskan jenis makanan tertentu ke masyarakat.
“Itu hak dasar yang harus dipenuhi pemerintah. Kita tak pernah tahu apa saja dampak kesehatan dari hasil tanaman tersebut,” ujar pria yang kini menjabat Ketua Koalisi Rakyat untu Kedaulatan Pangan (KRKP) tersebut, Rabu (6/9).
Namun menurut sepengetahuannya, jenis tumbuhan ini tak bersahabat dengan tumbuhan alami bila ditanam di suatu daerah baru. Beberapa kasus pernah terjadi pada hal ini, seperti pada kasus tanaman kapas di Sulawesi. Kehadiran kapas transgenik ternyata memicu lahirnya serangga baru yang lebih kuat. Serangga baru ini bukan lawan bagi tumbuhan asli, hingga kita harus kehilangan banyak tumbuhan asli negeri ini.
Pada tanaman pangan yang merupakan hasil tumbuhan transgenik, mungkin hal itu bisa saja terulang. Banyak padi jenis lokal akan tergusur, tergantikan dengan padi baru yang merupakan hasil rekayasa genetik. Mungkin padi transgenik ini merupakan padi hasil terbaik. Namun apakah padi gemuk juga tak meninggalkan kesempatan merugikan? Mengingat tak ada yang pernah sempurna di dunia ini.n

By: Sulung Prasetyo
Source: Sinar Harapan, 7 September 2008
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts