Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Mengadopsi Personalisasi Perawatan Kesehatan

Kamis, 25 Juni 2009 | 11:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kenapa suatu penyakit bisa lebih agresif pada seseorang ketimbang individu yang lain? Kenapa ada orang yang sudah beberapa kali melakukan kemoterapi masih saja kambuh, sedangkan yang lain tidak? Kenapa dengan faktor risiko yang sama seseorang bisa terserang kanker, sementara yang lain tidak? Sejumlah pertanyaan ini, menurut Kepala Divisi Hematologi Medikal Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dr Johan Kurnianda, SpPD, secara praktis akan dijawab sistem personalisasi perawatan kesehatan.

Apa itu personalisasi perawatan kesehatan? Johan menjelaskan, metodologi ini adalah suatu pendekatan dalam dunia kedokteran, berupa manajemen penanganan pasien atas dasar informasi genotipe yang membuat dokter bisa mengevaluasi atau mengintervensi faktor risiko penyakit--termasuk kanker. Dari informasi ini, seorang dokter bisa memilah terapi yang tepat buat seorang pasien. "Penanganan akan berbeda dari satu individu dengan yang lain, walau jenis kanker dan stadiumnya sama," ujar Johan saat jumpa media mengenai Personalisasi Perawatan Kesehatan di Hotel Borobudur, Jakarta, pekan lalu.

Dalam presentasi, Johan memaparkan, personalisasi perawatan kesehatan berbicara mengenai pencegahan penyakit, deteksi dini atau diagnosis penyakit, hingga terapi dan pengobatan. Tujuannya, agar dokter mempunyai metodologi yang lebih akurat dan mampu meramalkan perjalanan penyakit pasien dengan benar. Dan lewat metodologi ini, dokter diharapkan bisa memperbaiki hasil pengobatan dan meningkatkan keamanan pasien.

Lalu, apa saja syarat untuk menerapkan metodologi ini dengan baik? Ada tiga syarat untuk mengimplementasikannya. Pertama, seorang dokter atau tenaga kesehatan mesti meningkatkan pengetahuannya mengenai biomarker atau penanda biologi. Penanda biologi inilah yang dapat mendeteksi suatu protein atau gen yang berperan penting dalam perkembangan kanker. Dan lewat protein dan gen ini pula, seorang dokter bisa memetakan sejauh mana tingkat penyebaran penyakit ganas itu.

Yang kedua adalah farmakogenetik. Satu bidang dalam farmakologi klinik yang mempelajari respons obat yang dipengaruhi faktor genetik. Dengan kata lain, merupakan studi pengaruh genetik terhadap respons obat. "Kita ingin melihat dari faktor protein atau genetiknya, ada tidak hal-hal yang bisa menerangkan terjadinya disparitas atau perbedaan respons pada setiap individu," ujar Johan.

Syarat yang ketiga adalah usaha penciptaan obat baru dari kasus sang penderita. Misalnya pada suatu kasus kanker payudara, akan dilihat gen mana yang paling berpengaruh--tentunya yang mendorong kanker menjadi besar dan mudah menyebar. Nah, dari situ seorang dokter membuat suatu obat yang efektif melawan aktivitas gen itu. "Sejatinya obat itu diciptakan karena dokter tahu sasarannya apa."

Pada sejumlah kasus, banyak pasien yang tidak memerlukan obat tertentu, tapi malah diberikan. Alhasil, mereka cuma mendapat efek samping dan tidak mendapat manfaat apa pun dari obat tersebut. Selama ini, yang terjadi di Indonesia adalah apa pun jenis kankernya, pasien akan diberikan terapi yang sama. Dengan cara seperti itu, kata Johan, secara umum cuma 3 dari 10 penderita yang berhasil sembuh. "Biasanya mereka kena efek samping, berupa rambut rontok dan muntah-muntah. Namun, bagaimana kalau yang kena (pengaruh obat itu) saraf dan fungsi-fungsi selnya," dokter yang berdomisili di Kota Gudeg itu mengingatkan.

Secara sederhana, bisa dikatakan penanganan kanker sampai saat ini belumlah sukses. Menurut Johan, sebanyak 60 persen penderita kanker meninggal akibat penyakitnya. Permasalahannya, 50 persen lebih kasus kanker di dunia ada di negara berkembang, termasuk Indonesia. Adapun sejumlah studi menunjukkan adanya perbedaan hasil pengobatan di negara maju dan berkembang. "Yang dimaksud adalah pengobatan terhadap kanker yang sama, stadium yang sama, dan pada usia yang sama," dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta, ini menjelaskan.

Di Indonesia, menurut Johan, baru sekitar 30 persen personalisasi perawatan kesehatan dipraktekkan oleh dokter. Jadi, negeri ini masih berjalan pada tahap awal dalam pelaksanaannya. Meski begitu, Johan menganggap paling tidak negara ini sudah melangkah lebih baik, walau masih jauh ketimbang negara yang sudah canggih bidang kedokterannya. "Dalam skala 1 sampai 10, kita baru di nilai 3."

Dalam penatalaksanaan penyakit kanker, metodologi ini sangat didukung kemajuan teknologi diagnosis dan pengobatan. Sinergi keduanya memberi peluang dokter meningkatkan hasil terapi, sehingga memperpanjang harapan hidup dan kualitas hidup seorang pasien. Staf Medik Fungsional Patologi Klinik RS Kanker Dharmais, dr Sri Hartini, SpPK, mengatakan penegakan diagnosis itu cuma 3 persen dari seluruh biaya pelayanan kesehatan. "Namun, hasil tes diagnosis mempengaruhi 70 persen dari semua keputusan medis," katanya dalam kesempatan yang sama.

Salah satu contoh penerapan metodologi ini adalah dalam penatalaksanaan kanker payudara. Kemajuan teknologi diagnosis telah mampu mengidentifikasi bahwa kanker payudara memiliki beragam jenis. Dan cuma kanker payudara dengan HER2 positif yang akan memberikan respons terhadap pengobatan dengan Herceptin. Sementara itu, pada penatalaksanaan hepatitis C, serangkaian tes diagnosis memungkinkan dokter memprediksi respons pasien terhadap pengobatan, sehingga bisa ditentukan jangka waktu pengobatan yang diberikan.

Lebih dalam, pengembangan konsep ini sebenarnya dilandasi pengamatan terhadap pasien yang didiagnosis dengan penyakit yang sama, namun memiliki respons berbeda terhadap pengobatan. Data menunjukkan bahwa 20-75 persen pasien tidak mendapat terapi yang efektif. Bahkan di Amerika Serikat, data 2007 menunjukkan bahwa lebih dari 100 ribu orang meninggal akibat efek samping obat. Adapun data statistik Global Cancer--organisasi di bawah Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005--menunjukkan terdapat 11 juta kasus kanker baru setiap tahun. Dari jumlah tersebut, 7 juta di antaranya meregang nyawa.

HERU TRIYONO

5 Keuntungan
1. Peningkatan kualitas serta harapan hidup pasien.
2. Pasien terhindar dari pengobatan yang tidak perlu.
3. Mencegah biaya yang timbul akibat efek samping obat.
4. Bagi pembuat kebijakan atau penanggung biaya, metodologi ini membuat anggaran lebih efisien.
5. Bagi pasien dan dokter, pendekatan ini memberi manfaat berupa peningkatan efektivitas pengobatan.

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/06/25/brk,20090625-183700,id.html
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts