Jum'at, 26 Juni 2009 | 08:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah mengusulkan kenaikan subsidi listrik pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2009 dari Rp 45,96 triliun menjadi Rp 56,53 triliun.
"Kenaikan terjadi karena adanya perubahan asumsi kurs dari Rp 9.400 menjadi Rp 10.600 per dolar AS," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat RI di Jakarta, Kamis (25/6) malam.
Ia mengatakan perubahan tersebut menimbulkan lonjakan subsidi listrik sebesar Rp 6,1 triliun. Kenaikan subsidi terjadi akibat tidak terealisasinya domestic market obligation (kewajiban memasok untuk dalam negeri) batu bara sebesar Rp 5,3 triliun.
Selain itu, kata dia, kenaikan juga dipicu oleh meningkatnya margin untuk PT Perusahaan Listrik Negara dari satu persen menjadi dua persen. "Tapi ada juga faktor pengurang subsidi listrik, yaitu nilai Indonesia Crude Price, dari US$ 80 per barel menjadi US$ 61 per barel," kata Purnomo.
Harga rata-rata minyak mentah dunia pada Januari hingga Juni 2009 mencapai US$ 51,53 per barel. Perkiraan untuk sisa bulan 2009, yaitu US$ 60 hingga US$ 70 per barel. "Jadi, perkiraan kami harga minyak tahun ini sekitar US$ 55 hingga US$ 65 per barel," ucapnya.
Sementara asumsi produksi minyak nasional untuk tahun ini tetap sama. Realisasi produksi hingga 14 Juni sebesar 953 ribu barel per hari atau 99,22 persen dari target 960 ribu barel per hari.
Pemerintah akan berupaya menggenjot produksi melalui lapangan Banyu Urip, Kangean, Tangguh, Sukowati, dan Kodeco KE 58. "Stok minyak nasional sekarang mencapai 11 juta barel," tuturnya.
SORTA TOBING
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2009/06/26/brk,20090626-183879,id.html

Post a Comment