Jumat, 17 Juli 2009 | 00:25 WITA
INDONESIA bisa ikut memasok kebutuhan pangan dunia. Potensi alamnya sangat besar. Lahan pertanian luas, iklim mendukung, dan sumber daya manusianya banyak. Saat ini, komoditas penting seperti beras dan jagung, sudah bisa swasembada. Walaupun begitu, untuk memasok pangan dunia, produktivitas tanaman pangan harus terus ditingkatkan.
Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional, Maxdeyul Sola, mengatakan di Jakarta, Selasa (14/7), peluang memasok pangan terbuka luas. Terlebih lagi dengan meningkatnya kebutuhan pangan akibat pertambahan jumlah penduduk dunia. Jagung, misalnya, sangat dibutuhkan di seluruh dunia, untuk pangan dan pakan ternak.
Peningkatan produksi jagung dunia dipicu oleh kemajuan teknologi pangan, terutama penggunaan jenis hibrida, kemudian transgenik. Hibrida sudah diterapkan sejak lama dan berhasil memenuhi kebutuhan pangan di negara-negara berpenduduk sangat banyak seperti Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.
Di Indonesia, pada awalnya, hibrida ditentang. Namun kini, penggunaan jagung hibrida berkembang pesat. Produktivitas jagung paling tinggi dibandingkan padi dan gandum. Selain itu, tanaman hibrida bersifat multiguna. Jagung bisa digunakan sebagai makanan, pakan ternak, hingga bahan bakar nabati atau biofuel dan polimer.
Produksi jagung dunia, kini, mencapai 750 juta ton. Sebagian besar dikonsumsi oleh negara produsen. Sekitar 75 juta ton atau 10 persen masuk pasar dunia. Amerika Serikat adalah penghasil jagung utama dunia. Luas lahan tanaman jagung mencapai 35 juta hektare. Produksi jagung sekitar 350 juta ton, 80 persen di antaranya transgenik.
Cuaca buruk yang sering terjadi di negara-negara penghasil jagung, seperti AS, Brasil, Argentina, Tiongkok, dan sebagian Eropa, berpotensi menurunkan suplai jagung dunia. Di samping itu, program biofuel di negara-negara tersebut berjalan cepat sehingga mengurangi ekspor jagung.
Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia. Data departemen pertanian menyebutkan, produksi jagung nasional terus meningkat. Pada tahun 2008 tercatat 15,8 juta ton dan tahun 2009 diperkirakan naik hingga 16,47 juta ton. Sayang, produktivitas rata-rata nasional hanya 4 ton per hektare. Padahal, penanaman berdasarkan hasil eksperimental dengan transgenik bisa menaikkan produksi di atas 10 ton per hektare.
Dengan kata lain, revitalisasi pertanian yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus benar-benar terealisasi. Persoalannya, sekitar 3 juta hektare atau 60 persen dari 5 juta hektare lahan sawah beririgasi di Tanah Air, sudah lama tidak berfungsi optimal. Sarana dan prasarana irigasinya rusak parah.
Yang memprihatinkan, lahan pertanian tidak sesubur di masa lalu. Tanah kekurangan bahan organik hingga di bawah 2 persen. Penyebabnya, selama bertahun-tahun diberi pupuk kimia atau anorganik. Di Jawa, petani menggunakan pupuk urea sampai 600 kilogram per hektare. Padahal, kebutuhan normal hanya 150 hingga 250 kilogram per hektare. Kesalahan, sekaligus pemborosan karena pupuk urea termasuk yang disubsidi.
Peluang untuk memasok pangan dunia hanya bisa terwujud, jika pemerintah menjadikan pertanian sebagai sektor prioritas. Perhatian besar yang terwujud lewat alokasi anggaran yang juga besar. Apalagi, sektor pertanian selalu tampil sebagai penyelamat ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi. Wajar bila sektor pertanian menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi dan andalan masyarakat, swasta, dan pemerintah, pada situasi dan kondisi apa pun. Peluang memasok pangan dunia pun bukan hanya wacana belaka. ***
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/39010

Post a Comment