Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Bank Janji Pangkas Bunga Kredit

2009-08-06

Nasabah melakukan transaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) milik bank swasta nasional di Jakarta, Rabu (5/8). Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan atau BI rate menjadi 6,50 persen atau turun 25 basis poin.

[DEPOK] Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (Bank BNI) Gatot M Suwondo memastikan bahwa perbankan akan mengupayakan penurunan suku bunga kredit, mengikuti bank sentral yang telah memangkas BI Rate 300 basis poin (bp) sejak Desember 2008.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan menurunkan BI Rate sebesar 25 bp menjadi 6,5%. Keputusan tersebut, diambil setelah RDG menyimpulkan ekspektasi terhadap penurunan inflasi ke depan masih berlanjut seiring terbatasnya permintaan domestik. Sehingga, penurunan inflasi masih konsisten dengan sasaran inflasi BI ke depan.

"Ke depan, kita juga akan turunkan lagi, mungkin pada Agustus ini, bergantung pada hasil Alco (Asset Liabilities Committee), kita usahakan turun 50 bp seperti biasanya," terang Gatot, di Depok, Rabu (5/8).

Suku bunga yang berlaku di Bank BNI saat ini, untuk kredit di kisaran 12%-13%, dan deposito 7%-9%. Menurut Gatot, penghambat penurunan suku bunga adalah faktor risiko, selain beban biaya dana (cost of fund).

Gatot menjelaskan, perbankan harus berkompetisi dengan imbal hasil obligasi ritel pemerintah (ORI) sebesar 9%-an. Hal ini membuat deposan besar, khususnya perusahaan BUMN, kerap meminta bunga yang lebih tinggi dari counter rate, meski telah diimbau oleh Menneg BUMN.

Sambungnya, krisis likuiditas membuat banyak nasabah mengonversi dananya dari tabungan menjadi deposito, terlihat dari pergeseran komposisi antara dana CASA (tabungan dan giro) dengan deposito.

"Dulu, kita targetkan 60% CASA dan 40% deposito, kini telah bergeser jadi 54% dibanding 46%. Dan dana institusi cukup besar, sekitar 30%-40% dari total DPK, ini yang bikin cost of fund tinggi," ujar dia.

Meski menjadi penghambat pertumbuhan kredit, Gatot mengaku optimistis kredit bakal mengucur lebih deras, seiring ekspektasi pulihnya perekonomian dan mulai terasanya penurunan suku bunga ke depan.

"Kalau kami dengan target 14% masih yakin bisa terpenuhi pada akhir tahun nanti, memang konsesinya masih di segmen korporasi," kata dia.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, pemerintah bersama BI telah berkomunikasi dengan deposan BUMN, penikmat bunga tinggi tersebut.

"Kini tinggal menunggu hasilnya seperti apa dari BI dan Menneg BUMN," ujar dia.


Terbebani

Pada kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) Firmanzah menganggap, sikap deposan pelat merah meminta bunga tinggi, karena mereka terbebani dengan setoran wajib tiap tahun kepada pemerintah.

Disamping sikap deposan besar, dia menambahkan, penyebab lain penurunan suku bunga adalah banyaknya dana perbankan yang dipakai untuk membeli Surat Utang Negara (SUN) maupun Sertifikat Bank Indonesia (SBI) daripada disalurkan dalam bentuk kredit yang risikonya lebih tinggi.

"Nah, BI dan pemerintah perlu bersinergi untuk mengatasi hal ini, karena sektor riil dan sektor keuangan harus bergerak bersamaan," ujar dia.

Sedangkan, CEO PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira) Stanley S Atmadja mengatakan, sudah seharusnya bank mulai menurunkan suku bunganya. Sebab, deposito berharga mahal mulai banyak yang jatuh tempo dan bisa disesuaikan rate-nya.

"Kita kan tidak terkait secara langsung dengan BI Rate, tetapi ikuti cost of fund bank. Jadi, kalau itu sudah turun, tentu harga kredit kita akan lebih baik lagi," terang dia.

Adira bersama induk perusahaannya, yakni PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank Danamon) melakukan join financing, di mana komposisi modal 85% dari total aset Rp 17 triliun merupakan suntikan Bank Danamon. Adira mengakui, adanya penurunan pasar sebesar 10% dari pencapaian tahun lalu. "Karena daerah luar Jawa yang bergantung harga komoditas terimbas penurunan market," kata dia.

Stanley memaparkan, hingga semester satu 2009, penjualan sepeda motor melalui fasilitas pembiayaan Adira telah mencapai 42.000 unit. [RRS/M-6]

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=9644
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

There was an error in this gadget

Recent Posts