Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Kebakaran yang Selalu Mengintai

28-07-2009 22:13

Pernah dengar ungkapan kecil menjadi kawan, besar menjadi lawan. Ungkapan itu menggambarkan bahwa api mempunyai manfaat yang banyak, tetapi juga dapat mendatangkan bahaya. Ungkapan ini rasanya pas untuk selalu diingat warga Jakarta agar tetap waspada terhadap ancaman bahaya kebakaran. Sebab, sejumlah peristiwa kebakaran di DKI Jakarta, pada umumnya akibat kelalaian manusia (human error). Seperti apa bentuknya? Ceroboh menyalakan kompor gas, lupa mematikan kompor dan lilin, membuang puntung rokok sembarangan, mencuri aliran listrik dengan cara menyambung langsung dari kabel arus tegangan tinggi, menumpuk sambungan listrik pada satu stopkontak, dan lain sebagainya.

Selagi belum terjadi, kegiatan-kegiatan ini memang terkesan aman-aman saja. Tapi sadarkah Anda, jika perilaku seperti ini bisa mengancam jiwa semua orang, termasuk orang-orang yang Anda cintai? Ya, tengok saja peristiwa tragis terpanggannya tujuh korban jiwa di Restoran Soto Lamongan, Jakarta Barat, pada Senin (13/7) lalu. Dan baru-baru ini, empat orang tewas dalam peristiwa kebakaran yang melululantakkan sebuah rumah mewah di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa kebakaran memang sangat miris terdengar di telinga kita. Apalagi, jika mereka adalah sanak-saudara kita atau mungkin rekan-rekan yang kita kenal. Seperti meninggalnya Melina Rahmawati (24), bintang iklan cantik, pada peristiwa terbakaranya rumah di kawasan Tebet, dan meninggalnya ibu Suwarni (40) asal Malang, Jawa Timur, pada peristiwa kebakaran di Restoran Soto Lamongan. Dan tentunya kita semua tidak berharap peristiwa ini berlanjut dan terus menelan korban jiwa. Untuk itu, mulai sekarang, marilah kita waspada dan tidak meremehkan hal-hal kecil yang dapat menyebabkan kebakaran terjadi. Sebab, tanpa adanya kesadaran masyarakat, upaya penanggulan kebakaran yang dilakukan pemerintah tidak akan berjalan dengan maksimal.

Kesadaran tersebut saat ini sudah bersifat mendesak dan harus lekas ditumbuhkan. Sebab, angka kasus kebakaran di DKI Jakarta sudah tergolong tinggi. Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar dan PB) DKI Jakarta, sejak Januari hingga 28 Juli 2009 telah terjadi 413 kasus kebakaran. Rinciannya, Jakarta Barat 103 kasus, Jakarta Selatan 102 kasus, Jakarta Timur 86 kasus, Jakarta Pusat 66 kasus, dan Jakarta Utara 56 kasus. Jumlah ini terjadi peningkatan jika dibanding para periode yang sama di tahun 2008 yang hanya mencapai 396 kasus.

Dalam peristiwa sepanjang tahun ini, setidaknya mengakibatkan 31 orang meninggal dunia. Sedangkan tahun lalu hanya 14 korban meninggal dunia. Namun secara umum faktor penyebabnya masih sama. Hanya saja frekuensinya yang berbeda. Tahun ini penyebabnya didominasi korsleting arus listrik, yakni 243 kasus, disusul kompor meledak 44 kasus, rokok 16 kasus, dan 98 kasus karena kebakaran mobil dan penyebab lainnya.

Lantas apakah selama ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hanya berpangku tangan? Tentu jawabnya tidak! Sejauh ini Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta serta Sudin Damkar dan PB di lima wilayah kota telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, pembentukan relawan bantuan pelaksana harian pemadam kebakaran (Balakar), hingga menertibkan pengamanan terhadap ancaman kebakaran di gedung-gedung bertingkat.

Dalam sosialisasi, Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta terus mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penggunaan kompor gas, lilin, tidak membuang putung rokok sembarangan, dan tidak menggunakan kabel-kabel tidak berstandar di rumah-rumah, hingga sweeping listrik. Selain tatap muka, sosialisasi juga dilakukan melalui selebaran berbentuk pamflet dan leaflet. Sedangkan bagi pemilik dan pengelola gedung, Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta terus menyosialiasikan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2008 tentang Keselamatan Gedung.

Tak hanya itu, untuk mendukung kelestarian lingkungan hidup dan sekaligus meningkatkan efektivitas pemadaman di gedung-gedung bertingkat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan para pengelola dan pemilik gedung mengganti zat halon pada isi tabung alat pemadam api ringan (Apar). Dalam hal ini, Pemprov DKI Jakarta merekomendasikan tujuh zat kimia sebagai pengganti zat halon tersebut, yakni FM200/FE227 (USA), NAFIIIS (USA), FE125 (USA), Novec1230 (USA), Hartindo AF11E (Indonesia), Inergen (USA), dan Argonite/Nitrogen (UK).

Pemakaian ketujuh zat kimia tersebut nantinya akan dituangkan ke dalam peraturan gubernur (Pergub). Sehinga, dapat memudahkan Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta dalam melakukan pengawasan di lapangan. Kebijakan ini juga sejalan dengan hasil Musyawarah Besar (Mubes) III Ikatan Kebakaran Indonesia (IKI) yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JJC) tanggal 17-19 Juni 2009.

Untuk Balakar, saat ini Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta sudah melatih 6.200 relawan. Balakar ini dibagi menjadi 124 kelompok sistem ketahanan kebakaran lingkungan (SKKL). Mereka telah diberi materi cara penanggulangan kebakaran serta dibekali alat pemadam api ringan (Apar) berupa tabung pemadam berukuran enam kilogram. Selain itu, Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta akan menambah dua unit mobil snorkel yang memiliki tangga hingga 55 meter. Mobil ini akan sangat berguna untuk menjangkau kebakaran di gedung bertingkat. Sehingga, pemadaman dapat dilakukan tepat sasaran dan cepat. Sebab, mobil ini memiliki daya semprot air mencapai 3.800 liter per menit dan mampu bekerja secara horizontal maupun vertikal.

Selain mobil multifungsi tersebut, saat ini Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta juga tengah mengusulkan agar diberikan mobil sektor yang fungsinya dapat memadamkan api di lorong-lorong sempit. Diharapkan, pengadaan ini dapat terealisasi seusuai dengan jumlah kecamatan di DKI Jakarta. Sebab, Jumlah mobil sektor yang ada saat ini hanya 10 unit. "Paling tidak mobil sektor ini juga harus ditambah. Jika terjadi kebakaran di pemukiman padat penduduk, mobil ini bisa masuk lorong," kata Paimin Napitupulu, Kepala Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta, Selasa (28/7).

Disamping itu, Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta juga berencana akan menambah sekitar 3.000 personel. Sebab, saat ini jumlah SDM yang ada sekitar 3.200 personel, termasuk 800 personel yang akan pensiun pada tahun 2010 mendatang. Padahal, idealnya untuk mengefektifkan kinerja Dinas Damkar dan PB DKI Jakarta membutuhkan sekitar 6.000 personel. "Ini untuk memenuhi formulasi 6 banding satu. Artinya, setiap 6 personel akan membawahi satu unit kendaraan pemadam dan kerja mereka akan diatur dalam 3 shif. Dengan begitu maka kinerja Dinas Damkar akan lebih maksimal," imbuh Paimin.

Dengan adanya perbaikan kinerja dan upaya penanggulangan ini diharapkan kasus kebakaran di DKI Jakarta pada tahun-tahun mendatang dapat ditekan sekecil mungkin. Dan juga diharapkan dapat meminimalisir korban meninggal dunia. Dan semua ini akan berjalan efektif jika masyarakat juga memiliki kesadaran yang tinggi terhadap bahaya ancaman kebakaran. Untuk itu, ayo kita wujudkan Jakarta sebagai kota yang aman dan nyaman.

Reporter: agus /redaksi

http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?nNewsId=34535
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts