Saturday, 01 August 2009 08:43
JAKARTA - Tak heran jika investor asing masih terus mengincar pabrik-pabrik rokok di Indonesia. Meskipun aturan pembatasan merokok terus bermunculan, produsen rokok nasional ternyata masih mampu terus mencetak laba. Moncernya industri rokok itu terlihat dari perolehan laba perusahaan rokok terbesar, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP). Dalam laporan yang dirilis ke publik kemarin, dua emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sama-sama membukukan kenaikan laba bersih cukup tinggi pada semester I 2009. Laba Gudang Garam bahkan melonjak hingga 60 persen dipicu turunnya beban pokok penjualan. Prestasi pabrik rokok kebanggan warga Kediri, Jawa Timur, itu menyalip kenaikan laba pesaing terberatnya, HM Sampoerna yang meraih kanaikan laba bersih 28 persen yang didorong peningkatan penjualan.
Pada semester pertama ini, penjualan GGRM bisa dikatakan stagnan, yakni sebesar Rp 15,065 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 15,056 triliun. Namun, perseroan bisa menekan beban pokok penjualan menjadi Rp 11,8 triliun dari Rp 12,629 triliun. Bandingkan dengan penjualan HMSP yang pada periode kali ini tercatat sebesar Rp 18,6 triliun atau naik dari tahun sebelumnya yang Rp 16,6 triliun. Namun di sisi lain, beban pokok penjualan HMSP juga naik menjadi Rp 13 triliun dari sebelumnya Rp 12 triliun. Menurut direksi Gudang Garam dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, beban pokok penjualan yang lebih rendah itu membuat GGRM itu berhasil mengantongi keuntungan Rp 1,43 triliun, melesat 60,75 persen dari periode yang sama 2008 yang hanya Rp 891,36 miliar.
Sedangkan HMSP, akibat menggunungnya beban penjualan, membuat kenaikan laba bersih tertahan di sekitar 28,4 persen menjadi Rp 2,52 triliun. Pada periode sama 2008, laba bersih perseroan tercatat Rp 1,96 triliun. Kinerja HMSP yang positif menyebabkan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan kembali peringkat idAAA untuk obligasi III/2004 PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk senilai Rp1 triliun. ''Peringkat yang diberikan ini mencerminkan kemampuan perusahaan yang sangat kuat untuk melunasi obligasi tersebut," ujar analis Pefindo Vonny Sidjaja. Dalam industri rokok di tanah air, hanya emiten Gudang Garam yang sahamnya masih dikuasai oleh pengusaha lokal. rri.co.id/dd
http://www.rri-online.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2608:produsen-rokok-nasional-terus-mencetak-laba-&catid=18:ekonomi&Itemid=206

Post a Comment