Rabu, 23 Desember 2009 | 8:02 WIB
SUMENEP - SURYA - Aksi unjuk rasa biasanya dilakukan dengan menggelar spanduk atau orasi, di Sumenep ratusan warga Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, berbondong-bondong membawa kompor bekas dan secara bersama-sama melemparkan barang rongsokan tersebut ke kantor kecamatan setempat, Selasa (22/12).
Massa kecewa terhadap sikap pemerintah yang tidak ada upaya menurunkan harga mitan, sehingga mereka mengorbankan kompor minyak untuk memprotes pemerintah yang dinilai tidak pro-rakyat.
Untungnya, tidak sampai terjadi kerusakan parah, namun teras kantor kecamatan kotor akibat kompor-kompor bekas yang dilempar warga pengunjuk rasa. Selain itu, aparat kepolisian setempat yang dibantu dari kalangan TNI bertindak cepat menghentikan aksi brutal warga.
Koordinator aksi, Suhra Rowi yang dikonfirmasi via telepon selulernya mengatakan, aksi warga ke kantor kecamatan Arjasa merupakan yang keduakalinya, setelah sehari sebelumnya melakukan aksi yang sama ke kantor kecamatan. Warga kembali berunjuk rasa karena tak puas dengan sikap pemerintah yang terkesan membiarkan rakyat menderita akibat mitan mahal.
” Janji pemerintah untuk berupaya menurunkan harga mitan yang tembus angka Rp 7.000 tidak kunjung ada. Bahkan sekarang ada beberapa kios yang menjual mitan Rp 7.500,” ujar Suhra Rowi.
Yang sangat disayangkan, pemerintah membiarkan begitu saja salah satu Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Pulau Arjasa yang terang-terangan menjual mitan diatas Harga Eceran Tertinggi (HET). Padahal itu sudah jelas-jelas melanggar hukum, tetapi tetap dibiarkan berlanjut begitu saja.
” Inilah sebetulnya yang menyulut kemarahan warga sehingga melempar kompor-kompor bekas ke kantor kecamatan, karena merasa kecewa dengan sikap pemerintah yang tidak tegas,” imbuhnya.
Sayangnya, aksi ratusan warga itu tidak bias bertemu langsung dengan Camat Arjasa, mereka hanya ditemui Kasi Pemerintahan, Mohammad Samrawi. Ia berjanji aspirasi yang disampaikan masyarakat pulau Arjasa kepada Bupati Sumenep. Dan hari itu juga dia pamit untuk menyampaikan langsung tuntutan masyarakat.
” Pasti akan kita tindak lanjuti ke Bapak Bupati sesuai dengan mekanisme dan ketentuan yang ada,” ujar Mohammad Samrawi.
Setelah mendapat penjelasan dari kantor kecamatan, massa akhirnya membubarkan diri dan kembali ke desanya masing-masing dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Namun mereka mengancam akan kembali lagi ke kantor kecamatan dengan massa yang lebih besar bila tuntutan tak terbukti. riv
http://www.surya.co.id/2009/12/23/kantor-camat-dilempari-kompos-bekas-mitan-rp-7000-warga-marah.html

Post a Comment