Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Meski DIY Surplus Pangan, Ketahanan Pangan Rumah Tangga Masih Lemah

17/12/2009 07:50:35

YOGYA (KR) - Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Propinsi DIY Ir Asikin Chalifah mengungkapkan, ketersediaan pangan di DIY secara makro telah mencukupi, bahkan terjadi surplus. Dari data Neraca Bahan Makanan Tahun 2007, ketersediaan pangan di DIY mencapai 3.558 kkal/kapita/hari, melebihi angka ketersediaan pangan nasional yang sebesar 2.200 kkal/kapita/hari.

"Meski secara makro ketersediaan pangan di DIY sudah cukup baik, namun di sisi lain akses rumah tangga terhadap pangan masih perlu mendapatkan perhatian. Sebab masih terdapat 137 desa yang rawan pangan dan gizi. Jumlah penduduk miskin menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007 juga masih tinggi, sebanyak 633.500 kepala keluarga (18,99%) yang berada di garis kemiskinan dengan pendapatan sekitar Rp 184.965/kapita/hari," ujar Asikin Chalifah pada Workshop Penyusunan Laporan Pemantauan Hari Besar Keagamaan/Nasional (HBKN) Propinsi DIY di Gedung LPP Yogyakarta, Senin (14/12).
Kondisi tersebut, lanjut Asikin, menunjukkan bahwa di tingkat rumah tangga, ketahanan pangan masih lemah. Penyebab utama lemahnya ketahanan pangan tersebut adalah kemiskinan, yang menyebabkan bukan hanya keluarga tidak mampu membeli pangan untuk mencukupi kebutuhan minimum mereka, tetapi juga rendahnya pengetahuan mengenai pangan yang ikut menyumbang terhadap status gizi seseorang. Termasuk di antaranya terabaikannya status sosial-ekonomi perempuan sebagai ibu, yang sangat berperan dalam mengolah pangan dan mengasuh bayi serta anak-anaknya.
Menurut Asikin, berdasar identifikasi sejumlah persoalan ketahanan pangan dan persoalan utama yang masih menghantui masyarakat Indonesia umumnya dan DIY khususnya, adalah masih banyaknya jumlah penduduk miskin. Di sisi lain, ada pergerakan ekonomi rakyat yang terjadi di pedesaan berupa tumbuhnya sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Pertumbuhan ekonomi itu tidak semata-mata terjadi karena konsumsi, tetapi juga karena didorong sisi produksi oleh usaha kecil dan menengah.
Asikin mengakui, ketahanan pangan tidak lepas dari kemampuan atau daya beli masyarakat. Menyangkut daya beli ini, memang sangat dipengaruhi harga yang berkembang di masyarakat. Karenanya, peran pemerintah dalam menstabilkan harga khususnya bahan pangan pokok, sangatlah vital. Kebiasaan yang berlaku di lapangan, ketika terjadi panen raya harga cenderung turun, sementara ketika tidak terjadi panenan, harga naik. Termasuk kenaikan yang diakibatkan oleh situasi yang dikaitkan dengan keberadaan Hari Besar Keagamaan/Nasional (HBKN).
"Kondisi ini berimplikasi tidak baik bila dikaitkan dengan tingkat pendapatan masyarakat, baik bagi produsen pangan di saat panen raya maupun konsumen di saat paceklik," ujar Asikin.
Asikin berharap, dengan pertemuan ini upaya stabilisasi harga menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagai rumusan upaya-upaya strategis. Paling tidak untuk meminimalisasi agar tidak terjadi gejolak yang berarti, terutama pada kelompok masyarakat tertentu yang rentan terhadap masalah kerawanan pangan, seperti golongan miskin, ibu hamil, dan anak balita. "Stabilitas harga pangan, sama pentingnya dengan ketersediaan bahan pangan," tegas Asikin.
(San) -g

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=206781&actmenu=44
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts