2010-01-02
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh (kiri) didampingi Sekjen ESDM Evita Legowo memberikan keterangan saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (31/12). Keterangan pers ini tentang laporan akhir tahun 2009 dan rencana 2010.
[JAKARTA] Sektor ESDM pada tahun 2010 mengharapkan terjadinya peningkatan investasi dari Rp 192 triliun menjadi Rp 286 triliun. Investasi sektor ESDM pada tahun 2008 akan diprioritaskan pada pembangunan infrastuktur energi, yaitu sektor ketenagalistrikan dan hilir migas.
Hal tersebut dalam rangka menjamin pasokan energi domestik dan meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap energi dan mineral.
"Kami menyadari hingga kini masih terjadinya krisis energi listrik dan gas yang secara bertahap harus dibenahi dan dibidang hilir infrastruktur masih harus ditingkatkan," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedi Saleh ketika memaparkan kinerja sektor ESDM Tahun 2009 di Jakarta, Kamis (31/12).
Pada tahun 2010, investasi di sektor ketenagalistrikan ditargetkan mencapai US$ 10,1 miliar. Tambahan kapasitas terpasang ditargetkan sebesar 8.689 megawatt (MW), sementara kapasitas terpasang sektor ketenalistrikan saat ini sebesar 30.940 MW.
Dengan tambahan pembangkit tersebut diharapkan, meningkatkan rasio elektrifikasi dari 96% menjadi 68,9% pada tahun 2010.
Di sektor migas, prioritas investasi pada pembangunan jaringan transmisi distribusi gas bumi senilai Rp 287,5 miliar. Pemerintah akan membangun jaringan pipa gas kota untuk 16.000 rumah tangga di seluruh Indonesia dan pembangunan pipa transmisi gas bumi sepanjang 200 kilometer.
Tidak ada lagi lonjakan harga bahan baku energi dan mineral pada tahun 2009 menyebabkan penerimaan negara dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) anjlok sebesar 33% dibandingkan dengan tahun 2008. Penerimaan negara dari sektor ESDM mencapai Rp 235 triliun. Lebih rendah sebesar Rp 114,5 dari tahun 2008 yang mencapai Rp 349,5 triliun.
Lebih Tinggi
"Akan tetapi, sektor ESDM mencatat penerimaan tahun ini 2,2 persen lebih tinggi dari target penerimaan pada APBN-P 2009 sebesar Rp 230 triliun. Sektor migas memberikan kontribusi terbesar sebesar Rp 182,6 triliun dan sek-tor pertambangan Rp 51,58 triliun," ujar Darwin.
Penurunan penerimaan sektor ESDM terutama terjadi pada sektor migas. Penerimaan di sektor migas mengalami penurunan sangat tajam dari Rp 349,5 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 183 triliun pada tahun 2009. Sementara itu, penerimaan negara dari sektor pertambangan umum mengalami kenaikkan dari tahun 2008 Rp 42,65 triliun menjadi Rp 51,5 triliun pada tahun 2009.
"Nilai ekspor mencapai Rp 238 triliun dengan catatan untuk komoditas strategis tertentu, seperti timah, batu bara, emas, dan lain-lain. Namun, realisasi ekspor tersebut diperkirakan akan lebih besar ka-rena kami belum memasuk-kan komoditas mineral industri dalam negara perdagangan," ujar Dirjen Mineral, Batu Bara dan Panas Bumi, Bambang Setiawan.
Turunnya harga energi pada tahun 2009, khususnya harga minyak bumi menyebabkan subsidi energi (bahan bakar minyak, elpiji, bahan bakar nabati dan listrik) juga turun sangat signifikan dari tahun 2008 sebesar Rp 221 triliun menjadi Rp 93 triliun pada tahun 2009. [D-11]
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=12818

Post a Comment