Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Limbah Plastik Bikin Sukses

Senin, 25 Januari 2010 | 14:03 WIB

Kerja keras dan restu ibu membawa banyak keberuntungan bagi Mohammad Baedowy (36). Mantan bankir ini sukses mengendalikan bisnis pengolahan limbah plastik yang beromzet miliaran rupiah per tahun.

Saya mulai usaha ini dari nol, dari mengumpulkan botol plastik bekas. Saya mendatangi lapak-lapak untuk mendapatkan sampah plastik. Keliling dari depan Pasar Pramuka, Jakarta, sampai ke Karawang dan Cikampek. Itu saya lakukan setiap malam sampai subuh. Besok siangnya, kira-kira jam 11.00, dibantu seorang karyawan, saya menggiling sampah itu menjadi biji plastik," tutur Mohammad Baedowy, pemilik CV Majestic Buana Group kepada Warta Kota di kantornya di kawasan Cimuning, Mustikajaya, Bekasi, belum lama ini.

Baedowy bersyukur usaha yang dibangunnya sejak tahun 2000 itu kini berkembang pesat. Dia sudah memiliki 80 mitra usaha. Semua mitranya menggunakan mesin penggiling limbah plastik buatan Baedowy. Dalam kerja sama kemitraan itu semua pihak diuntungkan karena Baedowy berkomitmen penuh membeli seluruh hasil produksi para mitranya. Setiap minggu, bapak tiga anak ini mengekspor hasil penggilingan para mitranya ke China.

Simbol sukses yang dicapai Baedowy tampak dari banyaknya piala yang dipajang di meja kerjanya. Terakhir, mantan auditor sebuah bank asing di Jakarta ini terpilih sebagai Wira UKM (Usaha Kecil Menengah) Terbaik Dji Sam Soe 2008-2009.

"Semua penghargaan ini lebih pas diterima oleh istri saya. Kesabarannya luar biasa. Usaha saya kan tidak langsung enak. Semua lewat perjuangan. Pernah ketika bisnis ini mandek, saya terpaksa memulangkan istri dan anak saya ke rumah mertua. Cukup lama, sekitar empat bulan, baru kami bisa berkumpul kembali. Itu terjadi tahun 2001 lalu," ujar suami Ririn Sari Yuniar ini.

Ketika asyik ngobrol dengan Warta Kota, Baedowy kedatangan tamu yang mengaku bernama H Sutedjo, pengusaha kontraktor Telkom. Dia tertarik untuk terjun dalam bisnis pengolahan limbah plastik. Sutedjo mendapat informasi tentang usaha Baedowy dari tayangan televisi.

"Saya sedang mencari usaha lain. Maksudnya, kalau proyek sepi, saya bisa mengalihkan karyawan ke usaha lain. Saya lihat usaha limbah dengan sistem kemitraan ini cocok untuk membangun ekonomi rakyat. Makanya saya ke sini," ujar Sutedjo yang tinggal di Tangerang.

Sang pendobrak

Perjalanan usaha Baedowy cukup berliku. Setelah mengundurkan diri dari Royal Bank Scotland (RBS) tahun 2000, Baedowy membuka usaha limbah plastik dengan modal Rp 50 juta. Uang itu dipakai untuk membeli mesin penggiling dan mobil pikap guna mengangkut limbah plastik.

Namun usaha tersebut tak berjalan seperti harapan. Mesinnya sering rusak. Sementara penjual mesin itu tidak memberikan pelayanan purna jual. Baedowy pusing karena dia juga tidak bisa memperbaiki mesin tersebut. Mau beli mesin baru, tidak punya uang. Mau pinjam uang kepada orangtua malu, sebab sejak awal orangtuanya memang tidak setuju Baedowy terjun dalam bisnis limbah. Mereka justru berharap Baedowy kembali bekerja di kantor.

Di sisi lain, lingkungan bisnis juga tidak ramah terhadap Baedowy. Semua serba tertutup. Pemain lama tidak suka ada pemain baru masuk dalam bisnis limbah plastik. Mereka takut pemain baru merebut sumber bahan baku dan pasarnya. Ini cermin bahwa usaha sampah plastik sangat menggiurkan. Tidak mengherankan bila tidak ada satu pun pemilik penggilingan limbah plastik mau mengajari Baedowy.

"Tapi karena kepepet saya jadi terpacu untuk kreatif. Saya belajar terus sampai akhirnya bisa memperbaiki sendiri mesin yang rusak. Dan, pada akhir tahun 2001, saya malah bisa memodifikasi mesin sendiri," kata akuntan jebolan Universitas Merdeka Malang ini.

Sikap positif Baedowy, selain mampu menjawab tantangan bisnis juga menciptakan peluang bisnis baru. Dia mendobrak lingkungan bisnis yang tertutup dan kaku menjadi terbuka dengan mengembangkan sistem kemitraan. Itu artinya, Baedowy juga bisa menjual mesin pencacah limbah plastik.

Baedowy mengaku, bisnisnya maju pesat setelah dia mengembangkan sisi spritual dalam kehidupannya. Dia menghentikan kebiasaan buruk, seperti berprasangka buruk terhadap Tuhan. Sebaliknya, dia terus berupaya menebarkan kebaikan, antara lain dengan memberi sedekah kepada anak yatim piatu. Tidak kalah pentingnya adalah selalu berusaha mendapatkan restu ibu. "Itu sumber keberuntungan saya," ujarnya. (Herry Sinamarata)

http://www.wartakota.co.id/read/inspirasiusaha/20441
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

There was an error in this gadget

Recent Posts