Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Parkir, Bocor di Mana-mana

Selasa, 26-01-10 | 21:08

PERPARKIRAN kota Makassar masih menyimpan banyak masalah. Mulai dari tingginya angka kebocoran, menjamurnya parkir liar, sampai penataan dan pengelolaan yang masih penuh sorotan.

Akibatnya, pendapatan asli daerah (PAD) yang seharusnya cukup besar tak bisa dimaksimalkan. Memang, dari tahun ke tahun target PAD yang mencapai miliaran rupiah bisa tercapai. Tapi dibandingkan potensi dan jumlah titik parkir yang ada, jumlah capaian sebenarnya jauh dari memuaskan.

Jika dihitung dengan kalkulasi sederhana, akan gamblang patokan target sebenarnya terlalu kecil. Sekaligus membuktikan potensi kebocoran yang tinggi terkesan dibiarkan saja. Asumsinya, andai saja 715 titik parkir di kota ini setiap hari menyetor Rp 20 ribu saja atau menyetor retribusi dari 20 motor,
maka pemasukan dalam setahun sudah mencapai Rp 5.219.500.000.

Angka ini tentu sudah melampaui target PAD parkir tahun ini yang hanya Rp 4.750.000.000.
Itu hanya kalkulasi sederhana saja. Sebab jika melihat potensi parkir di seluruh kota ini, setiap titik parkir selalu padat dengan kendaraan, baik motor maupun mobil. Contoh sederhana di sekitar kantor samsat Jalan Mappanyukki dan di Jalan Boulevard, sekitar Mal Panakkukang.

Di kedua titik ini, bukan puluhan kendaraan yang parkir setiap hari melainkan ratusan atau bisa jadi sampai seribuan kendaraan.
Artinya kalau sudah sampai 200 motor saja, itu sudah Rp 200.000 per harinya. Jadi kalau setoran hanya Rp 20 ribu saja, maka terjadi kebocoran hingga Rp 180 ribu.

Persoalannya kemudian, pihak PD Parkir terkesan dimainkan pengusaha atau pelaku parkir.
Di tempat tertentu, PD Parkir melegalkan tidak adanya penggunaan karcis sebagai bentuk pertanggungjawaban berapa besar sebenarnya uang yang masuk di titik parkir ini. Di Jalan Boulevard misalnya.

PD Parkir melalui direkturnya, Aryanto Damar, juga mengakui hal ini. "Memang tidak pakai karcis di tempat tertentu," katanya, Senin, 25 Januari.

Langkah ini diambil lantaran pihak PD Pasar selalu dipermainkan pelaku parkir. "Awalnya kita mewajibkan menggunakan karcis. Tapi ternyata, kalau menggunakan karcis, kita kalah. Makanya kita ubah (tidak menggunakan karcis, red) dan hasilnya kita bisa capai kenaikan signifikan," katanya.

Kepada Fajar, ia membeberkan kelemahan penggunaan karcis pada tempat tertentu. Misalnya kata dia karcis diambil satu blok, saat dikembalikan untuk dilaporkan, ternyata pengusaha parkir hanya menyetor sangat sedikit yang disesuaikan jumlah karcis yang digunakan. Bahkan ada yang tidak sampai setengah blok. Sementara kondisi di lapangan lahan parkir sesak kendaraan.

"Apalagi kan kalau karcis itu pembagiannya fifty-fifty. Makanya kita langsung memberikan target per titik saja. Namun tentu saja itu melalui studi sebab memang kita sudah bisa mengetahui keuntungan masing-masing," kata Aryanto.

Kebocoran inilah yang membuat PAD dari sektor parkir menjadi tergerus. Pertanyaannya kemudian, kenapa PD Parkir Makassar Raya tidak melakukan tindakan tegas terhadap pengelola parkir nakal yang mencoba mengibuli mereka saat harus menggunakan karcis.

"Kita selaku perusahaan daerah memang dituntut semakin profesional. Makanya kita ada program skala besar. Baik itu dengan melakukan penguatan kelembagaan, dan sistem informasi keuangan yang akurat, serta memperkuat pengawasan. Kita kini melakukan operasi rutin dan operasional khusus," katanya seraya menambahkan bahwa untuk pola pemungutan retribusi, setiap hari dilakukan oleh kolektor.

Keesokan harinya setelah dipungut, kolektor menyetor hasilnya ke PD Parkir selanjutnya PD Parkir memasukkannya ke kas daerah. (tim)

http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=80020
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

There was an error in this gadget

Recent Posts