Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Harga Minyak Tanah Melambung

Selasa, 4 Agustus 2009

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pengurangan subsidi minyak tanah di Bandar Lampung sejak akhir bulan lalu menyebabkan harga minyak tanah yang tersisa di tingkat pengecer melambung hingga Rp6.000/liter.

Berdasarkan pemantauan Lampung Post, Senin (3-8), harga minyak tanah subsidi di pengecer Bandar Lampung mencapai Rp4.500--Rp6.000/liternya. Padahal harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah Lampung sebesar Rp2.790 per liternya.

Pengecer minyak tanah di Jalan Kapten Abdul Haq, Nainggolan, mengatakan sejak beberapa hari terakhir minyak tanah di warungnya dijual dengan harga Rp5.000 per liternya. "Saya cuma ngambil untung dikit. Dari tempat saya beli harganya memang sudah tinggi," kata dia.

Senada dengan Nainggolan, pengecer minyak tanah di Langkapura, Jaiman, juga mengatakan minyak tanah di kiosnya dijual seharga Rp5.000. Namun, karena jumlahnya semakin sedikit, pria ini membatasi jumlah minyak tanah yang dibeli yakni maksimal lima liter per orang.

"Sejak awal Agustus lalu, suplai minyak tanah ke kios saya terhenti dan yang sekarang dijual ya sisa-sisanya aja. Jadi masyarakat nggak bisa beli dalam jumlah banyak," kata dia.

Pengecer minyak tanah di Kelurahan Gunungterang Toyo mengaku sudah sulit mendapatkan minyak tanah beberapa bulan terakhir. Kalaupun ada, harganya sudah mahal.

"Saya belinya saja sudah Rp4.500/liter. Terpaksa saya menjual di atas harga itu. Minyaknya juga sudah langka," kata dia.

Sementara itu, di pangkalan minyak di Jalan Dakwah, stok minyak tanah kosong. Menurut pemiliknya, Yanti, jatah minyak tanah untuk pangkalannya sudah distop Pertamina.

"Saya sudah tidak dikirim lagi dengan Pertamina, mulai minggu lalu. Saya sudah tidak dapat jatah, jadi stok minyak yang ada di drum sudah kosong," kata dia.

Tingginya harga minyak tanah tersebut dikeluhkan warga yang masih menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar memasak. Darsih, misalnya. Warga Jalan Purnawirawan itu mengaku sulit mendapatkan minyak tanah dengan harga di bawah Rp4.500/liter.

"Sekarang makin susah. Bukan hanya harganya yang mahal, minyaknya juga sering nggak ada. Mau pakai gas, saya belum berani. Takut meledak." kata ibu empat anak itu.

Para pedagang makanan dan gorengan juga mengeluhkan kelangkaan minyak tanah. Apalagi mereka tidak mendapat bantuan kompor gas subsidi dari pemerintah.

"Kami terpaksa menaikkan harga dagangan karena harga minyak tanah sudah naik. Karena sulit, begitu ada pangkalan atau pengecer yang punya stok minyak, langsung saya borong," kata salah seorang pedagang gorengan di Rajabasa, yang menolak disebutkan namanya.

Pangkalan dan Pengecer

Lonjakan harga minyak tanah ini diakui Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswanamigas) Lampung Toto Herwantoko. Ia mengatakan lonjakan banyak terjadi di tingkatan pengecer atau subpangkalan.

"Kalau di subpangkalan atau pengecer, tentu saja berlaku mekanisme pasar. Semakin sedikit suatu barang di pasaran, maka semakin tinggi pula harganya," kata Toto.

Menurut dia, Pertamina masih memberlakukan HET minyak tanah bersubsidi untuk pangkalan resmi. Sedangkan untuk subpangkalan dan eceran, Pertamina dan Hiswana tidak dapat mengontrol harga yang diberikan.

Namun, menurut Toto, permainan pada harga minyak subsidi ini tidak akan berlangsung lama. Menurut dia, sepekan ke depan Pertamina akan menarik keseluruhan minyak tanah subsidi di Bandar Lampung.

"Nantinya hanya akan ada minyak nonsubsidi seharga Rp7.000 di pasaran," kata dia.

Oleh karena itu, Toto berharap masyarakat harus mulai menggunakan kompor gas dan tabung elpiji yang diberikan pemerintah. "Kalau mau beli minyak, kan mahal. Lebih baik masyarakat mulai menggunakan kompor gas hasil konversi," ujarnya. n MG3/ITA/*/K-1

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009080401423419
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

There was an error in this gadget

Recent Posts