Agustus 2, 2009 - 16:14
KMBANGAN (Pos kota) –Pemukiman elite dan perkantoran di Jakarta Barat, dinilai kurang peduli terhadap pemberantasan jentik nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) . Padahal dikhawatirkan DBD tetap mengancam warga.
”Pak Walikota, Senin 3 Agustus 2009 akan memberikan surat edaran kepada semua lapisan masyarakat termasuk perkantoran,” kata Kasudin Kesehatan Jakarta Barat, dr.Hj Yenuarti S Arfia.
Dijelaskan kebijakan walikota ini menanggapi keluhan banyaknya juru pemantau jentik (Jumantik) yang tidak bisa memasuki kawasan perumahaan elit dan perkantoran dengan berbagai alasan.”Padahal belum tentu rumah elit bebas dari jentik. Jentik nyamuk itu bisa berkembang dari air buangan AC, air bak penampungan (watter Turn) dan lainnya.
Upaya warga di lingkunangan pemuiman nonelit sudah berupaya melakukan pemberantasan DBD bersama pengurus RT/RW/kelurahan. Dari mulai pemberian bubuk abate, foging sampai kesepakatan lokal sudah dilakukan demikian juga pembuataan sistim pemetaan. Namun jumlah penderita terus bertambah .”Dan kami tidak akan berhenti untuk mencari akar masalah bercokolnya jenis nyamuk aedes agepty itu,”jelasnya.
Kasus DBD periode Januari sampai minggu pertama Juli 2009, di Jakarta Barat 2.548 kasus, 2 orang di antaranya meninggal dunia. Terbanyak 593 kasus di Kecamatan Kebon Jeruk, Palmerah 433 kasus dan Grogol Petamburan 312 kasus.
Ia menjelaskan kelurahan dinyatakan zona merah jika selama tiga minggu berturut-turut, kasus DBD terjadi 9 kasus/minggunya. Jika kasusnya hanya 1 – 8, dinyatakan garis kuning.
Khusus di kelurahan Kebon Jeruk, sampai minggu pertama Juli 2009, masih berstatus zona merah.”Kami tidak membandingkan dengan wilayah lain meskipun wilayah Jakarta Barat, tergolong lebih rendah dibanding di luar wilayah Jakarta Barat lainnya .”jelasnya. (herman/B)
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/08/02/pemukiman-elit-kurang-peduli-pemberantasan-dbd

Post a Comment