Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Cara Mengetahui Obat Generik

Rabu, 10/02/2010 17:30 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth

Jakarta, Banyak pasien yang mengeluh sudah minta resep obat generik tapi biaya obat yang harus dikeluarkan tetap mahal. Bagaimana cara mengetahui bahwa obat tersebut adalah obat generik?

Pemerintah sendiri menggalakkan pemakaian obat generik karena harga obat generik lebih murah namun tetap memiliki efek atau khasiat yang sama.

"Semakin luas penggunaan obat generik di masyarakat, maka diharapkan nantinya obat generik bisa menjadi barometer yang dapat mempengaruhi harga obat-obatan lain. Karena saat ini kita tahu harga obat terbilang mahal," ujar Dra. Sri Indrawati, Apt. M.Kes, Dirjen Bina farmasi dan Alat Kesehatan Depkes, dalam acara press briefing jamkesmas dan obat generik di gedung Depkes, Jakarta, Rabu (10/2/2010).

Indrawati menuturkan ada beberapa obat generik yang bisa didapatkan langsung di apotek dan juga ada beberapa obat yang harus menggunakan resep dari dokter seperti antibiotik atau obat keras.

Tapi yang pasti masyarakat tak perlu khawatir dengan khasiatnya, karena obat generik tetap memiliki efek yang sama dengan obat lainnya akibat kandungan zat aktif dan cara produksinya sama. Yang membuat harga obat generik murah adalah karena tak perlu mengeluarkan biaya untuk melakukan promosi.

Indrawati memberikan beberapa langkah untuk membedakan antara obat generik atau obat non-generik, yaitu:

1. Obat generik biasanya dijual dengan menggunakan nama kimia atau nama zat aktifnya, misal parasetamol untuk obat sakit kepala atau amoxicillin untuk antibiotik.
2. Terdapat logo obat generik pada kemasan obat tersebut.
3. Kemasan dari obat generik ini sangat sederhana, tidak seperti obat bermerek yang menggunakan kemasan warna warni dan menarik perhatian orang.
4. Pada obat generik biasanya orang sudah langsung tahu apa isi dari obat tersebut, sedangkan pada obat bermerek seseorang harus melihat komposisinya terlebih dahulu.

"Hal terpenting adalah masyarakat harus berani untuk meminta resep obat generik pada dokternya dan tidak perlu merasa khawatir," ujar Indrawati yang mengambil magister kesehatan di UI ini.

Indrawati menjelaskan samapai saat ini belum ada perbedaan kisaran harga yang pasti antara obat generik dengan obat bermerek karena ada yang bedanya sedikit tapi pada beberapa obat perbedaan harga obatnya sangat tinggi.

Tugas lain yang harus dijalankan adalah masyarakat memahami dengan baik bahwa ada obat yang harganya murah dengan kualitas baik atau tidak jelek. Sehingga akan dilakukan pelayanan dan pembinaan pada masyarakat dengan melibatkan bantuan puskesmas atau jasa pelayanan medis lainnya, lewat berbagai media dan juga acara-acara talkshow.

Apotek, rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain yang melayani penyaluran obat generik harus menggunakan harga eceran tertinggi (HET) sebagai harga patokan dan dilakukan sesuai dengan undang-undang yang ada. Diharapkan dengan adanya rasionalisasi harga obat ini, maka obat generik bisa tersedia di seluruh pelosok daerah dengan harga yang terjangkau.

Agar produsen farmasi mau mendistribusikan obatnya maka dilakukan regionalisasi daerah dengan harga yang berbeda untuk setiap pembagian regional. Harga ini ditetapkan agar tidak ada obat generik yang harganya di bawah harga produsen.

"Agar produsen farmasi mau menyediakan obat generik ke daerah-daerah pelosok, maka biaya distribusinya berbeda untuk tiap regional. Untuk regional 2 maksimal 2 persen, regional 3 maksimal 10 persen an untuk regional 4 maksimal 20 persen," ujar sekretaris jenderal Depkes dr. Ratna Rosita Hendardji, MPHM .

Pembagian regional ini adalah:
Regional 1: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Lampung dan Banten.
Regional 2: wilayah Sumatera dan NTB.
Regional 3: wilayah Kalimantan, Sulawesi dan NAD.
Regional 4: NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

"Karena itu kami melakukan penilaian kembali dan rasionalisasi harga obat generik dengan mengkaji 453 item obat generik, yaitu sebanyak 106 obat generik mengalami penurunan harga, 33 item (sekitar 7 persennya) mengalami kenaikan harga rata-rata sebesar 2,2-3 persen dengan kenaikan tertinggi sebesar 30 persen dan sebanyak 314 obat generik tidak mengalami perubahan harga," ungkap Indrawati.

(ver/ir)

http://health.detik.com/read/2010/02/10/173040/1296960/766/cara-mengetahui-obat-generik
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

There was an error in this gadget

Recent Posts