Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

60 Tahun RI-WHO, Sudahkah Indonesia sehat?

Kamis, 27/05/2010 09:26 WIB

Vera Farah Bararah - detikHealth

Jakarta, Selama 60 tahun Indonesia telah menjadi mitra Badan Kesahatan Dunia PBB alias WHO (World Health Organization) untuk meningkatan mutu kesehatan rakyat. Tapi dalam perjalanan sepanjang itu, sudahkah Indonesia sehat? Sudahkah terpenuhi standar kesehatan dasar rakyat?

Penanganan masalah kesehatan di Indonesia memang 'bejibun' dan hampir tidak ada habisnya. Wabah penyakit selalu datang karena suhu tropis yang lembab membuat negara ini menjadi santapan empuk vektor nyamuk sebagai penular beberapa penyakit tertentu seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah, chikungunya.

Itu baru dari serangga, penyakit karena kebiasaan dasar hidup sehat juga masih terus bermunculan seperti diare karena penyediaan sanitasi yang buruk.

Belum lagi masalah gizi buruk pada balita, angka kematian ibu dan bayi hingga penyakit moderen seperti HIV AIDS masih menjadi pekerjaan besar buat Indonesia.

Sepanjang usia 60 tahun kerjasama WHO dan Indonesia memang telah banyak hal yang dicapai oleh keduanya. WHO mendukung dengan memberikan bantuan teknis, training, pendidikan, kerangka acuan dan standar yang berlaku internasional.

Sedangkan pemerintah berusaha untuk mencapai standar dan target internasional dalam menciptakan masyarakat hidup sehat.

Tapi rupanya kerjasama itu belum cukup maksimal, terbukti Indonesia masih belum bisa mencapai target pembangunan millenium atau Millenium Development Goals (MDGs). Target mulia yang ingin dicapai banyak negara dunia.

Maka itu Menteri kesehatan Dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH berharap hubungan yang semakin erat antara kementerian kesehatan dan WHO, bisa mempercepat Indonesia mencapai target MDGs di 2015.

Ada 8 pilar dalam MDGs yang harus dicapai Indonesia yakni:

1. Pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrem
2. Pemerataan pendidikan dasar
3. Mendukung adanya persaman jender dan pemberdayaan perempuan
4. Mengurangi tingkat kematian anak
5. Meningkatkan kesehatan ibu
6. Perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya
7. Menjamin daya dukung lingkungan hidup
8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan


"WHO dapat memainkan peran penting dalam membantu negara anggota khususnya negara berkembang untuk mempercepat pencapaian MDGs," ujar Menkes dalam acara Perayaan peringatan 60 tahun bergabungnya Indonesia dengan WHO di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu malam (26/5/2010).

Menurut Menkes, pemerintah Indonesia melalui kementerian kesehatan selama ini selalu melibatkan WHO dalam upaya meningkatkan mutu kesehatan rakyat Indonesia. Salah satu fokus untuk saat ini adalah percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi demi mencapai MDGs pada tahun 2015.

Tuntutan perubahan di tingkat global juga dilakukan untuk memajukan pengelolaan yang baik di sektor kesehatan. Sebagai organisasi dunia yang melayani negara anggotanya, WHO dituntut untuk menerapkan mekanisme kerjasama yang mengedepankan transparansi, adil dan setara.

"Tiga prinsip ini hendaknya menjadi pegangan dalam menjalankan mandatnya untuk membantu negara anggota dalam memajukan kesehatan dunia," kata Menkes.

Menkes mengungkapkan dalam kurun waktu 60 tahun ini, WHO telah banyak memberikan dukungan terhadap program kesehatan di Indonesia. Khususnya dalam meningkatkan kapasitas institusi maupun individu untuk mendukung kebijakan kesehatan tingkat nasional serta komitmen global.

"Salah satu isu kesehatan dunia yang menjadi perhatian utama adalah pencapaian target MDGs serta memfokuskan peningkatan kesehatan pada daerah atau provinsi yang belum memiliki tingkat kesehatan yang baik, terutama di daerah timur Indonesia," ungkap Menkes.

Sementara Dr Khanchit Limpakarnjanarat, selaku Kepala perwakilan WHO untuk Indonesia mengatakan telah banyak hal yang didapatkan melalui kerja sama ini.

Dia mencontohkan WHO membantu dalam hal pembuatan kurikulum pendidikan dokter, program imunisasi BCG, program keluarga berencana, FETP (Field Epidemiology Training Pragramme), kesehatan lingkungan, pemberantasan polio serta pandemik epicenter yang pernah dilakukan di Bali dan Makassar.

"Selain itu juga mengadopsi pedoman kesehatan dari luar untuk diterapkan di Indonesia, berbagi pengalaman dengan negara lainnya sesama anggota WHO serta memperbaiki peningkatan akses untuk fasilitas kesehatan," ujar Dr Khanchit.

Baik Menkes maupun Dr Khanchit berharap hubungan selama 60 tahun ini bisa lebih memberikan hasil-hasil yang nyata untuk menunju masyarakat sehat.

"Bagi manusia, umumnya kunci kelanggengan 60 tahun pernikahan adalah saling memahami dan mendukung. Hal yang sama juga saya lihat pada hubungan antara pemerintah Indonesia dan WHO," ujar Dr Khanchit.

Indonesia resmi menjadi anggota WHO pada 23 Mei 1950. Hingga saat ini Indonesia sudah bergabung dengan 10 negara lain yang berada di wilayah Asia Tenggara.

"Diharapkan kerjasama ini terus berlanjut dan terus berkontribusi khususnya untuk mencapai masyarakat Indonesia yang sehat, mandiri dan berkeadilan," pungkas Dr Endang.

(ver/ir)

http://health.detik.com/read/2010/05/27/092631/1364883/763/60-tahun-ri-who-sudahkah-indonesia-sehat?l993306763
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

There was an error in this gadget

Recent Posts