Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke
Showing posts with label Organic Farming. Show all posts

Menkes: Contohlah Padangpanjang

7:01:00 PM

Senin, 31 Mei 2010 21:41 WIB

Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih.

Padangpanjang (ANTARA News) - Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, Kota Padangpanjang, Sumbar, patut menjadi contoh dalam mewujudkan kota sehat dan bersih, karena tak hanya berupaya menetapkan kawasan bebas asap rokok tetapi juga gencar mempromosikan tanaman organik.

"Kita mengimbau kabupaten dan kota lain di Indonesia untuk mencontoh Kota Padangpanjang, soal upaya menjadikan daerah bebas rokok dan mewujudkan kota sehat dan bersih," kata Menkes seusai Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Lapangan Gunung Sejati, Padangpanjang, Senin.

Menurut Menkes, penerapan kawasan bebas asap rokok di daerah lain sangat tergantung pada komitmen kepala daerahnya dan jika bupati dan wali kota mempunyai komitmen terhadap kesehatan masyarakatnya, maka kendala bisa diatasi.

Menyinggung soal target, Menkes mengatakan, "Kita (pemerintah) hanya mengimbau karena untuk menjadikan kawasan bebas tembakau/rokok adalah wewenang pimpinan daerah."

Kendati demikian, apa yang telah dimulai Kota Padangpanjang dalam upaya mewujudkan sebagai kota sehat, bisa dicontoh dan diikuti daerah lain.

"Pemkot Padangpanjang sangat gencar juga mempromosikan dan pengembangan tanaman organik, sehingga daerah ini akan betul-betul bersih dan sehat," kata Menkes.

Pada kesempatan itu, Menkes menyerahkan bantuan kendaraan khusus Penyakit Tidak Menular sebagai media edukasi, deteksi dini faktor resiko PTM dan evakuasi korban untuk masyarakat Padangpanjang.

Peringatan HTTS 2010 dihadiri Gubernur Sumbar, Marlis Rahman, bupati dan wali kota di Sumbar, serta pejabat dari Menkes serta utusan dari WHO dan Komisi Nasional Perlindungan Anak.(*)

KR-SA/H-KWR

http://www.antaranews.com/berita/1275316892/menkes-contohlah-padangpanjang
Read On 0 comments

RI mampu jadi produsen produk pertanian organik

4:44:00 PM
Kamis, 27/05/2010 15:29:27 WIB

Oleh: Martin Sihombing

Menteri Pertanian Suswono mengungkapkan tuntutan pasar global terhadap produk-produk pertanian organik yang aman untuk dikonsumsi memiliki nutrisi tinggi serta ramah lingkungan sangat besar. Sementara itu, potensi pertanian Indonesia untuk menghasilkan produk organik sangat besar sehingga diharapkan bisa menyuplai pangan ke dunia.

"Diharapkan Indonesia menjadi produsen organik terkemuka di dunia, mampu memasok pangan dunia," katanya dalam acara pembukaan Agro & Food Expo 2010 di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, tadi pagi.

Selain itu, tambahnya, produk organik memiliki keunggulan bukan hanya bisa mudah diterima pasar global, tetapi dapat meningkatkan kesejahteraan petani karena tingkat produktivitasnya tinggi.

Suswono mencontohkan untuk produktivitas padi organik bisa mencapai 8 ton gabah kering giling (GKG) per hektare atau lebih banyak dari produksi padi yang dikembangkan melalui non-organik. "Jika harganya Rp4.000 per kg, satu hektare bisa mencapai Rp32 juta. Ini menambah peningkatan penghasilan yang luar biasa," katanya.

Menurut dia, pengembangan produk pertanian organik sudah dicanangkan sejak 2001. Hal itu sangat penting karena kampanye negatif terkait persoalan lingkungan cukup menjadi isu penting di era tuntutan global saat ini. "Untuk menjamin produk itu organik maka perlu disertifikasi. Ini untuk meningkatkan kepercayaan pasar," katanya.

Saat ini, tambahnya, ada tujuh lembaga sertifikasi produk organik di Indonesia yang diharapkan tetap menjaga kredibiltasnya. "Jangan sampai mengejar tuntutan mendapatkan keuntungan lalu mengambaikan ketentuan yang ada. Jadi harus menjaga kredibilitas," ujar menteri.

Mentan menyatakan pada 2010 merupakan titik awal bagi Indonesia untuk mengembangkan pertanian organik yang nantinya diharapkan mampu mengekspor produk organik ke dunia.

Sementara itu Pameran Agro and Food Expo 2010 yang berlangsung dari 27-30 Mei 2010 itu diikuti lebih dari 400 institusi dari dalam dan luar negeri seperti Turki, Korea, Taiwan, dan Malaysia. Peserta menampilkan produk makanan dan minuman dan industri pertanian dari hulu hingga hilir, perusahaan agribisnis, teknologi, dan jasa sektor industri pertanian.

Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian Zaenal Bachrudiin menyatakan kegiatan pameran tersebut sebagai upaya mendukung go organic, yang di antaranya mempromosikan produk organik di pasar dan memperkenalkan pelaku usaha organik yang telah disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Pangan Organik (LSPO). "Tujuannya agar produk-produk tersebut bisa berdaya saing di pasar domestik dan ekspor," katanya.

Saat ini, tambahnya, sejumlah produk organik yang telah diekspor Indonesia antara lain kopi, kako, sayuran dan beras dengan tujuan beberapa negara.(msb)

http://web.bisnis.com/sektor-riil/agribisnis/1id183808.html
Read On 0 comments

LIPI Luncurkan Beyonic Untuk Pupuk Organik

10:15:00 AM
Sabtu, 30 Januari 2010 13:21 WIB

Bogor, (ANTARA News) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meluncurkan teknologi Beyonic yang merupakan teknologi berbasis mikroba untuk pembuatan pupuk organik.

Peluncuran teknologi tersebut dilakukan oleh Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata dengan disaksikan Kepala LIPI, Prof Umar Anggara Jenie di Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof Dr Endang Sukara dalam pemaparan mengenai Beyonic mengatakan teknologi ini merupakan salah satu solusi atas masalah menurunnya kualitas lahan akibat penggunaan pupuk sintetis secara berlebihan.

"Pemanfaatan mikroba yang merupakan salah satu kekayaan hayati kita menjadi alternatif yang harus terus dikembangkan menjadi suatu produk untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengurangi pemakaian pupuk buatan," kata Endang.

Ia mengatakan, Pemerintah pada tahun 2010 telah menganggarkan dana subsidi Rp11,86 triliun untuk memproduksi 11,76 juta ton pupuk organik.

Namun subsidi tersebut hanya dimanfaatkan oleh produsen besar sehingga petani masih tetap tidak mandiri terkait penyediaan pupuk organik tersebut.

"LIPI ingin agar petani bisa mengolah sendiri pupuk organik dengan teknologi ini sehingga mereka menjadi mandiri," kata Endang.

Ia juga menjamin bahwa mikroba yang digunakan aman dan terjaga kemurniannya.

"Mikroba yang digunakan adalah mikroba lokal yang dijamin keamanan serta kemurniannya dan dipelihara oleh Biotechnology Culture Collection yang telah terdaftar di WFCC (World Federation for Culture Collection)," katanya.

Sekarang ini, lanjut dia, banyak mikroba yang didatangkan dari luar negeri yang belum tentu handal. "Bahkan jangan-jangan malah merusak lingkungan kita," katanya.

Saat ini beberapa seri produk pupuk organik yang telah dipasarkan diantaranya adalah BioPoska, Kompenit, Biomat, Biorhizin, Kedelai Plus, BioVam dan Katalek.

Seri lain yang akan segera menyusul adalah pupuk organik untuk tambak, kawasan tambang yang tercemar limbah logam berat, kawasan tercemar minyak, serta energi alternatif, kata Endang.

Sementara itu, Menristek Suharna Surapranata mengatakan, hasil inovasi teknologi hendaknya bisa langsung dimanfaatkan oleh departemen teknis sehingga Indonesia tidak lagi tergantung pada industri asing.

"Hasil penelitian yang sangat bermanfaat kalau tidak bisa diintermediasikan dan disinegikan dengan departemen teknis akan mubazir," katanya.

Padahal, lanjut Suharna, pembangunan di Indonesia sangat membutuhkan produk-produk teknologi.

Ia mengakui bahwa beberapa departemen teknis belum paham bahwa hasil-hasil riset teknologi dalam negeri telah mampu memenuhi kebutuhan nasional.

"Oleh karena itu penting bagi kita untuk saling memberi informasi tentang apa yang dibutuhkan oleh Pemerintah dalam pembangunan," katanya.(*)

http://www.antaranews.com/berita/1264832504/lipi-luncurkan-beyonic-untuk-pupuk-organik
Read On 0 comments

Wah, Beras Organik Diekspor ke Malaysia

10:23:00 AM
Senin, 4 Januari 2010 | 09:06 WIB

TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Beras organik yang ramah lingkungan karena tidak menggunakan pupuk dan bahan kimia lain diekspor petani Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ke Malaysia. Ekspor kali ini sebanyak 19 ton, sedangkan Agustus lalu ekspor beras organik dilakukan ke Amerika Serikat.

Menurut Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik Uu Syaiful Bahri, saat ini proses sortasi kebersihan beras sudah hampir selesai. ”Begitu selesai langsung kami kemas dalam karung masing-masing berisi 5 kilogram dan diekspor,” kata Uu, Minggu (3/1/2010).

Di Malaysia, nantinya beras putih dan merah dari Tasikmalaya itu akan dikemas ulang dan dijual dalam kemasan satu kilogram. Di bagian belakang kemasan itu tertera bahwa produk beras organik itu diproduksi di sawah Tasikmalaya, Indonesia.

Kepala Bidang Produksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Soni Prayatna mengatakan, beras organik yang diekspor dari Tasikmalaya berasal dari lahan sawah seluas 340 hektar yang telah mendapat sertifikat produk organik dan perdagangan yang berkeadilan bertaraf internasional dari The Institute for Marketecology (IMO) yang berkedudukan di Swiss. IMO pula yang akan mengawasi kualitas padi serta menjamin padi itu betul-betul tanpa kandungan bahan kimia serta memantau pemasarannya. Padi di sawah tersebut ditanam dengan pola sistem intensifikasi budidaya padi (SRI) organik.

Uu juga menambahkan, di samping memenuhi permintaan ekspor beras organik dari Gapoktan Simpatik juga dijual di pasar dalam negeri dengan harga Rp 8.000 per kilogram, lebih mahal daripada beras non-organik. Dalam sebulan permintaan pasar dalam negeri mencapai tiga ton.

Di Kabupaten Tasikmalaya, dari total luas areal sawah 49.000 hektar, baru sekitar 6.000 hektar yang sudah menerapkan pola SRI organik.

”Tahun ini ada tambahan sekitar 90 hektar sawah baru di dua kecamatan yang sedang dipersiapkan untuk mendapatkan sertifikat produk organik,” kata Soni.

Pola budidaya SRI organik di Kabupaten Tasikmalaya ini telah dilakukan sejak tahun 2003. (ADH)

http://nasional.kompas.com/read/2010/01/04/09062560/Wah..Beras.Organik.Diekspor.ke.Malaysia/all
Read On 0 comments

Kotoran Hewan Pun Kini Punya Harga

11:07:00 AM
Sabtu, 2 Januari 2010 | 07:30 WIB

KOMPAS.com - Setelah diuji coba selama 15 hari, pabrik pupuk organik Petroganik, milik Pemerintah Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, siap menggenjot produksi. Kelayakan pabrik pupuk tersebut membuat PT Petrokimia Gresik selaku mitra yakin akan kualitas produk Petroganik.

Selama uji coba, total produksi Petroganik 20 ton. Keseluruhan hasil diserahkan ke Petrokimia guna dicek kandungan unsur haranya. ”Ternyata, mereka sudah oke dan siap menampung. Makanya kami siap menggenjot produksi sesuai kapasitas mesin,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto beberapa waktu lalu di Bantul.

Petroganik diresmikan 7 Oktober 2009 dengan kapasitas 7,5 ton per hari. Bahan baku pupuk organik tersebut dari kotoran sapi, kambing, dan ayam yang diperoleh dari peternak di wilayah Bantul.

Bahan baku pupuk diambil dari seluruh kelompok ternak di Bantul. Untuk kotoran ayam dibeli seharga Rp 350 per kilogram, kotoran sapi dan kambing Rp 250 per kilogram. Nantinya pemerintah akan menetapkan peraturan daerah yang mengatur larangan penjualan kotoran ternak ke luar daerah.

Untuk membeli mesin, Pemerintah Kabupaten Bantul mengeluarkan dana Rp 980 juta. Adapun untuk pembangunan prasarana fisik Rp 700 juta.

Pabrik Petroganik berlokasi di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden. Terdapat tiga mesin produksi di dalam pabrik berdaya listrik 33.000 watt. Wujud fisik Petroganik hampir sama dengan pupuk kimia.

Petroganik dijual kepada Petrokimia Rp 1.400 per kilogram. Oleh Petrokimia pupuk diedarkan ke pasar dengan harga Rp 500 per kilogram. Selisih harga Rp 900 per kilogram disubsidi oleh pemerintah.

Meski dijual ke Petrokimia, sejak awal Pemkab Bantul sudah mengingatkan agar distribusinya diprioritaskan untuk Bantul. Bila Bantul sudah cukup, baru diedarkan ke daerah lain. ”Kami sudah bersusah payah memproduksi pupuk, jangan sampai dinikmati orang lain,” kata Edy.

Pulihkan kesuburan

Bupati Bantul Idham Samawi menjelaskan, kotoran ternak sangat penting untuk memulihkan tingkat kesuburan tanah. Selama ini banyak peternak menjual kotoran ternaknya ke luar daerah karena tidak terserap di Bantul. Akibatnya, manfaat kotoran lebih banyak dinikmati masyarakat luar Bantul.

Padahal, tingkat kesuburan lahan pertanian di Bantul saat ini hanya 60-80 persen. Untuk memulihkannya ke angka 100 persen diperlukan pupuk organik.

Awalnya pupuk organik masih berujud kotoran sapi. Hal ini membuat sebagian petani enggan menggunakannya karena kurang praktis. Alasan itu tidak berlaku lagi karena sudah ada Petroganik.

Idham mengatakan, peraturan daerah sangat penting untuk mengintegrasikan sektor peternakan dan pertanian. Kotoran ternak harus dipakai untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.

”Dulu petani menggunakan pupuk kimia hingga satu ton per hektar. Sekarang perlahan-lahan mulai turun, meski masih sekitar dua kuintal per hektar. Angka itu harus terus ditekan dengan hadirnya Petroganik. Kalau tidak ada langkah penyelamatan, anak cucu kita akan menerima warisan lahan tandus dan gersang karena keserakahan kita,” ujar Idham.

Potensi kotoran ternak di Bantul tergolong tinggi. Satu ekor sapi rata-rata setiap hari menghasilkan 7 kilogram kotoran kering. Di Bantul, populasi sapi potong 49.957 ekor sehingga setiap hari produksi kotoran sapi mencapai 349,7 ton atau senilai Rp 87,4 juta. Jumlah itu masih ditambah dengan kotoran kambing dan domba yang populasinya 61.370 ekor dan ayam sekitar 1 juta ekor.

Jumlah kotoran ternak yang tersedia memang tidak sebanding dengan kapasitas pabrik. Oleh karena itu, diharapkan muncul inisiatif masyarakat untuk mengolah pupuk organik secara swadaya.

Awalnya keprihatinan

Ide awal pendirian pabrik berawal dari keprihatinan Pemerintah Kabupaten Bantul akan tingginya ketergantungan petani pada pupuk kimia. Setiap tahun kuota pupuk yang disediakan selalu tidak cukup. Tiap tahun kebutuhan urea lebih dari 17.000 ton lebih.

”Kalau sedang musim tanam, biasanya kami susah memperoleh urea karena pengecer mengaku kehabisan stok. Dengan hadirnya pabrik pupuk organik secara perlahan kami mulai mengurangi penggunaan urea,” kata Maryono, petani di Bulak Mandingan, Bantul.

Sebelumnya Maryono enggan menggunakan pupuk organik karena merepotkan. Pertama, ia harus mengumpulkan dulu kotoran ternak dan selanjutnya mengangkutnya ke sawah. ”Kalau pupuk kemasan lebih praktis, tidak merepotkan,” ujarnya.

Kehadiran Petroganik juga disambut gembira kalangan peternak. Sarujo (30), misalnya, warga Dusun Banyakan II, Desa Sitimulyo, Piyungan, menegaskan, kotoran sapi yang selama ini dimanfaatkan untuk biogas ternyata masih bisa mendatangkan rezeki.

”Kalau biogas yang dipakai kotoran saat masih baru. Setelah gasnya diambil, kotoran keringnya masih bisa dijual untuk bahan baku Petroganik,” katanya.

Semangat Pemkab Bantul menyinergikan sektor pertanian dan peternakan sepertinya perlu dicontoh daerah lain.

Apalagi, bila pemerintah akhirnya melepaskan subsidi pupuk. Bisa dibayangkan betapa mahalnya harga pupuk kimia dan petani belum disiapkan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Masalah lain adalah lahan pertanian akan semakin rusak karena penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus. (ENY)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2010/01/02/07300795/Kotoran.Hewan.Pun.Kini.Punya.Harga
Read On 0 comments

Berupaya Sehat dengan Organik

1:16:00 PM
Senin, 28 Desember 2009 | 14:09 WIB

Hanya Genjer Belum Organik

MAKIN hari, masyarakat makin peduli bagaimana hidup sehat. Menyadari kesehatan adalah investasi jangka panjang, banyak orang mulai menerapkan gaya hidup sehat dalam kesehariannya, terutama dalam hal memilih apa yang dimakan. Tren mengonsumsi makanan organik pun terus meningkat.

Tak banyak restoran yang menyediakan makanan organik. Dari yang sedikit itu, Warung Daun bisa disebut sebagai salah satu pelopor. Sejak tahun 2004, Warung Daun sudah menyediakan makanan organik.

Restoran itu kini berada di tiga tempat elit di Jakarta, yakni Jalan Wolter Monginsidi, Jalan Pakubuwono (keduanya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan), dan Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Memang tidak melulu makanan organik yang disajikan, ada juga yang nonorganik. Konsumen bisa memilih karena ada tandanya, mana yang organik dan nonorganik.

“Dari beras hingga sayur-sayuran, kecuali genjer, sudah organik. Genjer tidak bisa organik karena hidup di rawa, sulit untuk membersihkan dari pestisida atau limbah. Sayuran lainnya sudah organik,” kata pemilik Warung Daun, Hariyanto Prayitno (52), yang ditemui Warta Kota, belum lama ini.

Perkenalannya dengan makanan organik diawali dengan pengalaman sendiri yang mengkonsumsi makanan organik di rumah. Tahun 1990-an, ia menderita sakit tenggorokan karena syarafnya ada yang terjepit. Untuk mengurangi sakitnya, dokter menyarankan agar mengonsumsi makanan organik.

Maka ketika membuka restoran pun, akhirnya Hariyanto memilih makanan organik. Maksusnya agar kesadaran masyarakat akan lingkungan semakin tinggi.

Untuk mendapatkan pasokan bahan pangan yang benar-benar organik, Hariyanto mendapatkan dari suplier yang memang benar-benar bercocok tanam secara organik. Untuk sayuran ia mendapatkan dari pelopor pertanian organik di Indonesia, yakni Romo Agatho, serta Pak Leo yang berada di Cisarua. Sedangkan beras didatangkan dari Sragen.

Hariyanto sebenarnya membuka Warung Daun sejak tahun 2003, namun ‘warung’ itu baru benar-benar menyediakan makanan organik sejak tahun 2004. “Restoran harus punya ciri khas, dan saya lihat, produk seperti ini belum ada,” kata mantan karyawan Pupuk Kaltim yang mengundurkan diri di usia 42 tahun karena ingin punya usaha sendiri tersebut.

Namun yang diandalkan Warung Daun bukan hanya keorganikannya, soal rasa juga menjadi fokus. “Kebanyakan yang datang saya lihat karena kelezatannya bukan karena organik. Yang benar-benar maniak organik paling-paling 20 persen saja,” ujarnya. (lis)

http://www.wartakota.co.id/read/kuliner/18839
Read On 0 comments

Balai Proteksi Kembangkan Pestisida Nabati

11:48:00 AM
Rabu, 30 Desember 2009

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura mengembangkan pestisida nabati sebagai upaya pengendalian hama terpadu. Selain aman dan murah, pestisida nabati memiliki tiga keunggulan, yakni sebagai zat penarik, (antractant), pembunuh (racun kontak), dan penolak makan (anti-feedant).

"Pestisida nabati ini, efektif membunuh, menolak, mengikat, dan menghambat pertumbuhan organisme pengganggu tumbuhan (OPT)," kata Kepala Balai Proteksi TPH, Rusdiwiyanto, pada Musyawarah Koordinasi Penyuluh Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, di Bandar Lampung, Selasa (29-12).

Kebijakan UPTD yang bernaung di bawah Dinas Pertanian TPH Lampung itu mengembangkan pestisida nabati karena banyak menguntungkan petani. "Pestisida nabati dapat diproduksi sendiri oleh petani, ramah lingkungan, aplikasinya mudah, dan aman. Selain itu, efek samping atau residual effects pada produk dan lingkungan tidak ada yang membahayakan. Dan yang paling penting, prinsip ekologi pertanian tetap dapat dipertahankan," kata Rusdiwiyanto.

Namun, pengembangan pestisida ini masih diadang sejumlah kendala. Misalnya, bahan baku dalam jumlah banyak sulit didapat. Frekuensi penggunaannya harus lebih sering, karena residunya rendah dan mudah degradasi. "Larutannya juga tidak bisa disimpan lama dan kandungan bahan aktif bervariasi pada tanaman yang sama. Hal ini dipengaruhi umur tanaman, jenis tanah, ketinggian tempat, waktu panen, dan penyimpanan," kata dia.

Musuh Alami

Selain pestisida nabati, Balai Proteksi juga memanfaatkan musuh alami (agen hayati) dalam pengendalian hama terpadu. Pengendali Muda OPT Balai Proteksi, Sumardiyono, mengatakan agen hayati yang dikembangkan di Lampung yakni mikroorganisme patogen serangga seperti bakteri, cendawan, dan virus. Kemudian, antagonis patogen tumbuhan seperti bakteri dan cendawan.

"Agen hayati ini banyak dikembangkan di Lampung terutama oleh alumni sekolah lapang PHT," kata Sumardiyono.

Pengendali OPT ini lebih dikenal dengan sebuatan pestisida mikroba (biopestisida). Karakteristiknya antara lain bekerja relatif selektif, mudah terurai, relatif tidak berbahaya sehingga aman bagi manusia. MIN/K-3

Patogen serangga yang dikembangkan di Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit, Balai Proteksi TPH Lampung, adalah cendawan Metarrhizium anisopliae. "Cendawan ini memiliki kapasitas reproduksi tinggi, siklus hidup pendek, dan dapat membentuk spora yang bertahan lama. Namun, keberhasilannya sebagai pengendali hama sangat dipengaruhi faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan sinar matahari," kata Sumardiyono.

Cendawan ini berkembang di tubuh biang dan menyerang seluruh jaringan tubuh sehingga serangga mati. Serangga yang menjadi sasarannya, yakni kepinding tanah, wereng batang cokelat, walang sangit, kepik hijau, dan ulat pemakan daun. "Gejala serangga yang terserang akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi," kata dia.

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009123001205617
Read On 0 comments

Tak Ada Jaminan untuk Pangan Organik di Indonesia

9:00:00 PM
Kamis, 17/12/2009 18:03 WIB

Irna Gustia - detikHealth

Jakarta, Tren penggunaan produk pangan organik mulai dari sayur, beras, buah terus berkembang. Tapi siapa yang bisa menjamin produk tersebut benar-benar organik karena hingga kini belum ada badan khusus yang memberikan standarisasi produk organik.

"Konsumsi produk organik di Indonesia lebih ke arah life style (gaya hidup) bukan masalah keamanan pangannya. Tidak ada jaminan apakah organik atau bukan, karena memang tidak ada pihak yang melakukan standarisasinya," kata Direktur Pusat Penelitian Kimia Prof. (Ris) Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono ketika dihubungi detikHealth, Kamis (17/12/2009).

Acuan yang dipakai di Indonesia, pangan organik adalah produk yang bebas pestisida lalu kemudian mendapat stempel SNI. Namun tidak ada kajian khusus apakah benar produk tersebut betul-betul bebas bahan kimia atau tidak dalam proses pengelolaannya hinga penjualan.

"Kalau di negara lain seperti Thailand saja ada badan yang melakukan kajian, bahkan India butuh 6 tahun sebelum memastikan produk tersebut benar-benar organik," kata alumnus Institut Teknologi Bandung yang mengambil S3 di Southern Illinois University.

Di Amerika misalnya, produsen organik harus mendapat sertifikat USDA Organic untuk menjamin produknya organik sungguhan. Di Jepang ada JAS, Australia terdapat Australian Certified Organic atau BIO di Jerman yang semuanya bernaung di bawah Organic Crop Improvement Association (OCIA).

Karena belum ada standarnya tersebut, Leonardus dan tim yang menemukan minyak goreng tanpa pemanasan (diolah dengan ragi tempe) tidak berani menyebut produknya sebagai pangan organik. Meskipun beberapa produsen yang sudah menggunakan aplikasi ini menamakan produknya dengan minyak goreng organik.

"Siapa yang berhak menentukan organik, kan belum ada. Jadi saya lebih suka menyebut minyak goreng itu dengan minyak goreng tanpa pemanasan," katanya.

International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM) sendiri telah mengeluarkan beberapa standar untuk menyebut produk organik. Mulai dari lahan yang digunakan, cara budidaya pertaniannya, teknologi pendukung hingga pemasarannya.

Sementara di Indonesia pelaku industri organik masih berjalan sendiri dengan pemahaman organik yang berbeda. Terkadang dengan cukup memakai pupuk organik saja, produsen sudah mengklaim produknya organik.

Memang ada SNI yang dikeluarkan departemen pertanian tapi di lapangan belum bisa berjalan sesuai harapan. Istilah organik sendiri sebenarnya tidak menjamin bahwa produknya bebas sepenuhnya dari residu karena faktor polusi lingkungan pastinya ada. Meski begitu bisa dikurangi semaksimal mungkin melalui standar pengolahannya yang diterapkan.

(ir/ver)

http://health.detik.com/read/2009/12/17/180349/1262214/766/tak-ada-jaminan-untuk-pangan-organik-di-indonesia
Read On 0 comments

Alasan Memilih Pangan Organik

6:47:00 PM
Kamis, 17 Desember 2009 | 13:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Memilih pangan organik seharusnya bukan karena latah ikutan tren. Makanan organik merupakan pilihan yang tepat, bukan hanya untuk kesehatan, melainkan juga kelangsungan hidup planet Bumi. Jenis pertanian ini mengandalkan segala hal yang ada dalam kehidupan, mulai dari manusia, ternak, tumbuh-tumbuhan, mikro-organisme, air, hingga udara. Di situ ada saling ketergantungan, keterkaitan, serta saling membutuhkan.

Ada beberapa alasan utama mengapa kita perlu memilih pangan organik.

1. Bebas bahan kimia
Mengonsumsi bahan pangan organik adalah satu-satunya cara untuk menghindari paparan bahan kimia beracun yang biasanya dipakai dalam pertanian konvensional. Menurut The Nation Academy of Science, hampir 90 persen bahan kimia yang dipakai dalam makanan belum pernah diuji dampaknya bagi kesehatan jangka panjang.

2. Lebih banyak nutrisi
Tanaman yang tumbuh dengan cara organik diketahui memiliki kualitas lebih tinggi dibanding produk dari pertanian konvensional karena kaya nutrisi, vitamin, mineral, enzim, dan mikronutrien.

3. Rasanya lebih enak
Kandungan gizi yang tinggi membuat sayur atau buah organik terasa lebih enak.

4. Bebas obat, hormon, dan antibiotik
Bukan rahasia lagi daging atau produk unggas banyak yang terkontaminasi oleh zat-zat berbahaya. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, 90 persen pestisida ditemukan dalam jaringan lemak produk daging, telur, ikan, dan unggas. Antibiotik, obat, dan hormon pertumbuhan juga sering dipakai dalam makanan ternak.

5. Ikut menjaga lingkungan
Membeli produk pertanian organik berarti kita ikut menjaga keseimbangan lingkungan. Pemeliharaan tanah dan penggunaan pupuk kandang membuat lahan pertanian tetap sehat.

6. Mengurangi polusi
Bahan pestisida dan pupuk kimia mengontaminasi lingkungan kita, meracuni sumber air, dan menghancurkan kesuburan tanah.

AN

Editor: acandra

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/12/17/13270290/alasan.memilih.pangan.organik
Read On 0 comments

Sumber Daya Hayati Potensial Kembangkan Industri Herbal

10:14:00 PM
Kamis, 10 September 2009 | 20:34 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sumber daya hayati lokal yang banyak terdapat di Indonesia cukup potensial dikembangkan untuk mendukung industri dan bisnis obat herbal.

"Apalagi obat herbal merupakan salah satu alternatif untuk pengobatan yang murah, sehingga prospek obat jenis ini ke depan cukup baik," kata Presiden Direktur PT Ny Meneer, Dr Charles Saerang pada talk show ’pemantapan sumber daya hayati lokal untuk mendukung bisnis dan industri obat herbal’, di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Kamis.

Ia menyebutkan di Indonesia terdapat sekitar 9.606 spesies tanaman obat, namun hanya 350 spesies di antaranya yang teridentifikasi, dan hanya sekitar tiga hingga empat persen yang dimanfaatkan secara komersial.

Menurut dia, perlu ada eksplorasi dan pengembangan agar sumber daya hayati lokal menjadi obat herbal yang diakui melalui uji klinis.

"Tantangan besar yang dihadapi untuk memajukan obat herbal lebih pada permasalahan pengolahan sebuah tanaman hingga menjadi obat yang memenuhi syarat dan membutuhkan teknologi yang berkelanjutan," katanya.

Dia mengatakan ada tiga uji yang harus dilakukan dalam menghasilkan obat dari bahan baku herbal, yakni standarisasi bahan baku obat, uji pra klinis dan uji klinis.

"Uji standarisasi bahan baku yaitu yang menentukan identifikasi bahan yang berkhasiat secara seksama sampai mendapatkan produk yang terstandarisasi, uji praklinik yakni mencakup uji khasiat dan toksinitas, serta uji klinik yaitu uji yang dilakukan pada manusia, dan biasanya dilakukan di rumah sakit," katanya.

Sementara itu, Prof J Situmorang dari Fakultas Teknologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengatakan ada sekitar 30.000 jenis tumbuhan obat yang dimiliki Indonesia, dan ini memiliki potensi untuk mengembangkan produk herbal yang kualitasnya setara dengan obat modern.

"Namun, sumber daya tersebut belum dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan masyarakat, dan baru sekitar 1.200 spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan dan diteliti sebagai obat tradisional," katanya.

Menurut dia, beberapa spesies tumbuhan obat yang berasal dari hutan tropis di Indonesia justru dimanfaatkan negara lain.

"Saat ini ada sekitar 40 senyawa aktif dari tanaman obat di Indonesia yang justru telah dipatenkan oleh peneliti Jepang," katanya.

Ia mengatakan kecenderungan masyarakat dunia untuk kembali ke alam, membawa perubahan pada pola konsumsi obat ke obat-obatan yang terbuat dari bahan alami.

"Berdasarkan data WHO, sekitar 80 persen penduduk dunia dalam perawatan kesehatannya memanfaatkan obat tradisional yang berasal dari ekstrak tumbuhan. Ini merupakan peluang bisnis bagi Indonesia untuk mengembangkan budidaya agribisnis tumbuhan obat maupun industri pengolahannya," katanya.

Sementara itu, pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yustina Sri Hartini MSi Apt mengatakan dewasa ini masyarakat sudah mulai memiliki paradigma untuk kembali ke alam, dan ini hendaknya tidak hanya dipahami sebagai sikap menghargai apa pun yang bersumber dari alam, namun penting juga memahami bahwa mengkonsumsi bahan alam tersebut juga berarti ada substansi kimia dari alam yang masuk ke tubuh.

"Riwayat pemakaian obat tradisional yang diturunkan dari nenek moyang ke generasi berikutnya seolah membuktikan bahwa obat tradisional itu aman dan bermanfaat. Namun, faktanya WHO melaporkan bahwa terjadi efek yang tidak diinginkan, akibat dari bahan yang berasal dari tumbuhan obat itu sendiri," katanya.

Ia mengatakan efek tersebut juga karena kesalahan dalam mengambil jenis tanaman, ketidaktepatan dosis, kesalahan penggunaan oleh konsumen, maupun oleh para profesional kesehatan interaksi dengan obat lain.

"Selain itu, juga akibat penggunaan obat tradisional yang terkontaminasi dengan bahan atau mikroba pathogen serta residu agrokimia," katanya.

Sumber : ANT

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/09/10/20341260/Sumber.Daya.Hayati.Potensial.Kembangkan.Industri.Herbal.
Read On 0 comments

Petani Disarankan Tanam Padi Organik Hadapi El Nino

4:20:00 PM
Senin, 03 Agustus 2009 | 14:35 WIB

TEMPO Interaktif, Purwokerto - Untuk mengantisipasi dampak El Nino, petani disarankan menanam padi organik karena jenis padi ini tidak terlalu membutuhkan banyak air untuk pengairan sawah.

"Pertanian organik tidak terlalu terpengaruh musim, termasuk El Nino," kata Ketua Himpunan Petani Organik Banyumas, Sugeng Abdurrahman, Senin (3/8).

Ia menambahkan, suplai air bersih untuk pertanian organik tidak terlalu banyak. Hal itu disebabkan tingkat kelembaban lahan pertanian organik cukup tinggi, sehingga tanah pertanian organik mampu menyimpan air di bawah lapisan tanahnya.

Namun, kata dia, bagi petani yang baru menanam padi organik saat ini, produksinya bakal turun hingga 20 persen. Menurut Sugeng, lahan pertanian organik membutuhkan proses panjang untuk bisa menghasilkan gabah yang banyak. "Setidaknya dibutuhkan waktu 1,5 tahun agar hasilnya bisa banyak," katanya.

Untuk perbandingan, katanya, satu hektare lahan pertanian dengan obat kimia mampu menghasilkan gabah sebanyak 6 ton, sedangkan lahan organik bisa menghasilkan 8 ton per hektare. "Ini saja saya mau tanam lagi, meski tak ada hujan," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Cilacap, Gunawan, mengatakan Dinas sudah mempersiapkan jauh hari akan dampak El Nino. "Kami sudah antisipasi datangnya El Nino ini dengan berbagai program seperti sumur pantai," katanya.

Terkait pertanian organik untuk menghadapi El Nino, Gunawan mengatakan hal itu juga telah dilakukan di beberapa kecamatan. Hanya saja ia enggan menyebutkan berapa kecamatan yang sudah menanam padi organik.

Untuk tahun ini, Gunawan menyebutkan produksi gabah di Cilacap mencapai 700 ribu ton. Untuk tahun 2010, ia memprediksi produksi gabah Cilacap bisa naik menjadi 723 ribu ton.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Banyumas Wisnu Hermawanto mengaku belum bisa memprediksi berapa banyak penurunan produksi gabah akibat dampak El Nino ini. "Kami masih meneliti bagaimana dampaknya bagi pertanian Banyumas," katanya.

ARIS ANDRIANTO

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/08/03/brk,20090803-190474,id.html
Read On 0 comments

Musi Rawas Dijadikan Percontohan Pertanian Organik

9:20:00 AM
Minggu, 2 Agustus 2009 19:49 WIB

Musi Rawas, Sumsel (ANTARA News) - Menteri Pertanian Anton Apriantono menilai, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra Selatan perlu dijadikan daerah percontohan pengembangan pertanian arganik di Indonesia.

"Musi Rawas dapat dijadikan salah satu daerah percontohan pertanian dengan sistem organik, karena ke depannya harga pupuk diperkirakan akan mengalami kenaikan," kata Mentan ketika melakukan panen raya padi organik seluas 15 hektare di lahan binaan PT Medco di Desa Suka Makmur, Kecamatan BTS Ulu, Musi Rawas, Minggu.

Untuk mendukung pertanian organik, semuanya sudah tersedia dan tinggal digerakkan saja. Kelebihan pertanian organik selain ramah lingkungan beras yang dihasilkan nilai jualnya lebih tinggi bisa mencapai Rp8.000 per Kg.

Dikatakannya, saat ini dari 26,5 juta hektar areal pertanian yang ada di Indonesia pada 19 Agustus mendatang akan melakukan ekspor perdana beras dari padi organik yang dihasilkan petani di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat dengan tujuan Amerika Serikat. Untuk melakukan ekspor produk yang dihasilkan petani haruslah yang bermutu dan memenuhi standar ekspor (IMO).

Selain pertanian dengan sistem organik, saat ini di Indonesia kata Anton sebagian besar masyarakatnya masih mengandalkan pertanian dengan sistem konvensional dan bergantung dengan obat-obatan dan pupuk yang dihasilkan pabrik.

Sehingga untuk mengubah kebiasaan dari penggunaan bahan-bahan kimiawi oleh petani membutuhkan waktu, dan membutuhkan sarana dan prasarana pendukung lainnya seperti pengadaan alat pembuat kompos, pengadaan ternak yang menghasilkan kotoran dan pendukung lainnya.

"Pemerintah saat ini masih fokus kepada program Program Peningkatan Beras Nasional (P2BN), caranya selain dengan melakukan pertanian organik juga melalui intensipikasi dan perluasan lahan," ujarnya.

Guna mendukung penciptaan pertanian organik yang banyak bergantung dengan kotoran hewan, pada tahun 2009 ini pemerintah pusat akan segera meluncurkan empat program bidang pertanian antara lain, pertama pemberian bantuan kepada pondok pesantren untuk pengembangan bidang pertanian dan peternakan.

Kedua melalui program sarjana masuk desa, dimana per sarjanannya diberi bantuan modal sebesar Rp325 juta untuk mengembangkan usaha pertanian di desa binaannya. Ketiga program pengembangan kelompok tani (Poktan) dan keempat program pengembangan pusat pengembangan pembibitan pertanian dan peternakan sapi.

Sementara itu Bupati Musi Rawas H Ridwan Mukti dalam kesempatan itu mengatakan, areal pertanian yang ada didaerah itu mencapai 74.000 hektar yang terbagi dalam pertanian irigasi dan padi darat (gogo). Dimana terdapat 30.000 hektar merupakan pertanian dengan menggunakan irigasi tekhnis. Terhitung sejak tahun 2006 lalu daerah ini berhasil meningkatkan produksi beras, dan menjadi salah satu lumbung pangan di Sumsel.

Ditambahkan Ridwan Mukti, saat ini lima kecamatan yang didaerah itu masing-masing, Tugumulyo, Muara Beliti, Purwodadi, Megang Sakti dan STL Ulu Terawas menjadi daerah pertanian yang menyokong kebutuhan pangan Kabupaten Musi Rawas dan daerah sekitarnya dengan produksi pertahunnya mencapai 295 ribu ton lebih gabah kering giling.(*)

http://www.antaranews.com/berita/1249217396/musi-rawas-dijadikan-percontohan-pertanian-organik
Read On 0 comments

Pangan Organik Ternyata Tidak Lebih Sehat

10:44:00 AM
Kamis, 30/07/2009 09:03 WIB

London, Sebuah studi baru-baru ini mengungkapkan bahwa pangan organik yang diisukan lebih baik dan lebih sehat dibanding pangan konvensional ternyata tidaklah benar. Para peneliti Inggris telah membuktikannya.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh para peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, pangan organik tidak memiliki nilai nutrisi yang lebih atau efek kesehatan yang signifikan dibanding pangan pada umumnya.

Menurut para peneliti, konsumen rela membayar lebih mahal untuk membeli pangan organik karena percaya bahwa dengan mengonsumsi produk-produk organik akan mendapat manfaat kesehatan bagi tubuh.

Animo dan permintaan masyarakat yang tinggi terhadap pangan organik ini akhirnya menciptakan pasar organik global yang cukup menguntungkan bagi para pengusaha organik. Untung yang diperoleh pun diperkirakan mencapai 48 miliar pada tahun 2007.

Sebuah tinjauan sistematik dari 162 jurnal ilmiah yang dipublikasikan dalam literatur yang berasal dari studi 50 tahun yang lalu hingga sekarang menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada kandungan gizi pangan organik.

"Meskipun ada perbedaan kandungan nutrisi yang sangat kecil sekali, namun hal itu tidak bisa dijadikan isu kesehatan yang relevan bagi publik," ujar Alan Dangour, salah satu peneliti yang terlibat studi tersebut, seperti dilansir Reuters, Kamis (30/7/2009).

"Studi yang kami lakukan mengindikasikan bahwa tidak ada bukti yang mendukung isu bahwa produksi pangan organik lebih bernutrisi dibanding pangan konvensional," tambah Alan.

Penelitian yang yang didukung oleh komisi British Government's Food Standards Agency dan dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition, Rabu kemarin (29/7/2009) hanya ingin mengingatkan konsumen bahwa mereka tidak harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli pangan organik.

Fakta yang diungkapkan para peneliti tersebut ternyata cukup membuat pasar organik di Inggris menurun karena konsumen mulai meninggalkan pangan organik dan merasa ditipu dengan pemberitaan yang digembor-gemborkan sebelumnya.

http://health.detik.com/read/2009/07/30/090303/1174092/763/pangan-organik-ternyata-tidak-lebih-sehat
Read On 0 comments

Petani Padi Organik Resahkan Pemasaran

8:18:00 PM
Kamis, 9 Juli 2009 | 18:13 WIB

JOMBANG, KOMPAS.com- Para petani padi organik di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang dijadikan proyek percontohan nasional saat ini resah. Keresahan disebabkan belum adanya kejelasan soal pemasaran padi hasil panen yang berdasarkan target akan dituai pada Agustus mendatang.

Muhammad Sjafii, salah seorang petani padi organik di desa itu, Kamis (9/7), menyebutkan, hingga saat ini belum ada yang mengoordinasikan para petani untuk memasarkan panenan mereka.

Kepala Desa Sudimoro, Sunan, membenarkan keresahan petani padi organik berkait belum adanya kepastian soal pemasaran itu.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Suhardi, saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pihaknya sudah mengirimkan seseorang untuk ikut seminar pertanian organik di Bogor guna mencari solusi pemasaran.

INK

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/07/09/18132083/Petani.Padi.Organik.Resahkan.Pemasaran.
Read On 0 comments

Sehat dengan Produk Organik (2)

2:46:00 PM
Rabu, 20 Mei 2009

Lebih Sehat & Nikmat
Selanjutnya, jika hasil produk organik tadi dipajang di rak-rak bahan makanan segar di supermarket tanpa label organik, tentu sulit bagi orang awam untuk membedakannya dengan produk yang anorganik. Namun, jika diteliti benar, ada beberapa perbedaan yang dimiliki produk organik dengan yang anorganik.

Salah satu yang biasa ditemukan pada produk organik, adanya lubang-lubang diantara lembar daun sayuran. Menurut Angela, ini disebabkan pertanian organik tak menggunakan pestisida untuk mengatasi hama. Meski dihiasi lubang-lubang, penampilan sayuran hijau organik umumnya berwarna lebih menarik, tajam, dan segar.

Rasa yang dihasilkan pun berbeda dengan produk pertanian biasa. Angela mencontohkan, bayam jepang yang ditanam secara organik akan memiliki rasa lebih renyah dan tak terlalu berbau. Begitu pula buah-buahan, seperti apel yang akan memiliki rasa lebih manis dari pada apel yang ditanam biasa.

Sejumlah konsumen produk organik pun mengakui rasa wortel organik lebih lezat dan tak berbau. Bahkan, ketika diolah menjadi jus, wortel akan terasa lebih nikmat. Sedangkan beras organik yang dimasak menjadi nasi, juga akan lebih tahan lama dan tak mudah basi.

Dan tentu saja, produk organik yang dikonsumsi ini juga mampu memberi manfaat kesehatan. Selain kandungan yang dimiliki, mengonsumsi produk organik dengan sugesti diri juga akan membantu meningkatkan kesehatan.

Dengan mengonsumsi makanan organik sebenarnya Anda sedang menabung untuk mempertahankan kesehatan di masa depan. Gaya hidup ala organik ini juga jadi pencegahan penyakit sejak awal. Beberapa konsumen produk organik, menurut pengamatan Angela, berdaya tahan tubuh lebih baik, sehingga saat terserang penyakit tak menimbulkan gejala separah orang lainnya.

Namun, yang terpenting adalah selalu menanamkan dalam pola pikir masyarakat, mengobati penyakit tak harus dengan jalan instan, agar memiliki kualitas hidup yang benar-benar baik.

Anak Kenal Organik
Lantas, bagaimana cara mengenalkan hidup ala organik untuk seluruh keluarga, termasuk anak-anak? Ya, Anda tahu, kan, produk-produk organik memang tak murah. Tapi ini memang wajar, mengingat upaya produksinya lebih besar dibandingkan hasil pertanian konvensional. Namun, bukan berarti Anda tak bisa memulainya di rumah. Angela menyarankan, jika ingin memulai hidup sehat ala organik, bisa mulai mengonsumsinya untuk makanan sehari-hari.

Dari yang dikonsumsi sehari-hari, Anda lalu bisa melanjutkan ke upaya pengobatan maupun suplemen organik. Selanjutnya, bisa melengkapinya dengan produk organik lain seperti produk kosmetika serta produk perawatan tubuh lainnya.

Yang penting, lanjut Angela, jika memiliki anggaran terbatas, prioritaskan mengonsumsi makanan sehari-hari ala organik untuk anak-anak dulu. ”Anak-anak adalah aset masa depan. Anda perlu memberi kualitas hidup yang baik kepada mereka, yang belum banyak terkontaminasi toksin dari produk anorganik.”

Selain produk segar seperti sayur dan buah-buahan, produk organik berupa susu dan bubur juga baik diberikan kepada anak-anak sejak usia dini. Nah, marilah memulai hidup sehat sejak awal!

Laili Damayanti

http://www.tabloidnova.com/Nova2/Kesehatan/Umum/Sehat-dengan-Produk-Organik-2
Read On 0 comments

Sehat dengan Produk Organik (1)

2:43:00 PM
Kamis, 28 Mei 2009

Masyarakat kini semakin kritis terahdap wacana kesehatan dan gaya hidup yang menjadi tren. Mereka kian sadar, kesehatan bukan saja perlu diperbaiki, tapi juga dipelihara. Mereka pun mulai teliti memilih produk yang sehat untuk dikonsumsi. Tak hanya suplemen, tapi juga makanan sehari-hari. Dari makanan yang dikonsumsi inilah akan sangat mempengaruhi kualitas kesehatan yang dimiliki.

Bagaimana mau sehat, jika setiap kali tubuh masih dikontaminasi racun yang berasal dari makanan sehari-hari? Residu pestisida, sisa hormon pemacu pertumbuhan, kandungan antibiotik, MSG (monosodium glutamat), bahan pengawet, dan bahan tambahan lain yang bisa berdampak negatif pada tubuh.

Jika terkonsumsi, bahan-bahan ini harus dikeluarkan dari tubuh melalui sistem ekskresi tubuh. Sayangnya, apabila organ-organ ekskresi bekerja terus menerus, akan ada dampaknya. Yaitu munculnya penyakit ringan seperti influenza, hingga yang sistemik seperti diabetes, kolesterol, hipertensi, bahkan kegagalan fungsi organ yang merupakan ancaman jangka panjang dari mengonsumsi makanan tak sehat.

Salah satu yang bisa meminimalisasi ancaman itu adalah pola hidup sehat. Ini bisa dimulai dengan mengonsumsi makanan yang minim toksin. Makanan ini dikenal sebagai makanan organik: makanan bebas bahan tambahan dan diproses dengan metode, material, dan manipulasi buatan, seperti pematangan secara kimiawi, radiasi makanan, dan modifikasi genetik. Makanan organik bermanfaat membuat kerja organ jadi lebih ringan. Dampak jangka panjangnya, daya tahan tubuh jadi meningkat. Konsumen produk organik akan merasakan tubuhnya jadi lebih bugar dan tak mudah terserang penyakit.

“Dampak positif liannya, bisa menurunkan risiko gejala alergi, asma, jerawat, dan dermatitis. Orang-orang dengan alergi yang mengonsumsi produk organik pun akan merasakan gejalanya jadi lebih jarang timbul,” papar dr. Angela C. Ardhianie N., kosultan kesehatan dari Healthy Choice, Indonesia.

Benarkah Organik?
Produsen bahan makanan organik yang mengklaim produknya sangat sehat dikonsumsi dan bebas kontaminasi bahan kimia, kini makin banyak saja. Tak hanya produk pertanian segar seperti sayur dan buah, tapi juga produk peternakan, olahan, dan bumbu dapur.
Saking banyaknya produk yang mengklaim organik, adakalanya timbul tanda tanya, apakah semuanya benar-benar organik? Lantas bagaimana memastikan itu produk benar-benar organik? Bagaimana pula jika produknya merupakan olahan seperti kecap atau bumbu masak?

Untuk menjawabnya, Angela menekankan, yang dimaksud organik sebenarnya lebih mengacu pada proses dan jaminan bebas bahan kimia maupun rekayasa genetik. Maka, perlu dilakukan sertifikasi oleh badan berwenang yang juga melakukan standarisasi dan penyelidikan terhadap proses produksi terhadap produk organik.

Beberapa badan berwenang yang memberikan ijin sertifikasi ini di antaranya Eco-regulation (Uni Eropa), The National Organic Program (Departemen Pertanian Amerika), National Association for Sustainable Agriculture Australia – Organic Standard, Canada Gazette dan Government of Canada, National Program for Organic Production (India), JAS/ Japan Agricultural Standards (Jepang), Agriculture Biologique (Perancis).

Untuk petani organik dalam negeri, tak harus keluar negeri untuk mendapatkan sertifikasi organik dari lembaga tadi. Melalui himpunan petani organik maupun lembaga fasilitator seperti Bio-cert, petani organik sudah bisa mendapatkan sertifikasi.

Produk pertanian seperti beras, sayur, buah, rempah-rempah, kacang-kacangan, dan kopi dikatakan layak sebagai produk organik jika proses produksinya sesuai standar yang ditetapkan.
Mulai dari bibit tanaman bebas rekayasa genetik, tanah bebas bahan kimia, proses penanaman bebas penggunaan bahan kimia dan hormon, hingga ke level aman dari kontaminasi pertanian konvensional yang pakai bahan kimia, seperti pupuk anorganik dan pestisida.

Untuk memastikan tanah yang akan digunakan bebas bahan kimia, setidaknya lahan sudah didiamkan selama 5 tahun setelah digunakan pertanian konvensional. Di sekeliling lahan sebaiknya ada sungai mengalir dan berjarak cukup jauh dari pertanian konvensional.

Lahan juga idealnya dilengkapi pohon pembatas yang tinggi sehingga mampu menghalau jika pertanian konvensional terdekat sedang melakukan penyemprotan pestisida atau pupuk kimia. Pada peternakan pun tak jauh berbeda. Mulai dari pemilihan bibit yang bebas rekayasa, pakan berasal dari pertanian organik saja, tak menggunakan hormon pemacu pertumbuhan, hingga antibiotik dalam pemeliharaan hewan.

Barulah itu bisa dipastikan, baik daging, susu, telur, dan lainnya sebagai produk organik. Untuk produk olahan seperti kecap, saus, minyak, olahan susu, dan sejenisnya, setidaknya 90-95 persen bahan yang digunakan adalah produk organik.

Laili Damayanti

http://www.tabloidnova.com/Nova2/Kesehatan/Umum/Sehat-dengan-Produk-Organik-1
Read On 0 comments

Warga Manfaatkan Kulit Kakao sebagai Pupuk

2:10:00 PM
Jumat, 03 Juli 2009 10:45 WIB

LAMPUNG TIMUR--MI: Warga di sejumlah desa di Kabupaten Lampung Timur memanfaatkan sisa kulit kakao sebagai bahan dasar pembuatan pupuk, karena selain menghemat biaya, bahan pupuk dari limbah kakao tersebut juga tidak berbahaya bagi lingkungan.

Pemanfaatan kulit kakao, satu warga, Arman (43), di Desa Negeri Katon, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur, Jumat(3/7), sudah dilakukan warga lebih dari setahun, sehingga kini warga di Kecamatan Marga Tiga sudah banyak yang memanfaatkan kulit kakao tersebut.

Menurutnya, kalau kulit kakao tidak dimanfaatkan akan semakin menumpuk yang akan memenuhi tempat di pekarangan bahkan akan menimbulkan bau yang tidak sedap.

Dia menambahkan, kulit kakao memang lebih baik dimanfaatkan karena memiliki banyak keuntungan seperti bisa dijadikan pupuk kompos sehingga bisa menghemat biaya pemupukan.

"Awalnya hanya beberapa orang saja yang peduli dengan kulit kakao yang kemudian dijadikan untuk memupuk kembali pohon kakao. Karena pohon kakao yang dipupuk dengan bahan alami itu jadi subur, sehingga banyak warga yang mengikutinya," kata dia.

Ditambahkan Dedi, pembuatan pupuk dari bahan dasar kulit kakao tidak sulit, hanya butuh ketekunan dan pandai memanfaatkan peluang.

Pembuatan pupuk dari kulit kakao, menurutnya, tidak jauh berbeda dengan membuat pupuk kompos lain. Kulit kakao yang ada, dikumpulkan dalam satu lubang tanah, lalu dicampur dedaunan, batang pisang dan jerami yang kemudian ditimbun selama kurang lebih 60 hari.

Agar hasilnya maksimal, timbunan tersebut tidak boleh dibuka selama proses berlangsung, selain itu bisa ditambahkan mikro organisme pengurai atau cacing tanah agar bisa mempercepat penggemburan.

Setelah itu, lubang bisa digali dan kulit kakao akan berubah menjadi gembur. Lalu, pupuk kompos yang sudah jadi, diangkat dari lubang. Selanjutnya pupuk kompos yang kasar disaring supaya menghasilkan pupuk kompos yang halus, maka pupuk siap digunakan.

Pupuk dari bahan dasar kulit kakao bisa menghemat biaya hingga 50 persen, karena unsur hara yang ada hampir mencukupi. Agar unsur hara pupuk kompos dari kulit kakao mencukupi bisa ditambahkan dengan pupuk ZA dan NSP.

Selain menghemat biaya, pupuk dari kulit kakao tersebut sangat ramah lingungan karena tidak mengandung zat asam berlebih, sehingga tidak membuat struktur tanah menjadi keras.

Saat ini warga di Lampung Timur sudah banyak yang memanfaatkan sisa kulit kakao sebagai pupuk terutama daerah sentra pohon kakao diantaranya di Kecamatan Marga Tiga, Melinting, Way Jepara, Purbolinggo, Sekampung dan Batanghari. (Ant/OL-02)

http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/83375/126/101/Warga-Manfaatkan-Kulit-Kakao-sebagai-Pupuk
Read On 0 comments

Kopi Organik Kulon Progo Sulit Dipasarkan

5:05:00 PM
Kamis, 25 Juni 2009 | 16:02 WIB

KULON PROGO, KOMPAS.com - Kopi organik jenis robusta dari Dusun Nglambur, Desa Sidoh arjo, Samigaluh, Kulon Progo, sulit dipasarkan karena ketiadaan sarana transportasi. Kondisi yang tidak menguntungkan ini menyurutkan semangat petani untuk merawat tanaman. Padahal, harga jual kopi tinggi.

Dikatakan Ketua Kelompok Usaha Bersama Menoreh Suroloyo Daryanto, hanya sedikit pengepul bersedia datang ke dusun yang terletak di perbukitan Menoreh, sekitar 40 kilometer arah barat laut Kota Yogyakarta. Petani tidak bisa menjual hasil panen ke kota karena tidak punya mobil pengangkut.

Biji kopi hanya kami pasarkan di sekitar Samigaluh saja. Paling jauh ke Wates, Ibukota Kulon Progo. "Sementara untuk ke seluruh wilayah DI Yogyakarta, kami belum mampu," kata Daryanto, Kamis (25/6).

Karena pemasaran terbatas, petani hanya menjual biji kopi yang dirawat tanpa menggunakan pupuk atau obat kimia itu dalam kondisi mentah. Penjualan kopi berbentuk bubuk atau biji sangrai sulit dilakukan karena akan kalah dengan kopi bubuk kemasan bermerk yang beredar di pasar.

Padahal, harga jual biji kopi mentah amat rendah, hanya sekitar Rp 11.000 per kilogram. Jika sudah disangrai, harga kopi naik menjadi Rp 35.000 per kilogram, dan akan semakin mahal untuk kopi berbentuk bubuk, yakni sekitar Rp 50.000-Rp 55.000 per kilogram .

Sulitnya pemasaran juga membuat petani enggan merawat tanaman dengan baik. Tanaman kopi seluas sekitar 132 hektar yang tersebar di Pedukuhan Nglambur, Wonogiri, Nyemani, dan Madigondo, dibiarkan tumbuh seadanya. Meski begitu, hasil panen kopi tetap baik, sekitar enam ton per tahun.

"Kami membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah dalam bentuk penyuluhan pertanian dan bimbingan pemasaran. Sebab, jika kondisi ini dibiarkan, kami khawatir perkebunan kopi di Sidoharjo akan punah. Lahan perkebunan kopi yang digarap serius juga bisa menjadi lokasi agrowisata," kata Sumardi, penyuluh swakarsa di pedukuhan Madigondo.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo Agus Langgeng Basuki mengatakan pihaknya sudah mengerahkan para petugas penyuluh lapangan untuk memberi pengarahan teknis kepada petani. Sementara untuk pemasaran, Agus berpendapat hal itu seharusnya diupayakan sendiri oleh kelompok.

Ia menambahkan, tahun ini kelompok usaha bersama sudah mendapat dana hibah Rp 60 juta dari APBD Provinsi DIY. Dana tersebut bisa digunakan untuk membeli hasil panen kopi dari petani. Dengan begitu, petani tidak perlu pusing memikirkan pemasaran dan bisa lebih fokus mengurus tanaman kopi.

Pengurus kelompok kemudian bisa menjalin kemitraan dengan perusahaan atau distributor kopi. Apabila sudah ada kepastian dan kelancaran suplai kopi, maka perusahaan tentu tidak segan memberi fasilitas sarana angkut bahkan hingga ke daerah-daerah terpencil, kata Agus.

Selain di Desa Sidoharjo, biji kopi juga dihasilkan oleh petani di Kecamatan Girimulyo dan Pengasih. Akan tetapi, hampir sama seperti di Sidoharjo, sektor perkebunan kopi di kedua kecamatan itu juga kurang bergairah karena berlokasi di daerah perbukitan yang sulit dijangkau.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/06/25/1602389/Kopi.Organik.Kulon.Progo.Sulit.Dipasarkan.
Read On 0 comments

Awali Hari dengan Kopi Organik

1:54:00 PM
JUMAT, 19 JUNI 2009 | 11:41 WIB

KOMPAS.com - Kabar baik! Sebuah studi dari University of Madrid menemukan bahwa minum kopi hingga 6 cangkir per hari tidak akan menyebabkan kematian dini. Justru, ini bisa menurunkan risiko penyakit jantung dan kanker.

Karenanya, ada baiknya jika kita memulai hari dengan menyesap kopi organik dan kembali meminumnya di tengah padanya aktivitas. Selain nikmat, kopi organik yang sejak lama telah jadi pilihan ini merupakan jenis terbaik dan teraman untuk dikonsumsi. Pasalnya? Di dalamnya tak terdapat kandungan bahan kimia dan pestisida atau bahan-bahan berbahaya lainnya.

Untuk lebih jelas, biasakan diri memeriksa sertifikasi organik di label kemasan. Pilihan lokal menyenangkan, pilih kopi Gayo. Kopi yang berasal dari tanah Nusantara ini telah dinobatkan sebagai kopi organik terbaik di dunia.

Sumber : Prevention Indonesia

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/06/19/1141293/awali.hari.dengan.kopi.organik
Read On 0 comments

Juli, Pabrik Pupuk Organik Pertama di DIY Beroperasi

9:18:00 PM
Selasa, 16 Juni 2009 | 18:45 WIB

BANTUL, KOMPAS.com — Bantul sebentar lagi mempunyai pabrik pupuk organik. Petroorganik, nama pabrik yang berlokasi di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden, ini siap beroperasi awal Juli mendatang. Ini pabrik pupuk organik pertama di Provinsi DIY. Kapasitas pabrik itu 50 ton per bulan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Bantul Edy Suharyanta, Selasa (16/6). "Kami bekerja sama dengan perusahaan pupuk terkemuka, yakni Petrokimia, untuk mengembangkan pabrik itu," katanya.

Pupuk organik yang rencananya diberi nama Petroganik ini akan dijual ke petani Rp 500 per kg. Harga bisa ditekan dari harga semestinya, yakni Rp 1.500 per kg, karena Petrokimia mendapat subsidi pupuk dari pemerintah pusat sebesar Rp 1.000 per kg.

"Semoga kehadiran pabrik ini bisa perlahan membuat petani meninggalkan pupuk kimia, dan beralih ke pupuk organik yang sudah terbukti baik bagi tanah dan tanaman," ujar Edy.

Dijelaskannya, pupuk organik ini nanti brebentuk butiran (granuler) dan padat. Selama ini pupuk dikenal berbentuk tepung dan cair, yang membuat petani enggan memakai. "Jika pupuk berbentuk butiran, bentuknya mirip pupuk TSP, dan petani saya rasa akan berminat," tutur kepala dinas yang dikenal akrab dengan para wartawan ini.

Pabrik itu dibangun setahun l alu, di atas tanah kas Desa Gadingharjo seluas 3.000 meter persegi. Adapun total luas bangunan pabrik 500 meter persegi. Pemkab Bantul menggulirkan APBD senilai Rp 1,2 miliar untuk membangun pabrik tersebut.

Kepala Desa Gadingharjo, Sumadiyana, mengatakan, ia berharap pabrik itu nanti bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak, yang adalah warganya. "Saat ini, ada delapan karyawan yang juga warga setempat," katanya.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/06/16/18455987/Juli..Pabrik.Pupuk.Organik.Pertama.di.DIY.Beroperasi
Read On 0 comments

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts