Sampah Kertasnya Diminati Menteri dan Artis
10:56:00 AMBagi kebanyakan orang, sampah terkesan sangat menjijikan dan tidak bernilai. Namun, jika jeli melihat peluang, uang jutaan rupiah dapat diperoleh dengan mudahnya. Perpaduan antara kreativitas dan teknologi adalah kuncinya.
Demikian yang dilakukan Nursalam. Warga Mampang Prapatan XI Jakarta Selatan ini justru mendapat keuntungan dengan memanfaatkan sampah. Cara yang dilakukannya adalah membuat produk kerajinan rumahan, seperti kotak pembungkus kado, album foto, dan produk lainnya berbahan dasar kertas daur ulang.
Usaha ini berawal dari kampanye peduli lingkungan yang dilakukannya sebagai anggota Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) pada sekitar tahun 80-an. Saat itu, Nursalam muda giat menjadi aktivis yang selalu menyuarakan isu lingkungan hidup, terutama mengenai pencemaran air, pencemaran udara, dan sampah.
"Saat itu, saya dan teman-teman di Walhi sudah memprediksi kalau sepuluh tahun lagi, ketiga hal ini akan menjadi isu yang terus bergulir. Ternyata benar. Tiga isu itu bahkan mengemuka menjadi masalah dan tak kunjung usai," ujarnya.
Meski bersuara nyaring akan tiga masalah tersebut, ada satu hal yang sangat menarik perhatiannya, yakni sampah. Menurutnya, persoalan yang satu itu lebih berat dari yang lain.
"Kalau pencemaran air dan udara bisa teratasi dengan teknologi. Tetapi, sampah tidak bisa karena terus meningkat jumlahnya. Pertumbuhan sampah per harinya saja sepuluh persen lebih tinggi daripada pertumbuhan penduduk. Sampah itu dihasilkan setiap hari. Jadi rasanya tidak mungkin bisa teratasi sekaligus karena aktivitas konsumsi manusia terus berlangsung," tutur ayah dua anak itu.
Karena itu, Nursalam mengatakan, yang bisa dilakukan manusia hanya mengurangi volumenya saja. Salah satu cara dalam hal ini adalah mendaur ulang sampah, baik berupa kertas, plastik, maupun kaleng.
Bagi suami dari Ida Mufidah ini, sampah kertas bekas menjadi prioritasnya. Teknologi menjadi alasan. "Sampah kertas itu bisa dikreasikan dengan mudah karena tidak memerlukan alat berteknologi tinggi. Kebetulan saya masih menggunakan teknologi tradisional. Cukup dengan blender, cetakan yang dibuat sendiri, dan panas matahari. Sementara itu, sampah plastik atau kaleng membutuhkan alat yang lebih canggih," terang mantan aktivis Greenpeace ini.
Nabilla Syakieb
Ilmu mendaur ulang kertas sendiri telah dipelajarinya pada sekitar 22 tahun lalu. Tepatnya, saat ia menjadi anggota International Waste Management. Berkomunikasi lewat faksimile, Nursalam memperoleh semua ilmu memproduksi dan berkreasi.
Hasil karya pria bersahaja itu pun langsung disukai masyarakat. Bahkan, buah kreativitasnya memadukan bubur kertas dengan serat daun pisang atau bunga bougenville mampu menarik perhatian masyarakat kelas atas.
"Beberapa menteri menjadi langganan saya. Tetapi, saya tidak bisa menyebut nama beliau karena tidak enak. Takut tidak berlangganan lagi," ujarnya tertawa. Dikatakan, biasanya, pesanan para menteri berupa kotak kado atau suvenir berbahan dasar kertas daur ulang. Bahkan, kata Nursalam, baru-baru ini ada seorang menteri memesan 1.500 tempat bandrek kecil terbuat dari kardus daur ulang yang dibalut kain batik untuk dijadikan suvenir dalam sebuah acara. Sayangnya, ia tidak tahu untuk acara apa sang menteri memesan tempat bandrek.
Selain menjadi langganan menteri, karya Nursalam juga diminati artis. Seperti saat disambangi di tempat kerjanya di Kedai Daur Ulang, beberapa waktu lalu, Nursalam tengah mengerjakan produk pesanan Nabilla Syakieb. Artis cantik itu memesan sebuah kotak besar yang tidak dijual di toko.
"Ini saya sedang mengerjakan pesanan Nabilla. Senang bisa dipercaya gadis secantik dan cinta lingkungan seperti dia. Selain dia, ada juga artis lain, tetapi saya tidak terlalu kenal," ucap Nursalam sambil mengolesi lem pada kardus yang akan dijadikan kotak bersama dua pegawainya.
Selain mengerjakan pesanan pelanggan atau memproduksi karya terbaru, ia juga tengah meneliti kertas kemasan minuman salah satu soft drink terkemuka. Dikatakan, manajer produsen soft drink yang kemasannya berwarna merah itu meminta agar kemasan minuman milik perusahaannya didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
"Manajer perusahaan itu meminta saya mendaur ulang kemasan minuman yang biasa digunakan di tempat penjualan junk food. Hal ini dimintanya karena prihatin banyak sekali sampah kemasan yang dihasilkan setiap hari," terangnya.
Banyak Gerai
Produk kreasi tangan dingin pria lulusan ABA Cikini, Jakarta Pusat ini memiliki banyak counter. Bekerja sama dengan sebuah agen penyalur kerajinan tangan, karya-karyanya dipasarkan ke Gramedia, Gunung Agung, dan toko-toko besar lain.
"Lewat penyalur itu, produk saya dijual di 20 gerai yang tersebar di Jakarta. Tadinya pernah juga merambah Pasaraya dan SOGO. Tetapi, saya ganti penyalur jadi tidak dikirim ke sana lagi," tegas Nursalam.
Omzet penjualanannya memang tidak terlalu besar. Pendapat- an bersihnya hanya Rp 2.500.000 hingga Rp 4.000.000 per bulan. Tetapi, angka itu cukup membuatnya hidup nyaman. Ia bisa menyekolahkan dua putrinya yang berusia 13 dan 9 tahun. Selain itu, rumahnya juga terbilang besar dan bagus. Bercat hijau dengan bangunan kokoh. [WID/F-4]
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=13151
Sutarto Alimoeso, Fokus Pada Ketahanan Pangan
10:05:00 PMINILAH.COM, Jakarta – Kerja keras dan sikapnya yang pantang menyerah sukses mengantarnya ke posisi tertinggi di Badan Urusan Logistik (Bulog). Nasib ketahanan dan stabilitas pangan nasional pun kini ada di pundaknya.
Sutarto Alimoeso dilantik Senin (23/11) pagi sebagai Dirut Perum Bulog, menggantikan Mustafa Abubakar yang diangkat menjadi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.
Suasana pelantikan Dirut perusahaan plat merah itu pun berlangsung singkat. Sutarto langsung kembali fokus pada target kerjanya lima tahun ke depan, yaitu mencapai pengadaan beras 4 juta ton per tahun. Hingga kini, Bulog dapat melakukan pengadaan beras domestik 3,6 juta ton.
"Saya kebetulan dari bidang tanaman pangan, semoga produksi beras meningkat luar biasa 5,83%. Untuk 2010 hingga 5 tahun mendatang ditargetkan 4 juta ton per tahun untuk pengadaan beras dalam negeri," katanya di Gedung Bulog Jakarta, Senin (23/11).
Pria kelahiran 25 Juni 1949 ini pun mengatakan, dirinya akan memfokuskan kinerjanya pada program ketahanan pangan, disamping peningkatan penyaluran beras miskin (raskin). Menurutnya, pengalaman Bulog sudah mumpuni, sehingga harus all out untuk melaksanakan tugas vitalnya.
Selain menjaga ketahanan pangan nasional secara penuh melalui public service obligation (PSO), Bulog sebagai korporasi juga harus mencari keuntungan untuk bisa hidup sebagai perusahaan mandiri.
"Dari situ kita akan berbicara dengan pemerintah akan menugaskan apa. Kita semua tahu tugas Bulog, menyangkut ketahanan dan stabilitas pangan nasional. Selain itu juga sebagai pelaksana PSO raskin harus lebih ditingkatkan," ujarnya.
Kondisi ketahanan pangan di Indonesia saat ini dinilai cukup stabil. Bahkan tahun lalu, ada kenaikan stok pangan di Indonesia sebesar 4,7% dari jumlah kebutuhan pangan yang ditargetkan pemerintah. Namun, ia mencermati adanya perubahan konsumsi pangan.
Saat ini masyarakat mulai beralih mengonsumsi karbohidrat berbahan baku gandum, seperti roti dan mi instan, yang tidak dapat tumbuh di Indonesia dan harus impor dari negara lain. Padahal, bahan baku karbohidrat yang bisa menjadi makanan pokok bangsa Indonesia tersedia melimpah, seperti beras, jagung, ubi-ubian, dan sagu.
“Karena itu perlu dicarikan solusi penyajian yang baik dan modifikasi dari bahan baku kebutuhan pokok tersebut agar bisa memikat masyarakat mengkonsumsinya untuk menggantikan gandum impor,” paparnya.
Sutarto lahir dari keluarga besar Mbah Alimoeso. Masa kecil hingga SMA, dihabiskannya di kota kelahirannya, Pacitan, Jawa Timur. Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian UGM, tidak menuruti keinginan kakaknya, untuk menjadi seorang dokter. Ternyata pilihan itu tidak salah.
“Pilihan itu menjadi berkah untuk saya dan keluarga. Bahkan kini saya dipercaya menduduki posisi strategis bagi ketahanan pangan di Indonesia yang pernah mendapat julukan negara swasembada pangan, meski pernah beberapa kali terpuruk dalam menghadapi masalah pangan,” paparnya.
Lulus dari Fakultas Pertanian UGM pada 1974 dengan predikat cumlaude, Sutarto mengadu nasib ke Jakarta. Semula ia berniat bekerja di Ditjen Perkebunan, namun karena tanggapan pimpinan yang kurang bersahabat, ia pun beralih ke Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan.
Semangatnya dalam menuntaskan berbagai proyek, membuatnya dipercaya menududuki posisi sebagai Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Barat pada 1997. Namun, posisi itu hanya bertahan setahun. Sutarto kembali ditarik ke Deptan.
Kesempatan menimba ilmu, dimanfaatkannya dengan baik. Ia pun berhasil memperoleh gelar Magister Manajemen di STIE-IPWI, Jakarta. Karirnya pun terus menanjak hingga pada 2006, ia mendapat kepercayaan sebagai Direktur Jenderal Tanaman Pangan.
Terkait kesibukannya yang padat, Sutarto pun selalu menyempatkan diri bercengkrama dengan keluarganya dengan jalan-jalan, atau makan bersama di luar rumah. Suami dari Rohati ini pun mengaku demokratis dalam mendidik ketiga anaknya, Adityo Wibowo, Tita Nurahmi Kusumaningrum dan Renda Aryadi Budiharto.
Tidak ada satupun buah hatinya yang diharuskan mengikuti jejaknya sebagai PNS. “Saya akan mendukung apapun keputusan anak-anak, asalkan ditekuni dengan baik,” pungkasnya. [mdr]
http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2009/11/25/183840/fokus-pada-ketahanan-pangan/
Mantan Miss Argentina Tewas Setelah Operasi Implan
2:53:00 PMCORDOBA, KOMPAS.com — Gara-gara kepincut ingin mempertahankan keelokan tubuhnya, seorang mantan model justru tewas setelah melakukan bedah pada bagian tertentu tubuhnya.
Dia adalah mantan Miss Argentina, Solange Magnano (38), yang dilarikan ke rumah sakit pada saat-saat terakhirnya setelah melakukan sebuah operasi kosmetik. Ibu dua anak kembar meninggal pada hari Minggu setelah arteri paru-parunya terganggu yang membuatnya harus berada dalam kondisi kritis selama tiga hari di ruang perawatan intensif.
Teman dekatnya, yang juga seorang perancang busana, Roberto Piazza, menyebut si pemilik rambut coklat ini telah terobsesi dengan penampilannya sebagai model yang sukses di akhir kariernya. "Solange adalah seorang gadis muda yang memiliki segalanya. Dia menjalani kehidupan bak dewi, namun ia masih merasa iri di dunia," katanya.
"Sekarang dia meninggal hanya karena ia ingin memiliki tubuh yang kencang."
"Dia meninggal karena obsesi atas kecantikannya."
Magnano dianugerahi mahkota sebagai Miss Argentina pada 1994, sebelumnya juga melakukan operasi pada bagian payudaranya, pasca-kelahiran putra kembarnya. Dan pada Kamis lalu, ia berangkat dari rumahnya di ibu kota Cordoba ke Buenos Aires untuk implan bokong. Namun, ia buru-buru dari sebuah klinik swasta di rumah sakit tak lama setelah operasi.
Magnano—yang baru saja meluncurkan agen model sendiri, Model Actitud—menderita emboli paru, arteri paru-parunya akan diblokir dan dokter tidak mampu menyelamatkan nyawanya.
Piazza, yang menjadi rekannya, mengatakan, kesuksesannya dalam karier membuatnya terobsesi dengan penampilannya setelah kembali pulang ke Argentina. "Dia model yang fantastis. Saat bertemu dia pertama kali, saya berpikir gadis ini sempurna."
"Dia punya tubuh yang luar biasa, tidak terlalu kurus, padat, dan indah."
"Pada tahun 1994 dia mengikuti pemilihan Miss Universe. Dia sukses berkeliling dunia, dia banyak bekerja di Paris. Dia kemudian kembali ke Argentina, jatuh cinta dan menikah dengan seorang pria tampan. Mereka kemudian tinggal di Cordoba hingga memiliki putra kembar."
Dari sinilah ia memulai kehidupan sebagai model. Piazza mengatakan, Magnano telah melakukan operasi pengangkatan payudara, kemudian ia terobsesi membuat bokongnya lebih tampak kencang. "Dia pun mulai mencari tahu, karena ingin tubuhnya menjadi lebih bagus. Dia bilang dia punya selulit," katanya.
Magnano dimakamkan di kota asalnya di San Francisco. Sekitar 300 orang hadir dalam acara itu. Kematiannya menjadi perbincangan yang menghebohkan di Argentina menyangkut benar tidaknya operasi kosmetik.
Sekitar 50.000 operasi kosmetik berlangsung di negara itu dan lebih dari 60 persen peningkatannya dalam lima tahun terakhir. Semakin banyak orang asing yang bepergian ke negara Amerika Selatan karena ada operasi yang relatif murah.
TOF
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/12/02/05125094/mantan.miss.argentina.tewas.setelah.operasi.implan
Fall in Love pada Sampah
3:02:00 PMTampi masih belum percaya atas apa yang dia raih selama lima tahun menjadi fasilitator kebersihan untuk Kecamatan Asemrowo. Sepeda motor roda tiga yang biasa digunakan mengantar tabung gas atau air mineral galon itu kini diparkir di halaman rumahnya yang menjadi satu dengan halaman TK Among Putra yang dia dirikan pada 1990.
---
BERKALI-kali pria 68 tahun itu menceritakan kepada Jawa Pos bagaimana dirinya mendapatkan sepeda motor bermerek salah satu produsen motor asal Tiongkok tersebut. Motor yang baknya kini diberi tutup pelindung itu merupakan hadiah Wali Kota Bambang D.H. pada 2008 untuk mengambil sampah. ''Kasihan sama Mbah. Katanya, supaya saya tidak nggledek lagi kalau mengambil sampah,'' kenangnya.
Dia lantas bercerita, sebelum menggunakan motor, dirinya mengambil sampah dengan gerobak sejak sembilan tahun lalu. Tiga gledekan yang kini disimpan di gudang menjadi kewalahan lantaran mengangkut sampah yang semakin banyak. ''Sebelumnya, saya menggunakan gelangsing (semacam karung plastik, Red) dan diangkut dengan sepeda motor,'' ujarnya.
Mbah Tampi, sapaan akrabnya, memang menghabiskan waktu tuanya untuk bergumul dengan sampah sejak pensiun dari Angkatan Laut pada 1989. Khususnya sampah kering seperti botol beling, bungkus plastik, maupun kertas. Meski sering bersentuhan dengan sampah, dia mengaku tidak pernah sakit. ''Malah sampahnya tak bawa ke mana-mana,'' ujarnya lantas tertawa ala Mbah Surip.
Selain sibuk dengan berbagai sampah kering, pria kelahiran 17 Juni 1941 tersebut menjadi ketua Yayasan TK Among Putra. Kakek empat cucu itu juga menjabat kepala satuan petugas (Kasatgas) Kelurahan Genting. Jabatan sebagai ketua Lansia Gerontologi Asemrowo juga dipikulnya. ''Saya orangnya tidak bisa diam. Semakin banyak kegiatan semakin bagus karena membuat saya berkeringat dan menjadi lebih sehat,'' jelasnya.
Kakek kurus tersebut tidak begitu saja terjun ke dunia yang sering dianggap jorok oleh sebagian orang tersebut. Sebelum pensiun, Tampi menyatakan sudah memikirkan nasib bumi ke depan. ''Ke depan, plastik akan menjadi musuh utama bumi,'' pikirnya saat itu dengan mimik serius.
Karena itu, kakek asal Lamongan tersebut merasa merdeka ketika pensiun dari Angkatan Laut. Dia tidak lagi terikat oleh tugas dinas, sehingga memiliki waktu luang untuk mengampanyekan bahaya plastik. ''Temenan kan, jenis sampah yang sekarang mendominasi di tempat pembuangan sampah (TPS) itu plastik,'' ucapnya lantas terkekeh.
Tampi menuturkan, sejak mengetahui bahwa plastik tidak bisa diuraikan oleh tanah, dirinya lantas benci setengah mati pada plastik. Namun, benci yang berlebihan itu justru membuatnya jatuh cinta kepada sampah kering. ''Saya harus bertindak. Percuma kalau bilang plastik berbahaya, tapi saya hanya diam ketika tahu ada yang membuangnya sembarangan,'' tegasnya.
Saking bencinya pada plastik, bapak dua anak tersebut rela merogoh kocek untuk mendapatkan sampah plastik yang hendak dibuang warga. Dia juga stand by untuk ditelepon. Pemilik sampah kering yang menumpuk tidak perlu bingung harus ke mana membuang sampahnya. ''Tinggal telepon saja. Bahkan, tidak hanya saya ambil, kadang saya bayar juga,'' ucap Mbah Tampi.
Dia tidak berkeberatan membayar karena sampah yang telah dipilah dijual kembali ke pengepul untuk didaur ulang. Biasanya, dia memasang tarif separo dari harga yang akan dijual ke pengepul. Hasilnya akan dibelikan bibit tanaman. Warga yang ingin menanam tidak perlu mengeluarkan biaya besar. ''Dalam seminggu, biasanya saya dapat Rp 400 ribu. Setelah dikurangi modal, sisanya baru dibelikan tanaman,'' terangnya.
Rutinitas mengambil sampah dilakukan mulai siang hingga pukul 17.00. Tidak hanya di Asemrowo, tapi sudah lintas kecamatan. Harga yang dia patok untuk gelas plastik satu kilo sekitar Rp 4 ribu, sedangkan koran bekas mencapai Rp 900 per kilo. ''Nanti ditaruh di gudang. Kalau kira-kira sudah satu truk, baru saya jual,'' ceritanya.
Yang membuat dia lemas saat ini adalah anjloknya harga pasaran sampah yang biasa dijualnya sejak 2000. Menurut dia, hal itulah yang sering membuat pemulung malas mengumpulkan sampah untuk dijual. Misalnya, bungkus mi instan atau kresek yang hanya Rp 50 per kilogram. ''Padahal, sekilo itu kalau ditempatkan di gelangsing, perlu dua karung. Tidak sebanding dengan tenaga untuk mengangkutnya,'' tegas Tampi.
Berkecimpung di dunia persampahan sejak pensiun dari TNI-AL, tampaknya, tidak pernah membuat dirinya malu. Dia juga bangga terhadap keluarga yang mendukungnya. Karena itu, dia tak segan menjadi ''pemulung'' dadakan di setiap rapat. ''Selesai rapat, saya biasanya langsung membersihkan sampahnya,'' katanya.
Dia sadar bahwa menghilangkan plastik dari bumi Kota Pahlawan tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi, dia yakin mimpi itu bisa diwujudkan, asalkan ada kemauan dari semua pihak. ''Di Asemrowo, misalnya. Bendera hitam sebagai kecamatan terkumuh dan terkotor pada 2005 sudah berhasil diturunkan oleh kader lingkungannya,'' ucapnya.
Tampi melakukan segala aktivitas itu dengan sukarela. Artinya, dia tidak menuntut adanya keuntungan secara pribadi. Bagi dia, masing-masing rezeki sudah ada sumbernya, sehingga tidak perlu khawatir kelaparan. ''Karena itu, saya akan terus seperti ini (mengumpulkan sampah, Red) sampai tutup usia,'' tegasnya. (dim/dos)
http://www.jawapos.co.id/
Pepsi, Penyebab Kecanduan Jacko
8:31:00 AMINILAH.COM, Los Angeles - Rumor Michael Jackson menggunakan obat-obatan makin ramai diberitakan, terutama karena ditemukannya obat-obatan saat ia tewas. Menilik sejarahnya, banyak yang mengatakan Pepsi adalah penyebab king of pop mulai mengenal obat. Oh ya?
Dugaan tersebut diungkapkan dalam edisi terbaru tabloid mingguan terkenal AS, US Weekly yang terbit pekan ini. Media tersebut menyimpulkan, kecanduan obat pereda rasa sakit Michael bermula dari kecelakaan yang ia alami saat membuat iklan Pepsi pada 27 Januari 1984.
Ketika itu, Michael sedang menjalani syuting iklan terbaru Pepsi yang disaksikan tiga ribu penggemarnya di Shrine Auditorium, Los Angeles. Klip itu menggunakan teknik api yang memercik ke atas seperti kembang api (pyrotechnics).
Saat take pertama, semua berjalan dengan lancar. Michael berjalan keluar menuju panggung dari bagian belakang. Api baru meledak keluar saat ia sudah menuruni tangga. Kesalahan terjadi pada take ke-6, api keluar pada saat Michael melintasinya.
Akibatnya, rambut penyanyi yang masih berkulit hitam itu terbakar. Mulanya ia tak sadar dan masih melakukan beberapa gerakan dansa yang khas. Namun setelah itu, Michael berputar dua kali dan kepalanya yang dilalap api itu padam dan mengeluarkan asap.
Kru dan keamanan berebut spontan melompat ke arahnya dan mematikan api. Dalam sebuah video yang dirilis situs US Magazine, Kamis (16/7), terlihat penggalan usai insiden itu. Klip itu tak pernah dirilis dan memperlihatkan kepala Michael yang terbakar hingga ada bagian yang botak.
"Sejak itu, ia tak pernah sama lagi. Untuk meredam rasa sakit dari luka bakar tingkat tiga di kepala dan tubuhnya, Michael menebus sejumlah obat penahan rasa sakit. Obat itu juga masih digunakan karena ia kesakitan usai operasi di bekas luka di pucuk kepalanya. Akhirnya, obat penahan sakit menjadi sebuah kecanduan baru," demikian kesimpulan tabloid itu. [vin]
http://artis.inilah.com/berita/2009/07/17/129144/pepsi-penyebab-kecanduan-jacko/
Dokter Lo Siaw Ging Mengobati Tanpa Tarif
12:10:00 PMKETIKA biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.
Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.
Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.
Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan "biasa saja". Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.
Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, "Memangnya kamu sudah punya uang banyak?"
Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. "Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima," ucapnya.
Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. "Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa," katanya.
Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.
Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.
Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? "Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan."
Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.
Kerusuhan 1998
Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif "populer". Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.
"Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa," ujarnya.
Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. "Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa," ujarnya.
Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.
Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.
"Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat," cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.
Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.
"Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?" ucapnya.
Anugerah
Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.
Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. "Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif," kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.
Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.
Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. "Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana," ujarnya.
Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. "Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang," katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.
Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.
"Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?" ujar Lo.
Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah "cuti" praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, "Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan."(*)
DATA DIRI
Nama: Lo Siaw Ging
Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934
Istri: Maria Gan May Kwee (62)
Pendidikan:
- Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1962
- S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995
Profesi:
- Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen, Solo)
- Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/38956
Indonesia Menimbang Kembali Vaksinasi untuk Anak-anak
7:38:00 PM
* Hilangnya Kepercayaan terhadap Perusahaan-perusahaan Obat
JAKARTA– Menteri Kesehatan Indonesia, Siti Fadilah Supari, mengeluarkan pernyataan kontroversial. Ia ingin menghentikan vaksinasi bagi anak-anak untuk penyakit meningitis, gondongan, dan penyakit-penyakit lainnya. Alasannya, ia khawatir perusahaan-perusahaan obat asing menggunakan Indonesia sebagai lahan pengujian.
Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari –- orang pertama yang meraih perhatian dunia karena memboikot sistem pembagian virus yang telah berusia 50 tahun milik WHO – mengatakan bahwa, ia ingin “bukti ilmiah” bahwa obat-obatan untuk penyakit-penyakit seperti pneumonia, chicken pox, flu, rubella, dan tipes adalah “menguntungkan”.
“Jika tidak, mereka harus dihentikan,” katanya.
Tapi Siti Fadilah tidak mengatakan dengan jelas apa maksudnya. Secara diplimasi dia mengatakan, “Kami tidak ingin Negara kami menjadi tempat pengujian obat-obatan seperti yang terjadi di Afrika.”
Supari mengatakan masih ingin mengadvokasi imunisasi terhadap penyakit campak, polio, tetanus, hepatitis B, dan tuberculosis.
Pernyataannya muncul ketika Indonesia sedang berjuang mencegah penyakit pada anak-anak.
Masalah-masalah pendanaan yang kronis dan usaha-usaha desentralisasi yang menyebabkan chaos. Sejak turunnya diktator Suharto pada tahun 1998 telah mendorong banyak klinik lokal di wilayah-wilayah termiskin Negara tersebut untuk menjadwal kembali. Mereka mengurangi waktu dan uang dalam membiayai pendidikan dan imunisasi rutin.
Jumlah kasus campak, tuberculosis, dan penyakit-penyakit lainnya telah meroket. Polio dengan cepat muncul kembali pada tahun 2005. Sebelumnya sempat hilang selama satu dekade.
Lembaga anak-anak milik PBB mengatakan bahwa hal itu akan menunggu hingga Negara tersebut secara resmi mengubah kebijakan imunisasinya sebelum membuat pernyataan menanggapi hal ini.
“Kami saat ini sedang terus mendukung Pemerintah sebagai rekanan teknis dalam implementasi mereka terhadap program-program berbasis bukti,” kata Anne Vincent dari UNICEF.
Padahal, Menteri Kesehatan Indonesia bukanlah orang asing bagi teori-teori kontroversial dan konspiratif.
Ketika ia berhenti membagi virus-virus burung dengan komunitas internasional dua tahun yang lalu, ia berargumentasi, bahwa pemerintah AS dapat menggunakan sample-sampel tersebut untuk menciptakan senjata biologis.
Pada bulan November, Siti Fadilah mengeluarkan sebuah keputusan yang melarang para pembuat obat asing menjual produk-produk mereka di Indonesia, kecuali mereka membangun fasilitas-fasilitas produksi di dalam negeri. (AP)
Source: www.sabili.co.id
Panggilan Kebersahajaan Huzna Zahir
1:13:00 PMTidak banyak yang berubah dalam keseharian Huzna Gustiana Zahir. Dua puluh tahun di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, dari menguji sampel hingga menjadi Ketua Pengurus Harian YLKI sekarangia masih suka berangkat dan pulang kerja dengan angkutan umum Kopaja. "Memang ritual itu tak lagi persis sama setahun terakhir setelah YLKI mendapat pinjaman mobil operasional. Karena takut hilang, mobil dititip di rumah. Jadilah aku ke kantor dan pulang dengan mobil itu," kata Huzna.
Angkutan umum tetap jadi pilihan manakala ia ada acara atau menjadi pembicara di tempat yang terkena three in one. "Aku tak mau cari joki karena menurutku itu melanggar aturan."
Hari-harinya pekan ini disibukkan dengan artikel untuk menyambut ulang tahun ke-35 YLKI, diperingati setiap 11 Mei. Di luar itu, pekerjaan di YLKI kurang lebih sama: menerima pengaduan konsumen, survei, meneliti, advokasi, dan memberdayakan masyarakat.
Pekerjaan perjuangan
YLKI memang identik dengan perjuangan hak konsumen. Namun, menjalankan YLKI adalah perjuangan lain. Keterbatasan danadari lembaga donor dan proyek kerja samamembuat tak leluasa beraktivitas. Kami sangat selektif memilih kegiatan, papar Huzna.
Akibatnya YLKI terkesan hanya merespons persoalan. Padahal, ada banyak hasil advokasi yang dinikmati publik meski sebagai inisiator nama YLKI jarang terdengar, seperti kompensasi listrik. Ketika pemerintah rutin menaikkan tarif dasar listrik, YLKI menggugat ketidakadilan terhadap konsumen yang terus membayar. Mana kewajiban produsen pada konsumen?
Lewat perjuangan panjang, keputusan presiden (2002) mengenai tarif dasar listrik akhirnya memuat pasal standar mutu pelayanan. Kalau tak bisa memenuhi, PLN harus membayar kompensasi kepada konsumen. Implementasinya antara lain jumlah maksimal kesalahan pencatatan meter, lama pemadaman, dan frekuensi pemadaman.
"YLKI sebenarnya belum puas karena biaya kompensasi kecil. Tetapi, dalam kasus listrik, yang dirugikan biasanya komunitas, bukan individu, jadi total kompensasi tetap besar. Itu kan hukuman juga," kata Huzna. Di kantor-kantor pelayanan listrik yang baik, standar ini ditempel. "PLN pernah membayar kompensasi kepada penduduk desa kecil di Jawa Tengah senilai Rp 197 juta," papar Indah Suksmaningsih, Ketua Pengurus Harian YLKI periode sebelumnya, yang menemani berbincang, bersama Daryatmo, pengurus harian YLKI.
Keberhasilan lain adalah adanya pusat layanan di bandara seperti di Denpasar dan sebentar lagi di Surabaya. "Paling tidak kami bisa mendidik pelaku usaha bertanggung jawab terhadap produknya. Perkara tak puas dan kembali ke YLKI, itu soal lain," ujar Huzna.
Perjalanan karier
Jalan hidup menuntun karier Huzna. Masuk Teknologi Pangan IPB karena sang bapak ingin ia menjadi ahli pangan, garis nasibnya berbelok menjelang praktik kerja saat bertemu Zaim Saidi, kakak kelasnya di IPB yang sudah di YLKI. Iming-iming ada banyak uji produk membuat Huzna magang di YLKI. Setelah lulus pun ia sering diminta bantu-bantu, akhirnya para pengurus bilang, "Sudah, kerja di sini saja."
Mengawali karier sebagai staf peneliti, ia sempat menangani Warta Konsumen sebelum mendapat beasiswa Overseas Training Office ke Amerika Serikat. "TOEFL-nya 630, lho," kata Indah. Setelah menyelesaikan S2 studi komunikasi dan pembangunan, Huzna diangkat menjadi sekretaris eksekutif pengurus harian. "Sempat sih terpikir, ah kalau pulang mau coba ke televisi swasta. Tetapi ya itu, begitu kembali ke YLKI tak kepikiran lagi untuk pindah," katanya.
Padahal, sudah menjadi ketua dengan masa kerja 20 tahun, gajinya Rp 2.150.000. Itu gaji kedua tertinggi di YLKI setelah Indah, dengan selisih Rp 20.000. "Aku dibesarkan dalam keluarga yang biasa-biasa saja, jadi tak ada tuntutan untuk mencari lebih," tuturnya.
Ayahnya, dokter penyakit dalam yang meninggal pada 1995, mewariskan rumah di Jalan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta. Huzna dan kedua adiknya menemani sang ibu tinggal di situ. Setiap tahun ia mengajukan surat permohonan keringanan membayar pajak bumi dan bangunan, yang tak terjangkau oleh janda pensiunan. Di rumah tak ada pembantu, jadi aku juga menyapu dan mengepel. Kalau baju, nyuci dan setrika sendiri-sendiri.
Di YLKI ia harus memikirkan 25 karyawan dengan gaji pokok terendah Rp 400.000 dan uang transpor Rp 30.000 sehari. Tak jarang ia mendapat 'surat cinta' minta kenaikan gaji. "Tetapi teman-teman juga tak bisa marah lama-lama. Ketuanya saja naik Kopaja," komentar Daryatmo.
Huzna tak berani menaikkan gaji karena pasokan dana tak pasti. "Yang bisa aku lakukan adalah membagi rata sisa uang setiap pertengahan tahun. Mau sopir, staf, ketua, jumlahnya sama besar, katanya. Tunjangan hari raya juga sama besar."
Demi pemerataan pula, staf YLKI yang jadi pembicara, diwawancarai stasiun televisi, atau dimuat tulisannya di media menyetor 20-45 persen honornya ke kas YLKI. Upaya lain adalah program jaminan pemeliharaan kesehatan sejak 2002, disusul asuransi jaminan hari tua.
Selalu ada jalan
Keperluan jaminan kesehatan terasa ketika Huzna dideteksi menderita kanker payudara, tahun 1998. "Aku masih beruntung, dioperasi murid bapakku yang membebaskan biaya ini-itu. Waktu kemoterapi, dokternya juga tanya dulu, diganti kantor tidak biayanya? Begitu tahu asuransi pun tak punya, aku diberi obat kemoterapi yang murah," katanya. Sekarang ia masih menjalani pemeriksaan rutin, termasuk uji laboratorium. "Mahal sih, bisa Rp 400.000-Rp 600.000 sekali periksa. Tetapi ya jalani saja." Tak muncul keinginan untuk bekerja di tempat yang lebih menjanjikan. "Mana tega pindah ke industri pangan, yang sering aku bongkar kejahatannya..."
YLKI adalah hidupnya. Meski kadang jengkel melihat keadaan, perasaan itu luluh ketika datang pikiran, "Kalau bukan kita, lalu siapa?" Rasa frustrasi biasanya terobati bila perjuangan berhasil. Tak ada tanda jasa, tetapi selalu ada perasaan, Itu dulu karena kita. Kebahagiaan kecil-kecil lain membuat Huzna betah di YLKI: bersama para dosennya di IPB membahas produk dengan posisi setara, diundang seminar ke luar negeri, atau saat reuni.
Kalau masih ada mimpi, idealnya YLKI hidup karena dukungan konsumen. Perlu dipikirkan cara masyarakat konsumen berkontribusi dan bagaimana sebaliknya YLKI menunjukkan tanggung jawabnya.
Begitulah pilihannya, termasuk tetap menulis Huzna dengan huruf z. Banyak saran mengganti dengan s, karena artinya dalam bahasa Arab beda sekali. Huzna berarti kesedihan, Husna berarti yang terbaik. Nama itu dari orangtua. Kalau pakai s rasanya bukan aku, jawabnya.
Menjalani kebersahajaan dengan kesukaan membuat Huzna--juga Daryatmo dan Indah--bertahan. Kata Konfusius, mereka memang tidak bekerja.
Source: www.infogue.com
Syekh Yassin Sang Qiyadah dan Fitnah Harta
6:01:00 PMSyekh Ahmad Yasin merupakan tokoh spiritual gerakan Hamas, Qiyadah/ pemimpin bagi pejuang dan rakyat Palestina melawan penjajah Zionis Israel.
Walaupun usianya uzur, kondisi tubuhnya lumpuh dari leher hingga ujung kaki, setiap hari harus menggunakan kursi roda, tidak menghalangi beliau untuk berdakwah, memimpin dan membina umat, rakyat Palestina khususnya di Gaza.
Beliau memiliki ‘izzah/kemuliaan sehingga disegani dan dicintai kawan, ditakuti lawan dalam hal ini penjajah Zionis Israel.
Sebagai tokoh spiritual dan qiyadah dalam perjuangan, Syekh Ahmad Yasin banyak memberikan keteladanan bagi pengikutnya dan rakyat Palestina, juga bagi umat Islam yang rindu syahid di jalan Allah.
Dalam suatu khutbahnya, Syekh Ahmad Yasin pernah berkata: Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemmpinan yang berpegang teguh kepada Islam, baik sebagai aturan, prilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilih Allah atau binasa!
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS: Al-Imran/3: 126).
Suatu ketika ada seorang penganut Kristen di kota Ramallah, Tepi Barat, Bassam Hana Rabbah namanya. Dia datang menemui Syekh Ahmad Yasin untuk mengadukan permasalahannya karena ada seseorang di Gaza melakukan penipuan terhadap dirinya. Syekh Ahmad Yasin yang juga pimpinan Dewan Islah (perdamaian) dengan bijaksana mampu mendamaikan antara Bassam Hana Rabbah seorang Kristen dengan seseorang yang telah melakukan penipuan.
Syekh meresponnya dengan serius, bahkan mampu bersikap adil terhadapku. Hak-hak saya pun bsa kembali saya nikmati. Sebagai tanda terima kasih, sebagian hartaku diberikan kepada Dewan Islah, tutur Hana Rabbah.
Sebagai seorang Qiyadah/pemimpin, Syekh Ahmad Yasin tidak cinta dunia, tidak gila harta, bahkan kehidupannya sangat sederhana.
Mariyam Ahmad Yasin menceritakan tentang sikap hidup ayahnya:
Rumah ayah terdiri dari 3 kamar dengan jendela yang sudah rapuh. Rumah ini sangat sederhana sekali. Ini fakta bahwa ayahku tak cinta dunia, namun cinta akhirat. Banyak yang menawari beliau untuk memiliki rumah seperti pejabat tinggi negara, namun ditolaknya. Bahkan pernah suatu ketika, Pemerintah Otoritas Palestina memberi sebuah rumah besar di suatu kampung mewah di Gaza, . Namun Tawaran itupun ditolak, ia tidak peduli dengan berbagai ragam bentuk kesenangan duniawi.
Rumah ini sangat sempit. Tidak ada lantai, dapurpun ala kadarnya. Jika musim dingin, kami kedinginan. Namun jika musim panas tiba, kami pun kepanasan. Ayah sama sekali tidak memikirkan untuk merenovasi rumahnya. Ia justru sibuk mempersiapkan rumah di akhiratnya. Adapun kondisi psikis, Alhamdulillah, kami cukup sabar, karena kami percaya. Insya Allah, kami akan melihatnya lagi di surgaNYa nanti. Untuk itulah kami juga sangat berharap bisa mati syahid seperti beliau.
Jika Syekh Ahmad Yasin ingin kaya, harta menumpuk, rumah mewah bertingkat, mobil mengkilat lebih dari empat, makanannya serba lezat, semuanya bisa saja beliau dapatkan, bukankah beliau mempunyai pengikut yang taat, kedukukan yang memikat, akan tetapi semuanya itu tidak beliau lakukan untuk memperkaya diri di tengah pengikut dan rakyatnya yang sedang sengsara dan menderita, akibat penjajah, sekali lagi tidak!
Syekh Ahmad Yasin memiliki iman dan perasaan yang tinggi, beliau sangat cinta dan peduli kepada umat yang pada hakekatnya adalah umat Nabi Muhammad saw.
Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS:An Nisaa/4: 69).
Apakah kita semua telah meneladani beliau yang hidup sebagaimana kehidupan Rasul SAW dan para shahabatnya? Yang lebih mencintai akherat ketimbang kehidupan dunia yang murah dan menipu? Yang lebih menyukai debu-debu jihad daripada mobil-mobil mewah mengkilat? DI manakah kita sekarang?
By: H. Ferry Nur, S.Si (Sekjen Kispa)
Source: www.eramuslim.com, 20 Maret 2008
Buya Hamka dan Palestina
5:57:00 PMBuya Hamka yang bergelar Tuanku Syaikh, gelar pusaka yang diberikan ninik mamak dan Majelis Alim-Ulama negeri Sungai Batang - Tanjung Sani, 12 Rabi’ul Akhir 1386 H/ 31 Juli 1966 M, pernah mendapatkan anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, 1958, Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974, dan gelar Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.
Buya Hamka adalah seorang ulama yang memiliki ‘izzah, tegas dalam aqidah dan toleran dalam masalah khilafiyah. Beliau sangat peduli terhadap urusan umat Islam, sehingga tidak mengherankan, di dalam dakwahnya, baik berupa tulisan maupun lisan, ceramah, pidato atau khutbah selalu menekankan tentang ukhuwah Islamiyah, menghindari perpacahan dan mengingatkan umat untuk peduli terhadap urusan kaum muslimin.
Ketika dihembuskan opini tentang cerdas dan pintarnya orang-orang Yahudi Israel, sehingga dapat mengalahkan pasukan Arab dalam perang Arab-Israel. Maka Buya meluruskan pemahaman tersebut melalui tulisan beliau di dalam Tafsir Al-Azhar, Juzu’ 1, halaman 221: “Sebab yang utama bukan itu, Yang terang ialah karena orang Arab khususnya dan Islam umumnya telah lama meninggalkan senjata batinnya yang jadi sumber dari kekuatannya. Orang – orang yang berperang menangkis serangan Israel atau ingin merebut Palestina sebelum tahun 1967 itu, tidak lagi menyebut-nyebut Islam.
Islam telah mereka tukar dengan Nasionalisme Jahiliyah, atau Sosialisme ilmiah ala Marx. Bagaimana akan menang orang Arab yang sumber kekuatannya ialah imannya, lalu meninggalkan iman itu, malahan barangsiapa yang masih mempertahankan idiologi Islam, dituduh Reaksioner. Nama Nabi Muhammad sebagai pemimpin dan pembangun dari bangsa Arab telah lama ditinggalkan, lalu ditonjolkan Karl Marx, seorang Yahudi.
Jadi untuk melawan Yahudi mereka buangkan pemimpin mereka sendiri, dan mereka kemukakan pemimpin Yahudi. Dalam pada itu kesatuan akidah kaum Muslimin telah dikucar-kacirkan oleh ideologi - ideologi lain, terutama mementingkan bangsa sendiri. Sehingga dengan tidak bertimbang rasa, di Indonesia sendiri, di saat orang Arab sedang bersedih karena kekalahan, Negara Republik Indonesia yang penduduknya 90% pemeluk Islam, tidaklah mengirimkan utusan pemerintah buat mengobati hati negara-negara itu, melainkan mengundang Kaisar Haile Selassie, seorang Kaisar Kristen yang berjuang dengan gigihnya menghapus Islam dari negaranya.
Ahli – ahli Fikir Islam modern telah sampai kepada kesimpulan bahwasanya Palestina dan Tanah Suci Baitul Maqdis, tidaklah akan dapat diambil kembali dari rampasan Yahudi (Zionis) itu, sebelum orang Arab khususnya dan orang–orang Islam seluruh dunia umumnya, mengembalikan pangkalan fikirannya kepada Islam. Sebab, baik Yahudi dengan Zionisnya, atau negara-negara Kapitalis dengan Christianismenya, yang membantu dengan moril dan materil berdirinya Negara Israel itu, keduanya bergabung jadi satu melanjutkan Perang Salib secara modern, bukan untuk menentang Arab karena dia Arab, melainkan menentang Arab karena dia Islam”.
Di Juzu’ VI, halaman 307, Buya juga menjelaskan konspirasi negara-negara Eropa dan Amerika dalam pendirian “ Negara Israel”, “Yaitu mereka jajah Palestina, mereka rampas dari tangan Turki. Lalu diserahkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Boulfour (seorang Yahudi), kepada kaum Zionis, gerakan Yahudi terbesar di zaman ini, supaya mereka membuat negara di sana. Sehabis Perang Dunia Kedua disuruhlah orang Yahudi membentuk Negara Israel di Palestina”.
Buya Hamka berpulang ke Rahmatullah, 24 Juli 1981, telah meninggalkan warisan dan pelajaran yang sangat berharga untuk ditindak lanjuti oleh genarasi Islam, yaitu istiqamah dalam berjuang, menjaga persatuan umat dan peduli terhadap urusan kaum Muslimin.
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."(QS: Al-Hasyr/59: 10).
By: H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA (ferryn2006@yahoo.co.id)
Source: www.eramuslim.com, 9 Februari 2008
Ulama Makassar, Pahlawan Afrika Selatan
5:08:00 PMTak hanya seorang pemikir dengan puluhan buku, Syekh Yusuf, tulis antropolog Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf Seorang Ulama Sufi dan Pejuang, adalah seorang ulama, sufi, dan khalifah tarekat serta pejuang melawan penjajahan Belanda. Perannya tak hanya di Indonesia, tapi juga di negeri pembuangannya, Afrika Selatan. Lahir, hidup, dan matinya berliput legenda dan penuh rahasia. "Beliau adalah pahlawan besar," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika berziarah ke makamnya pada Maret lalu. Bahkan, Nelson Mandela, Bapak Afrika Selatan yang berhasil membebaskan negerinya dari politik apartheid, mengaku terinspirasi oleh perjuangan Syekh Yusuf.
Sosok Syekh Yusuf pulalah yang mempererat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan, yang dikukuhkan oleh Presiden Yudhoyono dan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki menjadi kerjasama bilateral di bidang kebudayaan pada tahun ini. Indonesia, misalnya, menawarkan beasiswa kepada pelajar Afrika Selatan untuk belajar kebudayaan Nusantara. Presiden Yudhoyono juga meminta cendekiawan Indonesia untuk menerjemahkan biografi Syekh Yusuf ke bahasa Inggris agar dapat dipahami warga Afrika.
Sebagai ulama yang banyak melahirkan karya, sedikitnya Yusuf telah menulis 25 judul buku, yang sebagian besar tentang tasawuf. Dia memperoleh pendidikan agama yang mendalam di Timur Tengah dan buku-bukunya berbahasa Arab, Bugis dan Jawa. Penguasaannya terhadap sejumlah bahasa ini karena Yusuf asli Makassar dan merantau ke Banten dan Timur Tengah serta Afrika Selatan. Salah satu buku karyanya adalah Kayfiyyat Al-Tasawwuf. Buku tentang tasawuf ini ditulis atas dorongan Syekh Ibrahim Ibn Mi'an, ulama besar yang dihormati dari India, ketika Yusuf dalam pembuangan di Ceylon, Sri Lanka.
Lelaki kelahiran 3 Juli 1626 di Gowa, Sulawesi Selatan, ini masih mengalir darah bangsawan dari pihak ibu, Sitti Aminah, yang mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan Gowa. Dibesarkan dalam lingkungan kerajaan dan sebuah keluarga Islam yang taat, sejak belia ia sudah belajar agama: mengaji Al-Quran, kitab-kitab fikih, dan tauhid. Pertama kali ia menuntut ilmu agama kepada guru kerajaan, Daeng Ri Tassamang, kemudian berguru kepada Sayyid Ba-lawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Jalaludin Al-Aydit untuk memperdalam bahasa Arab, ilmu fikih, dan tasawuf.
Tak cukup belajar agama di tanah kelahiran, pada usia 18 tahun, Yusuf yang haus ilmu itu berlayar menuju Timur Tengah. Sesuai dengan jalur niaga pada zaman itu, sebagaimana diceritakan oleh Saarah Jappie dari Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah penelitiannya, perjalanan itu melewati Aceh dan Banten, Jawa Barat.
Pada masa itu, Banten merupakan salah satu kerajaan Islam yang terpenting di Pulau Jawa. Dia singgah beberapa lama di Banten dan memperdalam agama Islam di salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa Barat itu. Yusuf juga sempat menjalin persahabatan dengan kerabat kesultanan Banten, Pangeran Surya, yang kemudian menjadi Sultan Ageng Tirtayasa.
Perjalanan dilanjutkan menuju Aceh untuk berguru kepada ulama terpandang Syekh Nuruddin Ar-Raniri hingga ia mendapat ijazah tarekat Qadiriyah. Qadiriyah adalah tarekat (jalan menuju kebenaran) yang menekankan pentingnya syariat dan menentang paham wahdatul wujud (menyatunya hamba dan pencipta).
Setelah sekitar lima tahun menimba ilmu di Aceh, selanjutnya Yusuf menuntut ilmu di pusat-pusat pendidikan Islam Timur Tengah seraya menunaikan ibadah haji di Mekah. Berangkat pada 1649 dengan menempuh pelayaran selama 56 hari, sampailah Yusuf ke Yaman. Di sana ia berguru pada Syekh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi sampai mendapat ijazah tarekat Naqsabandiyah. Sementara itu, tarekat Assa'adah Al Ba'laiyah ia peroleh dari Sayyid Ali Al-Zahli.
Yang menarik, walau sudah menamatkan tiga tarekat, yakni Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Assa'adah Al Ba'laiyah, Syekh Yusuf masih berniat memperdalam ilmu agama dan mempelajari tarekat yang lain. Setelah menunaikan ibadah haji, Yusuf menimba tarekat Syattariyah pada Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani di Madinah. Berikutnya Yusuf mempelajari tarekat Khalwatiyah kepada Syekh Abu al Barakat Ayyub di Damaskus. Dari Ayyub itulah Yusuf memperoleh gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah.
Setelah 20 tahun perantauannya di jazirah Arab, Yusuf pulang ke Gowa. Namun, dia kecewa melihat keadaan Gowa yang baru saja ditaklukkan kolonial Belanda. Hal ini yang mendorong Yusuf meninggalkan Gowa pada 1672 menuju Banten untuk menemui sahabatnya yang telah bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.
Pengembaraannya kali ini tidak saja untuk berdakwah, tapi juga berjuang melawan penjajah Belanda. Ia bukan saja seorang ulama, melainkan juga pejuang. Sebagai ulama, ia diangkat sebagai mufti kerajaan dan guru bidang agama dengan murid dari berbagai daerah, termasuk dari Makassar. Berkat peran dialah Banten menjadi salah satu pusat pendidikan agama yang penting di Jawa.
Sebagai pejuang, ketika di Banten--juga daerah lain--tengah meletus peperangan melawan Belanda, Syekh Yusuf berada di pihak Sultan Ageng dengan memimpin sebuah pasukan Makassar. Namun, pada 1682 Banten menyerah, karena kekuatan tak berimbang. Syekh Yusuf ditahan, awalnya di Cirebon, kemudian di Batavia (Jakarta). Selanjutnya, mulai September 1684, Yusuf dan keluarga menjalani babak kehidupan dalam pembuangan dan pengasingan di Sri Lanka.
Bagi Syekh Yusuf, pengasingan bukan halangan untuk terus berdakwah dan berjuang. Ia juga tetap leluasa bertemu dengan sanak keluarga dan murid-muridnya. Sementara itu, bagi Belanda, aktivitas Yusuf di pembuangan--yang muridnya mencapai ratusan dari berbagai negara Islam--merupakan ancaman. Pengikutnya dikhawatirkan akan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Karena itu, Belanda memindahkan Yusuf ke Afrika Selatan.
Menumpang kapal De Voetboog, bersama 49 pengikutnya, pada Juli 1693, Syekh Yusuf tiba di Afrika Selatan. Ia diberi sepetak tanah di perkebunan Zandvliet, milik seorang pendeta bernama P. Kalden, untuk tempat tinggalnya. Kendati tempat itu bagian dari Kota Constantia, sejak dihuni oleh Syekh Yusuf, penduduk setempat mengenalinya sebagai Macassar.
Di negeri itu pun Yusuf kembali berdakwah. Seiring bertambahnya usia, kesehatannya menurun. Empat tahun kemudian, pada pada 23 Mei 1699, ia wafat dalam usia 73 tahun.
Makamnya di Constantia dikeramatkan masyarakat setempat. Oleh pengikutnya di Afrika Selatan, kediamannya di Constantia dijadikan sebagai bangunan peringatan yang kerap dikunjungi peziarah.
Beberapa tahun kemudian, atas permintaan Raja Gowa, Sultan Abdul Djalil, pada 1704 tulang belulang Syekh Yusuf dibawa pulang dan dimakamkan di Lakiung, Sulawesi Selatan, pada 6 April 1705.
Yusuf dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 1995. Sementara itu, pada 2005, pemerintah Afrika Selatan menganugerahi Syekh Yusuf dengan penghargaan Oliver Thambo, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki kepada tiga ahli warisnya.
Sepeninggal Syekh Yusuf, letak makamnya pun menjadi perdebatan dan klaim, dari yang memiliki argumentasi historis sampai yang berbau mitos. Seperti dilukiskan oleh penelitian Saarah Jappie (2006), masyarakat Talango, Madura, meyakini bahwa Syekh Yusuf pernah menyebarkan Islam dan dimakamkan di Madura. Padahal, tidak ada dokumentasi yang memberikan konfirmasi bahwa Syekh Yusuf pernah datang ke daerah Madura.
Versi lain menyebut makam Syekh terdapat di Banten, Jawa Barat; di Palembang, Sumatera; serta di Sri Lanka. "Makam-makam tersebut masih berfungsi dalam masyarakat dan didatangi para peziarah," tulis Saarah. Sementara itu, masyarakat Afrika Selatan meyakini makam Syekh Yusuf tetap di Tanjung Harapan.
Syekh Yusuf menulis buku ketika dalam perantauan dan pada saat menjalani pengasingan. Beberapa buku ditulis atas dorongan gurunya. Ketika menulis Kayfiyyat Al-Tasawwuf di Sri Lanka, misalnya, dia didorong ulama dari India, Syekh Ibrahim Ibn Mi'an. Ketika di Banten, Yusuf menulis sejumlah karya demi mengenalkan ajaran tasawuf kepada umat Islam Nusantara.
Salah satu bukunya, Al-Barakat al-Sailaniyya, berisi informasi tentang cara bagaimana mengikuti jalan sufisme, seperti berzikir, syahadat, dan cara bagaimana mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah). Pendapatnya dalam buku ini, ada tiga cara mengingat Allah: dzikr al-nafi wa'l ithbat dengan mengucap "la illaha illa Allah", dzikir al-mudjarrad wa'l djalala, dengan mengucap "Allah", dan dzikir al-ishara wa'l anfas dengan mengucap "hu".
Mengenai syahadat, ia membaginya menjadi dua macam: al-syahadah al-mukhtassa dan al-syahadah al-mutlaqa. Pertama, syahadat adalah kalimat Asyhadu an la illa ha illa Allah wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasulu Allah. Adapun yang kedua adalah Asyhadu an la illaha illa Allah wahdahu la sharika lahu wa asyhadu anna muhammad 'abduhu wa rasuluhu. Ia menyatakan bahwa ada tiga alasan mengapa orang mendekatkan diri pada Allah, yakni karena takut siksa Allah; kedua, menjadi bagian dari Allah; dan ketiga, mengetahui bahwa Allah lebih dekat daripada jiwa mereka sendiri.
Bukunya yang lain, Al-Fawa'ih al-Yusufiyya fi Bayan Tahqiq al-Sufiyya, ditulis ketika dia menjawab pertanyaan orang mengenai beberapa masalah agama. Ia menganjurkan orang untuk banyak membaca Al-Quran dan memperkuat tauhid, di samping mengamalkan kewajiban agama.
Dalam buku itu, Yusuf juga merekomendasikan kepada mereka untuk sabar, syukur, dan jujur. Seperti halnya Al-Fawa'ih al-Yusufiyya fi Bayan Tahqiq al-Sufiyya, dalam bukunya Hashiyya, Yusuf juga menjelaskan makna syahadat, yang berarti kekuasaan apa pun berasal dari Allah. Itu semua hampir sama seperti buku-buku Yusuf sebelumnya, Kaifiyat al-Mun-ghi wal Ithbat bil Hadit al-Qudsi, yang dia tulis di Ceylon (Sri Lanka) karena ada sejumlah orang meminta kepadanya untuk menulis tentang zikir, menjelaskan bahwa orang harus mengingat Allah kapan pun seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Dalam buku ini ia juga menyediakan informasi bagaimana bertobat.
Bukunya yang berjudul Matalib al-Salikin mirip dengan buku-buku Yusuf yang lain. Dalam buku ini ia menjelaskan keesaan Allah sebagai landasan untuk menjadi seorang Muslim. Menurut dia, seorang Muslim harus percaya pada konsep tauhid (keesaan Allah) dan ma'rifa (pengetahuan tentang Allah) serta menjalankan ibadah. Urutannya dapat dilihat sebagaimana pohon: tauhid ibarat batang, ma'rifa cabang dan daun-daunnya, sementara itu ibadah sebagai buahnya.
By: Ngarto Februana/berbagai sumber
Source: Tempo (Ruang Baca), 1 Juli 2008
Pramoedya Ananta Toer
4:58:00 PMMasa kecil
Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Pasca kemerdekaan Indonesia
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karir militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia.
Penahanan dan masa setelahnya
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.
- 13 Oktober 1965 - Juli 1969
- Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan
- Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru
- November - 21 Desember 1979 di Magelang
Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).
Kontroversi
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" di masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.
Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.
Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada jaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.
Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup dengan fasilitas yang lumayan - apalagi kalau ada tamu dari 'luar' yang datang pasti Pramoedya akan menjadi 'bintangnya'.
Masa tua
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.
Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.
Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.
Berpulang
Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Sint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.
Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.
Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00.
Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.
Makam Pramoedya dipenuhi karangan bunga dan buku-buku karyanya
Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.
Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.
Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.
Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.
Penghargaan
- Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
- Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
- Wertheim Award, "for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people", dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
- Ramon Magsaysay Award, "for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people", dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
- UNESCO Madanjeet Singh Prize, "in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violance" dari UNESCO, Perancis, 1996
- Doctor of Humane Letters, "in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom" dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
- Chancellor's distinguished Honor Award, "for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding", dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
- Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999
- New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
- Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
- The Norwegian Authors Union, 2004
- Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004
Lain-lain
- Anggota Nederland Center, ketika masih di Pulau Buru, 1978
- Anggota kehormatan seumur hidup dari International PEN Australia Center, 1982
- Anggota kehormatan PEN Center, Swedia, 1982
- Anggota kehormatan PEN American Center, AS, 1987
- Deutschsweizeriches PEN member, Zentrum, Swiss, 1988
- International PEN English Center Award, Inggris, 1992
- International PEN Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999
Bibliografi
Kecuali judul pertama, semua judul sudah disesuaikan ke dalam Ejaan Yang Disempurnakan.
- Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947
- Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi
- Perburuan (1950), pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949
- Keluarga Gerilya (1950)
- Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen
- Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen
- Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951)
- Bukan Pasarmalam (1951)
- Di Tepi Kali Bekasi (1951), dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947
- Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak ulang dalam kumpulan cerpen
- Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953
- Gulat di Jakarta (1953)
- Midah Si Manis Bergigi Emas (1954)
- Korupsi (1954)
- Mari Mengarang (1954), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
- Cerita Dari Jakarta (1957)
- Cerita Calon Arang (1957)
- Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958)
- Panggil Aku Kartini Saja (I & II, 1963; III & IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
- Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
- Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
- Gadis Pantai (1962-65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama triologi tentang keluarga Pramoedya; terbit sebagai buku, 1987; dilarang Jaksa Agung. Jilid II & III dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
- Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
- Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963)
- Lentera (1965), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
- Bumi Manusia (1980); dilarang Jaksa Agung, 1981
- Anak Semua Bangsa (1981); dilarang Jaksa Agung, 1981
- Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981)
- Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia
- Jejak Langkah (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
- Sang Pemula (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
- Hikayat Siti Mariah, (ed.) Hadji Moekti, (1987); dilarang Jaksa Agung, 1987
- Rumah Kaca (1988); dilarang Jaksa Agung, 1988
- Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
- Arus Balik (1995)
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997)
- Arok Dedes (1999)
- Mangir (2000)
- Larasati (2000)
- Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005)
Buku tentang Pramoedya dan karyanya
- Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja, oleh Bahrum Rangkuti (Penerbit Gunung Agung)
- Citra Manusia Indonesia dalam Karya Pramoedya Ananta Toer, oleh A. Teeuw (Pustaka Jaya)
- Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, oleh Eka Kurniawan (Gramedia Pustaka Utama)
- Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, oleh Apsanti Djokosujatno (Tera Indonesia)
- Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra, Daniel Mahendra, dkk (Penerbit Malka)
Referensi
- (id) Wawancara Pramoedya dengan Playboy Indonesia
- (id) Toer, Pramoedya Ananta; Jejak Langkah, Hasta Mitra, Yogyakarta (2002) ISBN 979-8659-14-7
Source: Wikipedia bahasa Indonesia
Mahatma Gandhi
4:28:00 PMLahir: 2 Oktober 1869 di Porbandar, Gujarat, India
Wafat: 30 Januari 1948 di New Delhi, India
Mohandas Karamchand Gandhi (aksara Devanagari: मोहनदास करमचन्द गांधी) juga dipanggil Mahatma Gandhi (bahasa Sansekerta: "jiwa agung") adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India.
Pada masa kehidupan Gandhi, banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Penduduk di koloni-koloni tersebut mendambakan kemerdekaan agar dapat memerintah negaranya sendiri.
Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Dia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan, yang mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai.
Biografi
Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di negara bagian Gujarat di India. Beberapa dari anggota keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.
Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran.
Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.
Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi.
Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan menuju kebenaran", telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).
Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia terlalu memihak kepada Muslim.
Warisan ajaran Gandhi di Indonesia
Selain tokoh-tokoh perjuangan anti kekerasan, keadilan dan perdamaian di tingkat dunia, di Indonesia pun ajaran Gandhi menemukan lahan yang subur. Ibu Gedong Bagoes Oka, misalnya, menemukan inspirasi perjuangannya di dalam ajaran Gandhi. Ia mendirikan Ashram Gandhi di Candi Dasa, Bali sebagai pusat pendidikan dan pengamalan ajaran-ajaran Gandhi tersebut.
Kutipan
"Mereka yang berjiwa lemah tak akan mampu memberi seuntai maaf tulus. Pemaaf sejati hanya melekat bagi mereka yang berjiwa tangguh."
Lain-lain
Gandhi tidak pernah menerima Penghargaan Perdamaian Nobel, meski dia dinominasikan lima kali antara 1937 dan 1948. Beberapa dekade kemudian, hal ini disesali secara umum oleh pihak Komite Nobel. Ketika Dalai Lama dianugerahi Penghargaan Nobel pada 1989, ketua umum Komite mengatakan bahwa ini merupakan "sebuah bentuk mengenang Mahatma Gandhi". Museum elektronik Nobel mempunyai artikel mengenai hal tersebut.
Sepanjang hidupnya, aktivitas Gandhi telah menarik berbagai komentar dan opini. Misalnya, sebagai penduduk Kerajaan Britania, Winston Churchill pernah berkata "Menyedihkan...melihat Mr. Gandhi, seorang pengacara Kuil Tengah yang menghasut, sekarang tampil sebagai seorang fakir yang tipenya umum di Timur, menaiki tangga Istana Viceregal dengan badan setengah-telanjang." Begitu juga dengan Albert Einstein yang berkomentar berikut mengenai Gandhi: "(Mungkin) para generasi berikut akan sulit mempercayai bahwa ada orang seperti ini yang pernah hidup di dunia ini."
Karya Mahatma Gandhi tidak terlupakan oleh generasi berikutnya. Cucunya, Arun Gandhi dan Rajmohan Gandhi dan bahkan anak cucunya, Tushar Gandhi, adalah aktivis-aktivis sosio-politik yang terlibat dalam mempromosikan non-kekerasan di seluruh dunia.
Source: Wikipedia bahasa Indonesia
Filsafat Kerja Masyarakat Minangkabau
11:22:00 AMKerja secara filsafat merupakan realisasi diri manusia sepenuhnya dalam hidup ini. Selain itu dalam faktor produksi, kerja ditinjau dari ekonomi politik merupakan bentuk interaksi manusia merubah nature untuk membentuk culture, sementara secara sosiologisnya kerja adalah relasi sosial pertama, di mana bekerja berati bekerja sama. Di sinilah kerja merupakan eksistensi manusia yang paling pokok dalam merealisasikan sejarah hidupnya.
Kerja produksi merupakan sejarah pertama yang membentuk karakteristik masyarakat/formasi sosial yang kemudian saling mempunyai relasi sosial yang menciptakan strata sosial dalam masyarakat. Ada dua tipologi kerja produksi; yang pertama adalah kerja yang koorporatif dimana antar subjek tidak ada yang saling berposisi sub-ordinasi sementara kerja kedua adalah kerja yang menciptakan karakteristik sub-ordinasi pemilik (The Have) terhadap subyek yang menjadi pekerja (The Labour) .
Dalam sejarah perkembangan masyarakat Indonesia merupakan suatu perkembangan yang kompleks ditinjau dari ekonomi-politik corak produksi dan formasi sosial yang membentuk masyarakat, di mana kultur produksi agraris yang masih feodal dicangkok oleh para kolonial Belanda yang membawa corak produksi berdagang diawal dan kemudian berkembang menjadi masyarakat industri yang kapitalistik. Disinilah terjadi pergeseran-pergeseran pola produksi dan relasi kerja dalam masyarakat Indonesia. Pertama tergambar dalam novel Machavellar[2] dimana seorang pekerja kebun pada tuan tanah yang selama ini bekerja diberi sebagian hasil garapannya oleh si pemilik dengan istilah maro[3]. Ketika Belanda datang si pekerja kebingungan hasilnya diambil semua dan dia mendapat bayaran atas keringat dan kerjanya dengan upah (uang). Di sinilah masyarakat industri baru dikenal di Indonesia, dimana masyarakat kapitalis primitif sebelumnya dalam bentuk markantilis/perdagangan masih terlokus di daerah-daerah pesisir.
Setelah meninjau historis dalam konteks masyarakat Indonesia secara umum, maka dalam meng-ekplorasi gagasan yang jauh lebih mikro dalam konteks masyarakat Minangkabau merupakan bagian dari Indonesia yang memiliki identitas sebagai masyarakat markantilis atau Cina[4]-nya Indonesia, akan kita tilik dari corak produksi dan formasi sosial masyarakat Minangkabau atau Sumatera Barat-nya sebagai basis historis dan teoritis.
Dalam konsep kepemilikan masyarakat Minangkabau memiliki dua aturan; yang pertama adalah tanah kaum yang dimiliki secara komunal, serta harta pusaka yang bersifat matrilinial dan harta pencaharian yang diturunkan oleh Ayah kepada anaknya. Dalam kepemilikan masyarakat Minangkabau sangat ketat dimana tanah atau harta pusaka tidak boleh diperjualbelikan, apalagi tanah kaum atau kepemilikan adat merupakan suatu hal yang dikelola secara bersama.
Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan terhadap pergeseran pola produksi masyarakat Minangkabau terlihat jelas pada fase tanam paksa 1908-1912 terjadi, di mana rakyat disuruh menanam tanaman komersil seperti karet, kopi, dan kelapa. Di sinilah kata Schrieke masyarakat Minang mulai mempunyai mentalitas pedagang. "Suatu revolusi dalam semangat yang serupa dengan yang terjadi pada periode kapitalisme awal di Eropa seperti yang ditunjukkan oleh Max Weber dan Sombart." (Schieke, 1955:98) "Bersamaan dengan hal ini terjadi pergeseran nilai (baca: corak produksi) dan strata sosial baru dalam masyarakat, sehingga dengan tepat Geertz mengemukakan." (1976:133)
Dalam dua dasawarsa dari perjumpaan yang kurang akrab dengan kapitalisme Eropa itu, petani ladang Minangkabau telah berubah menjadi pedagang pengejar keuntungan yang terjerat erat-erat dalam tali-temali keuangan, suatu hal yang tak pernah dapat dicapai oleh petani sawah Jawa, yang sudah lebih dari seabad lamanya harus berjuang membanting tulang untuk bisa sekedar hidup.
Nah, disinilah kita dapat mengeksplorasi dalam berbagai tinjauan, secara sosiologis perkembangan sejarah masyarakat Minangkabau terjadi sesuatu hal yang unik, dimana banyak asumsi yang menjelaskan bahwa masyarakat Minangkabau adalah masyarakat pendatang dan tidak ada suatu kelompok pendatang atau penduduk asli yang dominan terhadap yang lainnya. Layaknya tanah merdeka dan ditempati bersama-sama oleh para pendatang yang beragam pula sehingga dalam konsep kepemilikan kaum atau adat ia lebih bersifat komunal. Dalam hal pameo sering orang menyebutkan: ”Orang batak dengan ciri khas rahang yang besar, orang jawa dengan mata yang agak sipit dan muka loncong, orang palembang dengan kulit putih hampir mirip Cina sementara Orang Minangkabau sulit untuk melihat kesamaan genetis karakteristik fisik dan paras yang mengarah pada penunjukan suatu perwakilan umum terhadap identitas.”
Masyarakat Minangkabau ditinjau dalam tinjauan historis feodal-nya tidaklah merupakan suatu hal yang lahir dari proses pergeseran pola produksi dari masyarakat perbudakan menuju kepemilikan tuan-tuan tanah, tidaklah begitu. Feodalisme atau masa kerajaan di Minangkabau lebih bersifat politis karena ada penundukkan daerah atau kawasan oleh Majapahit terhadap Minangkabau. Dalam prosesi inipun Minangkabau tidak ditundukkan dengan per-perang-an namun dengan negosiasi politik yang melahirkan kekuasaan kerajaan Pagaruyung tidak begitu hegemonik. Karena secara kepemilikan atau sistem kultural masih tetap memakai pola komunal untuk harta kaum dan matrilinial dalam harta pusaka. Secara politis juga keberpihakan kerajaan Pagaruyung serta kaum Adat pada pemerintahan VOC lebih menimbulkan kontradiksi yang memaksa masyarakat Minang untuk melakukan perlawanan. Dalam perspektif geopolitis kerajaan merupakan sentrum kekuasaan yang akan menjadi titik utama dari pemerintahan, ekonomi, serta interaksi masyarakatpun tidak terbukti dengan demografisnya kerajaan Pagaruyung yang jauh terpencil di Batusangkar serta kalah populer dengan kota-kota pesisir seperti Padang atau Pariaman serta daerah Luhak yang jauh di dalam yaitu Bukittinggi.
Di sinilah dapat ditinjau secara kritis bagaimana komparasi antara Jawa yang memiliki struktur produksi dan politik yang foedal seperti apa yang dijelaskan oleh Greertz diatas, yang membedakan loncatan perkembangan masyarakatnya secara produksi. Dalam masyarakat Minangkabau yang tidak melewati fase feodal meloncat pada fase markantilis atau kapitalisme primitif disini dapat kita tinjau relasi tenaga produktif dengan alat produksinya yang untuk pembahasan kali ini lebih fokus pada karakteristik kerja masyarakat Minangkabau.
Pola Produksi dan Munculnya Kelas Pedagang Tenaga produktif yang tersingkirkan oleh faktor produksi akan lebih banyak mencari peluang diluarnya, disinilah sebenarnya identitas atau pola ekonomi politik masyarakat terbentuk. Dalam masyarakat pra feodal apalagi ditegaskan dengan pola matrilinial dimana dominasi perempuan atas kepemilikan alat produksi dan sekaligus menjadi tenaga produktif yang menggarap lahannya telah membuat kaum laki mencari peluang lainnya. Dalam masyarakat Minangkabau tradisi perantauan dimulai dari gejala tersingkirnya tenaga produktif dalam proses produksi. Sebab akan banyak pengangguran yang akan tercipta di kampung halaman bila tidak mencari pekerjaan yang lainnya.
Masyarakat Minangkabau juga terstimulus oleh pandangan hidup mereka yang mengatakan alam terkembang jadi guru, dimana mereka dituntut untuk belajar dan hidup juga di luar negerinya sehingga dituntut untuk mempunyai daya adaptasi dan interaksi yang organis dan instant. Hal ini mengakibatkan tidak banyak dilakukannya pembukaan lahan baru dalam lima puluh tahun terkhir ini. Apalagi opini atau mindstream masyarakat Minangkabau yang tidak mau kerja kasar atau fisik telah membuat kosong beberapa kerja secara fungsional, faktor inilah salah satunya yang membuat migrasi atau transmigrasi penduduk dari daerah lain semakin massif untuk mengsisi kerja-kerja seperti buruh kereta api, bangunan, dan lainnya. Disamping faktor budaya yang permisif dan demokratis terhadap budaya manapun.
Kecendrungan kerja masyarakat Minangkabau yang tersinggirkan dalam proses produksi ini karena tidak memiliki SKILL[5] untuk membuka lahan baru dalam produksi agraris apalagi membuka industri rumah tangga (gilda) seperti masyarakat Eropa yang mampu untuk meningkatkan tenaga produktif untuk mempunyai skill dan alat produksi yang terus berkembang seperti apa yang terjadi di Inggris dengan penemuan mesin uap sebagai cikal-bakal masyarakat industrialis. Disinilah pilihan kerja untuk tetap menjadi kapitalis primitif yaitu pedagang apalagi dengan kemampuan merantau dan berjualan apapun menjadi karakteristik kerja yang tidak memerlukan skill yang unggul dan lama. Selain itu berdagang atau berjaja masih tetap menjamin pemeliharaan watak kebebasan untuk menetukan langkah sendiri yang tidak ter-sub ordinat oleh orang lain.
“Lebih baik jadi kepala semut dibandingkan ekor gajah atau lebih baik jadi tuan kecil dibandingkan budak besar[6]”
Kecendrungan karakteristik berdagang ini dituntun oleh budaya verbal (petah-petitih) dan prosa dalam masyarakat Minangkabau sebab budaya tulisan baru ditemukan dalam fase masyarakat feodal, sebab bentuk hegemoni atau dominasi terhadap interpretasi sejarah kekuasaan raja menjadi penting. Sampai sekarang dengan jaringan para pedagang Minangkabau yang mengusai sektor informal atau kaki lima yang seharusnya akan bertransformasi progresif juga tidak terbukti. Soeharto pernah menggalakkan program GEBU MINANG (Gerakan Seribu) yang memotivasi masyarakat perantauan minang untuk mengumpulkan seribu setiap hari-nya dan akan dikelola sebagai bentuk koperasi atau lebih maju bank (kapitalis finance).
Beberapa cacatan yang perlu digarisbawahi dimana dalam proses transformasi menuju masyarakat kapitalis yang maju tidak memenuhi prasyaratnya. Dalam bentuk yang ekstrim seorang kriminolog putra Minangkabau sendiri Amilijoes Sadanoer menandaskan karena pendidikan yang rendah dan tidak mempunyai skill akhirnya pekerjaan yang di kampung halaman tidak diterima dan akhirnya diterima, apalagi persaingan ekonomis di kota-kota besar seperti Jakarta dimana kemiskinan menciptakan tradisi kejahatan dan disini pun para perantau Minangkabau tidak terelakkan untuk ambil peran. Cuma peran yang jauh lebih cerdik dan bersih saja dimainkan dengan memilih menjadi copet, tidak menjadi perampok atau maling yang secara vis avis akan berkontradiksi secara fisik.
Kerja Intelektual Sebagai Patokan Kemuliaan
Karakteristik kerja yang cukup mengesankan bagi budaya emas Minangkabau adalah kerja inteklual-nya. Karakter yang kedua ini memiliki akar historis yang panjang dan kental sekali sampai sekarang walaupun tinggal puing-puing kejayaannya masih bisa terlihat seperti mayat dalam kuburan. Kultur petatah-petitih dan kaba yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai intelegensia, yang dipandang sebagai takdir historis kelebihan manusia dibandingkan mahluk lainnya serta terhadap infrastruktur lainnya seperti tenaga fisik atau kekuatan fisik. Keunggulan fisik atau kekuataan fisik acap kali diidentikkan dengan hewan, sementara watak cadiak candokio (intelek) acap kali tercermin dari kefasihan dalam bertutur kata.
Pentingnya kerja intelektual ini termanifeskan dalam sistem sosial masyarakat Minangkabau dimana pengambilan keputusan selalu memakai musyawarah untuk mufakat. Sistem sosial-politik musyawarah untuk mufakat adalah mekanisme dimana mencari persesuaian, perbedaan pendapat yang di-dialog-kan serta mencari kata mufakat. Disinih masyarakat Minangkabau selain memaknai kekerasaan fisik yang cendrung kurang manusiawi serta kondisi sistem sosial politik yang dialogis dan egaliter yang tidak membuat banyak masyarakat Minangkabau tidak menjadi serdadu atau militer.
Ada dua hal yang dilakukan masyarakat Minangkabau untuk pergi merantau, selain pedagang yang sudah sedikit-banyaknya dibahas diatas adalah belajar atau pergi menuntut ilmu. Tradisi ini sebenarnya dalam klasifikasi kelas sosial adalah golongan yang berpunya atau kelas menengah atas. Tidak jarang beberapa tokoh besar Indonesia dari Minangkabau merupakan jebolan luar negeri seperti Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka, Abdul Muis, Moehamad Hatta, Agus Salim. Juga beberapa tokoh pelopor kebangkitan Islam Padri yang banyak terpengaruh oleh pemikiran Timur Tengah. Sementara untuk Konteks internal Minangkabau mempelopori beberapa pilar-pilar pendidikan Indonesia seperti INS Kayutanam yang didirikan M Syafei pada tahun 1926, Perguruan Thawalib dan Dinyah Putri di Padangpanjang yang pertama sekali mengajarkan ilmu-ilmu sekuler di lingkungan agama, sekolah guru di Bukittinggi yang mencetak banyak pemikir dan tokoh pergerakan. Disinilah Minangkabau sangat kondusif bagi tradisi intelektual yang progresif dimana pada masa 1945-1965 terjadi dialektika pemikiran agama Islam dan Sosialisme yang mewarnai pemikiran mereka.
Bagaimana kegemilangan Kotogadang di Bukittinggi yang mempunyai 1000 orang dokter-dokter di Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa orientasi kelas menengah atas Minangkabau dalam eksplorasi intektual adalah titik pijak penting dalam tradisi Minangkabau.
Posisi Engku Syafei Dalam Dekonstruksi Masyarakat Lewat Pendidikan
Keberadaan INS Kayutanam sekarang mungkin tidak sebesar sejarah dan jasanya akan kemerdekaan Indonesia dan pembangunan karakteristik masyarakat. M. Syafei nama itulah tokoh sentral di balik transformasi sosial besar dan dialektika masyarakat Minangkabau dalam memecahkan tantangan zamannya dan mengisi pembangunan resourches manusia-nya. INS Kayutanam hadir pada posisi kritik fundamental terhadap masyarakat Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya. Posisi kritik yang berseberangan dengan karakter pendidikan umum yang menghamba sebagai juru ketika atau posisi birokrasi baik di zaman kolonial ataupun kondisi transisi pasca kemerdekaan bahkan sampai sekarang tentang orientasi primitif dari kaum terpelajar Indonesia yang sesat.
M Syafei hadir dalam Tiga Dimensi pendidikan yang komprehensif dalam membangun manusia Indonesia yang progresif dan tangguh. Dimensi spiritual dan seni dalam basis kepercayaan, emosional dan daya imaji manusia yang kreatif dimensi akal budi sebagai cerminan kekuatan pikiran manusia dalam memecahkan persoalan hidup dan ilmu pengetahuan akademik serta dimensi keterampilan produktif atau teknik dalam menciptakan manusia yang aktif berkarya dan berproduksi sesuai dengan alam-nya.
Pada posisi inilah INS Kayutanam hadir sebagai bangunan utuh dari pendidikan yang paripurna dalam menjalankan 3 sekolah umum dalam satu ruang pendidik asrama seperti tradisi pesantren, sekolah umum dan sekolah teknik.
INS Kayutanam dalam prakteknya mencoba menjungkirbalikkan tradisi produksi masyarakat dunia ketiga yang terbelakang dan tertinggal dalam posisi ilmu pengetahuan serta teknologi. Dekonstruksi karakter masyarakat yang tidak produktif menjadi produktif inilah yang ingin dicapai oleh Engku Syafei sebagai pendidik yang banyak mempelajari Eropa dalam pembangunan masyarakatnya.
Dalam posisi teori dan praktek INS Kayutanam setidak-tidaknya Engku Syafei telah membuktikan bahwa kemunduran industri nasional dan industri Sumatera Barat hancur luluh lantah diserbu oleh Neo-liberalisme. Berproduksi di setiap rumah tangga, jangan hanya bisa berkomsumsi karena kalau konsumsi lebih tinggi dari produksi maka yang ada hanyalah hutang dan korupsi[7]
Senyatanya pelajaran dari Engku Syafei telah melanda masyarakat Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya dengan cacatan nomor wahid sebagai negara penghutang dan penuh sesak oleh koruptor.
Penutup
Dalam dua kutub besar dapat digambarkan bagaimana lahirnya kerja berdagang akibat seleksi tenaga produktif yang tidak memiliki skill dan harus merantau untuk mencari pemenuhan eksistensi hidupnya di luar kampung halaman yang lebih banyak merupakan cita-cita kelas bawah dalam mencari pekerjaan di luar keluarga dan kampung halaman, entah apapun pekerjaannya dan paling ekstrim adalah tindakan kriminalitas.
Sementara kerja intelektual adalah realisasi diri kelas menengah-atas Minangkabau yang menyisakan banyak puing-puing keemasan serta sampai sekarang masih terus bergulir.
Dalam filsafat kerjanya masyarakat Minangkabau lebih menonjolkan sisi intelektual/intelegensi yang lebih meninggalkan kerja kasar dan kekerasaan fisik jikalau diperbolehkan memilih. Tetapi bukan untuk konteks kontemporer sebab jangan untuk berdagang, untuk jadi buruh bangunan saja sudah sulit!
Daftar Pustaka
- Dialektika Minangkabau dalam Kemelut Sosial dan Politik, Genta Singgalang Press 1983
- Alam Ta Kambang Jadi Guru, A A Navis, Grassindo
- Copet dan Sistem Sosial Minangkabau suatu Perbincangan Permulaan, Amilijoes Sadanoer
- Kesempatan Kerja dalam Pembangunan bagi Minagkabau, Hendra Esmara
- Minangkabau Dalam Dialektika Kebudayaan Nusantara, Muctar Naim
- Ekonomi Politik strukturalis, Bintang Bersinar, 1960
