Showing posts with label Tourism. Show all posts
Laguna Kian Menyeramkan
4:08:00 PM
Senin, 24 Mei 2010 | 05:38 WITA
BEBERAPA waktu lalu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Kota Makassar Kadisbudpar Makassar, Rusmayani Majid, mengaku kondisi Pusat Jajan Tradisional Pantai Laguna kian menyeramkan.
Hal ini menyusul kerapnya terjadi kericuhan di lokasi yang hanya berjarak beberapa meter dari rujab Wali Kota Makassar.
Rusmayani juga mengatakan pihaknya belum mengambil alih pengelolaan Laguna dari pihak ketiga. "Sebab kita menunggu suasana di sana aman baru bergerak. Kawasan Laguna semakin menyeramkan," kata Rusmayani, kemarin.
Untuk tahun ini, Rusmayani mengalokasikan anggaran khusus untuk mengembalikan fungsi Laguna sebagai lokasi wisata kuliner. "Tunggulah kejutan kami soal Laguna," ujarnya.
Setelah insiden berdarah yang menewaskan oknum anggota TNI/Polri berikut insiden penyerangan hingga pembakaran tiga kios, kawasan Laguna semakin remang-remang. Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin pernah mengeluhkan kondisi Laguna, namun hingga kini, kesan menyeramkan dan reman-remang itu belum berubah.(ali/sur)
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/106244/Laguna-Kian-Menyeramkan
BEBERAPA waktu lalu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Kota Makassar Kadisbudpar Makassar, Rusmayani Majid, mengaku kondisi Pusat Jajan Tradisional Pantai Laguna kian menyeramkan.
Hal ini menyusul kerapnya terjadi kericuhan di lokasi yang hanya berjarak beberapa meter dari rujab Wali Kota Makassar.
Rusmayani juga mengatakan pihaknya belum mengambil alih pengelolaan Laguna dari pihak ketiga. "Sebab kita menunggu suasana di sana aman baru bergerak. Kawasan Laguna semakin menyeramkan," kata Rusmayani, kemarin.
Untuk tahun ini, Rusmayani mengalokasikan anggaran khusus untuk mengembalikan fungsi Laguna sebagai lokasi wisata kuliner. "Tunggulah kejutan kami soal Laguna," ujarnya.
Setelah insiden berdarah yang menewaskan oknum anggota TNI/Polri berikut insiden penyerangan hingga pembakaran tiga kios, kawasan Laguna semakin remang-remang. Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin pernah mengeluhkan kondisi Laguna, namun hingga kini, kesan menyeramkan dan reman-remang itu belum berubah.(ali/sur)
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/106244/Laguna-Kian-Menyeramkan
Sepeda Motor Jadi Andalan Rakyat Bali
9:19:00 PM
Kamis, 14 Januari 2010 12:21 WIB
Masuki M. Astro
Jakarta (ANTARA News) - "Waduh, kapok kalau naik angkutan kota di Denpasar. Sudah ongkosnya mahal, penumpang harus nunggu lama sampai penuh," kata Budi Agustijono.
Lelaki asal Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, itu menceritakan pengalamannya menggunakan angkutan kota ketika dia mulai kuliah di jurusan Seni Rupa Universitas Udaya (Unud) pada 2000.
Di terminal, seorang calon penumpang angkutan kota tidak jarang harus menunggu sampai satu jam sebelum angkutan kota berangkat. Ongkosnya juga membuat masalah. Tahun itu, dari kampus Unud Denpasar ke Jimbaran, seorang penumpang harus mengeluarkan Rp2.500.
Rohmat yang berprofesi wartawan juga memiliki pengalaman serupa ketika pertama kali bekerja di Bali pada 2001. Lelaki asal Jawa Tengah dan bertempat tinggal di Jl Cokroaminoto, Denpasar, dan bekerja di Jl Hayam Wuruk yang berjarak tidak sampai 10 km.
"Saya harus naik dua kali angkot dengan ongkos antara Rp2.000 sampai Rp3.000. Kalau naik dua kali, bisa Rp4.000 sampai Rp6.000. Jadi pergi pulang rata-rata menghabiskan Rp10.000 sehari. Padahal gaji saya waktu itu hanya Rp450.000," katanya.
Untuk menyiasati banyaknya pengeluaran untuk transportasi, Rohmat harus memutar otak dan tidak jarang dia menumpang sepeda motor rekannya agar dalam sehari dia cuma naik angkutan kota dua kali pulang pergi.
Hal seperti itu tidak jauh berbeda dengan kondisi sekarang di mana moda transportasi darat di Denpasar belum banyak berubaha dan cenderung ditinggalkan penggunanya.
Angkutan kota tidak akrab di masyarakat Denpasar dan sekitarnya, yakni Kabupaten Badung dan Tabanan.
"Sekarang? Wah tambah parah. Harus nunggu lama dan ongkosnya sangat mahal," kata Budi Agustijono, seorang agen asuransi di Bali.
Bahkan, untuk jarak yang tidak sampai lima kilometer, seorang sopir angkutan kota mematok harga Rp5.000. Karena ongkosnya mahal dan antre lama, angkutan kota itu sering hanya berjejer di terminal, seperti di Terminal Ubung.
Ketua DPD Organisai Angkutan Darat (Organda) Bali Ketut Edi Dharma Putra juga mengakui bahwa armada angkutan kota dan angkutan pedesaan kian tersisih dan ditinggalkan penumpangnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi banyak hal, misalnya tidak adanya pertmuan rute yang pasti, tidak tepatnya waktu berangkat, dan ongkos yang terlalu tinggi.
Ongkos sekali jalan yang mencapai Rp5.000 hingga Rp10.000 menyebabkan pengeluaran masyarakat, khususnya pekerja, menjadi sangat tinggi. Sehari seorang pekerja bisa mengeluarkan uang Rp20.000 untuk angkutan.
"Karena itu bisa dibayangkan bagi karyawan yang harus melewati dua atau tiga trayek. Berapa yang harus dikeluarkan?" katanya.
Menghadapi kondisi seperti itu, kata dia, sangat wajar jika masyarakat mencari alternatif, yakni sepeda motor.
Hal itu juga didukung oleh cara kepemilikan kendaraan roda dua yang sangat mudah, seperti banyaknya lembaga keuangan yang menawarkan kredit dengan uang muka ringan, hingga Rp500 ribu.
"Selain itu, dengan sepeda motor, biaya yang harus dikeluarkan untuk ke tempat kerja setiap hari kan tidak banyak. Bensin satu liter tidak habis untuk pergi pulang kerja," kata Rohmat.
Dampak dari kemudahan cara kepemilikan itu, pertumbuhan sepeda motor di Bali pesat. Data di Polda Bali menyebutkan, hingga Oktober 2009 rata-rata pertumbuhan sepeda motor di Pulau Seribu Pura itu mencapai 10.000 unit hingga 15.000 unit per bulan.
Banyaknya permintaan sepeda motor mendorong produsen untuk terus memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti dilakukan PT Astra Honda Motor (AHM), yang pada Oktober 2009 telah mencapai produksi sepeda motor ke-25 juta di Indonesia.
Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) kemudian mencatat AHM sebagai produsen motor pertama di Indonesia yang memproduksi sepeda motor ke-25 juta.
Executive Vice President Director AHM Johannes Loman menuturkan, di tengah minimnya sarana transportasi yang layak saat ini, sepeda motor masih menjadi salah satu kendaraan yang paling efektif dalam menunjang kegiatan sebagian besar masyarakat Indonesia.
"Selaku produsen, sangat berperan dalam menunjang aktivitas masyarakat agar mereka lebih produktif dan efisien dalam bekerja dan beraktivitas," ujarnya.
Tidak hanya itu, katanya, AHM juga telah mendorong pertumbuhan ekonomi, diantaranya melalui penciptaan ribuan lapangan kerja.
Dari sisi produksi, hingga September 2009, AHM sudah melibatkan lebih dari 500 vendor dan penyedia, menyusul tingkat kandungan lokal produk Honda yang terus meningkat dengan rata-rata hampir 95 persen.
"Dari sisi penjualan dan purnajual, perusahaan menggandeng sekitar 1.600 dealer dan hampir 4.000 jaringan bengkel Astra Honda Autorized Service Station (AHASS), sekitar 7.000 toko suku cadang termasuk Honda Exclusive Part Shop (HEPS)," katanya.
Fakta ini, kata dia, secara tidak langsung menunjukkan bahwa pihaknya telah mendorong penciptaan ribuan lapangan kerja di Indonesia.
Secara keseluruhan AHM, dealer, AHASS, toko suku cadang, dan perusahaan terkait lainnya memiliki seperempat juta pekerja hingga September 2009.
"Jika dihitung dengan anggota keluarga yang ditanggung setiap pekerja, yang terkait langsung maupun tidak langsung, jumlahnya bisa mencapai satu juta orang," katanya.
Persoalan
Tingginya penggunaan sepeda motor itu bukannya tidak menimbulkan masalah.
Sepeda motor yang lebih lincah melaju di jalanan menyebabkan penggunanya banyak yang berkendara dengan kecepatan tinggi.
Persoalan yang timbul akibat semakin banyaknya kendaraan, termasuk roda dua, adalah jalan menjadi macet dan potensi kecelakaan di jalan juga tinggi.
Menurut Polda Bali, setiap hari tiga orang meninggal dunia karena kecelakaan di pulau ini.
Direktur Lalu Lintas Polda Bali Kombes Polisi Bambang Sugeng menyebutkan, tingginya angka kecelakaan di Pulau Dewata itu salah satunya disebabkan terus bertambahnya jumlah kendaraan, termasuk sepeda motor, tanpa diimbangi dengan pertambahan jalan.
Kabid Humas Polda Bali Kombes Polisi Gde Sugianyar mengatakan, pertumbuhan kendaraan yang tinggi, jika tidak dibarengi dengan pembangunan infrastruktur jalan atau dicarikan solusi lain, akan menimbulkan masalah yakni terjadinya macet.
Ia berharap adanya solusi dari pemerintah setempat, sehingga kemacetan arus lalu lintas tidak menjadi lebih parah, terutama di daerah perkotaan.
"Pemerintah memang tidak memiliki hak untuk membatasi orang membeli kendaraan, ataupun melarang kendaraan untuk datang ke Bali. Namun, pemerintah juga harus memperhatian fasilitas pendukung untuk mengimbangi pertumbuhan kendaraan yang ada," ujar Sugianyar.
Menurut dia, solusi penambahan infrastruktur jalan atau penyediaan angkutan umum yang nyaman dan memadai adalah syarat mutlak yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk dapat meminimalkan kemacetan.
Hal yang tidak kalah penting dari semua itu adalah, produsen sepeda motor, termasuk PT AHM yang juga memiliki tanggung jawab untuk terus mendidik masyarakat mengenai cara berkendara yang aman dan nyaman.
Apalagi, saat ini, polisi, khususnya di Bali sedang menggalakkan program berkendara yang aman. Salah satu kewajiban pengendara roda dua dalam program itu adalah menyalakan lampu di siang hari.
Polda Bali akan menindak tegas pengendara sepeda motor yang tidak menyalakan lampu pada siang hari, yakni dengan dikenakan denda Rp100 ribu sesuai ketentuan Undang Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ).
"Ke depan kami akan terapkan sanksi itu secara tegas kepada pengendara sepeda motor yang tidak menyalakan lampu pada siang hari, apalagi malam hari," kata Kasubdit Dikyasa Dit Lantas Polda Bali AKBP I Ketut Karditha.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, Polda Bali bekerja sama dengan teknisi-teknisi dari semua dealer sepeda motor guna mengubah saklar lampu sepeda motor menjadi otomatis menyala saat mesin dihidupkan.
PT AHM menyatakan bisa mendukung program "safety riding" itu dengan menyiapkan saklar yang diperlukan tersebut; langkah inovasi yang bukan hanya bagi kepentingan komersial, tapi juga untuk keselamatan pengendara.(*)
http://www.antaranews.com/berita/1263446465/sepeda-motor-jadi-andalan-rakyat-bali
Masuki M. Astro
Jakarta (ANTARA News) - "Waduh, kapok kalau naik angkutan kota di Denpasar. Sudah ongkosnya mahal, penumpang harus nunggu lama sampai penuh," kata Budi Agustijono.
Lelaki asal Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, itu menceritakan pengalamannya menggunakan angkutan kota ketika dia mulai kuliah di jurusan Seni Rupa Universitas Udaya (Unud) pada 2000.
Di terminal, seorang calon penumpang angkutan kota tidak jarang harus menunggu sampai satu jam sebelum angkutan kota berangkat. Ongkosnya juga membuat masalah. Tahun itu, dari kampus Unud Denpasar ke Jimbaran, seorang penumpang harus mengeluarkan Rp2.500.
Rohmat yang berprofesi wartawan juga memiliki pengalaman serupa ketika pertama kali bekerja di Bali pada 2001. Lelaki asal Jawa Tengah dan bertempat tinggal di Jl Cokroaminoto, Denpasar, dan bekerja di Jl Hayam Wuruk yang berjarak tidak sampai 10 km.
"Saya harus naik dua kali angkot dengan ongkos antara Rp2.000 sampai Rp3.000. Kalau naik dua kali, bisa Rp4.000 sampai Rp6.000. Jadi pergi pulang rata-rata menghabiskan Rp10.000 sehari. Padahal gaji saya waktu itu hanya Rp450.000," katanya.
Untuk menyiasati banyaknya pengeluaran untuk transportasi, Rohmat harus memutar otak dan tidak jarang dia menumpang sepeda motor rekannya agar dalam sehari dia cuma naik angkutan kota dua kali pulang pergi.
Hal seperti itu tidak jauh berbeda dengan kondisi sekarang di mana moda transportasi darat di Denpasar belum banyak berubaha dan cenderung ditinggalkan penggunanya.
Angkutan kota tidak akrab di masyarakat Denpasar dan sekitarnya, yakni Kabupaten Badung dan Tabanan.
"Sekarang? Wah tambah parah. Harus nunggu lama dan ongkosnya sangat mahal," kata Budi Agustijono, seorang agen asuransi di Bali.
Bahkan, untuk jarak yang tidak sampai lima kilometer, seorang sopir angkutan kota mematok harga Rp5.000. Karena ongkosnya mahal dan antre lama, angkutan kota itu sering hanya berjejer di terminal, seperti di Terminal Ubung.
Ketua DPD Organisai Angkutan Darat (Organda) Bali Ketut Edi Dharma Putra juga mengakui bahwa armada angkutan kota dan angkutan pedesaan kian tersisih dan ditinggalkan penumpangnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi banyak hal, misalnya tidak adanya pertmuan rute yang pasti, tidak tepatnya waktu berangkat, dan ongkos yang terlalu tinggi.
Ongkos sekali jalan yang mencapai Rp5.000 hingga Rp10.000 menyebabkan pengeluaran masyarakat, khususnya pekerja, menjadi sangat tinggi. Sehari seorang pekerja bisa mengeluarkan uang Rp20.000 untuk angkutan.
"Karena itu bisa dibayangkan bagi karyawan yang harus melewati dua atau tiga trayek. Berapa yang harus dikeluarkan?" katanya.
Menghadapi kondisi seperti itu, kata dia, sangat wajar jika masyarakat mencari alternatif, yakni sepeda motor.
Hal itu juga didukung oleh cara kepemilikan kendaraan roda dua yang sangat mudah, seperti banyaknya lembaga keuangan yang menawarkan kredit dengan uang muka ringan, hingga Rp500 ribu.
"Selain itu, dengan sepeda motor, biaya yang harus dikeluarkan untuk ke tempat kerja setiap hari kan tidak banyak. Bensin satu liter tidak habis untuk pergi pulang kerja," kata Rohmat.
Dampak dari kemudahan cara kepemilikan itu, pertumbuhan sepeda motor di Bali pesat. Data di Polda Bali menyebutkan, hingga Oktober 2009 rata-rata pertumbuhan sepeda motor di Pulau Seribu Pura itu mencapai 10.000 unit hingga 15.000 unit per bulan.
Banyaknya permintaan sepeda motor mendorong produsen untuk terus memenuhi kebutuhan masyarakat, seperti dilakukan PT Astra Honda Motor (AHM), yang pada Oktober 2009 telah mencapai produksi sepeda motor ke-25 juta di Indonesia.
Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) kemudian mencatat AHM sebagai produsen motor pertama di Indonesia yang memproduksi sepeda motor ke-25 juta.
Executive Vice President Director AHM Johannes Loman menuturkan, di tengah minimnya sarana transportasi yang layak saat ini, sepeda motor masih menjadi salah satu kendaraan yang paling efektif dalam menunjang kegiatan sebagian besar masyarakat Indonesia.
"Selaku produsen, sangat berperan dalam menunjang aktivitas masyarakat agar mereka lebih produktif dan efisien dalam bekerja dan beraktivitas," ujarnya.
Tidak hanya itu, katanya, AHM juga telah mendorong pertumbuhan ekonomi, diantaranya melalui penciptaan ribuan lapangan kerja.
Dari sisi produksi, hingga September 2009, AHM sudah melibatkan lebih dari 500 vendor dan penyedia, menyusul tingkat kandungan lokal produk Honda yang terus meningkat dengan rata-rata hampir 95 persen.
"Dari sisi penjualan dan purnajual, perusahaan menggandeng sekitar 1.600 dealer dan hampir 4.000 jaringan bengkel Astra Honda Autorized Service Station (AHASS), sekitar 7.000 toko suku cadang termasuk Honda Exclusive Part Shop (HEPS)," katanya.
Fakta ini, kata dia, secara tidak langsung menunjukkan bahwa pihaknya telah mendorong penciptaan ribuan lapangan kerja di Indonesia.
Secara keseluruhan AHM, dealer, AHASS, toko suku cadang, dan perusahaan terkait lainnya memiliki seperempat juta pekerja hingga September 2009.
"Jika dihitung dengan anggota keluarga yang ditanggung setiap pekerja, yang terkait langsung maupun tidak langsung, jumlahnya bisa mencapai satu juta orang," katanya.
Persoalan
Tingginya penggunaan sepeda motor itu bukannya tidak menimbulkan masalah.
Sepeda motor yang lebih lincah melaju di jalanan menyebabkan penggunanya banyak yang berkendara dengan kecepatan tinggi.
Persoalan yang timbul akibat semakin banyaknya kendaraan, termasuk roda dua, adalah jalan menjadi macet dan potensi kecelakaan di jalan juga tinggi.
Menurut Polda Bali, setiap hari tiga orang meninggal dunia karena kecelakaan di pulau ini.
Direktur Lalu Lintas Polda Bali Kombes Polisi Bambang Sugeng menyebutkan, tingginya angka kecelakaan di Pulau Dewata itu salah satunya disebabkan terus bertambahnya jumlah kendaraan, termasuk sepeda motor, tanpa diimbangi dengan pertambahan jalan.
Kabid Humas Polda Bali Kombes Polisi Gde Sugianyar mengatakan, pertumbuhan kendaraan yang tinggi, jika tidak dibarengi dengan pembangunan infrastruktur jalan atau dicarikan solusi lain, akan menimbulkan masalah yakni terjadinya macet.
Ia berharap adanya solusi dari pemerintah setempat, sehingga kemacetan arus lalu lintas tidak menjadi lebih parah, terutama di daerah perkotaan.
"Pemerintah memang tidak memiliki hak untuk membatasi orang membeli kendaraan, ataupun melarang kendaraan untuk datang ke Bali. Namun, pemerintah juga harus memperhatian fasilitas pendukung untuk mengimbangi pertumbuhan kendaraan yang ada," ujar Sugianyar.
Menurut dia, solusi penambahan infrastruktur jalan atau penyediaan angkutan umum yang nyaman dan memadai adalah syarat mutlak yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk dapat meminimalkan kemacetan.
Hal yang tidak kalah penting dari semua itu adalah, produsen sepeda motor, termasuk PT AHM yang juga memiliki tanggung jawab untuk terus mendidik masyarakat mengenai cara berkendara yang aman dan nyaman.
Apalagi, saat ini, polisi, khususnya di Bali sedang menggalakkan program berkendara yang aman. Salah satu kewajiban pengendara roda dua dalam program itu adalah menyalakan lampu di siang hari.
Polda Bali akan menindak tegas pengendara sepeda motor yang tidak menyalakan lampu pada siang hari, yakni dengan dikenakan denda Rp100 ribu sesuai ketentuan Undang Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ).
"Ke depan kami akan terapkan sanksi itu secara tegas kepada pengendara sepeda motor yang tidak menyalakan lampu pada siang hari, apalagi malam hari," kata Kasubdit Dikyasa Dit Lantas Polda Bali AKBP I Ketut Karditha.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, Polda Bali bekerja sama dengan teknisi-teknisi dari semua dealer sepeda motor guna mengubah saklar lampu sepeda motor menjadi otomatis menyala saat mesin dihidupkan.
PT AHM menyatakan bisa mendukung program "safety riding" itu dengan menyiapkan saklar yang diperlukan tersebut; langkah inovasi yang bukan hanya bagi kepentingan komersial, tapi juga untuk keselamatan pengendara.(*)
http://www.antaranews.com/berita/1263446465/sepeda-motor-jadi-andalan-rakyat-bali
Bali Perlu Miliki Transportasi Berstandar Internasional
7:21:00 PM
Senin, 11 Januari 2010, 17:51 WIB
DENPASAR--Bali sebagai destinasi pariwisata internasional, ke depan perlu memiliki sistem transportasi berstandar dunia bagi kepentingan wisatawan mancanegara. "Sebagai destinasi internasional, kita harus memiliki sistem transportasi berstandar nasional bahkan internasional untuk mendukung dunia kepariwisataan Bali," kata Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali Drs I Made Santha di Denpasar, Senin.
Usai pelantikan pejabat struktural eselon II di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika, ia mengatakan, selama ini sistem transportasi di Bali atau di Indonesia mulai "krodit". Transportasi umum tersebut tidak bisa berkembang dengan baik. Ia mengatakan, layanan terhadap penumpang pun tidak andal, sehingga banyak masyarakat lebih memilih menggunakan sarana transportasi pribadi, dibanding angkutan umum.
"Jumlah kendaraan terus meningkat, sementara angkutan umum makin terjepit. Bersamaan dengan itu, kondisi lalu lintas di jalan raya menjadi semakin parah," katanya. Santha yang mantan pegawai Dinas Kebudayaan Bali itu mengatakan, sejumlah negara maju memiliki angkutan umum yang sangat bagus. Sistem transportasi yang ada di negeri orang, mendukung kegiatan wisata. "Wisatawan dengan mudah bisa menuju objek wisata dengan ongkos naik angkutan umum yang harganya sama dengan masyarakat lokal.
Sementara di Bali, masyarakat dan para wisatawan tidak bisa menikmati layanan ini," katanya. Dia mengatakan, sejumlah persoalan di sektor angkutan darat memang harus segera dibenahi. Terlebih Bali sebagai objek wisata internasional, ke depannya harus dapat memberikan layan transportasi yang lebih nyaman dan aman bagi wisatawan maupun masyarakat setempat.
http://www.republika.co.id/berita/100672/bali_perlu_miliki_transportasi_berstandar_internasional
DENPASAR--Bali sebagai destinasi pariwisata internasional, ke depan perlu memiliki sistem transportasi berstandar dunia bagi kepentingan wisatawan mancanegara. "Sebagai destinasi internasional, kita harus memiliki sistem transportasi berstandar nasional bahkan internasional untuk mendukung dunia kepariwisataan Bali," kata Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali Drs I Made Santha di Denpasar, Senin.
Usai pelantikan pejabat struktural eselon II di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika, ia mengatakan, selama ini sistem transportasi di Bali atau di Indonesia mulai "krodit". Transportasi umum tersebut tidak bisa berkembang dengan baik. Ia mengatakan, layanan terhadap penumpang pun tidak andal, sehingga banyak masyarakat lebih memilih menggunakan sarana transportasi pribadi, dibanding angkutan umum.
"Jumlah kendaraan terus meningkat, sementara angkutan umum makin terjepit. Bersamaan dengan itu, kondisi lalu lintas di jalan raya menjadi semakin parah," katanya. Santha yang mantan pegawai Dinas Kebudayaan Bali itu mengatakan, sejumlah negara maju memiliki angkutan umum yang sangat bagus. Sistem transportasi yang ada di negeri orang, mendukung kegiatan wisata. "Wisatawan dengan mudah bisa menuju objek wisata dengan ongkos naik angkutan umum yang harganya sama dengan masyarakat lokal.
Sementara di Bali, masyarakat dan para wisatawan tidak bisa menikmati layanan ini," katanya. Dia mengatakan, sejumlah persoalan di sektor angkutan darat memang harus segera dibenahi. Terlebih Bali sebagai objek wisata internasional, ke depannya harus dapat memberikan layan transportasi yang lebih nyaman dan aman bagi wisatawan maupun masyarakat setempat.
http://www.republika.co.id/berita/100672/bali_perlu_miliki_transportasi_berstandar_internasional
Kejar PAD, Tarif Bantimurung Naik 100 Persen
8:31:00 PM
Selasa, 05-01-10 | 21:24
MAROS -- Tarif tiket masuk ke Taman Wisata Alam Bantimurung, Maros, resmi naik 100 persen sejak 1 Januari 2010. Dinaikkannya tarif tersebut demi mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Rp 3,5 miliar pada 2009 menjadi Rp 7 miliar tahun ini.
Salah satu sumber PAD tersebut adalah Taman Wisata Alam Bantimurung. Kenaikan tarif tersebut sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2009. Bila sebelumnya setiap pengujung dewasa hanya dibebani biaya masuk Rp 5.000 per orang, kini meningkat Rp 10.000 per orang. Sedangkan untuk anak-anak dari Rp 2.500 menjadi Rp 5.000 per orang.
"Jadi kenaikan tarif dilakukan karena adanya peningkatan target PAD," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Maros yang juga Kepala Badan Pengelola Bantimurung, Gaffar Aminullah, Senin, 4 Januari.
Selain itu, kenaikan juga dipicu dari sharing pendapatan Dinas Pariwisata dengan Dinas Kehutanan menyangkut keberadaan taman nasional di dalam kompleks Wisata Alam Bantimurung. Rinciannya pembagian dari biaya masuk Rp 10.000 tersebut adalah Rp 2.500 ke Dinas Kehutanan, sementara Pemkab Maros mendapat bagian Rp 7.300, dan asuransi Rp 200 per orang.
Dengan tarif baru biaya masuk Bantimurung tersebut, Gaffar optimis peningkatan PAD dapat terpenuhi. Apalagi kini Bantimurung telah menjadi pembicaraan internasional melalui pengakuan UNESCO terhadap karst Gua Leang-leang. (rhd)
http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=78003
MAROS -- Tarif tiket masuk ke Taman Wisata Alam Bantimurung, Maros, resmi naik 100 persen sejak 1 Januari 2010. Dinaikkannya tarif tersebut demi mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Rp 3,5 miliar pada 2009 menjadi Rp 7 miliar tahun ini.
Salah satu sumber PAD tersebut adalah Taman Wisata Alam Bantimurung. Kenaikan tarif tersebut sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2009. Bila sebelumnya setiap pengujung dewasa hanya dibebani biaya masuk Rp 5.000 per orang, kini meningkat Rp 10.000 per orang. Sedangkan untuk anak-anak dari Rp 2.500 menjadi Rp 5.000 per orang.
"Jadi kenaikan tarif dilakukan karena adanya peningkatan target PAD," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Maros yang juga Kepala Badan Pengelola Bantimurung, Gaffar Aminullah, Senin, 4 Januari.
Selain itu, kenaikan juga dipicu dari sharing pendapatan Dinas Pariwisata dengan Dinas Kehutanan menyangkut keberadaan taman nasional di dalam kompleks Wisata Alam Bantimurung. Rinciannya pembagian dari biaya masuk Rp 10.000 tersebut adalah Rp 2.500 ke Dinas Kehutanan, sementara Pemkab Maros mendapat bagian Rp 7.300, dan asuransi Rp 200 per orang.
Dengan tarif baru biaya masuk Bantimurung tersebut, Gaffar optimis peningkatan PAD dapat terpenuhi. Apalagi kini Bantimurung telah menjadi pembicaraan internasional melalui pengakuan UNESCO terhadap karst Gua Leang-leang. (rhd)
http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=78003
Dataran Tinggi Dieng Kritis, Kondisi Hutan Memprihatinkan
1:10:00 PM
Saturday, 26 December 2009 08:25
Wonosobo - Objek wisata andalan Wonosobo, Dataran Tinggi Dieng, kritis. Hutan di wilayah tersebut memprihatinkan. Menyikapi hal itu, delapan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) yang tersebar di Kabupaten Wonosobo, Magelang, dan Temanggung sepakat menyelamatkan wilayah yang disebut tengah mengalami krisis hijau itu. Kesepakatan tersebut diwujudkan dengan penandatanganan MoU (memory of understanding/nota kesepahaman) di Dieng. Salah satu isi kesepakatan itu mengatur pengelolaan kawasan hutan Dataran Tinggi Dieng petak pangkuan LMDH Alam Lestari, Desa Dieng, Kejajar, Wonosobo.
Fungsi kawasan hutan tersebut akan dioptimalkan sebagai hutan lindung untuk konservasi sumber daya air, kawasan resapan konservasi lahan, dan perlindungan lainnya. Perjanjian juga menyepakati pemanfaatan Dieng sebagai kawasan wisata PLDT yang tidak mengubah fungsi hutan lindung. Luchi Mardiana, administrator KPH Kedu Utara, menjelaskan bahwa manifestasi kesepakatan itu adalah penanaman pohon carica dan pengelolaan wisata alam di RPH Dieng BKPH Wonosobo.
Kondisi Dieng sudah sangat memprihatinkan. Perlu dilakukan penyelamatan agar kawasan tersebut menjadi hutan yang lestari," ujarnya. Wakil Administrator Toni Kuspuja menambahkan, salah satu wujud kesepahaman dalam perawatan hutan sudah dilakukan. Yakni menanam pohon carica sejumlah seribu pohon. rri.co.id/dodo
http://www.rri.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5131:dataran-tinggi-dieng-kritis-kondisi-hutan-memprihatinkan-&catid=104:pwt
Wonosobo - Objek wisata andalan Wonosobo, Dataran Tinggi Dieng, kritis. Hutan di wilayah tersebut memprihatinkan. Menyikapi hal itu, delapan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) yang tersebar di Kabupaten Wonosobo, Magelang, dan Temanggung sepakat menyelamatkan wilayah yang disebut tengah mengalami krisis hijau itu. Kesepakatan tersebut diwujudkan dengan penandatanganan MoU (memory of understanding/nota kesepahaman) di Dieng. Salah satu isi kesepakatan itu mengatur pengelolaan kawasan hutan Dataran Tinggi Dieng petak pangkuan LMDH Alam Lestari, Desa Dieng, Kejajar, Wonosobo.
Fungsi kawasan hutan tersebut akan dioptimalkan sebagai hutan lindung untuk konservasi sumber daya air, kawasan resapan konservasi lahan, dan perlindungan lainnya. Perjanjian juga menyepakati pemanfaatan Dieng sebagai kawasan wisata PLDT yang tidak mengubah fungsi hutan lindung. Luchi Mardiana, administrator KPH Kedu Utara, menjelaskan bahwa manifestasi kesepakatan itu adalah penanaman pohon carica dan pengelolaan wisata alam di RPH Dieng BKPH Wonosobo.
Kondisi Dieng sudah sangat memprihatinkan. Perlu dilakukan penyelamatan agar kawasan tersebut menjadi hutan yang lestari," ujarnya. Wakil Administrator Toni Kuspuja menambahkan, salah satu wujud kesepahaman dalam perawatan hutan sudah dilakukan. Yakni menanam pohon carica sejumlah seribu pohon. rri.co.id/dodo
http://www.rri.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5131:dataran-tinggi-dieng-kritis-kondisi-hutan-memprihatinkan-&catid=104:pwt
Tak Ada Lagi Peringatan Dini
10:04:00 AM
02/10/2009 08:29:46
Alat Deteksi Gas Beracun Rusak
WONOSOBO (KR) - Alat untuk mendeteksi munculnya gas beracun yang dipasang di kawasan Kawah Sikendang kawasan Telaga Warna Dieng rusak dan tidak bisa difungsikan lagi. Padahal keberadaan alat itu sangat vital, karena mampu memberikan peringatan dini munculnya gas beracun kepada warga sekitar maupun pengunjung wisata.
Kepala Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) KPH Dieng, Pardiyono (55) kepada KR membenarkan terkait kerusakan deteksi gas beracun di Dieng. Alat yang terpasang sejak tahun 2007 itu kini tidak berfungsi lagi. Seluruh lapisan besi pada alat itu sudah karatan. Kini alat itu sudah diambil petugas pengawasan gunung berapi Dieng.
“Kemungkinan penyebab kerusakan alat tersebut lantaran pengaruh asap belerang yang merekat pada lapisan besi, sehingga besi berkarat dan akhirnya rusak. Saya sudah berkali-kali melaporkannya ke Propinsi Jateng. Tapi sampai sekarang belum ada tanggapan,” jelasnya.
Padahal, lanjut Pardiyono, fungsi dari alat deteksi gas beracun itu sangat penting dan dibutuhkan. Alat itu mampu memberikan informasi dini kepada penduduk sekitar dan wisatawan yang sedang menikmati indahnya wisata Dieng. Perlu diketahui, gas beracun Dieng pernah menewaskan puluhan penduduk pada tahun 1979 silam. Jadi kemunculan gas beracun harus tetap diwaspadai.
Menurutnya, alat deteksi gas beracun Dieng itu merupakan bantuan dari Propinsi Jateng yang diberikan semasa kepemimpinan mantan Gubernur Jateng Mardiyanto pada tahun 2007 lalu. Sayangnya, baru sekitar setahun dipasang, alat deteksi gas beracun itu sudah rusak dan tidak berfungsi.
“Kini alat digital yang memberikan informasi seputar suhu udara serta deteksi tekanan dan kandungan gas beracun yang masih terpasang di Telaga Warna juga ikut mangkrak. Tidak ada lagi deteksi dini yang memberitahukan adanya bahaya gas beracun,” ujarnya. (Art)-k
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=205889&actmenu=
Alat Deteksi Gas Beracun Rusak
WONOSOBO (KR) - Alat untuk mendeteksi munculnya gas beracun yang dipasang di kawasan Kawah Sikendang kawasan Telaga Warna Dieng rusak dan tidak bisa difungsikan lagi. Padahal keberadaan alat itu sangat vital, karena mampu memberikan peringatan dini munculnya gas beracun kepada warga sekitar maupun pengunjung wisata.
Kepala Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) KPH Dieng, Pardiyono (55) kepada KR membenarkan terkait kerusakan deteksi gas beracun di Dieng. Alat yang terpasang sejak tahun 2007 itu kini tidak berfungsi lagi. Seluruh lapisan besi pada alat itu sudah karatan. Kini alat itu sudah diambil petugas pengawasan gunung berapi Dieng.
“Kemungkinan penyebab kerusakan alat tersebut lantaran pengaruh asap belerang yang merekat pada lapisan besi, sehingga besi berkarat dan akhirnya rusak. Saya sudah berkali-kali melaporkannya ke Propinsi Jateng. Tapi sampai sekarang belum ada tanggapan,” jelasnya.
Padahal, lanjut Pardiyono, fungsi dari alat deteksi gas beracun itu sangat penting dan dibutuhkan. Alat itu mampu memberikan informasi dini kepada penduduk sekitar dan wisatawan yang sedang menikmati indahnya wisata Dieng. Perlu diketahui, gas beracun Dieng pernah menewaskan puluhan penduduk pada tahun 1979 silam. Jadi kemunculan gas beracun harus tetap diwaspadai.
Menurutnya, alat deteksi gas beracun Dieng itu merupakan bantuan dari Propinsi Jateng yang diberikan semasa kepemimpinan mantan Gubernur Jateng Mardiyanto pada tahun 2007 lalu. Sayangnya, baru sekitar setahun dipasang, alat deteksi gas beracun itu sudah rusak dan tidak berfungsi.
“Kini alat digital yang memberikan informasi seputar suhu udara serta deteksi tekanan dan kandungan gas beracun yang masih terpasang di Telaga Warna juga ikut mangkrak. Tidak ada lagi deteksi dini yang memberitahukan adanya bahaya gas beracun,” ujarnya. (Art)-k
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=205889&actmenu=
"Siswa Tak Mungkin Libur Demi Julia Roberts"
7:35:00 PM
Senin, 26 Oktober 2009, 16:20 WIB
Kru film meminta 484 murid Sekolah Dasar No 3 Ungasan diliburkan demi syuting.
Elin Yunita Kristanti
VIVAnews - Syuting Film 'Eat, Pray, and Love' yang dibintangi Julia Roberts sedang berlangsung di Pulau Bali.
Demi kepentingan syuting film, para kru meminta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Bali meliburkan 484 murid Sekolah Dasar No 3 Ungasan, yang dekat dengan lokasi syuting.
Namun, Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) I Nyoman Suardana menolak meliburkan ratusan murid hanya demi syuting Julia Roberts.
Sebagai gantinya, pihak sekolah memberikan solusi dengan menggabungkan murid SD 3 Ungasan dengan dengan siswa SD 1 Ungasan jam jumlahnya lebih kecil, sebanyak 297 orang.
"Prinsipnya sepanjang masih dalam sepanjang satu lingkungan dan semua rekomendasi tempat sudah dikantongi maka siswa akan kita gabungkan dengan sekolah yang lokasinya tidak terlalu jauh sekitar 300 meter dari SD 3 Ungasan," terang Suardana saat ditemui di kantornya, Senin, 26 Oktober 2009.
Pelaksanaan penggabungan kelas ini akan dilakukan mulai 28-30 Oktober 2009 sesuai dengan permintaan izin. Namun untuk percobaan sudah dilakukan sejak hari ini. "Kita sudah koordinasi dengan sekolah setempat dan tak ada penumpukan," tambah dia.
Waktu masuk dibagi menjadi dua yaitu pagi dan siang. Untuk pagi hari, dijadwalkan untuk anak kelas 1 dan 2 sedangkan kelas 4-6 dialihkan ke SMP 2 Kuta Selatan yang siang hari ada 8 kelas kosong.
Pihaknya juga menolak jika ada penutupan akses jalan karena hal ini sama saja akan menghambat para orang tua yang akan menjemput anaknya ke sekolah.
Laporan : Dewi Umaryati|Bali
http://showbiz.vivanews.com/news/read/100092-_siswa_tak_mungkin_libur_demi_julia_roberts_
Kru film meminta 484 murid Sekolah Dasar No 3 Ungasan diliburkan demi syuting.
Elin Yunita Kristanti
VIVAnews - Syuting Film 'Eat, Pray, and Love' yang dibintangi Julia Roberts sedang berlangsung di Pulau Bali.
Demi kepentingan syuting film, para kru meminta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Bali meliburkan 484 murid Sekolah Dasar No 3 Ungasan, yang dekat dengan lokasi syuting.
Namun, Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) I Nyoman Suardana menolak meliburkan ratusan murid hanya demi syuting Julia Roberts.
Sebagai gantinya, pihak sekolah memberikan solusi dengan menggabungkan murid SD 3 Ungasan dengan dengan siswa SD 1 Ungasan jam jumlahnya lebih kecil, sebanyak 297 orang.
"Prinsipnya sepanjang masih dalam sepanjang satu lingkungan dan semua rekomendasi tempat sudah dikantongi maka siswa akan kita gabungkan dengan sekolah yang lokasinya tidak terlalu jauh sekitar 300 meter dari SD 3 Ungasan," terang Suardana saat ditemui di kantornya, Senin, 26 Oktober 2009.
Pelaksanaan penggabungan kelas ini akan dilakukan mulai 28-30 Oktober 2009 sesuai dengan permintaan izin. Namun untuk percobaan sudah dilakukan sejak hari ini. "Kita sudah koordinasi dengan sekolah setempat dan tak ada penumpukan," tambah dia.
Waktu masuk dibagi menjadi dua yaitu pagi dan siang. Untuk pagi hari, dijadwalkan untuk anak kelas 1 dan 2 sedangkan kelas 4-6 dialihkan ke SMP 2 Kuta Selatan yang siang hari ada 8 kelas kosong.
Pihaknya juga menolak jika ada penutupan akses jalan karena hal ini sama saja akan menghambat para orang tua yang akan menjemput anaknya ke sekolah.
Laporan : Dewi Umaryati|Bali
http://showbiz.vivanews.com/news/read/100092-_siswa_tak_mungkin_libur_demi_julia_roberts_
Turis Asing Terintimidasi di Bandara Thailand
6:39:00 PM
Sabtu, 8 Agustus 2009, 11:08 WIB
Sejumlah turis asing menderita setelah dituduh mencuri barang di toko bebas cukai
Renne R.A Kawilarang
VIVAnews - Para turis dan calon penumpang asing di bandar udara internasional Suvarnabhumi (baca: suwanapum), Bangkok, untuk sementara ini patut berhati-hati. Pasalnya, mereka rentan menjadi korban pemerasan dan penipuan di bandara terbesar di Thailand itu.
Menurut kantor berita Associated Press, pemerasan sering berawal di toko-toko bebas cukai di bandara (duty-free shop). Sejumlah turis asal Eropa mengaku pernah difitnah mengutil di toko bebas cukai. Mereka lalu digelandang ke motel lusuh dan di sana diperas hingga ribuan dolar oleh calo setempat.
Sepasang turis Inggris, misalnya, mengaku harus merogoh kocek sebesar US$11.000 (sekitar Rp 109 juta) supaya bisa dibebaskan setelah dituduh mencuri sebuah dompet merk Givenchy dari suatu toko di bandara. Polisi mengaku tak menemukan barang bukti. Namun, bersama dengan otoritas bandara, polisi membantah melakukan penangkapan yang sembrono.
Setelah mendapat laporan dari warganya, kedutaan besar Inggris segera mengumumkan peringatan dan berkonsultasi dengan sejumlah kedutaan negara lain atas kasus yang dialami warganya. Seorang pejabat Inggris pun mengadukan kasus itu kepada pihak berwenang Thailand, kata juru bicara Kedubes Inggris, Daniel Painter.
Pemerintah Thailand mengaku prihatin atas kabar itu. "Pemerintah tengah melakukan segala upaya untuk memastikan keamanan para turis," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Thailand, Vimon Kidchob.
Namun, pemerintah Irlandia sudah memberi peringatan kepada warganya agar "sangat berhati-hati" saat menelusuri bandara Suvarnabhumi. "Kami menerima sejumlah laporan bahwa para pengunjung toko telah dituduh melakukan pencurian. Mereka diancam bahwa kasus mereka tidak akan diproses selama berbulan-bulan bila tidak mengaku salah atau membayar denda," demikian saran berkunjung (travel advisory) dari pemerintah Irlandia.
Pemerintah Irlandia pun meminta para warga yang berbelanja di bandara untuk tidak lupa meminta slip pembayaran agar terhindar dari "kesulitan besar." Saran itu diterbitkan setelah seorang warga Irlandia berusia 41 tahun dituduh mencuri kosmetik eyeliner merek Bobbi Brown pada 25 Juni 2009.
Warga itu adalah seorang ilmuwan yang saat itu diundang untum menghadiri simposium internasional mengenai ilmu genetika di Bangkok. Namun, kedutaan besar Irlandia tidak bersedia mengungkap lebih rinci atas kasus yang diderita warganya.
Selain Irlandia, Inggris dan Denmark juga memperingatkan warga untuk berhati-hati menyambangi toko-toko bebas cukai di Suvarnabhumi. Toko-toko itu tidak bersekat sehingga pengunjung dianjurkan tidak membawa barang-barang belanjaan yang tidak memiliki slip pembayaran atau bon ketika mengunjungi toko.
Kedubes Denmark pun Juni lalu menerima keluhan dari seorang warganya, yang dituduh mencuri sebuah barang senilai 1.500 baht (sekitar Rp 440.799) dari suatu toko di bandara. Perempuan itu lalu dibawa ke kantor polisi sebelum akhirnya dibawa ke suatu motel dan disekap selama hampir satu minggu. Dia lalu membayar seorang perantara bernama Tony senilai 250.000 baht (sekitar Rp 73,4 juta) supaya dibebaskan.
Demikian ungkap Tove Wihlbrot-Andersen, seorang Konsul Kedubes Denmark. Kasus yang menimpa sejumlah warga asing ini sudah dilaporkan ke surat kabar Thailand. Harian The Nation menerima aduan dari Mike Gilman melalui kolom surat pembaca di Chiang Mai. Dia menyayangkan bahwa skandal itu bisa menimbulkan citra buruk bagi industri pariwisata Thailand. (AP)
• VIVAnews
http://dunia.vivanews.com/news/read/81284-turis_asing_terintimidasi_di_bandara_thailand
Sejumlah turis asing menderita setelah dituduh mencuri barang di toko bebas cukai
Renne R.A Kawilarang
VIVAnews - Para turis dan calon penumpang asing di bandar udara internasional Suvarnabhumi (baca: suwanapum), Bangkok, untuk sementara ini patut berhati-hati. Pasalnya, mereka rentan menjadi korban pemerasan dan penipuan di bandara terbesar di Thailand itu.
Menurut kantor berita Associated Press, pemerasan sering berawal di toko-toko bebas cukai di bandara (duty-free shop). Sejumlah turis asal Eropa mengaku pernah difitnah mengutil di toko bebas cukai. Mereka lalu digelandang ke motel lusuh dan di sana diperas hingga ribuan dolar oleh calo setempat.
Sepasang turis Inggris, misalnya, mengaku harus merogoh kocek sebesar US$11.000 (sekitar Rp 109 juta) supaya bisa dibebaskan setelah dituduh mencuri sebuah dompet merk Givenchy dari suatu toko di bandara. Polisi mengaku tak menemukan barang bukti. Namun, bersama dengan otoritas bandara, polisi membantah melakukan penangkapan yang sembrono.
Setelah mendapat laporan dari warganya, kedutaan besar Inggris segera mengumumkan peringatan dan berkonsultasi dengan sejumlah kedutaan negara lain atas kasus yang dialami warganya. Seorang pejabat Inggris pun mengadukan kasus itu kepada pihak berwenang Thailand, kata juru bicara Kedubes Inggris, Daniel Painter.
Pemerintah Thailand mengaku prihatin atas kabar itu. "Pemerintah tengah melakukan segala upaya untuk memastikan keamanan para turis," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Thailand, Vimon Kidchob.
Namun, pemerintah Irlandia sudah memberi peringatan kepada warganya agar "sangat berhati-hati" saat menelusuri bandara Suvarnabhumi. "Kami menerima sejumlah laporan bahwa para pengunjung toko telah dituduh melakukan pencurian. Mereka diancam bahwa kasus mereka tidak akan diproses selama berbulan-bulan bila tidak mengaku salah atau membayar denda," demikian saran berkunjung (travel advisory) dari pemerintah Irlandia.
Pemerintah Irlandia pun meminta para warga yang berbelanja di bandara untuk tidak lupa meminta slip pembayaran agar terhindar dari "kesulitan besar." Saran itu diterbitkan setelah seorang warga Irlandia berusia 41 tahun dituduh mencuri kosmetik eyeliner merek Bobbi Brown pada 25 Juni 2009.
Warga itu adalah seorang ilmuwan yang saat itu diundang untum menghadiri simposium internasional mengenai ilmu genetika di Bangkok. Namun, kedutaan besar Irlandia tidak bersedia mengungkap lebih rinci atas kasus yang diderita warganya.
Selain Irlandia, Inggris dan Denmark juga memperingatkan warga untuk berhati-hati menyambangi toko-toko bebas cukai di Suvarnabhumi. Toko-toko itu tidak bersekat sehingga pengunjung dianjurkan tidak membawa barang-barang belanjaan yang tidak memiliki slip pembayaran atau bon ketika mengunjungi toko.
Kedubes Denmark pun Juni lalu menerima keluhan dari seorang warganya, yang dituduh mencuri sebuah barang senilai 1.500 baht (sekitar Rp 440.799) dari suatu toko di bandara. Perempuan itu lalu dibawa ke kantor polisi sebelum akhirnya dibawa ke suatu motel dan disekap selama hampir satu minggu. Dia lalu membayar seorang perantara bernama Tony senilai 250.000 baht (sekitar Rp 73,4 juta) supaya dibebaskan.
Demikian ungkap Tove Wihlbrot-Andersen, seorang Konsul Kedubes Denmark. Kasus yang menimpa sejumlah warga asing ini sudah dilaporkan ke surat kabar Thailand. Harian The Nation menerima aduan dari Mike Gilman melalui kolom surat pembaca di Chiang Mai. Dia menyayangkan bahwa skandal itu bisa menimbulkan citra buruk bagi industri pariwisata Thailand. (AP)
• VIVAnews
http://dunia.vivanews.com/news/read/81284-turis_asing_terintimidasi_di_bandara_thailand
Permukiman di Sekitar Benteng Rotterdam Bakal Direlokasi
9:02:00 AM
Minggu, 2 Agustus 2009 | 09:36 WITA
RENCANA relokasi permukiman penduduk dan bangunan perkantoran yang berada di sekitar Benteng oterdam telah menimbulkan pro kontra di masyarakat. Sebagian besar warga kota ini menilai rencana itu positif.
Pasalnya, jika bangunan di sekitar benteng peninggalan Kolonial Belanda itu direlokasi,maka sisi luar dari bangunan benteng berbentuk penyu itu akan terlihat lebih eksotik.
“Saya yakin, jika relokasi itu rampung, maka bangunan yang kerap disebut benteng pannyua itu pun bakal lebih menambah daya tarik orang berkunjung di benteng ini,” tutur Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin eberapa waktu lalu. Namun di sisi lain, rencana relokasi itu juga telah membuat sejumlah warga resah, khususnya mereka yang bermukim di RW 4,Kelurahan Bulogading, Kecamatan Ujung pandang, Makassar.
Pemukiman mereka ini kerap disebut kampung kodok. Ini karena dulunya area pemukiman itu adalah rawan dan banyak kodok. Di kampung ini,jumlah rumah penduduk kurang lebih 30-an unit. Umumnya adalah bangunan permanen. Bahkan ada lagi bangunan baru yang sementara dikerja.
Taslim Bustam (67), Ketua RW 4 Kampung Kodok, itu menerangkan, rencana pembebasan lahan pemukiman warganya sebenarnya bukan kali ini mereka dengar. Melainkan sudah lagu lama.
“Setahu saya, rencana itu sudah kami dengar sejak Prof Amiruddin menjabat Gubernur Sulsel. Rencana ini setahu saya juga kembali muncul setelah Duta Besar Indonesia untuk Belanda Pak Fanny Habibie bertemu dengan pejabat daerah di sini kan,” tutur Taslim yang mengaku sudah bermukim di kampung kodok itu sejak tahun 1968 lalu.
Namun menurut Taslim, ia dan sejumlah warganya mengaku heran, kenapa rencana relokasi pemukiman warga dan perkantoran di sekitar Benteng Rotterdam itu tidak pernah disosialisasikan Camat Ujungpandang maupun Lurah Bulo Gading.
Menurutnya, relokasi pemukiman warga demiBenteng Rotterdam tampak seperti diera VOC, di mana sekeliling benteng ini berupa hamparan tanah lapang, warga bisa memaklumi. Asalkan ganti rugi kepada warga itu sesuai. (mda)
Dari Gowa ke Belanda
LETAK Fort Rotterdam berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar. Benteng ini awalnya adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa Ke-9 yang bernama I Manrigau DaengBonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna.
Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke14 Sultan Alauddin, konstruksi Benteng ini diganti menjadi Batu Padas yang bersumber dari pegunungan karst yang ada Kabupaten Maros.
Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor Penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Itulah sebabnya benteng juga kerap disebut Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa.
Namun pada saat Kerajaan Gowa-Tallo menandatangani perjanjian Bungayya, di mana salah satu pasal perjanjian itu mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan Benteng ini kepada Belanda. Saat Belanda menempati Benteng ini, nama nama benteng ini pun diubah menjadi Benteng Fort Rotterdam.
Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.
saat ini di Kompleks benteng Ujung Pandang terdapat Museum La Galigo yang didalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.
Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.((sumber wikipedia/jum)
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/41827
RENCANA relokasi permukiman penduduk dan bangunan perkantoran yang berada di sekitar Benteng oterdam telah menimbulkan pro kontra di masyarakat. Sebagian besar warga kota ini menilai rencana itu positif.
Pasalnya, jika bangunan di sekitar benteng peninggalan Kolonial Belanda itu direlokasi,maka sisi luar dari bangunan benteng berbentuk penyu itu akan terlihat lebih eksotik.
“Saya yakin, jika relokasi itu rampung, maka bangunan yang kerap disebut benteng pannyua itu pun bakal lebih menambah daya tarik orang berkunjung di benteng ini,” tutur Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin eberapa waktu lalu. Namun di sisi lain, rencana relokasi itu juga telah membuat sejumlah warga resah, khususnya mereka yang bermukim di RW 4,Kelurahan Bulogading, Kecamatan Ujung pandang, Makassar.
Pemukiman mereka ini kerap disebut kampung kodok. Ini karena dulunya area pemukiman itu adalah rawan dan banyak kodok. Di kampung ini,jumlah rumah penduduk kurang lebih 30-an unit. Umumnya adalah bangunan permanen. Bahkan ada lagi bangunan baru yang sementara dikerja.
Taslim Bustam (67), Ketua RW 4 Kampung Kodok, itu menerangkan, rencana pembebasan lahan pemukiman warganya sebenarnya bukan kali ini mereka dengar. Melainkan sudah lagu lama.
“Setahu saya, rencana itu sudah kami dengar sejak Prof Amiruddin menjabat Gubernur Sulsel. Rencana ini setahu saya juga kembali muncul setelah Duta Besar Indonesia untuk Belanda Pak Fanny Habibie bertemu dengan pejabat daerah di sini kan,” tutur Taslim yang mengaku sudah bermukim di kampung kodok itu sejak tahun 1968 lalu.
Namun menurut Taslim, ia dan sejumlah warganya mengaku heran, kenapa rencana relokasi pemukiman warga dan perkantoran di sekitar Benteng Rotterdam itu tidak pernah disosialisasikan Camat Ujungpandang maupun Lurah Bulo Gading.
Menurutnya, relokasi pemukiman warga demiBenteng Rotterdam tampak seperti diera VOC, di mana sekeliling benteng ini berupa hamparan tanah lapang, warga bisa memaklumi. Asalkan ganti rugi kepada warga itu sesuai. (mda)
Dari Gowa ke Belanda
LETAK Fort Rotterdam berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar. Benteng ini awalnya adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa Ke-9 yang bernama I Manrigau DaengBonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna.
Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke14 Sultan Alauddin, konstruksi Benteng ini diganti menjadi Batu Padas yang bersumber dari pegunungan karst yang ada Kabupaten Maros.
Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor Penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Itulah sebabnya benteng juga kerap disebut Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa.
Namun pada saat Kerajaan Gowa-Tallo menandatangani perjanjian Bungayya, di mana salah satu pasal perjanjian itu mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan Benteng ini kepada Belanda. Saat Belanda menempati Benteng ini, nama nama benteng ini pun diubah menjadi Benteng Fort Rotterdam.
Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.
saat ini di Kompleks benteng Ujung Pandang terdapat Museum La Galigo yang didalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.
Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.((sumber wikipedia/jum)
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/41827
Kemiskinan Juga Bisa Menarik Seperti Kuliner
8:35:00 PM
Kamis, 30 Juli 2009 | 18:48 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pariwisata Jakarta tidak selesai dengan sejumlah bom yang sudah mengguncang ibukota tiga kali dalam enam tahun terakhir. Jakarta punya banyak atraksi "unik" bagi mata-mata asing yang belum pernah melayangkan pandangan pada kehidupan Asia, salah satunya adalah kemiskinan.
Dari gedung-gedung pencakar langit, lingkungan kumuh yang bertebaran di berbagai kawasan di ibukota tidak bisa disembunyikan, yang mungkin menarik minat beberapa wisatawan asing.
Ronny Poluan seorang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat Interkultur dan mantan pembuat film melihat keunikan itu sebagai potensi wisata sosiologi, dan respon itu pula yang muncul saat Ronny membawa empat wisatawan asal Amerika dan Australia ke kawasan itu.
"Menakjubkan, saya pernah ke Asia sebelumnya dan kami tidak ingin hanya melihat permukaan dan menemukan semua yang biasa anda lihat pada masyarakat barat," kata Kerri Bell seorang turis asal Australia yang berkunjung bersama suaminya.
"Bagi saya ini lebih memberikan kesan Jakarta yang sesungguhnya, dengan bisa melihat langsung apa yang menggerakkan kota ini. Untuk melihat hal-hal yang jauh lebih berharga daripada sekedar datang dan berjemur di pantai," lanjut Bell.
"Saya kehabisan beras," gumam seorang ibu di kawasan kumuh yang dikitari oleh para wisatawan itu.
Suami Kerri, Phil Paschke mengatakan, "ini adalah hal yang sangat membuka mata, ini pertama kalinya saya meninggalkan Australia, jadi, ya ini benar-benar berbeda."
Paschke dan Bell mengikuti wisata itu bersama rekan mereka Daniel Knott seorang aktivis pada beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat. Bagi Knott, dan istrinya yang bekerja pada AUSAID, kunjungan ke daerah kumuh di sudah pernah mereka lakukan sebelumnya.
"Saya pikir Jakarta adalah sebuah kota yang mencerminkan perbedaan mencolok," kata Knott.
Saat Ronny membawa para wisatawan ke dalam pasar tradisional suasana di pasar itu menjadi semacam serbuan bagi panca indra mereka.
"Saya senang melihat mereka, mereka elok dan kaya. Jarang saya melihat orang asing di pasar tradisional, dan saya suka berbincang-bincang dengan mereka, tapi saya tidak mengerti bahasa Inggris," kata Rokayah seorang pedagang ikan di sebuah pasar tradisional.
"Saya ingin memberi mereka pemandangan asli," kata Ronny yang menamakan jasanya itu dengan "Jakarta Hidden Tour".
Dengan tarif US$34 per orang Ronny bisa menemani turis asing berkeliling kawasan kumuh di Jakarta. Ronny memanfaatkan separuh dari penghasilan itu untuk diri dan lembaganya, separuh lagi dibagikan kepada masyarakat.
Namun aktivis lembaga swadaya masyarakat yang lain, Wardah Hafidz (Kaum Miskin Kota) mengkritik sedekah berupa uang tunai tidak mendidik kaum miskin.
"Kita harus menyadarkan mereka bahwa kemiskinan yang mereka alami bukan kehendak Tuhan, bahwa mereka harus berjuang bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak boleh bergantung pada orang lain selamanya," jelas Wardah.
Paschke mengatakan apa yang mereka lihat di Jakarta cukup bertentangan, hingga membuat mereka merasa kondisi yang mereka keluhkan di negara mereka tidak terlalu serius.
CNN | RONALD
http://www.tempointeraktif.com/hg/perjalanan/2009/07/30/brk,20090730-189937,id.html
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pariwisata Jakarta tidak selesai dengan sejumlah bom yang sudah mengguncang ibukota tiga kali dalam enam tahun terakhir. Jakarta punya banyak atraksi "unik" bagi mata-mata asing yang belum pernah melayangkan pandangan pada kehidupan Asia, salah satunya adalah kemiskinan.
Dari gedung-gedung pencakar langit, lingkungan kumuh yang bertebaran di berbagai kawasan di ibukota tidak bisa disembunyikan, yang mungkin menarik minat beberapa wisatawan asing.
Ronny Poluan seorang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat Interkultur dan mantan pembuat film melihat keunikan itu sebagai potensi wisata sosiologi, dan respon itu pula yang muncul saat Ronny membawa empat wisatawan asal Amerika dan Australia ke kawasan itu.
"Menakjubkan, saya pernah ke Asia sebelumnya dan kami tidak ingin hanya melihat permukaan dan menemukan semua yang biasa anda lihat pada masyarakat barat," kata Kerri Bell seorang turis asal Australia yang berkunjung bersama suaminya.
"Bagi saya ini lebih memberikan kesan Jakarta yang sesungguhnya, dengan bisa melihat langsung apa yang menggerakkan kota ini. Untuk melihat hal-hal yang jauh lebih berharga daripada sekedar datang dan berjemur di pantai," lanjut Bell.
"Saya kehabisan beras," gumam seorang ibu di kawasan kumuh yang dikitari oleh para wisatawan itu.
Suami Kerri, Phil Paschke mengatakan, "ini adalah hal yang sangat membuka mata, ini pertama kalinya saya meninggalkan Australia, jadi, ya ini benar-benar berbeda."
Paschke dan Bell mengikuti wisata itu bersama rekan mereka Daniel Knott seorang aktivis pada beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat. Bagi Knott, dan istrinya yang bekerja pada AUSAID, kunjungan ke daerah kumuh di sudah pernah mereka lakukan sebelumnya.
"Saya pikir Jakarta adalah sebuah kota yang mencerminkan perbedaan mencolok," kata Knott.
Saat Ronny membawa para wisatawan ke dalam pasar tradisional suasana di pasar itu menjadi semacam serbuan bagi panca indra mereka.
"Saya senang melihat mereka, mereka elok dan kaya. Jarang saya melihat orang asing di pasar tradisional, dan saya suka berbincang-bincang dengan mereka, tapi saya tidak mengerti bahasa Inggris," kata Rokayah seorang pedagang ikan di sebuah pasar tradisional.
"Saya ingin memberi mereka pemandangan asli," kata Ronny yang menamakan jasanya itu dengan "Jakarta Hidden Tour".
Dengan tarif US$34 per orang Ronny bisa menemani turis asing berkeliling kawasan kumuh di Jakarta. Ronny memanfaatkan separuh dari penghasilan itu untuk diri dan lembaganya, separuh lagi dibagikan kepada masyarakat.
Namun aktivis lembaga swadaya masyarakat yang lain, Wardah Hafidz (Kaum Miskin Kota) mengkritik sedekah berupa uang tunai tidak mendidik kaum miskin.
"Kita harus menyadarkan mereka bahwa kemiskinan yang mereka alami bukan kehendak Tuhan, bahwa mereka harus berjuang bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak boleh bergantung pada orang lain selamanya," jelas Wardah.
Paschke mengatakan apa yang mereka lihat di Jakarta cukup bertentangan, hingga membuat mereka merasa kondisi yang mereka keluhkan di negara mereka tidak terlalu serius.
CNN | RONALD
http://www.tempointeraktif.com/hg/perjalanan/2009/07/30/brk,20090730-189937,id.html
Tips Melancong Aman
5:42:00 PM
24/07/2009 11:50 | Tips
Liputan6.com, New York : Anda suka berjalan-jalan, tapi khawatir ada orang iseng yang mengikuti Anda bahkan sampai ke kamar hotel? Berikut ini ada tips dari pakar perjalanan Marybeth Bond yang dikutip Cosmopolitan. Bond akan mengungkapkan apa saja yang harus Anda lakukan sebelum check in untuk memastikan Anda tetap aman saat berjalan-jalan.
1. Mintalah kamar di atas lantai dasar, terutama jika ada pintu geser dari kaca, pintu yang memudahkan pandangan ke dalam kamar Anda. Sewaktu Anda di dalam ruangan, cek penguncian pintu dan jendela.
2. Gantung tanda "Jangan Ganggu" di pintu ketika Anda keluar, sehingga pencuri akan menyangka kamar Anda sedang dihuni.
3. Jika petugas menyebutkan nomor kamar Anda kelewat keras dan saat itu banyak tamu-tamu lain, mintalah kamar nomor lain.
4. Jika Anda sampai di hotel pada malam hari, pesanlah mobil sewaan atau petugas hotel untuk menemani Anda dari dan ke lapangan parkir.
5. Jika Anda menggunakan menu pra-order yang digantungkan pada pintu kamar sepanjang malam, jangan menuliskan nama depan Anda atau jumlah orang yang ada di dalam kamar. Ini menunjukkan pada setiap orang yang melewati kamar Anda bahwa Anda tidak sendirian.
6. Tutup tirai ketika Anda keluar dari hotel. Jika Anda menginap di motel yang murah, bawalah peniti ataupun plester sehingga tirai benar-benar tertutup rapat.
7. Jika Anda suka bertelanjang di dalam kamar hotel, tutuplah lubang pengintip di pintu dengan plester. Saat Anda ingin mengintip keluar, tinggal tarik plester tersebut.(AND)
http://gayahidup.liputan6.com/berita/200907/238154/Tips.Melancong.Aman
Liputan6.com, New York : Anda suka berjalan-jalan, tapi khawatir ada orang iseng yang mengikuti Anda bahkan sampai ke kamar hotel? Berikut ini ada tips dari pakar perjalanan Marybeth Bond yang dikutip Cosmopolitan. Bond akan mengungkapkan apa saja yang harus Anda lakukan sebelum check in untuk memastikan Anda tetap aman saat berjalan-jalan.
1. Mintalah kamar di atas lantai dasar, terutama jika ada pintu geser dari kaca, pintu yang memudahkan pandangan ke dalam kamar Anda. Sewaktu Anda di dalam ruangan, cek penguncian pintu dan jendela.
2. Gantung tanda "Jangan Ganggu" di pintu ketika Anda keluar, sehingga pencuri akan menyangka kamar Anda sedang dihuni.
3. Jika petugas menyebutkan nomor kamar Anda kelewat keras dan saat itu banyak tamu-tamu lain, mintalah kamar nomor lain.
4. Jika Anda sampai di hotel pada malam hari, pesanlah mobil sewaan atau petugas hotel untuk menemani Anda dari dan ke lapangan parkir.
5. Jika Anda menggunakan menu pra-order yang digantungkan pada pintu kamar sepanjang malam, jangan menuliskan nama depan Anda atau jumlah orang yang ada di dalam kamar. Ini menunjukkan pada setiap orang yang melewati kamar Anda bahwa Anda tidak sendirian.
6. Tutup tirai ketika Anda keluar dari hotel. Jika Anda menginap di motel yang murah, bawalah peniti ataupun plester sehingga tirai benar-benar tertutup rapat.
7. Jika Anda suka bertelanjang di dalam kamar hotel, tutuplah lubang pengintip di pintu dengan plester. Saat Anda ingin mengintip keluar, tinggal tarik plester tersebut.(AND)
http://gayahidup.liputan6.com/berita/200907/238154/Tips.Melancong.Aman
Bali Hadapi Dilema Tata Ruang
2:48:00 PM
Rabu, 15 Juli 2009 | 13:21 WIB
TEMPO Interaktif, Denpasar - Sebagai daerah pariwisata internasional, Bali mengalami dilema dalam tata ruangnya. Hal itu karena ketentuan budaya dan agama sering berbenturan dengan kepentingan investasi dan perkembangan sosial.
Menurut Gubernur Bali Made Mangku Pastika, hal itulah yang menyebabkan lambatnya penyusunan Perda mengenai Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebagai penerjemahan UU Nomor 26 Tahun 2007.
"Mestinya sudah selesai bulan April, tapi sampai kini masih digodok di DPRD," ujarnya menjawab pertanyaan anggota Komisi II DPR RI, Rabu (15/7).
Pastika mencontohkan bhisama (fatwa) Parisadaha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang melarang tinggi bangunan di atas 15 meter untuk menjaga kesucian wilayah udara. Hal itu berbenturan dengan kepentingan untuk melestarikan tanah Bali, terutama untuk wilayah pertanian.
Tanah-tanah produktif di Bali sendiri cenderung mengalami perubahan fungsi lahan karena didesak oleh pembangunan vila dan hotel.
Dia juga mencontohkan larangan untuk membangun jalan layang karena dikhawatirkan warga yang sedang melakukan upacara adat dan melintas di bawahnya akan terganggu oleh lalu lintas di jalan layang itu.
Di pihak lain, tanpa jalan layang, kemacetan di sejumlah perempatan jalan sudah semakin menjadi-jadi.
Ada juga larangan untuk membangun fasilitas komersial di pura-pura tertentu, padahal masyarakat di sekitar pura telanjur melakukan pembangunan. "Kami masih membutuhkan dialog yang cukup untuk mencari jalan keluarnya," kata Pastika.
Ketua rombongan DPR RI Sayuti Asyathri berharap masalah tata ruang itu bisa segera diselesaikan dengan melibatkan kalangan budayawan dan agamawan. Sebab, masalah itu akan menentukan perkembangan investasi serta pelestarian lingkungan Bali.
Dia menegaskan, Bali adalah aset bangsa dengan keunggulan di bidang pariwisata.
ROFIQI HASAN
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/07/15/brk,20090715-187266,id.html
TEMPO Interaktif, Denpasar - Sebagai daerah pariwisata internasional, Bali mengalami dilema dalam tata ruangnya. Hal itu karena ketentuan budaya dan agama sering berbenturan dengan kepentingan investasi dan perkembangan sosial.
Menurut Gubernur Bali Made Mangku Pastika, hal itulah yang menyebabkan lambatnya penyusunan Perda mengenai Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebagai penerjemahan UU Nomor 26 Tahun 2007.
"Mestinya sudah selesai bulan April, tapi sampai kini masih digodok di DPRD," ujarnya menjawab pertanyaan anggota Komisi II DPR RI, Rabu (15/7).
Pastika mencontohkan bhisama (fatwa) Parisadaha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang melarang tinggi bangunan di atas 15 meter untuk menjaga kesucian wilayah udara. Hal itu berbenturan dengan kepentingan untuk melestarikan tanah Bali, terutama untuk wilayah pertanian.
Tanah-tanah produktif di Bali sendiri cenderung mengalami perubahan fungsi lahan karena didesak oleh pembangunan vila dan hotel.
Dia juga mencontohkan larangan untuk membangun jalan layang karena dikhawatirkan warga yang sedang melakukan upacara adat dan melintas di bawahnya akan terganggu oleh lalu lintas di jalan layang itu.
Di pihak lain, tanpa jalan layang, kemacetan di sejumlah perempatan jalan sudah semakin menjadi-jadi.
Ada juga larangan untuk membangun fasilitas komersial di pura-pura tertentu, padahal masyarakat di sekitar pura telanjur melakukan pembangunan. "Kami masih membutuhkan dialog yang cukup untuk mencari jalan keluarnya," kata Pastika.
Ketua rombongan DPR RI Sayuti Asyathri berharap masalah tata ruang itu bisa segera diselesaikan dengan melibatkan kalangan budayawan dan agamawan. Sebab, masalah itu akan menentukan perkembangan investasi serta pelestarian lingkungan Bali.
Dia menegaskan, Bali adalah aset bangsa dengan keunggulan di bidang pariwisata.
ROFIQI HASAN
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/07/15/brk,20090715-187266,id.html
Makassar Perketat Pesawat Yang Datang
9:39:00 AM
Tuesday, 14 July 2009 11:17
MAKASSAR : Pemerintah Kota Makassar memperketat lalu lintas manusia di bandara, khususnya Warga Negara Asing dan sejumlah pesawat dari Bali, Jakarta dan Jawa Barat, mulai Senin kemarin.
Sejumlah daerah tersebut diketahui memiliki pasien yang sudah suspect flu babi. "Seluruh daerah kita waspadai, tetapi ada beberapa wilayah yang memang perlu pengawasan ketat," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Naisyah Tun Azikin.
Selain juga, pemkot menyiapkan sebanyak 15.000 tamiflu kepada 14 puskesmas di Makassar sebagai langkah awal mengantisipasi meluasnya virus flu babi.
Naisyah Tun Azikin mengatakan, pemerintah sudah menginstruksikan agar tablet pereda flu tidak kosong dan selalu ada di puskesmas. Selebihnya, setiap pasien yang terindikasi terkena gejala Flu Babi, diminta untuk langsung di rujuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. "Rumah sakit yang tentunya rujukan untuk pasien flu babi," ujar Naisyah.
Tidak hanya itu, Pemkot Makassar telah menyiapkan sejumlah program dan agenda untuk mengantisipasi penyebaran yang disebabkan virus H1N1 tersebut.
Seperti berkoordinasi dengan Pemprov Sulsel untuk memperketat lalu lintas manusia di Bandara Hasanuddin dengan mengaktifkan scanner untuk mengukur suhu tubuh manusia.
( RAHMAT / ERS )
http://www.rri-online.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2247:makassar-perketat-pelabuhan-udara&catid=91:makasar
MAKASSAR : Pemerintah Kota Makassar memperketat lalu lintas manusia di bandara, khususnya Warga Negara Asing dan sejumlah pesawat dari Bali, Jakarta dan Jawa Barat, mulai Senin kemarin.
Sejumlah daerah tersebut diketahui memiliki pasien yang sudah suspect flu babi. "Seluruh daerah kita waspadai, tetapi ada beberapa wilayah yang memang perlu pengawasan ketat," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Naisyah Tun Azikin.
Selain juga, pemkot menyiapkan sebanyak 15.000 tamiflu kepada 14 puskesmas di Makassar sebagai langkah awal mengantisipasi meluasnya virus flu babi.
Naisyah Tun Azikin mengatakan, pemerintah sudah menginstruksikan agar tablet pereda flu tidak kosong dan selalu ada di puskesmas. Selebihnya, setiap pasien yang terindikasi terkena gejala Flu Babi, diminta untuk langsung di rujuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. "Rumah sakit yang tentunya rujukan untuk pasien flu babi," ujar Naisyah.
Tidak hanya itu, Pemkot Makassar telah menyiapkan sejumlah program dan agenda untuk mengantisipasi penyebaran yang disebabkan virus H1N1 tersebut.
Seperti berkoordinasi dengan Pemprov Sulsel untuk memperketat lalu lintas manusia di Bandara Hasanuddin dengan mengaktifkan scanner untuk mengukur suhu tubuh manusia.
( RAHMAT / ERS )
http://www.rri-online.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2247:makassar-perketat-pelabuhan-udara&catid=91:makasar
Gagal Berlibur, Uang Kembali
11:52:00 PM
14/07/2009 20:00
Liputan6.com, Paris: Gagal berlibur karena cuaca buruk? Tak usah khawatir karena uang anda pasti akan kembali jika hal itu terjadi. Sebuah agen travel di Paris, Perancis, baru-baru ini meluncurkan asuransi bagi konsumennya. Agen tersebut menjamin uang konsumen kembali jika cuaca buruk datang pada saat berlibur.
Polis asuransi yang dikeluarkan kelompok Pierre et Vacances dan Franceloc ini akan mengijinkan para konsumen untuk menuntut kembali bagian dari uang perjalanan mereka jika selama empat hari terkena hujan dalam seminggu.
Aon France, perusahaan asuransi yang mendukung program tersebut, akan menggunakan foto satelit yang didapat dari biro cuaca Perancis untuk menghitung berapa banyak uang pelanggan yang harus dibayarkan. Pengembalian ini dapat bernilai sampai 400 euro (Rp5,5 juta). Konsumen akan diberitahu melalui pesan telepon atau e-mail. Mereka akan menerima cek beberapa hari setelah kembali ke rumah.
Herv Kayser, pria di balik ide ini, mengatakan kepada harian Le Figaro, 10 persen dari konsumen tertarik pada polis asuransi ini karena berharap hujan segera datang agar uang mereka kembali. Hal ini diketahui dalam uji coba tahun lalu.(Reuters/YUS)
http://gayahidup.liputan6.com/berita/200907/237043/Gagal.Berlibur.Uang.Kembali
Liputan6.com, Paris: Gagal berlibur karena cuaca buruk? Tak usah khawatir karena uang anda pasti akan kembali jika hal itu terjadi. Sebuah agen travel di Paris, Perancis, baru-baru ini meluncurkan asuransi bagi konsumennya. Agen tersebut menjamin uang konsumen kembali jika cuaca buruk datang pada saat berlibur.
Polis asuransi yang dikeluarkan kelompok Pierre et Vacances dan Franceloc ini akan mengijinkan para konsumen untuk menuntut kembali bagian dari uang perjalanan mereka jika selama empat hari terkena hujan dalam seminggu.
Aon France, perusahaan asuransi yang mendukung program tersebut, akan menggunakan foto satelit yang didapat dari biro cuaca Perancis untuk menghitung berapa banyak uang pelanggan yang harus dibayarkan. Pengembalian ini dapat bernilai sampai 400 euro (Rp5,5 juta). Konsumen akan diberitahu melalui pesan telepon atau e-mail. Mereka akan menerima cek beberapa hari setelah kembali ke rumah.
Herv Kayser, pria di balik ide ini, mengatakan kepada harian Le Figaro, 10 persen dari konsumen tertarik pada polis asuransi ini karena berharap hujan segera datang agar uang mereka kembali. Hal ini diketahui dalam uji coba tahun lalu.(Reuters/YUS)
http://gayahidup.liputan6.com/berita/200907/237043/Gagal.Berlibur.Uang.Kembali
Baru 10% SDM Pariwisata Bersertifikasi Profesi
11:22:00 AM
26.06.2009 20:25
Sanur, Sumber daya manusia (SDM) di bidang pariwisata/perhotelan di Bali saat ini baru 10% yang sudah mengantongi sertifikat kompetensi profesi. Jumlah itu sekitar 1000 orang dari total tenaga pariwisata di Bali yang mencapai sekitar 10 ribuan. Secara nasional yang sudah bersertifikasi mencapai sekitar 4000 orang.
Manajer Sertifikasi dan Standarisasi Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata Indonesia, Bali, I Gede Widjana mengakui sertifikasi profesi bidang pariwisata terlaksana secara bertahap sejak 2007. Biaya dari program sertifikasi profesi ini ditanggung dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan Badan Nasioanl
Sertifikasi Profesi.
"Tahun 2009 ini, Bali dapat jatah sekitar 200 orang, sedang secara nasional sekitar 1000 orang," ujar Widjana yang juga Director Nikki International Hotel School, di sela-sela acara Rakerda I PHRI Bali, Jumat (26/6) di Sanur.
Widjana yang mantan Direktur STP Nusa Dua ini mengakui biaya untuk sertifikasi kompetensi profesi pariwisata ini relatif mahal. Hitung-hitungannya per mata uji atau untuk penguasaan per satu item sampai Rp 300 ribu. Sedang standar item yang harus dikuasai minimal 3 item sampai 15 item.
"Kalau untuk tenaga house keeping minimal harus menguasai 3 item, " ujar Widjana. Dari 3 item tersebut masing-masing satu item untuk kompetensi umum, inti, dan khusus.
Bagi Widjana, sertifikasi kompetensi profesi ini amat penting di tengah-tengah persaingan global karena akan menjadi persyaratan untuk bisa bekerja di luar negeri terutama negara-negara maju yang menuntut profesionalisme tinggi. (sss)
http://www.beritabali.com/
Sanur, Sumber daya manusia (SDM) di bidang pariwisata/perhotelan di Bali saat ini baru 10% yang sudah mengantongi sertifikat kompetensi profesi. Jumlah itu sekitar 1000 orang dari total tenaga pariwisata di Bali yang mencapai sekitar 10 ribuan. Secara nasional yang sudah bersertifikasi mencapai sekitar 4000 orang.
Manajer Sertifikasi dan Standarisasi Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata Indonesia, Bali, I Gede Widjana mengakui sertifikasi profesi bidang pariwisata terlaksana secara bertahap sejak 2007. Biaya dari program sertifikasi profesi ini ditanggung dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dan Badan Nasioanl
Sertifikasi Profesi.
"Tahun 2009 ini, Bali dapat jatah sekitar 200 orang, sedang secara nasional sekitar 1000 orang," ujar Widjana yang juga Director Nikki International Hotel School, di sela-sela acara Rakerda I PHRI Bali, Jumat (26/6) di Sanur.
Widjana yang mantan Direktur STP Nusa Dua ini mengakui biaya untuk sertifikasi kompetensi profesi pariwisata ini relatif mahal. Hitung-hitungannya per mata uji atau untuk penguasaan per satu item sampai Rp 300 ribu. Sedang standar item yang harus dikuasai minimal 3 item sampai 15 item.
"Kalau untuk tenaga house keeping minimal harus menguasai 3 item, " ujar Widjana. Dari 3 item tersebut masing-masing satu item untuk kompetensi umum, inti, dan khusus.
Bagi Widjana, sertifikasi kompetensi profesi ini amat penting di tengah-tengah persaingan global karena akan menjadi persyaratan untuk bisa bekerja di luar negeri terutama negara-negara maju yang menuntut profesionalisme tinggi. (sss)
http://www.beritabali.com/
9:11:00 AM
Read On
0
comments
Minggu, 12 July 2009
Turis Prancis adalah wisatawan terburuk di dunia. Menurut survei terbaru perusahaan perjalanan, Expedia, turis asal Prancis dikenal pelit, kasar, dan buruk dalam berbahasa.
Seperti dikutip vivanews dari laman stasiun televisi BBC, Jumat (10/7), Expedia menanyai 4.500 hotel di berbagai negara untuk menggolongkan turis-turis ke dalam peringkat berdasarkan perilaku mereka. Untuk kali ketiga, wisatawan Jepang menduduki peringkat juara sebagai turis yang paling bersih dan rapi, sopan, diam dan tidak banyak mengeluh.
Wisatawan Prancis menebus peringkat rendah mereka dengan berada di urutan ketiga sebagai wisatawan paling elegan, bagus dalam memberikan penilaian, dan kebersihan. Namun turis Prancis paling tidak siap menerima bahasa baru.
Sedangkan turis Amerika Serikat dikenal paling top karena paling banyak menghabiskan uang dan memberikan persenan atau uang tip. Namun, mereka dianggap buruk karena tidak terlalu rapi, paling berisik, kerap mengeluh, dan buruk dalam berbusana.
Turis Inggris menduduki tempat kedua untuk keseluruhan perilaku mereka, sopan santun, sikap diam, dan sikap elegan mereka. Peringkat dua untuk berbusana adalah turis Italia. Namun di Eropa, wisatawan Inggris dianggap sebagai turis berperilaku paling buruk. Rival Prancis sebagai turis terburuk adalah wisatawan Spanyol dan Yunani, yang hampir menduduki posisi bawah untuk semua kategori.(*)
http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=2432
Turis Prancis adalah wisatawan terburuk di dunia. Menurut survei terbaru perusahaan perjalanan, Expedia, turis asal Prancis dikenal pelit, kasar, dan buruk dalam berbahasa.
Seperti dikutip vivanews dari laman stasiun televisi BBC, Jumat (10/7), Expedia menanyai 4.500 hotel di berbagai negara untuk menggolongkan turis-turis ke dalam peringkat berdasarkan perilaku mereka. Untuk kali ketiga, wisatawan Jepang menduduki peringkat juara sebagai turis yang paling bersih dan rapi, sopan, diam dan tidak banyak mengeluh.
Wisatawan Prancis menebus peringkat rendah mereka dengan berada di urutan ketiga sebagai wisatawan paling elegan, bagus dalam memberikan penilaian, dan kebersihan. Namun turis Prancis paling tidak siap menerima bahasa baru.
Sedangkan turis Amerika Serikat dikenal paling top karena paling banyak menghabiskan uang dan memberikan persenan atau uang tip. Namun, mereka dianggap buruk karena tidak terlalu rapi, paling berisik, kerap mengeluh, dan buruk dalam berbusana.
Turis Inggris menduduki tempat kedua untuk keseluruhan perilaku mereka, sopan santun, sikap diam, dan sikap elegan mereka. Peringkat dua untuk berbusana adalah turis Italia. Namun di Eropa, wisatawan Inggris dianggap sebagai turis berperilaku paling buruk. Rival Prancis sebagai turis terburuk adalah wisatawan Spanyol dan Yunani, yang hampir menduduki posisi bawah untuk semua kategori.(*)
http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=2432
Malioboro Yogya Jadi Kawasan Free Hot Spot
2:32:00 PM
Saturday, 11 July 2009 13:04
YOGYAKARTA : -"Pemerintah Kota Yogyakarta bekerja sama dengan PT Telkom memberikan fasilitas publik berupa "free hot spot" di Jalan Malioboro yang terdiri dari 12 titik dengan "band width" tiga mega byte per second (mbps). Fasilitas `free hot spot` itu sudah ada sejak awal Juli 2009, dan kami memberikan fasilitas tersebut untuk menunjang pengembangan pariwisata di Kota Yogyakarta," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti. Menurut dia, upaya untuk menunjang pengembangan kepariwisataan di Kota Yogyakarta itu diwujudkan dengan memberikan menu tentang jadwal perjalanan kereta api, pesawat terbang, alamat hotel, restoran dan beberapa toko serta indeks mata uang pada halaman muka "Malioboro Hot Zone".
Fasilitas hot spot yang akan dipasang mulai dari Jalan Mangkubumi, Jalan Malioboro hingga ke titik nol kilometer di depan kantor Pos Besar akan dikelola pihak ketiga yaitu Hanoman Duta Kreatif (HDK). Pemkot, kata Haryadi, meminta agar fasilitas publik tersebut dapat diakses dengan mudah dan mudah digunakan, serta selalu dimutakhirkan. "`Malioboro Hot Zone` sebagai tampilan muka saat pengguna menggunakan layanan itu juga akan memberikan informasi mengenai berbagai event di Yogyakarta, sehingga perlu dimutakhirkan terus menerus," katanya. Menurut dia, lingkungan Jalan Malioboro harus tetap terjaga dari segi kebersihan dan keamanannya, sehingga fasilitas "free hot spot" tersebut dapat dimanfaatkan hingga optimal oleh masyarakat.
Selain memberikan fasilitas "free hot spot" di sepanjang Jalan Mangkubumi hingga titik nol kilometer, Pemkot Yogyakarta yang bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Kandatel Yogyakarta telah memasang fasilitas "free hot spot" di beberapa lokasi lain. Lokasi itu di antaranya kompleks Taman Pintar, Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah, serta di kompleks Balai Kota Yogyakarta. Fasilitas " free hot spot" tersebut juga direncanakan akan dipasang di 14 kantor kecamatan di Kota Yogyakarta, Masjid Al Mizan Surokarsan, Masjid Gede Kauman, Masjid Jogokaryan dan Masjid Hidayah Gayam, kompleks kantor Dinas Kebudayaan dan Parisiwata di Jalan Suroto, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wirosaban, serta sepanjang Jalan Suroto, Kotabaru.
(rri.co.id/DD)
http://www.rri-online.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2202:malioboro-yogya-jadi-kawasan-free-hot-spot&catid=85:yogyakarta
YOGYAKARTA : -"Pemerintah Kota Yogyakarta bekerja sama dengan PT Telkom memberikan fasilitas publik berupa "free hot spot" di Jalan Malioboro yang terdiri dari 12 titik dengan "band width" tiga mega byte per second (mbps). Fasilitas `free hot spot` itu sudah ada sejak awal Juli 2009, dan kami memberikan fasilitas tersebut untuk menunjang pengembangan pariwisata di Kota Yogyakarta," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti. Menurut dia, upaya untuk menunjang pengembangan kepariwisataan di Kota Yogyakarta itu diwujudkan dengan memberikan menu tentang jadwal perjalanan kereta api, pesawat terbang, alamat hotel, restoran dan beberapa toko serta indeks mata uang pada halaman muka "Malioboro Hot Zone".
Fasilitas hot spot yang akan dipasang mulai dari Jalan Mangkubumi, Jalan Malioboro hingga ke titik nol kilometer di depan kantor Pos Besar akan dikelola pihak ketiga yaitu Hanoman Duta Kreatif (HDK). Pemkot, kata Haryadi, meminta agar fasilitas publik tersebut dapat diakses dengan mudah dan mudah digunakan, serta selalu dimutakhirkan. "`Malioboro Hot Zone` sebagai tampilan muka saat pengguna menggunakan layanan itu juga akan memberikan informasi mengenai berbagai event di Yogyakarta, sehingga perlu dimutakhirkan terus menerus," katanya. Menurut dia, lingkungan Jalan Malioboro harus tetap terjaga dari segi kebersihan dan keamanannya, sehingga fasilitas "free hot spot" tersebut dapat dimanfaatkan hingga optimal oleh masyarakat.
Selain memberikan fasilitas "free hot spot" di sepanjang Jalan Mangkubumi hingga titik nol kilometer, Pemkot Yogyakarta yang bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Kandatel Yogyakarta telah memasang fasilitas "free hot spot" di beberapa lokasi lain. Lokasi itu di antaranya kompleks Taman Pintar, Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah, serta di kompleks Balai Kota Yogyakarta. Fasilitas " free hot spot" tersebut juga direncanakan akan dipasang di 14 kantor kecamatan di Kota Yogyakarta, Masjid Al Mizan Surokarsan, Masjid Gede Kauman, Masjid Jogokaryan dan Masjid Hidayah Gayam, kompleks kantor Dinas Kebudayaan dan Parisiwata di Jalan Suroto, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wirosaban, serta sepanjang Jalan Suroto, Kotabaru.
(rri.co.id/DD)
http://www.rri-online.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2202:malioboro-yogya-jadi-kawasan-free-hot-spot&catid=85:yogyakarta
Demo Mantan Karyawan Hotel Macetkan Malioboro
3:19:00 PM
Kamis, 9 Juli 2009 - 13:41 wib
YOGYAKARTA - Ratusan mantan karyawan hotel yang berada di bawah naungan PT Hotel Indonesia Nature (PT HIN) yakni Hotel Ambarukmo, Hotel Indonesia, dan Hotel wisata berunjuk rasa di depan Hotel Garuda, Jalan Malioboro sehingga memacetkan jalan itu.
Mereka menuntut kejelasan mengenai pembayaran jaminan hari tua (JHT) yang selama ini disinyalir terjadi pemotongan oleh manajemen ke Jamsostek.
"Disinyalir ada pemotongan. Jadi antara yang dipotong dengan yang dibayarkan ke Jamsostek tidak sama," ujar Ketua Himpunan Mantan Karyawan Hotel Ambarukmo (Himka) I wayan Patra di sela-sela aksi, Kamis (9/7/2009).
Dia menjelaskan, karyawan telah diberhentikan manajemen sejak tahun 2004. Jumlah karyawan mencapai lebih dari 1.000-an orang baik yang berada di Jakarta maupun Yogyakarta.
Sementara itu Toni Aries, selaku kuasa hukum PT HIN mengatakan, pihaknya masih akan melakukan klarifikasi data terlebih dahulu dari beberapa tuntutan yang disampaikan. Karena data yang diajukan diperkirakan ada kesalahaan.
Selain itu, mereka harus berhati-hati mengingat PT HIN merupakan BUMN sehingga ditakutkan akan merugikan negara."Sebagian telah dijalankan dan sebagian masih diklarifikasi agar negara tidak merugi nantinya," kata Toni.
Dalam aksi ini juga melibatkan FPI yang mengaku memberikan dukungan dan solidaritas atas persoalan yang tengah melanda mantan karyawan hotel ini. Sementara itu akibat aksi unjukrasa Jalan Malioboro macet. Aparat kepolisian dari Poltabes Yogya juga masih siaga di luar maupun dalam Hotel Garuda.
(Satria Nugraha/Trijaya/ram)
http://news.okezone.com/read/2009/07/09/1/237193/demo-mantan-karyawan-hotel-macetkan-malioboro
YOGYAKARTA - Ratusan mantan karyawan hotel yang berada di bawah naungan PT Hotel Indonesia Nature (PT HIN) yakni Hotel Ambarukmo, Hotel Indonesia, dan Hotel wisata berunjuk rasa di depan Hotel Garuda, Jalan Malioboro sehingga memacetkan jalan itu.
Mereka menuntut kejelasan mengenai pembayaran jaminan hari tua (JHT) yang selama ini disinyalir terjadi pemotongan oleh manajemen ke Jamsostek.
"Disinyalir ada pemotongan. Jadi antara yang dipotong dengan yang dibayarkan ke Jamsostek tidak sama," ujar Ketua Himpunan Mantan Karyawan Hotel Ambarukmo (Himka) I wayan Patra di sela-sela aksi, Kamis (9/7/2009).
Dia menjelaskan, karyawan telah diberhentikan manajemen sejak tahun 2004. Jumlah karyawan mencapai lebih dari 1.000-an orang baik yang berada di Jakarta maupun Yogyakarta.
Sementara itu Toni Aries, selaku kuasa hukum PT HIN mengatakan, pihaknya masih akan melakukan klarifikasi data terlebih dahulu dari beberapa tuntutan yang disampaikan. Karena data yang diajukan diperkirakan ada kesalahaan.
Selain itu, mereka harus berhati-hati mengingat PT HIN merupakan BUMN sehingga ditakutkan akan merugikan negara."Sebagian telah dijalankan dan sebagian masih diklarifikasi agar negara tidak merugi nantinya," kata Toni.
Dalam aksi ini juga melibatkan FPI yang mengaku memberikan dukungan dan solidaritas atas persoalan yang tengah melanda mantan karyawan hotel ini. Sementara itu akibat aksi unjukrasa Jalan Malioboro macet. Aparat kepolisian dari Poltabes Yogya juga masih siaga di luar maupun dalam Hotel Garuda.
(Satria Nugraha/Trijaya/ram)
http://news.okezone.com/read/2009/07/09/1/237193/demo-mantan-karyawan-hotel-macetkan-malioboro
Desa Trimulyo Kembangkan Wisata Sungai
1:20:00 PM
Senin, 06 Juli 2009 11:31 WIB
YOGYAKARTA--MI: Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merintis pengembangan desa wisata yang difokuskan pada wilayah perbukitan Karangwuni dan sepanjang Sungai Opak yang membelah desa tersebut.
"Sebagai modal awal mewujudkan desa wisata ini, pemerintah kabupaten (Pemkab) Bantul memberikan bantuan dua unit perahu seharga Rp77 juta untuk pengembangan wisata sungai di wilayah itu," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bantul, Suyoto di Bantul.
Suyoto mengharapkan agar bantuan itu menjadikan warga Desa Trimulyo bisa secara mandiri mengembangkan desa wisata yang sudah dirintis sejak beberapa tahun yang lalu. Dengan potensi alam yang selama ini kurang dimaksimalkan padahal letaknya strategis, diyakini perahu wisata diminati pengunjung.
Persaingan untuk mengembangkan desa wisata di Kabupaten Bantul akan semakin ketat karena sudah banyak desa yang juga mengembangkan kawasan wisata. "Karena itu, dibutuhkan inovasi dan semangat dari aparat berserta masyarakat desa untuk menjaga maupun memaksimalkan potensi alam yang sudah ada," katanya.
Sementara itu, Joko Kuntoro, ketua pelaksana wisata perahu Sungai Opak mengatakan, pihaknya sudah sejak lama mengamati besarnya potensi yang ada di desa tersebut.
"Kami sudah melakukan penelitian lapangan dengan kapal dayung dan memprediksi kedalaman sungai rata-rata lebih dua meter, sehingga wisata perahu di sungai itu dapat dikembangkan," katanya.
Ia mengatakan dengan total jarak yang ditempuh sepanjang dua kilometer, wisatawan akan dapat menikmati kehidupan sehari-hari melewati bantaran Sungai Opak di balik rimbunnya pohon bambu yang tumbuh di tepi sungai.
"Dua unit perahu yang dioperasikan sebagai rintisan kawasan wisata yang sudah direncanakan di area seluas 1,9 hektare di sebelah utara. Selain itu, di kawasan itu akan dikembangkan dunia permainan anak-anak dan sekarang ini kami sedang menunggu invenstor untuk pengembangannya," katanya.
Sementara itu, Mujiono, Lurah Trimulyo mengatakan untuk menghilangkan kesan kotor di sepanjang pinggir bantaran sungai, pihaknya akan meminta warga yang hidup di sana setiap minggunya bergotong royong membersihkan sampah yang ada.
"Kami juga sudah membentuk kelompok sadar wisata di setiap dusun, jadi warga diajak turut serta untuk menjaga bersama karena pasti akan meningkatkan perekonomian mereka,"katanya.
Namun, tambahnya, dua kapal itu tidak beroperasi setiap hari melainkan hanya di hari libur saja. Pengoperasian setiap hari akan dilaksanakan ketika kawasan wisata yang direncanakan telah terwujud. (Ant/OL-02)
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/83822/55/9/Desa-Trimulyo-Kembangkan-Wisata-Sungai
YOGYAKARTA--MI: Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merintis pengembangan desa wisata yang difokuskan pada wilayah perbukitan Karangwuni dan sepanjang Sungai Opak yang membelah desa tersebut.
"Sebagai modal awal mewujudkan desa wisata ini, pemerintah kabupaten (Pemkab) Bantul memberikan bantuan dua unit perahu seharga Rp77 juta untuk pengembangan wisata sungai di wilayah itu," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bantul, Suyoto di Bantul.
Suyoto mengharapkan agar bantuan itu menjadikan warga Desa Trimulyo bisa secara mandiri mengembangkan desa wisata yang sudah dirintis sejak beberapa tahun yang lalu. Dengan potensi alam yang selama ini kurang dimaksimalkan padahal letaknya strategis, diyakini perahu wisata diminati pengunjung.
Persaingan untuk mengembangkan desa wisata di Kabupaten Bantul akan semakin ketat karena sudah banyak desa yang juga mengembangkan kawasan wisata. "Karena itu, dibutuhkan inovasi dan semangat dari aparat berserta masyarakat desa untuk menjaga maupun memaksimalkan potensi alam yang sudah ada," katanya.
Sementara itu, Joko Kuntoro, ketua pelaksana wisata perahu Sungai Opak mengatakan, pihaknya sudah sejak lama mengamati besarnya potensi yang ada di desa tersebut.
"Kami sudah melakukan penelitian lapangan dengan kapal dayung dan memprediksi kedalaman sungai rata-rata lebih dua meter, sehingga wisata perahu di sungai itu dapat dikembangkan," katanya.
Ia mengatakan dengan total jarak yang ditempuh sepanjang dua kilometer, wisatawan akan dapat menikmati kehidupan sehari-hari melewati bantaran Sungai Opak di balik rimbunnya pohon bambu yang tumbuh di tepi sungai.
"Dua unit perahu yang dioperasikan sebagai rintisan kawasan wisata yang sudah direncanakan di area seluas 1,9 hektare di sebelah utara. Selain itu, di kawasan itu akan dikembangkan dunia permainan anak-anak dan sekarang ini kami sedang menunggu invenstor untuk pengembangannya," katanya.
Sementara itu, Mujiono, Lurah Trimulyo mengatakan untuk menghilangkan kesan kotor di sepanjang pinggir bantaran sungai, pihaknya akan meminta warga yang hidup di sana setiap minggunya bergotong royong membersihkan sampah yang ada.
"Kami juga sudah membentuk kelompok sadar wisata di setiap dusun, jadi warga diajak turut serta untuk menjaga bersama karena pasti akan meningkatkan perekonomian mereka,"katanya.
Namun, tambahnya, dua kapal itu tidak beroperasi setiap hari melainkan hanya di hari libur saja. Pengoperasian setiap hari akan dilaksanakan ketika kawasan wisata yang direncanakan telah terwujud. (Ant/OL-02)
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/83822/55/9/Desa-Trimulyo-Kembangkan-Wisata-Sungai
Tinggal Duduk Manis
10:34:00 AM
Minggu, 28 Juni 2009 | 03:31 WIB
Zaman dulu, piknik sekolah lazimnya dirancang dan diselenggarakan pihak sekolah, biasanya para guru atau pengurus OSIS. Sekarang, semua urusan teknis piknik diserahkan ke biro wisata.
”Semua kami yang mengatur. Mulai dari cari bus, menyediakan makan, mengurus tiket, sampai urusan tetek bengek seperti membayar parkir,” kata Mustika Ningsih (44), staf pemandu dari Lensa Wisata, biro wisata di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah.
Berapa biaya yang dikeluarkan setiap siswa untuk mengikuti piknik ke Jakarta?
Di SMPN 3 Kebasen, Banyumas, siswa dikenai biaya Rp 325.000. Biaya yang terhitung cukup besar untuk ukuran masyarakat menengah ke bawah tersebut dicicil dalam bentuk tabungan siswa. ”Setiap siswa menabung dua tahun sejak mereka kelas satu agar bisa ikut tur. Sebulan ada yang bayar Rp 5.000, ada yang Rp 1.000,” tutur Sutarno, guru SMPN 3 Kebasen yang mendampingi muridnya melancong di Jakarta, Rabu (23/6).
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 285.000 dibayarkan ke pihak Lensa Wisata sebagai pengatur tur mereka saat ini. Biaya sebesar itu sudah termasuk biaya sewa bus dan pengemudinya, bahan bakar, makan tiga kali (dua kali nasi kotak dan sekali prasmanan), karcis masuk ke lokasi wisata, biaya tol, parkir, hingga biaya tak terduga, termasuk kalau-kalau dipalak preman. Bandingkan dengan biaya paket wisata ke luar negeri yang ditawarkan biro-biro wisata di Jakarta, rata-rata di atas 1.000 dollar AS per orang.
”Keuntungan kami paling cuma Rp 10.000 per anak. Itu saja masih ada agen yang berani memberi harga lebih murah dari kami,” ujar Mustika.
Paket
Sementara Warko Susanto dari biro wisata Zalfa Tour di Majenang, Jawa Tengah, mengaku pihaknya mengenakan tarif Rp 360.000 per orang untuk paket piknik dua hari satu malam di Jakarta.
”Sebenarnya kami juga menawarkan paket perjalanan ke Yogyakarta dan Bandung, tetapi anak-anak biasanya memilih ke Jakarta karena ingin ke Ancol,” tutur Warko saat mengiringi rombongan SMPN I Wanareja, Cilacap, di Ancol, Jakarta Utara, Kamis (25/6).
Persaingan antarbiro wisata sangat ketat. Di Banyumas saja, kata Mustika, terdapat sedikitnya 35 biro wisata dengan target pasar anak-anak sekolah dan karyawan instansi pemerintah. Meski begitu, pasarnya masih gemuk. Bulan ini saja, agen tempat Mustika bekerja sudah mengantarkan 10 rombongan piknik ke Jakarta.
Untuk mendapatkan harga yang kompetitif, biro-biro wisata tersebut menjalin kerja sama dengan pihak tujuan wisata, seperti pengelola Ancol. Sebaliknya, pihak pengelola obyek wisata juga menyediakan paket-paket khusus.
Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Sofia Cakti mengatakan, selama musim liburan, pihaknya menyediakan paket wisata khusus di Dunia Fantasi, dengan fasilitas jam buka lebih panjang dan pertunjukan Spiderman dari Australia. Tiketnya Rp 140.000 per orang untuk pengunjung biasa dan Rp 126.025 per orang untuk rombongan pelajar. (BSW/IND/DHF)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/28/03311189/tinggal.duduk.manis
Zaman dulu, piknik sekolah lazimnya dirancang dan diselenggarakan pihak sekolah, biasanya para guru atau pengurus OSIS. Sekarang, semua urusan teknis piknik diserahkan ke biro wisata.
”Semua kami yang mengatur. Mulai dari cari bus, menyediakan makan, mengurus tiket, sampai urusan tetek bengek seperti membayar parkir,” kata Mustika Ningsih (44), staf pemandu dari Lensa Wisata, biro wisata di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah.
Berapa biaya yang dikeluarkan setiap siswa untuk mengikuti piknik ke Jakarta?
Di SMPN 3 Kebasen, Banyumas, siswa dikenai biaya Rp 325.000. Biaya yang terhitung cukup besar untuk ukuran masyarakat menengah ke bawah tersebut dicicil dalam bentuk tabungan siswa. ”Setiap siswa menabung dua tahun sejak mereka kelas satu agar bisa ikut tur. Sebulan ada yang bayar Rp 5.000, ada yang Rp 1.000,” tutur Sutarno, guru SMPN 3 Kebasen yang mendampingi muridnya melancong di Jakarta, Rabu (23/6).
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 285.000 dibayarkan ke pihak Lensa Wisata sebagai pengatur tur mereka saat ini. Biaya sebesar itu sudah termasuk biaya sewa bus dan pengemudinya, bahan bakar, makan tiga kali (dua kali nasi kotak dan sekali prasmanan), karcis masuk ke lokasi wisata, biaya tol, parkir, hingga biaya tak terduga, termasuk kalau-kalau dipalak preman. Bandingkan dengan biaya paket wisata ke luar negeri yang ditawarkan biro-biro wisata di Jakarta, rata-rata di atas 1.000 dollar AS per orang.
”Keuntungan kami paling cuma Rp 10.000 per anak. Itu saja masih ada agen yang berani memberi harga lebih murah dari kami,” ujar Mustika.
Paket
Sementara Warko Susanto dari biro wisata Zalfa Tour di Majenang, Jawa Tengah, mengaku pihaknya mengenakan tarif Rp 360.000 per orang untuk paket piknik dua hari satu malam di Jakarta.
”Sebenarnya kami juga menawarkan paket perjalanan ke Yogyakarta dan Bandung, tetapi anak-anak biasanya memilih ke Jakarta karena ingin ke Ancol,” tutur Warko saat mengiringi rombongan SMPN I Wanareja, Cilacap, di Ancol, Jakarta Utara, Kamis (25/6).
Persaingan antarbiro wisata sangat ketat. Di Banyumas saja, kata Mustika, terdapat sedikitnya 35 biro wisata dengan target pasar anak-anak sekolah dan karyawan instansi pemerintah. Meski begitu, pasarnya masih gemuk. Bulan ini saja, agen tempat Mustika bekerja sudah mengantarkan 10 rombongan piknik ke Jakarta.
Untuk mendapatkan harga yang kompetitif, biro-biro wisata tersebut menjalin kerja sama dengan pihak tujuan wisata, seperti pengelola Ancol. Sebaliknya, pihak pengelola obyek wisata juga menyediakan paket-paket khusus.
Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Sofia Cakti mengatakan, selama musim liburan, pihaknya menyediakan paket wisata khusus di Dunia Fantasi, dengan fasilitas jam buka lebih panjang dan pertunjukan Spiderman dari Australia. Tiketnya Rp 140.000 per orang untuk pengunjung biasa dan Rp 126.025 per orang untuk rombongan pelajar. (BSW/IND/DHF)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/28/03311189/tinggal.duduk.manis
