Minggu, 2 Agustus 2009 | 09:36 WITA
RENCANA relokasi permukiman penduduk dan bangunan perkantoran yang berada di sekitar Benteng oterdam telah menimbulkan pro kontra di masyarakat. Sebagian besar warga kota ini menilai rencana itu positif.
Pasalnya, jika bangunan di sekitar benteng peninggalan Kolonial Belanda itu direlokasi,maka sisi luar dari bangunan benteng berbentuk penyu itu akan terlihat lebih eksotik.
“Saya yakin, jika relokasi itu rampung, maka bangunan yang kerap disebut benteng pannyua itu pun bakal lebih menambah daya tarik orang berkunjung di benteng ini,” tutur Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin eberapa waktu lalu. Namun di sisi lain, rencana relokasi itu juga telah membuat sejumlah warga resah, khususnya mereka yang bermukim di RW 4,Kelurahan Bulogading, Kecamatan Ujung pandang, Makassar.
Pemukiman mereka ini kerap disebut kampung kodok. Ini karena dulunya area pemukiman itu adalah rawan dan banyak kodok. Di kampung ini,jumlah rumah penduduk kurang lebih 30-an unit. Umumnya adalah bangunan permanen. Bahkan ada lagi bangunan baru yang sementara dikerja.
Taslim Bustam (67), Ketua RW 4 Kampung Kodok, itu menerangkan, rencana pembebasan lahan pemukiman warganya sebenarnya bukan kali ini mereka dengar. Melainkan sudah lagu lama.
“Setahu saya, rencana itu sudah kami dengar sejak Prof Amiruddin menjabat Gubernur Sulsel. Rencana ini setahu saya juga kembali muncul setelah Duta Besar Indonesia untuk Belanda Pak Fanny Habibie bertemu dengan pejabat daerah di sini kan,” tutur Taslim yang mengaku sudah bermukim di kampung kodok itu sejak tahun 1968 lalu.
Namun menurut Taslim, ia dan sejumlah warganya mengaku heran, kenapa rencana relokasi pemukiman warga dan perkantoran di sekitar Benteng Rotterdam itu tidak pernah disosialisasikan Camat Ujungpandang maupun Lurah Bulo Gading.
Menurutnya, relokasi pemukiman warga demiBenteng Rotterdam tampak seperti diera VOC, di mana sekeliling benteng ini berupa hamparan tanah lapang, warga bisa memaklumi. Asalkan ganti rugi kepada warga itu sesuai. (mda)
Dari Gowa ke Belanda
LETAK Fort Rotterdam berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar. Benteng ini awalnya adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa Ke-9 yang bernama I Manrigau DaengBonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna.
Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke14 Sultan Alauddin, konstruksi Benteng ini diganti menjadi Batu Padas yang bersumber dari pegunungan karst yang ada Kabupaten Maros.
Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor Penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Itulah sebabnya benteng juga kerap disebut Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa.
Namun pada saat Kerajaan Gowa-Tallo menandatangani perjanjian Bungayya, di mana salah satu pasal perjanjian itu mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan Benteng ini kepada Belanda. Saat Belanda menempati Benteng ini, nama nama benteng ini pun diubah menjadi Benteng Fort Rotterdam.
Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.
saat ini di Kompleks benteng Ujung Pandang terdapat Museum La Galigo yang didalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.
Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.((sumber wikipedia/jum)
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/41827

Post a Comment