Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke
Showing posts with label Sustainable Development. Show all posts

LIPI Luncurkan Beyonic Untuk Pupuk Organik

10:15:00 AM
Sabtu, 30 Januari 2010 13:21 WIB

Bogor, (ANTARA News) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meluncurkan teknologi Beyonic yang merupakan teknologi berbasis mikroba untuk pembuatan pupuk organik.

Peluncuran teknologi tersebut dilakukan oleh Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata dengan disaksikan Kepala LIPI, Prof Umar Anggara Jenie di Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof Dr Endang Sukara dalam pemaparan mengenai Beyonic mengatakan teknologi ini merupakan salah satu solusi atas masalah menurunnya kualitas lahan akibat penggunaan pupuk sintetis secara berlebihan.

"Pemanfaatan mikroba yang merupakan salah satu kekayaan hayati kita menjadi alternatif yang harus terus dikembangkan menjadi suatu produk untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengurangi pemakaian pupuk buatan," kata Endang.

Ia mengatakan, Pemerintah pada tahun 2010 telah menganggarkan dana subsidi Rp11,86 triliun untuk memproduksi 11,76 juta ton pupuk organik.

Namun subsidi tersebut hanya dimanfaatkan oleh produsen besar sehingga petani masih tetap tidak mandiri terkait penyediaan pupuk organik tersebut.

"LIPI ingin agar petani bisa mengolah sendiri pupuk organik dengan teknologi ini sehingga mereka menjadi mandiri," kata Endang.

Ia juga menjamin bahwa mikroba yang digunakan aman dan terjaga kemurniannya.

"Mikroba yang digunakan adalah mikroba lokal yang dijamin keamanan serta kemurniannya dan dipelihara oleh Biotechnology Culture Collection yang telah terdaftar di WFCC (World Federation for Culture Collection)," katanya.

Sekarang ini, lanjut dia, banyak mikroba yang didatangkan dari luar negeri yang belum tentu handal. "Bahkan jangan-jangan malah merusak lingkungan kita," katanya.

Saat ini beberapa seri produk pupuk organik yang telah dipasarkan diantaranya adalah BioPoska, Kompenit, Biomat, Biorhizin, Kedelai Plus, BioVam dan Katalek.

Seri lain yang akan segera menyusul adalah pupuk organik untuk tambak, kawasan tambang yang tercemar limbah logam berat, kawasan tercemar minyak, serta energi alternatif, kata Endang.

Sementara itu, Menristek Suharna Surapranata mengatakan, hasil inovasi teknologi hendaknya bisa langsung dimanfaatkan oleh departemen teknis sehingga Indonesia tidak lagi tergantung pada industri asing.

"Hasil penelitian yang sangat bermanfaat kalau tidak bisa diintermediasikan dan disinegikan dengan departemen teknis akan mubazir," katanya.

Padahal, lanjut Suharna, pembangunan di Indonesia sangat membutuhkan produk-produk teknologi.

Ia mengakui bahwa beberapa departemen teknis belum paham bahwa hasil-hasil riset teknologi dalam negeri telah mampu memenuhi kebutuhan nasional.

"Oleh karena itu penting bagi kita untuk saling memberi informasi tentang apa yang dibutuhkan oleh Pemerintah dalam pembangunan," katanya.(*)

http://www.antaranews.com/berita/1264832504/lipi-luncurkan-beyonic-untuk-pupuk-organik
Read On 0 comments

Masa Depan Lingkungan Terancam Memburuk

11:26:00 AM
2010-01-26

Evaluasi 100 Hari KLH

[JAKARTA] Masa depan lingkungan hidup di Indonesia terancam semakin memburuk, karena bakal bertambah banyaknya industri pertambangan yang akan menanamkan investasinya menyusul berlakunya perjanjian perdagangan bebas ASEAN dan Tiongkok (AC-FTA) awal tahun ini. Kondisi ini lebih diperburuk dengan lemahnya penegakan hukum dan minimnya keberpihakan pemerintah di bidang lingkungan hidup dan lebih mementingkan kepentingan ekonomi atau penanaman modal asing.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Berry Nahdian Forqan, bersama puluhan LSM lainnya yang bergabung dalam Front Oposisi Rakyat Indonesia (FOR-Indonesia), menyikapi program 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Jakarta, Senin (25/1). Berry mengatakan, liberalisasi perdagangan ASEAN-Tiongkok akan membawa dampak lingkungan yang sangat besar, karena diikuti oleh masuknya investasi si bidang pertambangan yang kemudian meningkatkan pengerukan sumber daya alam.

Menurut dia, saat ini Indonesia tidak memiliki sistem proteksi sumber daya alam sehingga dikhawatirkan kehancuran lingkungan yang sudah di depan mata tinggal menunggu saatnya terjadi bagaikan bom waktu. Dia mencontohkan, kehancuran lingkungan akibat pertambangan bisa terlihat di hampir semua kawasan pertambangan di semua daerah, baik industri yang berskala kecil, menengah, maupun raksasa.


Berorientasi Pasar

Aktivis lingkungan asal Kalimantan Selatan ini mengungkapkan, menyusul perjanjian perdagangan bebas ini, ke depan eksploitasi batu bara akan terus meningkat khususnya pengiriman ke Tiongkok.

Tahun 2003, katanya, ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok yang tercatat hanya 344.000 metriks ton, namun tahun 2009 sudah mencapai angka 13,84 juta metriks ton.

"Dengan sistem neoliberal yang seperti saat ini dan tanpa adanya proteksi lingkungan yang kuat, lingkungan hidup Indonesia yang berujung pada pemiskinan rakyat," ujarnya.

Sementara itu, FOR-Indonesia dalam pernyataan sikapnya mengkritisi kebijakan pemerintah pimpinan SBY yang selama 5 tahun 99 hari ini, mengeluarkan peraturan yang lebih berorientasi pasar seperti UU 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Pertemuan National Summit, menurut FOR-Indonesia yang menegaskan pentingnya pengadaan tanah untuk pembangunan infrastruktur dan investasi pada industri hanya akan menambah beban perusakan lingkungan, eksploitasi sumberdaya alam, penggusuran masyarakat dari sumber kehidupannya.

Lebih lanjut, pengerukan sumber daya alam akan menyebabkan bencana ekologis yang sangat mustahil untuk dihentikan. FOR-Indonesia juga menyampaikan solusi agar Indonesia terhindarkan dari ancaman bencana yang semakin besar seperti dengan mewujudkan keadilan ekologis, yakni hak untuk mendapatkan keadilan antargenerasi yang memperhatikan prinsip keadilan gender. [E-7]

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=13304
Read On 0 comments

Greenpeace Puji Acer Semakin 'Hijau'

10:10:00 AM
Rabu, 20 Januari 2010 - 07:17 wib

AMSTERDAM - Organisasi pengawas lingkungan hidup Greenpeace menilai vendor komputer asal Taiwan Acer semakin hijau. Dua produk notebook terbaru Acer, dinilai telah memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai produk ramah lingkungan.

Notebook Acer Aspire 3811TZ dan Aspire 3811TZG dirancang agar efisien dalam penggunaan energi, dan komponen pembentuknya dapat di daur ulang dan mudah terurai bakteri. Juru bicara Acer menyebutkan kedua notebook yang baru mereka rilis merupakan bagian dari komitmen Acer umtuk menciptakan produk ramah lingkungan. Greenpeace telah mengakui bahwa kedua produk seri Aspire tersebut bebas dari kandungan PVC (polyvinyl chloride) dan BFR (brominated flame retardants).

PVC merupakan bahan murah dan tahan lama namun ditentang keras oleh para aktivis lingkungan hidup termasuk Greenpeace. Pasalnya, bahan ini berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan karena tidak dapat terurai, selain itu PVC mengeluarkan racun yang membahayakan lingkungan sekitarnya.

Sementara BFR merupakan bahan kimia yang ditambahkan kedalam plastik agar lebih tahan api. Namun akibatnya, bahan ini akan menggerogoti lingkungan. Pengecualian bagi kabel power, semua komponen kedua Aspire terbaru diklaim bebas dari dua jenis racun tersebut.

"Karakteristik bahan kimia PVC dan BFR adalah meningkatkan jumlah bahan racun seperti dioxin dan furan pada produk tahan lama. Oleh karenanya, pengurangan bahan PVC dan BFR pada produk Acer akan membantu melindungi lingkungan kita dari keracunan barang elektronik," kata juru bicara Acer seperti dikutip dari CNet, Rabu (20/1/2010).

Sebelumnya, pada Juli 2009 Greenpeace pernah memuji Acer, Toshiba dan Apple karena keramahan produk mereka terhadap lingkungan. Apple terutama disanjung karena menjadi yang pertama dalam memperkenalkan perangkat komputer bebas PVC dan BFR.

Sebaliknya, vendor komputer lainnya Hewlett-Packard, Dell dan Lenovo dikritik mengenai komitmen mereka dalam menciptakan komputer ramah lingkungan. (rah)

http://techno.okezone.com/read/2010/01/19/57/295699/greenpeace-puji-acer-semakin-hijau
Read On 0 comments

Negara Kaya: Kesepakatan CO2 tak Pukul Perekonomian

9:30:00 AM
Rabu, 20 Januari 2010, 06:42 WIB

ABU DHABI--Negara maju harus meyakinkan negara-negara berkembang bahwa kesepakatan emisi gas rumah kaca tidak merugikan perekonomian mereka sebelum perundingan iklim global memperoleh kemajuan, kata pemerintah Inggris, Selasa. Putaran perundingan iklim PBB selanjutnya di Meksiko akhir tahun ini bertujuan untuk memastikan penyebab gagalnya perunding mencapai kesepakatan di Kopenhagen Desember lalu.

Perundingan itu sendiri dimaksudkan untuk mencapai perjanjian baru yang akan mengganti Protokol Kyoto guna membatasi pemanasan global dari 2013. Salah satu alasan kegagalan Kopenhagen, menurut kalangan analis, adalah kecurigaan beberapa negara berkembang khususnya terhadap China sebagai salah satu penghasil emisi karbon utama dunia bahwa mereka diharapkan mau segera menerima pemotongan emisi yang mengikat.

"Kami punya tugas untuk meyakinkan negara berkembang bahwa mereka tidak akan melihat pertumbuhan dan perkembangan mereka dibatasi jika menjadi bagian dari kerangka hukum," kata Menteri Energi dan Perubahan Iklim Inggris,Ed Milliband.

Tetapi para pejabat dan eksekutif di sebuah konferensi energi terbarukan di Abu Dhabi mengatakan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan jika perundingan Meksiko diharapkan tidak mengulangi kegagalan perundingan Kopenhagen.

Pemerintah perlu bergerak keluar dari saling tuduh setelah Kopenhagen, kata Rajendra Pachauri, kepala Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (IPCC). "Meksiko dapat menghasilkan kesepakatan yang mengikat, tetapi ada berbagai faktor kritis yang memerlukan upaya luar biasa," katanya.

"Kita memerlukan kepemimpinan dari beberapa negara di dunia. Seharusnya tidak ada pertengkaran setelah perasaan cemas usai konferensi Kopenhagen." Sebanyak 194 negara di pertemuan puncak itu "mencatat" hasil akhir, sebuah persetujuan singkat Kopenhagen yang menetapkan target secara samar dan tidak mengikat.

Sebagian besar negara maju dan berkembang harus bertanggung jawab dalam membatasi pemanasan global daripada berharap mereka memperoleh pengecualian dari kesepakatan yang dihasilkan, kata Lord Browne, ketua Accenture Group dan mantan kepala eksekutif utama minyak BP. "Saya pikir penting bagi sebagian besar perekonomian untuk mengakui bahwa tidak ada seorang pun dapat memperoleh tumpangan gratis," katanya.

Kawasan Teluk memiliki beberapa negara penghasil emisi gas rumah kaca per kapita terbesar di dunia, dengan anggota OPEC dan eksporter gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, Qatar ada di daftar atas.

Wakil perdana menteri yang juga menteri minyak Qatar mengatakan saling tuduh atas peran produsen energi sebagai penghasil emisi perlu dilunakkan. "Mengapa Kopenhagen gagal?" tanya Menteri Perminyakan Qatar, Abdullah bin Hamad Al-Attiyah, pada sebuah sidang di konferensi itu. "Karena ketika Anda pergi ke Kopenhagen, anda merasa bahwa seseorang sedang mencoba untuk menciptakan kambing hitam. Anda mencoba untuk menyalahkan produsen minyak dan gas."

Namun, Attiyah sendiri menunjukkan betapa dalam perbedaan atas bahasa yang keberatan terhadap istilah "energi alternatif", yang dikatakannya secara tersirat pada akhirnya mengganti produksi minyak dan gas. "Ketika Anda memiliki sesuatu untuk dilindungi, beberapa negara menentang penggunaan minyak sampai mereka menemukannya," katanya.

Red: krisman
Sumber Berita: ant/rtr

http://www.republika.co.id/berita/101649/negara_kaya_kesepakatan_co2_tak_pukul_perekonomian
Read On 0 comments

JK: PLTA Poso Bisa Atasi Krisis Listrik Sulawesi

9:19:00 AM
Rabu, 20 Januari 2010

Sutet ke Palu Mulai Dibangun

POSO- Krisis listrik yang terjadi di Palu dan sekitarnya akan teratasi. Ini setelah PT Poso Energi, pengelola PLTA Sulewana bersedia menyuplai tenaga listriknya ke Palu.

Projeck Manager PT Poso Energi, Ahmad Kalla mengatakan, kontrak pembelian listrik antara pihak PT Poso Energi dengan PLN ke arah Palu sudah ada. “Sebagai tahapan realisasi suplai listrik ke Palu, PT Poso Energi tengah membangun tiang jaringan sutet (saluran udara tegangan ekstra tinggi) arah Palu-Sulewana,” katanya kepada wartawan di sela-sela kunjungan mantan Wapres Jusuf Kalla di Poso, kemarin(19/1)

Kemarin, Jusuf Kalla tiba di bandara udara Kasiguncu, Poso, pukul 08.20 Wita, Jusuf Kalla yang didampingi sang adik Ahmad Kalla, serta sejumlah kolega, di antaranya Sofyan Wanandi, dan Letjen (pur) Soemarsono. Mereka langsung disambut Bupati Poso Piet Inkiriwang bersama Muspida dan pejabat teras Pemkab Poso lainnya.

Dari Bandara Kasiguncu, rombongan Kalla kemudian menuju rumah jabatan Bupati Poso. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju lokasi proyek PLTA Poso di Desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara. Kedatangan Kalla untuk pertama kalinya di Poso pasca tidak lagi menjabat Wapres RI itu, memang ditujukan khusus ke Sulewana untuk melihat perkembangan mega proyek PLTA Poso.

Tiba di lokasi proyek sekitar pukul 10.00 Wita, Kalla langsung mengikuti pemaparan perkembangan salah satu pekerjaan proyek listrik terbesar di wilayah Sulawesi tersebut. Dilaporkan pihak pelaksana proyek (PT Poso Energi) kepada Kalla, bahwa hasil pekerjaan konstruksi fisik proyek sudah mencapai 35 persen. Ditargetkan mechanical complete unit 1 dan 2 akan selesai Oktober 2010. Sementara target mechanical complete unit 3 akan selesai Februari 2011.

Untuk menukangi proyek besar ini, PT Poso Energi melibatkan 1.032 orang tenaga kerja. Rinciannya 630 tenaga kerja berasal dari PT Poso Energi sendiri, dan 400 orang sub kontraktor.

Kepada wartawan, Jusuf Kalla mengatakan, faktor alam, yakni labilnya kondisi tanah di beberapa titik lokasi proyek, menjadi kendala utama proses pengerjaan proyek listrik yang dikerja salah satu perusahaannya. Sehingga penyelesaian pekerjaan terkesan terulur. “Pekerjaan A sudah selesai dilaksanakan. Tapi tiba-tiba tanahnya labil. Maka otomatis hasil pekerjaan itu dibongkar lagi dan mengulangi pekerjaan itu kembali,” ujar Kalla.

Untuk mencapai hasil pekerjaan PLTA Poso yang sudah ada saat ini, Kalla mengklaim perusahaannya telah mengabiskan dana triliunan rupiah. “Untuk rampung 100 persen, dana yang dibutuh sekitar Rp3 triliun. Untuk sampai sekarang yang habis kira-kira sudah Rp2,5 triliun,” kata Kalla.

Menurut Kalla, proyek PLTA Sulewana bukan lah proyek ringan. Selain butuh dana yang tidak sedikit, proses pengerjaannya juga membutuhkan analisis konstruksi yang mantap serta teknologi yang mutakhir.

PRIORITAS POSO

PT Poso Energi memastikan akan tetap memprioritaskan Poso dan Tentena sebagai sasaran produk listrik (PLTA Poso) yang sedang ditukangi. Tak cuma Poso dan Tentena.

Berapa besar listrik PLTA Poso yang akan diberikan untuk Poso dan Tentena? Ahmad Kalla menyebutkan, daya listrik yang akan disuplai ke Poso sebesar 10 MW dan 1 MW untuk Tentena. “Semua listrik yang disuplai PLTA Poso ke wilayah-wilayah sasaran akan dikelola langsung oleh pihak PLN,” kata adik Jusuf Kalla itu.

Komitmen pemberian listrik ke Poso dan Tentena juga disampaikan Jusuf Kalla. Mantan Wapres RI ini bahkan menyatakan, untuk suplai listrik ke wilayah Poso dan Tentena akan diupayakan secepatnya. Khusus untuk suplai listrik ke Tentena 1 MW, Poso Energi memastikan sudah bisa dilaksanakan dalam dua bulan ke depan. “Untuk ke Tentena insya Allah, Maret sudah bisa dilakukan,” sebut Kalla yang didampingi Bupati Poso Piet Inkiriwang.

Pada tahun 2010 ini, Poso Energi menargetkan sudah bisa mengoperasikan produksi listriknya sebesar 60 MW. Produk inilah yang sebagian akan di suplai ke Poso (10 MW) dan Tentena (1 MW). Terkait jaringan yang digunakan untuk menyuplai listrik ke Poso dan Tentena, Kalla mengatakan masih akan menggunakan jaringan listrik milik PLN yang sudah ada. Namun demikian, akan dilakukan penambahan dan perbaikan jaringan yang dianggap perlu dan penting.

Jusuf Kalla mengatakan, mega proyek PLTA Poso akan berperan positif dalam mengatasi krisis listrik di Sulawesi. “Listrik PLTA Poso bisa mengatasi krisis listrik di Sulawesi. Tapi tentu saja tidak semua wilayah Sulawesi yang mengalami krisis listrik dapat diatasinya,” pungkasnya. (bud)

http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=62589
Read On 0 comments

Kementerian Lingkungan Hidup Sosialisasikan Pembuatan Biopori di Kota-Kota Besar

7:55:00 PM
Monday, 11 January 2010 12:10

Jakarta, Kementrian Lingkungan Hidup gencar mengkampanyekan biopori untuk pengurangan resiko bencana di Indonesia. Menurut Deputi III Bidang Peningkatan Konservasi Sumberdaya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian KLH, Masnelyarti Hilman, biopori merupakan lubang dalam tanah yang terbentuk akibat organisme di dalamnya. Cara ini merupakan salah satu teknologi ramah lingkungan untuk mengurangi banjir.

Selain biopori, Kementrian Lingkungan Hidup juga memantau tutupan lahan dan melakukan kegiatan pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) di beberapa daerah di Indonesia.

Gencarnya Kementrian Linkungan Hidup melakukan upaya pemulihan kualitas lingkungan, hal ini disebabkan Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan bencana, mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor dan gempa. Kondisi tersebut lahir tidak jauh karena penggundulan hutan dan penyalahgunaan lahan yang dilakukan manusia.

(Esti Murdiastuti/HF)

http://www.rri.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5384:kementerian-lingkungan-hidup-sosialisasikan-pembuatan-biopori-di-kota-kota-besar&catid=153:jakarta
Read On 0 comments

Jamu Gendong Masih Jadi Ramuan Yang Diburu Warga Kota

10:36:00 PM
Senin, 04 Januari 2010 18:32

Saat ini kebanyakan masyarakat masih berminat untuk mengkonsumsi jamu gendong sebagai salah satu upaya untuk perawatan kesehatan. (SuaraMedia News)

Jamu telah lama dikenal dan banyak dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat, baik itu kalangan bawah, tengah, maupun kalangan atas. Cara pemakaian sendiri tetap sama dengan budaya jamu dari jaman dulu, yaitu diminum maupun dipergunakan/ dioleskan. Meskipun kini jamu bisa dibeli jadi berupa bubuk dalam bungkusan, pil, kapsul, minuman ataupun berupa krem atau salep. Namun, di beberapa wilayah masih banyak ditemui penjual jamu gendong yang menjajakan dagangannya. Ciri khas dari penjual jamu gendong sendiri tetap dipertahankan, yaitu perempuan membawa bakul yang di dalamnya berisi botol jamu dengan cara digendong, sementara tangan kiri memegang ember untuk mencuci gelas setelah dipakai untuk minum jamu.

Berdasarkan sejarahnya, jamu gendong termasuk melegenda di Indonesia sebagai negara yang punya tumbuhan obat terlengkap nomor dua di dunia. Berdasarkan sejarahnya, obat tradisonal yang terabuat dari akar, daun, maupun umbi-umbian tersebut muncul pertama kali dalam tradisi keraton Jawa. Setelah itu jamu diajarkan ke masyarakat dan dipasarkan dengan cara dipikul maupun digendong.

Saat ini kebanyakan masyarakat masih berminat untuk mengkonsumsi jamu gendong sebagai salah satu upaya untuk perawatan kesehatan. Walaupun secara umum sudah diketahui manfaat jamu gendong, namun secara tertulis belum banyak yang mengidentifisikasi khasiat dan manfaat dari sudut pandang penjualnya. Di samping itu, diperkirakan resep jamu gendong bervariasi, sedangkan pencatatan atau dokumentasi tentang resep jamu gendong tidak banyak dilakukan sehingga sulit diperoleh gambaran secara pasti.

Masyarakat luas sudah banyak mengenal produk-produk yang biasa dijual oleh penjual jamu gendong beserta khasiatnya. Jamu-jamu tradisonal yang selama ini populer di kalangan masyarakat antara lain:

Jamu Beras Kencur, Jamu beras kencur dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu yang dapat menghilangkan pegal-pegal pada tubuh. Dengan membiasakan minum jamu beras kencur, tubuh akan terhindar dari pegal-pegal dan linu yang biasa timbul bila bekerja terlalu payah. Selain itu, banyak pula yang berpendapat bahwa jamu beras kencur dapat merangsang nafsu makan, sehingga selera makan meningkat dan tubuh menjadi lebih sehat.

Dalam pembuatan jamu beras kencur, terdapat beberapa variasi bahan yang digunakan, namun terdapat dua bahan dasar pokok yang selalu dipakai, yaitu beras dan kencur. Kedua bahan ini sesuai dengan nama jamu, dan jamu ini selalu ada meskipun komposisinya tidak selalu sama di antara penjual jamu. Bahan-bahan lain yang biasa dicampurkan ke dalam racikan jamu beras kencur adalah biji kedawung, rimpang jahe, biji kapulogo, buah asam, kunci, kayu keningar, kunir, jeruk nipis, dan buah pala. Sebagai pemanis digunakan gula merah dicampur gula putih dan seringkali mereka juga mencampurkan gula buatan.

Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda, yaitu direbus dan dibiarkan sampai dingin, kemudian disediakan sesuai kebutuhan. Mula-mula beras disangan, selanjutnya ditumbuk sampai halus. Bahan-bahan lain sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk menggunakan lumpang dan alu besi atau batu. Kedua bahan ini kemudian dicampur, diperas, dan disaring dengan saringan atau diperas melalui kain pembungkus bahan. Sari perasan bahan dicampurkan ke dalam air matang yang sudah tersedia, diaduk rata. Selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol.

Jamu Kunir Asam, Jamu Kunir asam dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu ‘adem-ademan atau seger-segeran’ yang dapat diartikan sebagai jamu untuk menyegarkan tubuh atau dapat membuat tubuh menjadi dingin. Ada pula yang mengatakan bermanfaat untuk menghindarkan dari panas dalam atau sariawan, serta membuat perut menjadi dingin. Seorang penjual jamu mengatakan bahwa jamu jenis ini baik dikonsumsi oleh ibu yang sedang hamil muda dan dapat menyuburkan kandungan. Ada pula penjual jamu yang menganjurkan minum jamu kunir asam untuk melancarkan haid.

Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda antar penjual jamu, yaitu direbus sampai mendidih dan jumlahnya sesuai kebutuhan. Bahan-bahan sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk secara kasar menggunakan lumpang dan alu besi atau batu atau diiris tipis-tipis (kunyit), dimasukkan ke dalam air mendidih dan direbus sampai mendidih beberapa saat. Selanjutnya, ditambahkan gula (atau pemanis buatan) sampai diperoleh rasa manis sesuai selera (dicicipi). Rebusan yang diperoleh dibiarkan sampai agak dingin, kemudian disaring dengan saringan. Rebusan yang sudah disaring dibiarkan dalam panci dan selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol dan siap untuk dijajakan.

Jamu Cabe Puyang, Jamu cabe puyang dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu ‘pegal linu’. Artinya, untuk menghilangkan cikalen, pegal, dan linu-linu di tubuh, terutama pegal-pegal di pinggang. Namun, ada pula yang mengatakan untuk menghilangkan dan menghindarkan kesemutan, menghilangkan keluhan badan panas dingin atau demam. Seorang penjual mengatakan minuman ini baik diminum oleh ibu yang sedang hamil tua.

Bahan dasar jamu cabe puyang adalah cabe jamu dan puyang. Tambahan bahan baku lain dalam jamu cabe puyang sangat bervariasi, baik jenis maupun jumlahnya. Bahan lain yang ditambahkan antara lain temu ireng, temulawak, jahe, kudu, adas, pulosari, kunir, merica, kedawung, keningar, buah asam, dan kunci. Sebagai pemanis digunakan gula merah dicampur gula putih dan kadangkala mereka juga mencampurkan gula buatan serta dibubuhkan sedikit garam. Cara pengolahannya sama dengan pengolahan jamu kunir asam.

Jamu Pahitan, Jamu pahitan dimanfaatkan untuk berbagai masalah kesehatan. Penjual jamu memberikan jawaban yang bervariasi tentang manfaat jamu ini, namun utamanya adalah untuk gatal-gatal dan kencing manis. Penjual yang lain mengatakan manfaatnya untuk ‘cuci darah’, kurang nafsu makan, menghilangkan bau badan, menurunkan kolesterol, perut kembung/sebah, jerawat, pegal, dan pusing. Bahan baku dasar dari jamu pahitan adalah sambiloto. Racikan pahitan sangat bervariasi, ada yang hanya terdiri dari sambiloto, tetapi ada pula yang menambahkan bahan-bahan lain yang rasanya juga pahit seperti brotowali, widoro laut, doro putih, dan babakan pule. Ada pula yang mencampurkan bahan lain seperti adas dan atau empon-empon (bahan rimpang yang dipergunakan dalam bumbu masakan).

Pembuatan jamu pahitan adalah dengan merebus semua bahan ke dalam air sampai air rebusan menjadi tersisa sekitar separuhnya. Cara ini dimaksudkan agar semua zat berkhasiat yang terkandung dalam bahan dapat larut ke dalam air rebusan. Sebagai hasil akhirnya, diperoleh rebusan dengan rasa sangat pahit. Khusus jamu pahitan, tidak diberikan gula atau bahan pemanis lain. Sebagai penawar rasa pahit, konsumen minum jamu gendong lain yang mempunyai rasa manis dan segar seperti sinom atau kunir asam.

Untuk Pengolahan jamu sendiri secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama dengan merebus seluruh bahan dan kedua dengan cara mengambil/ memeras sari yang terkandung dalam jamu, kemudian dituangkan ke dalam air matang. Cara-cara tersebut dilakukan mengikuti cara yang dilakukan pendahulunya yang dilakukan secara sederhana dan tradisional. Perbedaan yang ada kemungkinan hanya pada peralatan yang digunakan. Misalnya, dahulu lebih banyak menggunakan pipisan batu sekarang lebih disukai dengan ditumbuk bahkan ada yang menggunakan alat listrik (blender). Alat untuk merebus dahulu banyak menggunakan ‘kendil’ yang terbuat dari tanah liat kini berganti dengan panci email.

Di samping bahan pokok, terdapat variasi bahan baku yang merupakan bahan tambahan yang dimaksudkan untuk memperbaiki warna, rasa, maupun khasiat. Variasi ini memberikan perbedaan rasa dan khasiat jamu yang menjadi andalan dari masing-masing pembuat jamu. Upaya tersebut mereka lakukan untuk memenuhi selera konsumen berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari dalam menjajakan jamu.

Sebagai pemanis rasa jamu, pada umumnya digunakan gula merah dan atau gula pasir, tetapi ada pula yang menambahkan gula obat (saccharin). Tindakan tersebut dilakukan kemungkinan untuk menekan harga mengingat cukup mahalnya harga gula sedangkan untuk menaikkan harga jual jamu akan mempengaruhi kemampuan beli konsumen atau adanya keinginan dari pembuat jamu gendong agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar.(buk) www.suaramedia.com

http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/usaha-kecil-dan-menengah/15683-jamu-gendong-masih-jadi-ramuan-yang-diburu-warga-kota.html
Read On 0 comments

RTH 2010 Diperluas

12:19:00 PM
Sabtu, 2 Januari 2010 | 04:23 WIB

YLKI: Pemerintah Diminta Tidak Asal Pasang Target

Jakarta, Kompas - Pada awal tahun 2010, Pemerintah Provinsi DKI memiliki beberapa resolusi untuk membuat Jakarta jadi kota yang lebih nyaman bagi warganya. Rencana tata ruang wilayah DKI 2010-2030 jadi penting, khususnya terkait penataan ruang terbuka hijau dan transportasi publik.

Gubernur DKI Fauzi Bowo, Kamis (31/12), mengatakan, tahun 2010 tantangan Jakarta untuk memerangi dampak pemanasan global semakin tinggi. Masalah polusi udara, kerusakan lingkungan yang mengakibatkan banjir dan kekeringan, serta masalah sosial penyertanya, seperti kemiskinan dan kekumuhan, hanya bisa diatasi jika DKI merealisasikan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dengan tepat.

”Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak main-main dengan RTRW DKI 2010-2030,” ucap Fauzi.

Salah satu upaya Pemerintah Provinsi DKI, lanjut Fauzi, adalah menggenjot penambahan ruang terbuka hijau (RTH). Selama tahun 2009, fungsi RTH di beberapa lokasi telah dikembalikan, seperti ditutupnya 27 stasiun pengisian bahan bakar untuk umum dan bangunan yang tidak sesuai dengan peruntukan.

”Saat ini luas RTH 9,3 persen dari luas Jakarta. Pada 2010, penghijauan, penataan bantaran sungai, pembuatan lubang biopori, sumur resapan serta taman interaktif di RT/RW/kelurahan akan ditingkatkan,” ujarnya.

Menurut Fauzi, program berjalan sesuai anggaran dan rencana waktu. Tidak ada yang dapat instan diselesaikan. Pengerukan sungai dan pembenahan saluran, misalnya, telah dimulai sejak tahun 2009 dan baru akan selesai tahun ini. ”Perlu diingat, program ini sebelumnya tertunda 30 tahun,” katanya.

Hal senada diungkapkan Fauzi terkait penataan transportasi publik. Pada 2010, perbaikan infrastruktur dan pengoperasian koridor baru bus transjakarta, Koridor IX dan Koridor X, akan menambah jumlah daya angkut penumpang. Jika pada 2009, delapan koridor bus berjalur khusus bisa mengangkut 75 juta penumpang, pada 2010 mengangkut tambahan orang 14 persen.

Menanggapi janji-janji Pemprov DKI, Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), menyatakan, pemerintah wajib membuat skema target secara detail, termasuk waktu dan pencapaiannya.

Menurut Tulus, jangan sampai pencapaian proyek hanya sebatas menutupi janji pimpinan. Target proyek Banjir Kanal Timur tembus ke laut pada akhir 2009, misalnya, dianggap hanya asal tembus.

Buktinya, hingga Jumat, lebar galian BKT belum juga seragam. Di satu daerah, sudah digali menganga hingga 100 meter, sementara di kawasan lain, seperti di Marunda, Jakarta Utara, baru selesai selebar 30 meter. (nel)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/02/04231094/rth.2010.diperluas
Read On 0 comments

Kotoran Hewan Pun Kini Punya Harga

11:07:00 AM
Sabtu, 2 Januari 2010 | 07:30 WIB

KOMPAS.com - Setelah diuji coba selama 15 hari, pabrik pupuk organik Petroganik, milik Pemerintah Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, siap menggenjot produksi. Kelayakan pabrik pupuk tersebut membuat PT Petrokimia Gresik selaku mitra yakin akan kualitas produk Petroganik.

Selama uji coba, total produksi Petroganik 20 ton. Keseluruhan hasil diserahkan ke Petrokimia guna dicek kandungan unsur haranya. ”Ternyata, mereka sudah oke dan siap menampung. Makanya kami siap menggenjot produksi sesuai kapasitas mesin,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto beberapa waktu lalu di Bantul.

Petroganik diresmikan 7 Oktober 2009 dengan kapasitas 7,5 ton per hari. Bahan baku pupuk organik tersebut dari kotoran sapi, kambing, dan ayam yang diperoleh dari peternak di wilayah Bantul.

Bahan baku pupuk diambil dari seluruh kelompok ternak di Bantul. Untuk kotoran ayam dibeli seharga Rp 350 per kilogram, kotoran sapi dan kambing Rp 250 per kilogram. Nantinya pemerintah akan menetapkan peraturan daerah yang mengatur larangan penjualan kotoran ternak ke luar daerah.

Untuk membeli mesin, Pemerintah Kabupaten Bantul mengeluarkan dana Rp 980 juta. Adapun untuk pembangunan prasarana fisik Rp 700 juta.

Pabrik Petroganik berlokasi di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden. Terdapat tiga mesin produksi di dalam pabrik berdaya listrik 33.000 watt. Wujud fisik Petroganik hampir sama dengan pupuk kimia.

Petroganik dijual kepada Petrokimia Rp 1.400 per kilogram. Oleh Petrokimia pupuk diedarkan ke pasar dengan harga Rp 500 per kilogram. Selisih harga Rp 900 per kilogram disubsidi oleh pemerintah.

Meski dijual ke Petrokimia, sejak awal Pemkab Bantul sudah mengingatkan agar distribusinya diprioritaskan untuk Bantul. Bila Bantul sudah cukup, baru diedarkan ke daerah lain. ”Kami sudah bersusah payah memproduksi pupuk, jangan sampai dinikmati orang lain,” kata Edy.

Pulihkan kesuburan

Bupati Bantul Idham Samawi menjelaskan, kotoran ternak sangat penting untuk memulihkan tingkat kesuburan tanah. Selama ini banyak peternak menjual kotoran ternaknya ke luar daerah karena tidak terserap di Bantul. Akibatnya, manfaat kotoran lebih banyak dinikmati masyarakat luar Bantul.

Padahal, tingkat kesuburan lahan pertanian di Bantul saat ini hanya 60-80 persen. Untuk memulihkannya ke angka 100 persen diperlukan pupuk organik.

Awalnya pupuk organik masih berujud kotoran sapi. Hal ini membuat sebagian petani enggan menggunakannya karena kurang praktis. Alasan itu tidak berlaku lagi karena sudah ada Petroganik.

Idham mengatakan, peraturan daerah sangat penting untuk mengintegrasikan sektor peternakan dan pertanian. Kotoran ternak harus dipakai untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.

”Dulu petani menggunakan pupuk kimia hingga satu ton per hektar. Sekarang perlahan-lahan mulai turun, meski masih sekitar dua kuintal per hektar. Angka itu harus terus ditekan dengan hadirnya Petroganik. Kalau tidak ada langkah penyelamatan, anak cucu kita akan menerima warisan lahan tandus dan gersang karena keserakahan kita,” ujar Idham.

Potensi kotoran ternak di Bantul tergolong tinggi. Satu ekor sapi rata-rata setiap hari menghasilkan 7 kilogram kotoran kering. Di Bantul, populasi sapi potong 49.957 ekor sehingga setiap hari produksi kotoran sapi mencapai 349,7 ton atau senilai Rp 87,4 juta. Jumlah itu masih ditambah dengan kotoran kambing dan domba yang populasinya 61.370 ekor dan ayam sekitar 1 juta ekor.

Jumlah kotoran ternak yang tersedia memang tidak sebanding dengan kapasitas pabrik. Oleh karena itu, diharapkan muncul inisiatif masyarakat untuk mengolah pupuk organik secara swadaya.

Awalnya keprihatinan

Ide awal pendirian pabrik berawal dari keprihatinan Pemerintah Kabupaten Bantul akan tingginya ketergantungan petani pada pupuk kimia. Setiap tahun kuota pupuk yang disediakan selalu tidak cukup. Tiap tahun kebutuhan urea lebih dari 17.000 ton lebih.

”Kalau sedang musim tanam, biasanya kami susah memperoleh urea karena pengecer mengaku kehabisan stok. Dengan hadirnya pabrik pupuk organik secara perlahan kami mulai mengurangi penggunaan urea,” kata Maryono, petani di Bulak Mandingan, Bantul.

Sebelumnya Maryono enggan menggunakan pupuk organik karena merepotkan. Pertama, ia harus mengumpulkan dulu kotoran ternak dan selanjutnya mengangkutnya ke sawah. ”Kalau pupuk kemasan lebih praktis, tidak merepotkan,” ujarnya.

Kehadiran Petroganik juga disambut gembira kalangan peternak. Sarujo (30), misalnya, warga Dusun Banyakan II, Desa Sitimulyo, Piyungan, menegaskan, kotoran sapi yang selama ini dimanfaatkan untuk biogas ternyata masih bisa mendatangkan rezeki.

”Kalau biogas yang dipakai kotoran saat masih baru. Setelah gasnya diambil, kotoran keringnya masih bisa dijual untuk bahan baku Petroganik,” katanya.

Semangat Pemkab Bantul menyinergikan sektor pertanian dan peternakan sepertinya perlu dicontoh daerah lain.

Apalagi, bila pemerintah akhirnya melepaskan subsidi pupuk. Bisa dibayangkan betapa mahalnya harga pupuk kimia dan petani belum disiapkan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Masalah lain adalah lahan pertanian akan semakin rusak karena penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus. (ENY)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2010/01/02/07300795/Kotoran.Hewan.Pun.Kini.Punya.Harga
Read On 0 comments

Energi Terbarukan Solusi bagi Masa Depan

12:31:00 PM
Sabtu, 26 Desember 2009 | 02:51 WIB

Hermas E Prabowo

China kini memiliki pembangkit listrik tenaga angin dan terus mengembangkannya. Lokasinya berada sekitar 70 kilometer arah barat daya Beijing, tepatnya di dekat Bendungan Guanting.

Pembangkit listrik tenaga angin tersebut dilengkapi 33 turbin, masing-masing memiliki kapasitas produksi 1,5 megawatt.

Soal pembangunan infrastruktur dasar untuk mendukung kegiatan industri, China memang tidak pernah main-main. Komitmen China untuk terus menumbuhkan ekonomi berbasis industri benar-benar diwujudkan.

Industri menjadi lokomotif penggerak roda perekonomian China, dan kebutuhan industri terhadap listrik harus dipenuhi.

Pembangunan konstruksi pembangkit listrik tenaga angin itu telah dilakukan pada musim panas 2007 dan Januari 2008. ”Anggaran yang dibutuhkan 540 juta yuan,” kata Deputi Direktur Pembangkit Tang Xiao pekan kedua November 2009.

Pada awal pembangunan, kapasitas produksi listrik tenaga angin 10 gigawatt. Namun, 12 tahun kemudian (2020), China menargetkan kapasitas produksi meningkat delapan kali lipat, bahkan bisa 100 gigawatt.

Dari kapasitas produksi yang ada, produksi riil pembangkit listrik tenaga angin memang baru 49,5 megawatt. Namun, pada pembangunan tahap II ditingkatkan menjadi 150 megawatt.

Tang Xiao menyatakan, konsumsi energi listrik China 4 triliun kilowatt. Dari total kebutuhan itu, 20 persen terserap untuk kota Beijing. ”Keberadaan pembangkit listrik tenaga angin ini menunjukkan kepedulian China terhadap kelestarian lingkungan,” katanya.

Peningkatan permintaan listrik tidak terelakkan, apalagi perekonomian China terus berkembang. Di sisi lain China dihadapkan pada masalah kelestarian lingkungan karena bahan baku energi di China selama ini banyak menggunakan batu bara.

Pembangkit listrik tenaga angin terbukti keandalannya. Tahun 2008 perhelatan olimpiade di Beijing, 20 persen kebutuhan listriknya dipasok dari pembangkit listrik tenaga angin.

Keberadaan pembangkit listrik tenaga angin bagi China tidak saja bukti mereka mampu memproduksi listrik dengan sumber daya ramah lingkungan, tetapi juga menunjukkan tidak ada hal yang tidak mungkin diraih apabila memiliki kemauan.

Tekanan internasional

Dalam kondisi ekonomi global sedang ambruk seperti sekarang, pertumbuhan ekonomi China tetap lebih baik. Produk manufaktur China menjelajah dunia. Negara industri maju, seperti Amerika Serikat, negara Eropa, Jepang, dan negara industri lainnya, merasa terancam oleh ekspansi produk China.

Di tengah daya beli masyarakat dunia yang tertekan akibat krisis global, produk China semakin diminati. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, China harus menyiapkan infrastruktur dasarnya, termasuk energi listrik, yang menjadi ”nyawa” bagi mesin-mesin produksi.

Namun, China tidak melenggang dengan ”aman”. Kritik dari negara-negara maju terus dilontarkan, terutama terkait lingkungan. China adalah negara penghasil emisi karbon terbesar kedua setelah AS. Desakan agar China menurunkan emisi karbon terus dilontarkan.

Penambahan kapasitas pembangkit listrik akan memaksa China memanfaatkan batu bara, yang teknologinya mereka kuasai dan biaya produksinya murah. Namun, listrik bersumber batu bara sangat mencemari udara. Jika itu dipaksakan, China akan mendapat tekanan luar biasa dari negara-negara maju.

Data Energi Research Institute China menunjukkan, konsumsi batu bara China untuk energi mencapai 77 persen. Ini menempatkan China sebagai negara terbesar kedua yang memproduksi emisi karbon.

Peningkatan kapasitas produksi listrik berbasis batu bara jelas menimbulkan reaksi dunia internasional. China akan dianggap tak peduli terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan.

Memang, pada 2005 Pemerintah China mengeluarkan kebijakan agar semua pembangkit listrik menggunakan teknologi yang efisien. Ini dikenal dengan super critical coal fire technology. Sebanyak 553 pembangkit listrik tenaga batu bara yang tidak efisien dengan kapasitas produksi 14,4 gigawatt tahun 2007 ditutup. Itu belum cukup.

Menurut Bai Quan, peneliti di Energy Research Institute China, negeri itu ingin mengembangkan sumber energi yang ramah lingkungan. Pilihannya, pembangkit listrik tenaga angin, biomassa, dan hidro karbon.

Selain itu, dalam bidang energi photovoltaics, China penghasil listrik terbesar setelah Jepang, dengan produksi listrik 820 megawatt (2007).

Belum efisien

Bai Quan menyatakan, tahun 2010 China menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin hingga 190 TW, pembangkit tenaga listrik tenaga angin 500 gigawatt, dan biomassa 5,5 gigawatt. Sepuluh tahun berikutnya, kapasitas pembangkit listrik tenaga hidro ditingkatkan jadi 300 TW dan biomassa menjadi 30 gigawatt.

China tidak main-main dalam pengembangan pembangkit listrik ramah lingkungan. Saat berkunjung ke pembangkit listrik tenaga angin bersama rombongan Lead (Leadership for Environment and Development) dalam pelatihan kepemimpinan terkait perubahan iklim global sesi internasional di Beijing November 2009, Kompas melihat pembangkit listrik milik pemerintah itu dikelola dengan baik.

Dari ruangan berukuran 10 x 10 meter, semua gerak turbin dipantau melalui layar monitor. Begitu ada masalah, sinyal akan menyala. Rata-rata tiap turbin menghasilkan 1,5 megawatt.

Meski mampu membangun pembangkit listrik tenaga angin, harga jual tarif dasar listrik masih relatif lebih mahal dari pembangkit listrik berbahan baku batu bara. Namun, dalam jangka panjang diyakini lebih murah.

Meski belum efisien, China telah memulai langkah besar dalam pembangunan pembangkit listrik terbarukan. China percaya mampu memenuhi kebutuhan energi listrik bagi industrinya. Bagaimana Indonesia?

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/26/02512855/energi.terbarukan.solusi.bagi.masa.depan
Read On 0 comments

Ubah Goni Bekas Jadi Bernilai

5:56:00 PM
Sabtu, 12 Desember 2009 | 17:02 WIB

Berawal dari mencoba-coba dan keingintahuan yang cukup tinggi untuk mengerjakan segala sesuatu, Eno kini memanfaatkan goni bekas untuk diubah menjadi kerajinan bernilai seni tinggi.

"Awalnya melihat saudara membuat kerajinan tangan, terus saya penasaran dan mencoba-coba hingga bisa membuat karya seperti ini," kata Eno, salah seorang perajin dari barang berkas saat ditemui di arena Medan Fair, Sabtu (12/12).

Dia menjelaskan, setelah mengikuti kursus membuat kerajinan tangan, berbagai upaya dan kreativitas dicoba untuk memanfaatkan goni bekas pakai itu menjadi pernak-pernik bernilai seni dan ekonomis.

Hasil buatan tangannya itu cukup unik, yaitu figurin masyarakat tingkat bawah berpenghasilan rendah, seperti miniatur petani, pedagang jamu, tukang becak, yang menarik banyak perhatian para pembeli.

"Goni sangat indentik dengan karung padi dan itu identik dengan petani serta masyarakat kelas bawah. Jadi semua karakter miniatur itu terkait masyarakat rendah," katanya.

Berbagai miniatur masyarakat bawah itu dijual dengan harga mulai dari Rp 25.000 sampai Rp 100.000. Namun, bila terdapat pesanan miniatur berukuran besar ditawarkan dengan harga Rp 1,5 juta.

Produk-produk bernilai seni itu kini mulai banyak diminati para konsumen dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Pemasaran miniatur itu kini sudah banyak beredar di berbagai kawasan objek wisata seperti Samosir, Simalungun dan Berastagi.

Dia menambahkan, kerajinan tangan itu kini diproduksi sebanyak 200 unit per bulan dengan beragam jenis karakter. Pendapatan yang diraih mencapai Rp 3 juta per bulan.

"Karena sudah merambah pasar di Sumatera Utara, ada keinginannya untuk memasarkan kerajinan itu ke luar negeri, tetapi belum ada jaringan ke sana," katanya.

Seorang pembeli figurin masyarakat bawah itu, Arif Budiman mengatakan, bentuk yang unik dari miniatur itu membuatnya tertarik untuk membeli, terlebih karakter manusia usia paruh baya bertopi caping sedang membawa sepeda ontel tua.

"Bentuk-bentuknya menarik dan lucu, jadi tertarik membeli, ditambah harganya terjangkau," katanya. (Antara/ink)

http://www.wartakota.co.id/read/inspirasiusaha/18094
Read On 0 comments

Produk Pertanian “Ecolabelling” Pasti Aman

9:57:00 AM
Wednesday, 09 December 2009 07:00

MEDAN - Sistem pertanian berkelanjutan merupakan alternatif terbaik pertanian masa depan. Hal tersebut diharapkan dapat menggantikan pertanian model Barat yang cenderung menggunakan masukan kimiawi.

Demikian diucapkan analis pertanian dari Universitas Medan Area (UMA), Retna Astuti Kuswardani.

“Dalam era globalisasi perdagangan bebas, dimana konsumen lebih memilih produk pertanian yang memenuhi persyaratan ecolabelling, potensi pengendalian hayati akan semakin besar,” ujar Retna yang juga guru besar hama tanaman UMA, tadi malam.

Menurut Retna, perkembangan globalisasi perlu digunakan sebagai peluang yang terbuka lebar bagi pengembangan dan penerapan pengendalian hama secara hayati. “Sebab, produk pertanian hasil program pengendalian hayati tentu lebih aman dan sehat, dan dapat diterima oleh pasar global,” tuturnya.

Oleh karena itu, lanjut Retna, dalam pembanguan pertanian berkelanjutan penerapan pengendalian hayati secara profesional dapat meningkatkan daya saing petani memasarkan produk-produk pertanian di pasar internasional.

Dijelaskannya, bahwa mengingat masalah hama yang semakin berat di Indonesia dari tahun ke tahun, maka perlu pendekatan sistem pengendalian hama terpadu biointensif (Bio-intensive IPM) yang mengoptimalkan potensi agens pengendali pusat dan daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, civil society yang riil diperlukan.

Namun, program penerapan dan pengembangan pengendalian hama secara hayati tidak akan berjalan tanpa dukungan yang cukup dan terus menerus dari program penelitian yang relevan.

Untuk itu, Retno mengharapkan, kegiatan pelaksanaan pengendalian hayati dan penelitian terhadap jenis dan potensi musuh alami dalam ekosistem pertanian harus berjalan seiring dan saling melengkapi.

Retna menjelaskan, bahwa pelaksana utama penerapan pengendalian hayati di Indonesia adalah petani dan kelompok tani yang mempunyai keterbatasan tetapi memiliki pengalaman yang sudah lama dalam melakukan kegiatan perlindungan tanaman.

“Sekolah Lapang PHT merupakan wahana untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan petani demi tercapainya tujuan pengendalian hayati dalam pembangunan pertanian berkelanjutan,” tandasnya.
(dat05/wol-mdn)

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=72550:produk-pertanian-ecolabelling-pasti-aman&catid=14:medan&Itemid=27
Read On 0 comments

Gubernur Jambi Ancam Tindak Perkebunan Sawit

7:07:00 PM
Sabtu, 08 Agustus 2009 | 14:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jambi - Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin mengancam akan mengambil tindakan tegas pada PT Angso Duo Sawit, pemilik lahan perkebunan kelapa sawit di Desa Gedongkarya, Kecamtan Kumpehilir, Kabupaten Muarojambi, yang sejak empat hari terakhir terbakar.

Perusahan itu baru mulai tahun ini membuka lokasi kebun, dan besar dugaan ada unsur kesengajaan dalam kejadian kebakaran lahan gambut yang sudah mencapai 100 hektare lebih tersebut.

"Saya akan panggil segera pemilik perusahaan dan akan kita tindak secara tegas bila memang terbukti adanya unsur kesengajaan dalam kebakaran ini. Masa lahannya terbakar tak satu pun pihak perusahaan ada di lokasi membatu petugas pemadam kebakaran," kata Zulkifli Nurdin kepada wartawan, saat terjun ke lokasi, Sabtu (8/8).

Menurut Gubernur, bila memang terbukti ada unsur kesengajaan, bukan tidak mungkin pihaknya tidak segan-segan mencabut izin perusahaan itu.

Ketika berada di lokasi kebakaran, Gubernur sempat membantu para petugas pemadam kebakaran lahan dan hutan dari Mangala Agni Provinsi Jambi yang dibantu aparat Kepolisian Resor Muarojambi.

Petugas kesulitan memadamkan api karena sulitnya masuk ke lokasi kebakaran yang berjarak sekitar lima kilometer dari jalur jalan besar dan api menjalar melalui dalam tanah, membakar gambut yang kering akibat kemarau sejak beberapa bulan terakhir.

Pihak PT Angso Duo Sawit hingga kini belum dapat dikonfirmasi terkait kebakaran lahan itu.

Titik panas di Provinsi Jambi terakhir mencapai 232 titik yang menyebar di beberapa kabupaten, antara lain Sarolangun, Tebo, Merangin, Muarojambi, Batanghari, Tanjungjabung Barat, dan Tanjungjabung Timur.

Kabut asap masih menyelimuti daerah itu, tapi belum menghentikan aktivitas masyarakat setempat.

SYAIPUL BAKHORI

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/08/08/brk,20090808-191511,id.html
Read On 0 comments

Bandara Sultan Mahmud II siap jadi Eco Airport

6:51:00 PM
Jumat, 07/08/2009 19:13 WIB

oleh : Hilda Sabri Sulistyo

JAKARTA (bisnis.com): Bandara Sultan Mahmud Badarudin II mempersiapkan diri menuju Eco Airport mengantisipasi perubahan iklim dengan menciptakan suasana yang ramah lingkungan.

Yon Sugiono, General Manager Bandara Mahmud Badarudin II, mengatakan saat pemerintah tengah menggaungkan konsep Eco Airport, pihaknya sudah merintis upaya itu dengan menerapkan penghematan energi.

"Mulai dari konsep bangunan dan interior ruangan, timer system untuk penggunaan lampu dan AC serta memiliki IPAM [pengolahan air bersih] dan IPAL [pengolahan limbah] sendiri," ujarnya ketika menerima kunjungan Dewan Juri Penghargaan Sapta Pesona Toilet Bersih yang diadakan Depbudpar.

Dia mengatakan pihaknya juga tengah menggencarkan penanaman pohon penghijauan di lingkungan bandara terutama untuk pohon jenis Ketapang dan Tanjung. Dalam hal menerapkan konsep Eco Airport, setiap enam bulan sekali kualitas udara di lingkungan bandara juga diuji kualitasnya dan hasilnya selalu baik sehingga pihaknya lebih fokus untuk melakukan penghijauan di sekitar bandara.

"Kami menggerakkan program penghijauan satu karyawan menanam satu pohon. Saat ini dari 300 karyawan baru 250 pohon yang ditanam karena kita menghadapi keterbatasan lahan juga," katanya.

Pihaknya berharap tahun depan sudah dapat diusulkan anggaran untuk penambahan fasilitas bandara guna mengimbangi arus penumpang yang mencapai 2.500 orang baik kedatangan maupun keberangkatan atau 5.000 orang/hari.

"Jadi memang harus ada perluasan bangunan dan pengembangan terminal terutama internasional dan diharapkan dapat dilakukan mulai 2011."

Bandara Sultan Mahmud Badarudin II sudah bertaraf internasional yang berfungsi sebagai pintu gerbang Sumatra Selatan dan penggerak ekonomi daerah. Arus penumpangnya terus meningkat dari 1,3 juta orang pada 2005 menjadi 1,7 juta orang tahun lalu dengan 40 pergerakan pesawat tiap hari.

Dia mengatakan sebagai salah satu bandara terbesar di Sumatra setelah Polonia, Medan, mutu pelayanan harus ditingkatkan termasuk fasilitas toilet yang ada di lingkungan bandara sesuai dengan standar internasional.

"Kami ingin menjadi yang terbaik bukan hanya di lingkungan Angkasa Pura II tetapi dari aspek keselamatan, keamanan, pelayanan maupun efisiensi pendapatan," tambahnya. (tw)

http://web.bisnis.com/sektor-riil/transportasi/1id131782.html
Read On 0 comments

Pompa Air Tenaga Surya, Bermanfaat Tapi Masih Sebatas Durian Runtuh

5:19:00 PM
Jumat, 7 Agustus 2009 | 15:48 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Madina Nusrat

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah pompa air bertenaga surya sudah hampir setengah tahun ini mempermudah sebagian warga RW 03 di Desa Sura, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Banyumas, memperoleh air bersih. Mereka tak lagi terlalu direpotkan mencari air bersih hingga ke pelosok desa.

Terlebih di musim kemarau ini, mereka tidak perlu antre sampai jam 01.00 malam hanya untuk memperoleh dua sampai tiga ember air di sejumlah belik atau mata air, yang letaknya bisa berada tiga sampai lima kilometer dari tempat tinggalnya.

Namun seperti bantuan pemerintah pada umumnya, bantuan pompa air bertenaga surya ini masih disikapi bak durian runtuh. Masyarakat hanya menikmatinya, tanpa dibekali pendampingan untuk memeliharanya bagi kehidupan bersama.

Bahkan untuk mendistribusikan airnya, seluruhnya ditumpukan hanya kepada seorang warga setempat, Ruswan (40). Kapan saya mau distribusikan ke RW tetangga, RW 02, saya buka kerannya. Warga lain tidak ada yang ikut campur, katanya.

Dilihat dari fungsinya, pompa air bertenaga surya hasil bantuan Pusat Lingkungan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, ini sangat bermanfaat bagi desa-desa yang berada di perbukitan seperti Desa Sura yang masyarakatnya sebagian besar adalah petani tegalan dengan penghasilan minim. Tanpa perlu ada biaya tambahan apa pun, pompa ini sudah berjalan secara otomatis.

Pompa air berkekuatan 600 wat itu memperoleh pasokan listrik secara berkesinambungan setiap harinya hingga 1.300 wat dari sembilan panel tenaga surya . Menurut Ruswan, pompa tersebut telah dirancang sedemikian rupa sehingga secara otomatis pompa mulai beroperasi pada pukul 06.00, saat matahari terbit .

Pompa baru akan berhenti beroperasi jika dua drum berkapasitas 10.000 liter dan tandon pada menara air berkapasitas 11,25 meter kubik sebagai penampung air, telah terisi penuh. Kerja mesin pompa kemudian baru akan benar-benar berhenti sekitar pukul 16.30, menjelang matahari terbenam.

Ruswan mengatakan, baru satu kali ada perbaikan pada instalasi pompa. Itu pun hanya karena ada kabelnya yang putus.

"Namun karena pompa itu bukan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Banyumas, ia melaporkan kerusakan itu secara langsung kepada Pusat Lingkungan Geologi. Langsung Pusat Geologi yang memperbaikinya," katanya.

Seperti durian runtuh, bantuan pompa bertenaga surya ini hanya sebatas pemuas nikmat. Warga setempat menjadi penikmatnya, tanpa diberikan pengertian manfaatnya dan keutamaan menjaganya untuk kebaikan masyarakat banyak maupun sesamanya .

"Itu pula sebabnya, sebagian warga mengatakan bahwa bantuan pompa itu baru sedikit meringankan kerja mereka memperoleh air bersih. Sedikit manfaatnya bantuan pompa ini. Belum bisa memenuhi kebutuhan air kami sepenuhnya," ucap Rusinah (33).

Akan tetapi Rusinah pun tak menampik, sejak adanya pompa bertenaga surya itu dia tidak perlu lagi berjalan sejauh dua kilometer untuk mencuci pakaian. "Yah paling itu saja. Selebihnya untuk minum, kan kami tetap cari ke belik," ucapnya.

Menurut warga lainnya, Manisah (40), pompa itu dirasa kurang memadai karena air yang dihasilkan masih harus dibagi dengan RW tetangga , RW 02. Kalau airnya tak dibagi, menurutnya, pasti akan cukup memenuhi kebutuhan air warga setempat.

Dia mengaku, kecukupan air dari pompa itu sempat dinikmati saat pertama kali pompa itu dioperasikan sekitar Februari kemarin. "Namun sejak Dinas Pekerjaan Umum Banyumas membangun instalasi pipa untuk mendistribusikan air dari pompa bantuan itu ke RW 02, warga RW 03 mulai kekurangan air. Kalau tidak dibagi, pasti cukup untuk kami," ucapnya.

Akhirnya, seluruh pekerjaan pemeliharaan hingga pendistribusian air ke RW 02 kembali menjadi beban Ruswan seorang. Hampir tak ada warga di RW 03 yang memikirkan bahwa manfaat pendistribusian air secara merata dapat meringankan beban warga lainnya.

"La wong bungkus sabun cuci yang habis dipakai ibu-ibu mencuci pakaian di pompa ini, masih saya yang membersihkan. Masih sedikit sekali yang sadar kalau pompa ini harus dijaga kebersihannya agar bisa dipakai warga lain," tutur Ruswan.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/08/07/15483241/Pompa.Air.Tenaga.Surya..Bermanfaat.Tapi.Masih.Sebatas.Durian.Runtuh....
Read On 0 comments

Krisis Berlanjut, Hidup 400.000 Anak Terancam Tiap Tahun

5:10:00 PM
Nusa Dua - Bank Dunia memproyeksikan tingkat kematian anak-anak akan bertambah sebanyak 200.000 sampai 400.000 jiwa per tahun jika krisis global dibiarkan belanjut. Karena itu dibutuhkan investasi yang besar bagi kesehatan anak-anak dan ibu hamil.
Demikian oleh Sekretaris Parlemen untuk Bantuan Australia Bob Mc Mulllan dalam laporan Investing In Maternal, Newborn and Child Health untuk Asia Pasifik yang dirilis pada pertemuan tahunan ADB (Asian Development Bank) ke-42 di Nusa Dua, Bali, Minggu (3/5/2009).
Laporan itu mengingatkan para lembaga donor dan pemerintah untuk meningkatkan anggaran untuk program kesehatan anak dan ibu hamil di wilayah Asia Pasifik. "Tujuan Millenium Development Goal (MDG) tidak akan tercapai jika dana untuk kesehatan anak dan ibu hamil ditingkatkan, kesadaran pemerintah untuk hal ini juga harus ditingkatkan," katanya.
Menurut laporan pemerintah Australia yang dirilis kemarin, setiap tahunnya sebanyak 9,2 juta anak-anak usia di bawah lima tahun meninggal akibat penyakit yang semestinya bisa dicegah. Sepertiga dari kematian tersebut ada di wilayah Asia pasifik.
Penelitian WHO menunjukkan lebih dari 80% kematian ibu hamil bisa bisa dicegah melalui fasilitas kesehatan sederhana, bahkan di negara miskin.
Mc Mullan mengatakan Australia mengalokasikan US$ 250 juta selama empat tahun terakhir untuk program kesehatan anak dan ibu hamil di wilayah Asia Pasifik. (dnl/lih)

Source: www.detik.com, 03/05/2009
Read On 0 comments

Harga Hutan Alam

3:20:00 PM
Ketetapan yang dibuat dalam Peraturan Pemerintah tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak untuk Penggunaan Kawasan Hutan, Nomor 2 Tahun 2008, dianggap terlampau murah. Pemerintah memutuskan harga hutan dengan mengizinkan pembukaan kawasan hutan untuk kegiatan tambang, energi, infrastruktur telekomunikasi, dan jalan tol dengan tarif hanya Rp 1,2-2,4 juta per hektare. Tentu saja harga ini terlalu murah jika dibuat per meter, yaitu hanya Rp 102 dan Rp 240 per tahun, lebih murah dari harga pisang goreng yang sekarang berkisar Rp 300-500 per potong. Bandingkan pula murahnya harga 1 hektare lahan hutan, sama dengan harga 1 meter persegi tanah di kawasan menengah di Jakarta. Andaikan lahan itu di Jakarta--walaupun di bawahnya tidak ada lahan tambang--satu hektarenya akan berharga Rp 1,2 miliar hingga Rp 2,4 miliar.
Lalu, berapa harga yang pantas untuk nilai hutan sehingga diperoleh angka yang tepat dan bertanggung jawab? Dalam kondisi seperti sekarang, ketika semua orang sudah pandai berhitung, dengan kepentingan yang berbeda, harga ini akan sangat bervariasi karena perbedaan persepsi. Selama ini para pengambil kebijakan di bidang kehutanan, misalnya, hanya menghitung hasil hutan melalui rente ekonomi kayu (log). Hal ini karena ekonomi pasar tidak menghargai ranah publik yang lain, seperti nilai air sungai yang mengalir, fungsi hutan sebagai regulasi iklim, penyedia tanaman obat-obatan, dan sumber stok genetik, serta nilai-nilai yang tidak tampak lainnya. Karena itu, selama tidak ada nilai jual yang konkret yang menghasilkan pemasukan dan pendapatan negara, perhitungannya pun akan diabaikan. Di lain pihak, akibat hilangnya fungsi-fungsi tersebut, masyarakat mulai sadar, sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh pemerintah, ketika terjadi bencana lingkungan, harga tersebut ternyata tidak mampu membawa penawar dan mengembalikan kehidupan mereka. Belum lagi biaya eksternalitas yang harus ditanggung oleh penduduk akibat limbah industri dan pertambangan yang mengakibatkan penurunan jasa ekosistem baik secara lokal maupun global.
Orientasi para pengambil keputusan di bidang kehutanan semacam ini--meminjam kata Emil Salim--masih berorientasi pada pembangunan konvensional yang antroposentris. Menyadari kesenjangan itu, para ahli lingkungan melakukan pendekatan penghitungan nilai ekonomi (valuasi ekonomi) terhadap hutan alam dan ekosistem alami yang ditinjau dari berbagai aspek. Secara teoretis, Indrawan dkk (2007) menghitung nilai ekonomi sumber daya dengan berbagai masukan. Pertama, nilai langsung, yaitu nilai-nilai ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat sekitar hutan, misalnya perolehan ikan, daging, kayu bakar, bahan bangunan, tumbuhan obat, dan rumput serta tumbuhan yang dapat dimakan oleh ternak. Kedua, nilai tidak langsung. Misalnya kontrol banjir, kesuburan tanah, penyerap karbon atau regulasi iklim, air minum, rekreasi, dan wisata alam, termasuk jasa misalnya pengamatan burung, jasa biologi seperti pengontrol hama, dan keberadaan serangga penyerbuk. Ketiga, perhitungan juga dilakukan untuk nilai pilihan masa depan, yaitu sebagai sumber obat, sumber daya genetik, wawasan biologi, dan suplai air. Dan keempat, nilai kehidupan, misalnya perlindungan keanekaragaman hayati, memelihara budaya penduduk lokal, melanjutkan proses evolusi, serta ekologi.
Berdasarkan penilaian ini, setiap daerah dan kawasan tentu akan berbeda-beda. Karena itu, valuasi ekonomi lingkungan biasanya mengambil jalan tengah untuk tidak memberikan kompensasi yang dipukul rata, dengan dan mempertimbangkan dampak ekologi yang dapat dikaitkan oleh pembangunan pada potensi dan kajian nilai-nilai ekonomi di daerah sekitarnya. Karena itu, apabila peraturan ini dilakukan secara nasional, ketentuan lain hendaknya memberikan keleluasaan kepada aturan di bawahnya berupa peraturan daerah dan peraturan menteri secara lebih terperinci dengan melihat berbagai pertimbangan ekologis yang turut dihitung.Hendaknya kita belajar, ketika harga tersebut dihadapkan pada persoalan lingkungan yang tengah melanda kita, seperti tanah longsor, banjir, kehilangan fungsi hutan sebagai regulasi ekosistem, bahkan dari peristiwa lumpur Lapindo yang ketika terjadi kerusakan dan bencana, harga yang diterima pasti tidak sebanding.
Karena itu, wajarlah jika ada penolakan dari beberapa pemerintah daerah dalam penetapan harga tersebut. Sebab, pemda mulai sadar, masyarakat di daerahlah yang menjadi korban akibat kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat. Sejak awal ditandatanganinya Perpu Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pertambangan di Hutan Lindung oleh Presiden Megawati yang kemudian menjadi UU Nomor 19 Tahun 2004, masih segar di ingatan kita perdebatan yang berpihak pada kebijakan untuk mengorbankan alam sebagai subyek dan sumber pendapatan ekonomi instan. Para pencinta lingkungan masih dapat berharap ada lagi skema lain yang bisa diandalkan untuk benar-benar memperketat penambangan di hutan lindung tersebut dengan peraturan ketat. Bahkan Departemen Kehutanan berjanji ingin memperketat peraturannya antara lain dengan meminta penambang membayar ganti rugi nilai tegakan yang ditebang, menyediakan tanah lain kepada Departemen Kehutanan, menanggung biaya reboisasi, dan mereklamasi kawasan hutan lindung yang telah dipergunakan tanpa menunggu berakhirnya kegiatan penambangan.
Anjuran para ahli ekologi adalah, dalam mengambil prinsip perhitungan ini, pertimbangan harus diadakan berdasarkan analisis biaya-manfaat (cost-benefit) dengan menghitung segala jasa ekosistem yang ada di kawasan tersebut. Namun, dalam prakteknya, cara perhitungan ekonomi-ekologi ini sangat sulit dihitung karena biaya dan manfaat selalu berubah dan sulit diukur. Sebagai pencinta lingkungan, saya menghargai pemerintah daerah yang kini cenderung kritis dan menahan diri dan mengaplikasikan prinsip pencegahan. Pada prinsipnya--untuk situasi yang tidak stabil dengan alam yang sensitif seperti Indonesia--prinsip kehati-hatian lebih baik diterapkan. Bila perlu, lebih baik berbuat keliru dengan terlalu berhati--dan membatalkan sebuah proyek--daripada membuka kemungkinan terjadinya bencana di masa depan.
By: Fachruddin Mangunjaya, Pendiri Borneo Lestari Foundation, Kalimantan Tengah
Source: www.tempointeraktif.com, 18 Maret 2008
Read On 0 comments

Energi, Sumberdaya Mineral, dan Pembangunan Berkelanjutan: Apa Hubungannya?

12:25:00 PM
Pada tanggal 19 November 2001, Gugus Tugas Energi dan Sumberdaya Mineral, Tim Substansi KTT Pembangunan Berkelanjutan Indonesia akan menyelenggarakan Lokakarya mengenai Energi dan Sumberdaya Mineral. Berikut ini adalah Dokumen Pemandu dari Lokakarya tersebut.

Latar Belakang
Krisis multidimensi yang berkepanjangan selama empat tahun terakhir ini seharusnya membangunkan Indonesia yang telah terlena lama sekali oleh "easy money". Pembangunan di Indonesia selama 30 tahun memberikan ilusi bahwa kemajuan ekonomi berlangsung seolah-olah tak terbatas. Kontraksi ekonomi sebesar -15 persen per tahun seperti yang terjadi pada tahun 1997-98 tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Konsep pembangunan yang dipraktekkan sejak 1966 di Indonesia mendasarkan pertumbuhan ekonomi pada beberapa sektor utama, terutama minyak dan sumberdaya mineral. Sejak itu, pertumbuhan ekonomi sejak itu melesat hingga berkisar pada 7 persen per tahun. Dari salah satu negara termiskin di dunia, pendapatan per kapita Indonesia meningkat hingga di atas $500 per tahun, bahkan sekitar $1,000 menjelang terjadinya krisis ekonomi.
Krisis ini mempertanyakan kembali sendi-sendi pembangunan di Indonesia. Jawaban singkat "karena oil boom" ternyata tidaklah memuaskan, karena negara-negara Asia lainnya yang pertumbuhan ekonominya tinggi seperti Taiwan ternyata adalah importir minyak, sementara ekonomi negara-negara produsen minyak dan sumberdaya mineral lain, terutama di Afrika, ternyata tumbuh negatif atau dengan tingkat pertumbuhan yang sangat rendah. Dengan demikian, timbul pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini.
Apa yang meyebabkan Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat pada awal "pembangunan"-nya pada pertengahan tahun 1960-an?
Apakah pembangunan di Indonesia berkelanjutan?


Sementara itu, sejak tahun 1972 Indonesia telah ikut serta dalam proses pendefinisian kembali hubungan antara lingkungan dan pembangunan. Menteri Lingkungan Indonesia pertama, Prof. Emil Salim, bahkan ikut serta sebagai anggota Komisi Brundtland yang menyusun buku putih pembangunan berkelanjutan Hari Depan Kita Bersama (Our Common Future). Buku ini sampai sekarang masih menjadi acuan utama diskursus pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Pada tahun 1992, Konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Lingkungan dan Pembangunan (United Nations Conference on Environment and Development) - dikenal juga dengan KTT Bumi - menelurkan beberapa dokumen penting mengenai pembangunan berkelanjutan, yaitu Piagam Bumi (Earth Charter) dan Agenda 21 yang merekomendasikan kegiatan-kegiatan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Pada bulan September 2002, tahun depan, hasil-hasil dari Agenda 21 selama satu dekade akan dievaluasi, sementara pelajaran yang dapat ditarik darinya akan dipergunakan untuk menuntun kerangka perencanaan pembangunan masa depan yang lebih berkelanjutan. Pertemuan yang disebut sebagai World Summit on Sustainable Development (KTT Pembangunan Berkelanjutan) akan diadakan di Johannesburg, Afrika Selatan.
Komisi Persiapan dari KTT Pembangunan Berkelanjutan ini, (Preparatory Committee, Prepcom) diketuai oleh Indonesia, diwakili oleh Prof. Emil Salim. Pertemuan Prepcom pertama dari empat pertemuan yang direncanakan telah diadakan di New York. Pertemuan keempat (terakhir), yang merupakan pertemuan tingkat tinggi antar Menteri, akan diadakan pada bulan Mei 2002 di Indonesia. Posisi Prepcom adalah sangat strategis, karena di situlah diolahnya semua agenda dan materi yang akan dibahas pada KTT Pembangunan Berkelanjutan.
Seminar Sehari ini dirancang untuk mengumpulkan pandangan dan pendapat seputar kontribusi sektor energi (minyak bumi) dan sumberdaya mineral terhadap berkelanjutannya pembangunan di Indonesia. Untuk itu briefing document ini dirancang untuk membantu calon pemrasaran dan peserta Seminar memfokuskan perhatiannya pada kegiatan di sektor ini sekaligus memperhatikan indikator-indikator pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Selain mengundang pembicara, Panitia Seminar juga menerima sumbangan makalah dari pakar dan pemerhati masalah energi dan sumberdaya mineral sepanjang menyangkut tema dan materi yang dibicarakan.

Pembangunan Berkelanjutan dan Indikatornya
Pembangunan adalah sebuah proses produksi dan konsumsi di mana materi dan energi diolah dengan menggunakan faktor produksi seperti mesin-mesin (capital), pekerja (labor, atau human resources), dan lain-lain. Pada prosesnya, pembangunan membawa dampak kepada lingkungan alam dan masyarakat sekitarnya, yang pada gilirannya akan berdampak kepada keberlanjutan pembangunan itu sendiri.
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan saat ini yang tidak mengurangi kesempatan dari generasi mendatang untuk membangun. Secara statik pembangunan berkelanjutan adalah sebuah pembangunan yang secara serentak membangun ekonomi, sosial, serta lingkungan. Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak boleh berdampak pada pengrusakan pranata sosial dan lingkungan.
Seberapa banyak kontribusi sumberdaya energi pada pertumbuhan ekonomi, pada peningkatan lapangan kerja, dan pada pemerataan - terutama pada penyempitan jurang antara kaya-miskin, antara pusat-daerah, antara desa-kota, dan antara wilayah yang kaya dan miskin sumberdaya alam?
Dampak sosial dari ekstraksi minyak, gas, dan mineral akhir-akhir ini semakin banyak disoroti dunia. Pertama, kegiatan ekstraksi ini biasanya memberikan manfaat ekonomi yang sangat besar, tetapi tidak kepada masyarakat yang tinggal di sekitar tempat ekstraksi. Kegiatan ekstraksi ini biasanya dilakukan dalam bentuk enclave, tanpa ada upaya mengintegrasikan dengan kegiatan sosial-ekonomi di sekitarnya. Sumbangan sektor energi dan sumberdaya mineral terhadap kerekatan sosial di Indonesia dapat diukur melalui indikator-indikator berikut ini.
Sejauh mana sektor energi dan sumberdaya mineral memberikan sumbangan kepada pembangunan integrasi sosial?
Sejauh mana sektor ini justru menimbulkan disintegrasi - seperti yang saat ini terjadi di wilayah-wilayah kaya sumberdaya alam di Aceh, Irian Jaya, dan Riau?
Sejauh mana sektor-sektor ini menyumbang pada pengembangan sumberdaya manusia?

Energi dan sumberdaya mineral memiliki dampak lingkungan dalam bentuk polusi dan penipisan sumberdaya alam. Pada proses di mana pertambangan terjadi di tempat-tempat yang ekosistemnya rentan (misalnya pertambangan di wilayah hutan lindung), maka eksploitasi sumberdaya energi dan mineral akan berdampak pada ekosistem tersebut. Dampak lingkungan ini terjadi baik pada saat penambangan (minyak, gas bumi, dan mineral), pengolahannya, pengangkutannya, transformasinya dari energi primer menjadi energi sekunder, serta penggunaannya oleh konsumen di berbagai sektor. Dampak lingkungan dari proses ekstraksi di antaranya adalah masalah tailing, pencemaran hidrokarbon, merkuri, dan bahan beracun dan berbahaya (B3) lainnya di laut dan sungai, serta masalah lainnya.
Sejauh mana upaya minimisasinya dampak lingkungan telah dilakukan?
Selain peranannya yang penting sebagai penghasil devisa melalui ekspor, sektor minyak dan gas memiliki peran yang penting sebagai sumber energi, di mana ketersediaannya masih bergantung kepada sumber-sumber yang tidak terbarukan seperti minyak, gas, dan batu-bara. Sumber-sumber terbarukan seperti panas bumi, biomasa, air, angin, dan tenaga matahari belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan demikian, pasokan energi domestik akan terancam dengan terancamnya keberlanjutan produksi energi primer yang tidak terbarukan ini. Sebagai sumber energi yang dibutuhkan pembangunan, pertanyaan-pertanyaan berikut dapat menjadi panduan dalam evaluasinya.
Sejauh mana tingkat ketergantungan Indonesia pada sumber energi tak terbarukan?
Sejauh mana tingkat penetrasi energi terbarukan di Indonesia?
Seberapa jauh penggunaan energi di Indonesia telah efisien?

Selain itu, untuk mendukung keberlanjutan dari pembangunan yang ada, pendapatan dari sumber-sumber tak-terbarukan seperti minyak, gas, dan mineral harus ditanam kembali untuk memperbesar modal pembangunan dari sumber-sumber terbarukan seperti panas bumi, angin, air, serta sumber daya manusia.
Bagaimana pendapatan dari sumberdaya energi dan mineral dimanfaatkan di Indonesia?
Sejauh mana pendapatan ini diinvestasikan kembali untuk membangun sumber-sumber pendapatan baru yang terbarukan, terutama pengembangan sumberdaya manusia dan teknologi?


Intervensi dan Perubahan
Globalisasi dan desentralisasi adalah dua intervensi dan perubahan yang terbesar yang mempengaruhi kinerja pembangunan di Indonesia pada jangka panjang. Dari sebuah konsep pembangunan yang sentralistik di mana sebagian besar keputusan pembangunan di ambil di ibukota, tak lama lagi arah pembangunan di Indonesia akan ditentukan secara internal oleh pemerintah daerah, dan secara eksternal oleh proses perluasan pasar dunia.
Institusi-institusi baru dunia telah banyak bermunculan yang pasti akan mengimbas pada kinerja pembangunan di Indonesia. World Trade Organization telah menjadi lambang globalisasi ekonomi dunia yang, mau tak mau, harus diikuti oleh Indonesia. Terbukanya pasar Indonesia untuk pemain-pemain asing tidak hanya menambah tekanan kepada pemain domestik untuk lebih bisa bersaing, tetapi juga melahirkan permasalahan-permasalahan baru, di mana manfaat dari investasi asing ini dinikmati jauh dari tempat di mana dampak negatif dari investasi ini terjadi.
Di sektor energi dan sumberdaya mineral, inisiatif seperti Mining, Mineral, and Sustainable Development (MMSD) dan Global Mining Initiative (GMI) telah diluncurkan, walaupun banyak sekali keraguan dan kecurigaan terhadap motivasi dari inisiatif-inisiatif ini. Sementara itu, tekanan terhadap Bank Dunia mengenai perannya dalam sektor minyak dan sumberdaya mineral melahirkan inisiatif penilaian industri ekstraktif (Extractive Industries Review). Di sisi lain, tekanan dunia mengenai pelestarian lingkungan juga semakin intensif. Perjanjian-perjanjian internasional yang berhubungan dengan sektor energi dan sumberdaya mineral telah disepakati dan ditandatangani. Salah satunya adalah Konvensi Perubahan Iklim dan Protokol Kyoto-nya. Di tingkat masyarakat sipil (madani), gerakan lingkungan hidup yang diwakili oleh mendunianya lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan dan gerakan konsumen hijau juga memiliki potensi untuk mempengaruhi perkembangan sektor energi dan sumberdaya mineral di Indonesia.
Sekuat apa ketahanan Indonesia terhadap globalisasi?,
Sejauh mana ekonomi Indonesia tergantung pada pasar eksternal.
Berapa besar rasio pasar eksternal (ekspor dan impor) Indonesia terhadap produksi?

Proses desentralisasi, diwakili oleh berlakunya Undang-Undang nomor 22/1999 dan 25/1999 adalah merupakan tanggapan dari kegelisahan atas pemerataan pembangunan antara pusat dan daerah. Dalam proses ini, sektor minyak masih diatur secara sentralistik, tetapi sektor pertambangan akan diatur oleh pemerintah daerah. Dengan segala keterbatasan dan tantangan yang ada, serta dengan semangat meningkatkan pendapatan asli daerah, desentralisasi memiliki potensi untuk meningkatkan intensitas eksploitasi sumberdaya mineral. Sementara itu, tekanan daerah atas bagi-hasil yang lebih merata di sektor perminyakan akan memberi tekanan kepada sentralisasi pengaturan sektor ini. Di sisi lain, desentralisasi akan mendekatkan pengambilan kebijakan dengan masyarakat yang terkena dampak dari kebijakan tersebut. Kedekatan ini memberikan harapan bahwa keputusan yang diambil di tingkat daerah akan melalui proses penyaringan dan penilaian yang lebih ketat dari konstituensi lokal. Demokratisasi pengambilan keputusan ini, pada gilirannya, memberikan harapan perbaikan.
Sejauh mana desentralisasi menyumbang kepada keberlanjutan pembangunan di Indonesia?
Sejauh mana sumberdaya energi dan mineral terdistribusi di daerah?
Seberapa rentankah ekonomi wilayah di Indonesia?
Bagaimana trendnya setelah desentralisasi berlangsung?


Source: www.pelangi.or.id, 11 Oktober 2001
Read On 0 comments

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts