Showing posts with label Traditional Market. Show all posts
Surakarta Siapkan Peraturan Pasar Modern
1:08:00 AM
Minggu, 30 Mei 2010 | 15:16 WIB
TEMPO Interaktif, Surakarta - Pemerintah kota Surakarta tengah menyiapkan peraturan daerah (perda) tentang pasar modern. Aturan ini dibuat untuk melindungi pasar tradisional dari serbuan pasar modern.
Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Surakarta Subagiyo mengatakan peraturan daerah tersebut disiapkan agar pasar modern tidak menjadi pesaing pasar tradisional. “Saling mendukung karena memiliki keunggulan masing-masing,” ujar Subagiyo kepada Tempo, Minggu (29/5).
Dia mencontohkan, dalam perda pengaturan pasar modern akan dibahas hal-hal teknis seputar operasional. Misalnya, larangan bagi pasar modern untuk beroperasi 24 jam. “Operasionalnya harusnya di luar jam operasional pasar tradisional yang biasanya dari dini hari hingga pagi menjelang siang,” tuturnya.
Sehingga dia mengusulkan jam operasi pasar modern antara pukul 10 pagi hingga 10 malam. Saat ini dia mengakui dari total 24 buah pasar modern berjejaringan, ada yang beroperasi selama 24 jam. “Nanti kalau sudah ada perdanya bisa ditertibkan,” tandasnya.
Selain jam operasional, lokasi pasar modern tidak boleh terlalu dekat dengan pasar tradisional. Mengingat geografis Surakarta, dia mengatakan paling tidak dalam radius 500 meter. “Kalau sekarang ini kan terlalu dekat,” katanya. Ia menambahkan bagi yang sudah telanjur berdiri dan beroperasi diberikan pengecualian.
Pasar modern juga akan diminta menggunakan tenaga kerja dari masyarakat sekitar sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi. Juga, menjalin kemitraan dengan masyarakat sekitar. “Misalnya memberi kesempatan masyarakat sekitar untuk turut berjualan di sekitar lokasi dengan penyediaan tempat. Atau mengambil produk-produk masyarakat seperti kerajinan untuk dijual di pasar modern tersebut,” katanya.
Subagiyo mengatakan perda tersebut baru akan disusun setelah perda perlindungan dan pengelolaan pasar tradisional selesai dievaluasi Gubernur Jawa Tengah. “Setelah selesai, baru kami masuk ke perda untuk pasar modern. Mungkin akhir tahun ini sudah mulai masuk tahap pembahasan,” pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Pasamuan Pasar Tradisional Surakarta Wiharto berharap kehadiran perda pengaturan pasar modern benar-benar mampu mengakomodir kepentingan pedagang tradisional. Dia berharap pasar tradisional tidak tergerus oleh pasar modern.
“Terutama yang perlu diatur terkait jarak dan jam operasional,” sebutnya. Selain itu, turut diperhatikan adalah tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kehadiran pasar modern di lokasi tertentu.
UKKY PRIMARTANTYO
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2010/05/30/brk,20100530-251301,id.html
TEMPO Interaktif, Surakarta - Pemerintah kota Surakarta tengah menyiapkan peraturan daerah (perda) tentang pasar modern. Aturan ini dibuat untuk melindungi pasar tradisional dari serbuan pasar modern.
Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Surakarta Subagiyo mengatakan peraturan daerah tersebut disiapkan agar pasar modern tidak menjadi pesaing pasar tradisional. “Saling mendukung karena memiliki keunggulan masing-masing,” ujar Subagiyo kepada Tempo, Minggu (29/5).
Dia mencontohkan, dalam perda pengaturan pasar modern akan dibahas hal-hal teknis seputar operasional. Misalnya, larangan bagi pasar modern untuk beroperasi 24 jam. “Operasionalnya harusnya di luar jam operasional pasar tradisional yang biasanya dari dini hari hingga pagi menjelang siang,” tuturnya.
Sehingga dia mengusulkan jam operasi pasar modern antara pukul 10 pagi hingga 10 malam. Saat ini dia mengakui dari total 24 buah pasar modern berjejaringan, ada yang beroperasi selama 24 jam. “Nanti kalau sudah ada perdanya bisa ditertibkan,” tandasnya.
Selain jam operasional, lokasi pasar modern tidak boleh terlalu dekat dengan pasar tradisional. Mengingat geografis Surakarta, dia mengatakan paling tidak dalam radius 500 meter. “Kalau sekarang ini kan terlalu dekat,” katanya. Ia menambahkan bagi yang sudah telanjur berdiri dan beroperasi diberikan pengecualian.
Pasar modern juga akan diminta menggunakan tenaga kerja dari masyarakat sekitar sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi. Juga, menjalin kemitraan dengan masyarakat sekitar. “Misalnya memberi kesempatan masyarakat sekitar untuk turut berjualan di sekitar lokasi dengan penyediaan tempat. Atau mengambil produk-produk masyarakat seperti kerajinan untuk dijual di pasar modern tersebut,” katanya.
Subagiyo mengatakan perda tersebut baru akan disusun setelah perda perlindungan dan pengelolaan pasar tradisional selesai dievaluasi Gubernur Jawa Tengah. “Setelah selesai, baru kami masuk ke perda untuk pasar modern. Mungkin akhir tahun ini sudah mulai masuk tahap pembahasan,” pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Pasamuan Pasar Tradisional Surakarta Wiharto berharap kehadiran perda pengaturan pasar modern benar-benar mampu mengakomodir kepentingan pedagang tradisional. Dia berharap pasar tradisional tidak tergerus oleh pasar modern.
“Terutama yang perlu diatur terkait jarak dan jam operasional,” sebutnya. Selain itu, turut diperhatikan adalah tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kehadiran pasar modern di lokasi tertentu.
UKKY PRIMARTANTYO
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2010/05/30/brk,20100530-251301,id.html
Harga Pakan Naik, Tak Sebanding Harga Susu
11:22:00 AM
Kamis, 11 Februari 2010 | 03:23 WIB
BANDUNG, KOMPAS - Peternak sapi perah di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengeluhkan kenaikan harga pakan konvensional, sementara pakan alternatif, seperti ongok atau ampas tahu dan ketela, juga naik.
Tingginya biaya produksi tersebut tidak sebanding dengan harga beli susu oleh koperasi yang anjlok sejak akhir Januari.
Danuri (54), peternak susu di Cisarua, Lembang, Rabu (10/2), mengatakan, harga konsentrat sejak awal Desember naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.300- Rp 2.000 per kilogram. Sementara harga pakan rumput yang semula Rp 300-Rp 500 menjadi Rp 600-Rp 800 per kilogram.
”Biaya pakan semakin mahal. Mau pakai pakan alternatif juga susah mendapatnya. Kalaupun ada, harganya tinggi,” ujar Danuri.
Awaludin (58), peternak sapi perah di Desa Pasirhalang, Cisarua, Bandung Barat, menuturkan, harga pakan alternatif, seperti ongok atau ampas ketela dan tahu, mencapai Rp 18.000 per karung setara dengan 25 kg. Dua bulan lalu harga ongok masih Rp 9.000 per karung. Tingginya harga ongok sangat membebani peternak.
”Pakan ongok delapan ekor sapi menghabiskan 70 karung ampas tahu untuk 15 hari. Ampas tahu yang sebagian besar disuplai dari Cibuntu digunakan sebagai makanan tambahan selain rumput,” ujarnya.
Tingginya harga pakan ternak konsentrat diakui Ketua Pengawas Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Jawa Barat, Jajang Sumarna. Menurut dia, belum turunnya harga konsentrat karena masih tingginya harga sembilan bahan baku pembuatannya, misalnya dedak yang harganya mencapai Rp 1.700 per kg. Pada musim hujan, dedak juga sulit didapat. ”Kalau ada, juga harus bersaing dengan peternak ayam,” ujarnya.
Harga pakan yang tinggi tersebut sangat membebani para peternak sapi perah. Awaludin mengungkapkan, biaya pemeliharaan empat sapi miliknya Rp 132.500 per hari. Untuk itu, jika ingin impas, harga beli susu dari koperasi seharusnya Rp 3.600 per liter. Namun, harga beli susu dari koperasi saat ini maksimal hanya Rp 3.100 per liter.
Harga susu turun
Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat Dedi Setiadi membenarkan kesulitan peternak tersebut. Meski demikian, pihak koperasi tidak bisa berbuat banyak karena harga beli ke peternak juga tergantung dari harga jual susu ke industri pengolahan susu (IPS).
Dedi mengaku, pihaknya bukannya belum pernah memperjuangkan kenaikan harga susu. Awal Januari, GKSI telah mengajukan kenaikan harga susu sebesar 10 persen kepada pihak IPS.
”Namun, saat itu harga susu dunia justru turun dari 3.600 dollar AS per metrik ton menjadi 2.800 dollar AS per metrik ton. Akibatnya, harga pembelian susu ke peternak juga harus turun,” ujarnya.
Saat ini pihak koperasi membeli susu sapi segar dari peternak dengan harga berkisar Rp 2.800- Rp 3.400 per liter, tergantung dari kualitas. Adapun pada akhir tahun lalu harga pembelian susu bisa mencapai Rp 3.600 per liter. (GRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/11/03230944/harga.pakan.naik.tak.sebanding..harga.susu.
BANDUNG, KOMPAS - Peternak sapi perah di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengeluhkan kenaikan harga pakan konvensional, sementara pakan alternatif, seperti ongok atau ampas tahu dan ketela, juga naik.
Tingginya biaya produksi tersebut tidak sebanding dengan harga beli susu oleh koperasi yang anjlok sejak akhir Januari.
Danuri (54), peternak susu di Cisarua, Lembang, Rabu (10/2), mengatakan, harga konsentrat sejak awal Desember naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.300- Rp 2.000 per kilogram. Sementara harga pakan rumput yang semula Rp 300-Rp 500 menjadi Rp 600-Rp 800 per kilogram.
”Biaya pakan semakin mahal. Mau pakai pakan alternatif juga susah mendapatnya. Kalaupun ada, harganya tinggi,” ujar Danuri.
Awaludin (58), peternak sapi perah di Desa Pasirhalang, Cisarua, Bandung Barat, menuturkan, harga pakan alternatif, seperti ongok atau ampas ketela dan tahu, mencapai Rp 18.000 per karung setara dengan 25 kg. Dua bulan lalu harga ongok masih Rp 9.000 per karung. Tingginya harga ongok sangat membebani peternak.
”Pakan ongok delapan ekor sapi menghabiskan 70 karung ampas tahu untuk 15 hari. Ampas tahu yang sebagian besar disuplai dari Cibuntu digunakan sebagai makanan tambahan selain rumput,” ujarnya.
Tingginya harga pakan ternak konsentrat diakui Ketua Pengawas Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Jawa Barat, Jajang Sumarna. Menurut dia, belum turunnya harga konsentrat karena masih tingginya harga sembilan bahan baku pembuatannya, misalnya dedak yang harganya mencapai Rp 1.700 per kg. Pada musim hujan, dedak juga sulit didapat. ”Kalau ada, juga harus bersaing dengan peternak ayam,” ujarnya.
Harga pakan yang tinggi tersebut sangat membebani para peternak sapi perah. Awaludin mengungkapkan, biaya pemeliharaan empat sapi miliknya Rp 132.500 per hari. Untuk itu, jika ingin impas, harga beli susu dari koperasi seharusnya Rp 3.600 per liter. Namun, harga beli susu dari koperasi saat ini maksimal hanya Rp 3.100 per liter.
Harga susu turun
Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat Dedi Setiadi membenarkan kesulitan peternak tersebut. Meski demikian, pihak koperasi tidak bisa berbuat banyak karena harga beli ke peternak juga tergantung dari harga jual susu ke industri pengolahan susu (IPS).
Dedi mengaku, pihaknya bukannya belum pernah memperjuangkan kenaikan harga susu. Awal Januari, GKSI telah mengajukan kenaikan harga susu sebesar 10 persen kepada pihak IPS.
”Namun, saat itu harga susu dunia justru turun dari 3.600 dollar AS per metrik ton menjadi 2.800 dollar AS per metrik ton. Akibatnya, harga pembelian susu ke peternak juga harus turun,” ujarnya.
Saat ini pihak koperasi membeli susu sapi segar dari peternak dengan harga berkisar Rp 2.800- Rp 3.400 per liter, tergantung dari kualitas. Adapun pada akhir tahun lalu harga pembelian susu bisa mencapai Rp 3.600 per liter. (GRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/11/03230944/harga.pakan.naik.tak.sebanding..harga.susu.
Pemkot Harus Perhatikan Kenaikan Bako
11:21:00 AM
Thursday, 11 February 2010 11:14
MANADO—Kenaikan bahan pokok makin meresahkan. Warga Manado mengeluhkan harga beras yang naik menjadi Rp8.000. “Sebelumnya Cuma Rp6.000 sampai Rp7.000 tapi sekarang sudah naik Rp8.000,” kata Syane, warga Mahakeret.
Yang meresahkan, harga gusir pun sejak kenaikan pada Desember lalu, tidak ada penurunan. “Sekarang harga gula sudah naik hingga Rp10.500, dan belum turun sejak Desember,” tambah Ina.
Ini langsung ditanggapi Wakil Ketua Komisi D DPRD Manado, H Amir Liputo. “Pemerintah harus memperhatikan harga bahan pokok. Di sini perlu ada peran pemerintah untuk menjaga agar harga bahan pokok tidak melambung,” kata Liputo, kemarin.
Komisi D yang membidangi kesejahteraan ini, kata Liputo, sudah menerima banyak keluhan dan aspirasi masyarakat. “Kenaikan ini tentu sangat memberatkan warga apalagi mereka yang penghasilannya pas-pasan. Jadi tolong pemerintah memperhatikan hal ini,” tandas Liputo. (gyp)
http://www.mdopost.com/
MANADO—Kenaikan bahan pokok makin meresahkan. Warga Manado mengeluhkan harga beras yang naik menjadi Rp8.000. “Sebelumnya Cuma Rp6.000 sampai Rp7.000 tapi sekarang sudah naik Rp8.000,” kata Syane, warga Mahakeret.
Yang meresahkan, harga gusir pun sejak kenaikan pada Desember lalu, tidak ada penurunan. “Sekarang harga gula sudah naik hingga Rp10.500, dan belum turun sejak Desember,” tambah Ina.
Ini langsung ditanggapi Wakil Ketua Komisi D DPRD Manado, H Amir Liputo. “Pemerintah harus memperhatikan harga bahan pokok. Di sini perlu ada peran pemerintah untuk menjaga agar harga bahan pokok tidak melambung,” kata Liputo, kemarin.
Komisi D yang membidangi kesejahteraan ini, kata Liputo, sudah menerima banyak keluhan dan aspirasi masyarakat. “Kenaikan ini tentu sangat memberatkan warga apalagi mereka yang penghasilannya pas-pasan. Jadi tolong pemerintah memperhatikan hal ini,” tandas Liputo. (gyp)
http://www.mdopost.com/
Jatah Raskin di Solok Selatan Turun Menjadi 13 Kg
10:52:00 AM
Kamis, 11/02/2010 00:43 WIB
Nengsih Adeyaka - Padang Ekspres
Jumlah penerima bantuan beras bagi keluarga miskin di Kabupaten Solok Selatan tahun 2010 berkurang dari tahun sebelumnya. Ini disebabkan turunnya jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) bila ditinjau dari indikator keluarga yang dinyatakan berhak mendapat raskin. Jatah raskin juga berkurang hingga 13 kg per RTS.
"Kriteria RTS yang mendapatkan raskin, antara lain dilihat dari pendidikan, pekerjaan, serta minimal penghasilan. Ada RTS yang mana anaknya sudah bekerja. Jadi tidak masuk lagi sebagai penerima raskin," terang staf bagian Kesra sekretariat daerah Solsel, Fernando Ardiansyaf, saat ditemui di ruang kerjanya.
Catatan bagian Kesra, tahun ini penerima raskin sebanyak 9.699 RTS/RTM. Jumlah tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2009, yakni 9.923 RTS. Meski secara keseluruhan RTS di Solsel berkurang. Namun, angka tersebut tidak terjadi secara merata di masing-masing kecamatan. Ada tiga kecamatan, jumlah RTS-nya malah mengalami kenaikan.
Tiga kecamatan tersebut yaitu Pauhduo, Koto Parik Gadang Diateh (KPGD) dan Sangirbatanghari. Pada tahun 2009, penerima raskin di Pauhduo hanya 1.394 RTS. Tahun ini naik menjadi 1.571 RTS. KPGD, dulunya 1.569 RTS, bertambah menjadi 1.599 RTS. Sangirbatanghari tahun sebelumnya terdapat 1.032 RTS, tahun ini meningkat 1.228 RTS.
Sedangkan empat kecamatan lainnya jumlah penerima raskin (RTS) berkurang. Sangir berkurang sebanyak 158 RTS, Sangirjujuan sebanyak 299 RTS, Sangirbalaijanggo 101 RTS, Sungaipagu 69 RTS.
Penyaluran raskin untuk Januari 2010, kata Fernando, akan direalisasikan pada akhir Februari. Keterlambatan tersebut disebabkan karena molornya jadwal pembayaran daerah kepada Bulog.
Sementara itu, jatah raskin yang diterima warga setiap bulannya turun dibandingkan tahun 2009. Biasanya masyarakat yang tercatat sebagai RTS, mendapat jatah 15 kg per bulan. Sekarang, mereka hanya diberi Rp13 kg per bulan. [*]
http://www.padang-today.com/?today=news&id=13545
Nengsih Adeyaka - Padang Ekspres
Jumlah penerima bantuan beras bagi keluarga miskin di Kabupaten Solok Selatan tahun 2010 berkurang dari tahun sebelumnya. Ini disebabkan turunnya jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) bila ditinjau dari indikator keluarga yang dinyatakan berhak mendapat raskin. Jatah raskin juga berkurang hingga 13 kg per RTS.
"Kriteria RTS yang mendapatkan raskin, antara lain dilihat dari pendidikan, pekerjaan, serta minimal penghasilan. Ada RTS yang mana anaknya sudah bekerja. Jadi tidak masuk lagi sebagai penerima raskin," terang staf bagian Kesra sekretariat daerah Solsel, Fernando Ardiansyaf, saat ditemui di ruang kerjanya.
Catatan bagian Kesra, tahun ini penerima raskin sebanyak 9.699 RTS/RTM. Jumlah tersebut mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2009, yakni 9.923 RTS. Meski secara keseluruhan RTS di Solsel berkurang. Namun, angka tersebut tidak terjadi secara merata di masing-masing kecamatan. Ada tiga kecamatan, jumlah RTS-nya malah mengalami kenaikan.
Tiga kecamatan tersebut yaitu Pauhduo, Koto Parik Gadang Diateh (KPGD) dan Sangirbatanghari. Pada tahun 2009, penerima raskin di Pauhduo hanya 1.394 RTS. Tahun ini naik menjadi 1.571 RTS. KPGD, dulunya 1.569 RTS, bertambah menjadi 1.599 RTS. Sangirbatanghari tahun sebelumnya terdapat 1.032 RTS, tahun ini meningkat 1.228 RTS.
Sedangkan empat kecamatan lainnya jumlah penerima raskin (RTS) berkurang. Sangir berkurang sebanyak 158 RTS, Sangirjujuan sebanyak 299 RTS, Sangirbalaijanggo 101 RTS, Sungaipagu 69 RTS.
Penyaluran raskin untuk Januari 2010, kata Fernando, akan direalisasikan pada akhir Februari. Keterlambatan tersebut disebabkan karena molornya jadwal pembayaran daerah kepada Bulog.
Sementara itu, jatah raskin yang diterima warga setiap bulannya turun dibandingkan tahun 2009. Biasanya masyarakat yang tercatat sebagai RTS, mendapat jatah 15 kg per bulan. Sekarang, mereka hanya diberi Rp13 kg per bulan. [*]
http://www.padang-today.com/?today=news&id=13545
Harga Beras Diperkirakan Terus Naik Hingga Maret
7:44:00 PM
Senin, 08 February 2010, 10:27 WIB
YOGYAKARTA -- Harga beras di bebrapa pasar tradisional di Yogyakarta terus mengalami kenaikan sejak pertengahan Januari 2010 lalu. Bahkan berdasarkan pemantauan Dinas Perinsdustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta, harga beras saat ini telah tembus Rp 7.500/kg. Padahal seminggu sebelumnya harga beras jenis tersebut masih berkisar antara Rp 6.900 hingga Rp 7.200/kg.
"Itu untuk jenis beras premium seperti mentik super sedangkan jenis medium seperti IR rata-rata Rp 6.500/kg, sebelumnya hanya sekitR Rp 6.000-Rp 6.100/kg," terang Prabaningtyas, Kasie Bimbingan Usaha Perdagangan Disperindagkoptan Kota Yogyakarta saat ditemui, Senin (8/2).
Pantauan harga beras itupun dilakukan timnya setiap minggu di lima pasar tradisional yang cukup beras di Yogyakarta, yaitu di Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede, Pasar Lempuyangan, Kranggan dan Prawirotaman.
Menurutnya, harga beras itupun akan terus mengalami kenaikan hingga Maret 2010 mendatang. Pasalnya, panen raya petani di DIY baru akan terjadi pada Maret 2010 mendatang. "Saat ini udah ada yang panen tetapi hanya satu dua saja, sehingga harga beras masih cukup tinggi. Panen serentak kemungkinan baru Maret mendatang," tegasnya.
Diakui Prabaningtyas, pihaknya telah bekerjasama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) DIY untuk melakukan operasi pasar (OP) dalam rangka membantu masyarakat terhadap perolehan beras murah. OP itupun telah dilakukan sejak akhir Januari 2010 di empat pasar besar di Yogyakarta yaitu di Beringharjo, Lempuyangan, Kranggan dan Kotagede.
OP itupun kemudian dilanjutkan di 14 kecamatan di Yogyakarta sejak 3 Januari 2010 lalu. OP pertama dilakukan tiga kecamatan yaitu di Pakualaman, Danurejan dan Wirobrajan. Selanjutnya 9 kecamatan lain akan dilakukan OP secara bergantian hingga tangagl 17 Januari 2010 mendatang.
Masing-masing kecamatan akan digrop beras dari Bulog sekitar 2 hingga 2,8 ton saat Op tersebut berlangsung dengan harga Rp 5.600/kg. "Jika ternyata beras tersebut kualitasnya agak jelek pasti dikembalikan dan ditukar oleh Bulog karena stok yang banyak sehingga kualitas beras berbeda-beda," tambahnya.
Selain di 14 kecamatan, OP juga akan dilakukan melalui para pengecer di pasar-pasar tradisional di Yogyakarta. Tahap pertama Bulog akan menyuplai beras kualitas medium ke pengecer di Pasar Beringharjo dan Lempuyangan. Pengecer tersebut membeli beras Bulog dengan harga Rp 5.310/kg. Beras itupun dijual pengecer ke konsumen seharga Rp 5.630/kg.
"Itu harga eceran tertinggi (HET) dari Bulog, penjualan tidak boleh melebihi HET tersebut. Kita akan melakukan pemantauan agar penjualan tidak melebihi HET. OP melalui pengecer juga akan kita lanjutkan ke Pasar Kranggan dan Demangan," tegasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Perekonomian dan Sumber Daya Alam Propinsi DIY RM Astungkoro mengatakan, OP beras akan terus dilakukan. Pasalnya kata dia, Menteri Perdagangan telah mengeluarkan surat edaran yang memerintahkan OP terus dilakukan.
Red: ririn
Reporter: Yulianingsih
http://www.republika.co.id/berita/103445/harga-beras-diperkirakan-terus-naik-hingga-maret
YOGYAKARTA -- Harga beras di bebrapa pasar tradisional di Yogyakarta terus mengalami kenaikan sejak pertengahan Januari 2010 lalu. Bahkan berdasarkan pemantauan Dinas Perinsdustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta, harga beras saat ini telah tembus Rp 7.500/kg. Padahal seminggu sebelumnya harga beras jenis tersebut masih berkisar antara Rp 6.900 hingga Rp 7.200/kg.
"Itu untuk jenis beras premium seperti mentik super sedangkan jenis medium seperti IR rata-rata Rp 6.500/kg, sebelumnya hanya sekitR Rp 6.000-Rp 6.100/kg," terang Prabaningtyas, Kasie Bimbingan Usaha Perdagangan Disperindagkoptan Kota Yogyakarta saat ditemui, Senin (8/2).
Pantauan harga beras itupun dilakukan timnya setiap minggu di lima pasar tradisional yang cukup beras di Yogyakarta, yaitu di Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede, Pasar Lempuyangan, Kranggan dan Prawirotaman.
Menurutnya, harga beras itupun akan terus mengalami kenaikan hingga Maret 2010 mendatang. Pasalnya, panen raya petani di DIY baru akan terjadi pada Maret 2010 mendatang. "Saat ini udah ada yang panen tetapi hanya satu dua saja, sehingga harga beras masih cukup tinggi. Panen serentak kemungkinan baru Maret mendatang," tegasnya.
Diakui Prabaningtyas, pihaknya telah bekerjasama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) DIY untuk melakukan operasi pasar (OP) dalam rangka membantu masyarakat terhadap perolehan beras murah. OP itupun telah dilakukan sejak akhir Januari 2010 di empat pasar besar di Yogyakarta yaitu di Beringharjo, Lempuyangan, Kranggan dan Kotagede.
OP itupun kemudian dilanjutkan di 14 kecamatan di Yogyakarta sejak 3 Januari 2010 lalu. OP pertama dilakukan tiga kecamatan yaitu di Pakualaman, Danurejan dan Wirobrajan. Selanjutnya 9 kecamatan lain akan dilakukan OP secara bergantian hingga tangagl 17 Januari 2010 mendatang.
Masing-masing kecamatan akan digrop beras dari Bulog sekitar 2 hingga 2,8 ton saat Op tersebut berlangsung dengan harga Rp 5.600/kg. "Jika ternyata beras tersebut kualitasnya agak jelek pasti dikembalikan dan ditukar oleh Bulog karena stok yang banyak sehingga kualitas beras berbeda-beda," tambahnya.
Selain di 14 kecamatan, OP juga akan dilakukan melalui para pengecer di pasar-pasar tradisional di Yogyakarta. Tahap pertama Bulog akan menyuplai beras kualitas medium ke pengecer di Pasar Beringharjo dan Lempuyangan. Pengecer tersebut membeli beras Bulog dengan harga Rp 5.310/kg. Beras itupun dijual pengecer ke konsumen seharga Rp 5.630/kg.
"Itu harga eceran tertinggi (HET) dari Bulog, penjualan tidak boleh melebihi HET tersebut. Kita akan melakukan pemantauan agar penjualan tidak melebihi HET. OP melalui pengecer juga akan kita lanjutkan ke Pasar Kranggan dan Demangan," tegasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Perekonomian dan Sumber Daya Alam Propinsi DIY RM Astungkoro mengatakan, OP beras akan terus dilakukan. Pasalnya kata dia, Menteri Perdagangan telah mengeluarkan surat edaran yang memerintahkan OP terus dilakukan.
Red: ririn
Reporter: Yulianingsih
http://www.republika.co.id/berita/103445/harga-beras-diperkirakan-terus-naik-hingga-maret
IRT Mengeluh, Cabe Merah Tak Stabil
11:26:00 AM
Kamis, 04/02/2010 08:00 WIB
Eri Mardinal - Padang Ekspres
Ibu-ibu rumah tangga (IRT) kembali dipusingkan dengan melonjaknya harga cabe merah di pasaran. Jika biasanya mereka membeli dengan harga Rp26 ribu per kilogram, kini harganya melonjak drastis menjadi Rp30 ribu perlikogram.
“Baru saja minggu kemarin harganya turun, sekarang harganya sudah naik lagi. Minggu lalu cabe masih bisa saya beli Rp25 per kilogram, sekarang sudah naik Rp30 ribu per kilogram. Belum lagi harga kebutuhan lainnya. Kondisi seperti ini sangat membuat para IRT merasa terbebani,” keluh Ida (40) seorang IRT di Simpangempat.
Kenaikan harga cabe merah ini, kata Ida karena menurut para pedagang barang yang dibelinya dari agen juga tinggi, makanya mereka terpaksa pula menaikkan harga jual. Akibatnya masyarakatlah yang merasakan pedihnya harga kebutuhan dapur ini.
Dia menambahkan kalau setiap berbelanja dirinya biasa membeli 1 kilogram cabe merah, namun karena harganya naik, terpaksa harus mengurangi dengan hanya membeli setengah kilogram saja. Ini dilakukan agar kebutuhan pokok lainnya dapat terpenuhi.
Keluhan yang sama juga diutarakan, Umi (38) warga lainnya. Dia cukup terkejut dengan kenaikan harga cabe merah yang begitu drastis. Padahal pada minggu lalu, katanya harga cabe merah masih di kisaran Rp24 ribu perkilogram. Kini malah harganya telah menembus Rp30 ribu per kilogram.
“Bagaimana kita tidak pusing memikirkannya tiba-tiba saja harga melonjak naik. Ini baru satu barang, kalau seandainya barang-barang kebutuhan pokok lainnya juga ikutan naik, bisa stres kita dibuatnya,” keluhnya sembari berharap semoga dalam minggu ini, harga cabe merah bisa kembali normal lagi.
Di tempat terpisah, beberapa pedagang yang ditemui Koran ini, salah seorangnya Inur mengungkapkan terpaksa menaikkan harga cabe merah karena barang yang didapatkannya tersebut juga naik dengan harga tinggi dibanding minggu lalu.
“Sehingga, para pedagang mau tidak mau harus menaikan harga jual. Kalau dijual sama dengan harga minggu lalu, maka pedagang bisa rugi,” ungkapnya.
Dia menambahkan, naiknya harga jual cabe merah ini lebih disebabkan karena persedian stok cabe merah di tingkat agen juga menepis. Pengaruh cuaca yang tidak menentu, sedikitnya mengakibatkan petani mengalami kegagalan panen. Sehingga pasokan cabe merah ke tingkat pengecer atau pedagang berkurang.
Sementara itu, harga komoditas lainnya seperti beras kualitas I masih di harga rata-rata Rp8250 per Kg, minyak goreng curah Rp10 ribu per Kg, gula Rp12 ribu per Kg, bawang merah Rp10 ribu per Kg. Sedangkan harga daging sapi masih Rp70 ribu per Kg, dan daging ayam Rp15 ribu per kilogram. [*]
http://www.padang-today.com/?today=news&id=13352
Eri Mardinal - Padang Ekspres
Ibu-ibu rumah tangga (IRT) kembali dipusingkan dengan melonjaknya harga cabe merah di pasaran. Jika biasanya mereka membeli dengan harga Rp26 ribu per kilogram, kini harganya melonjak drastis menjadi Rp30 ribu perlikogram.
“Baru saja minggu kemarin harganya turun, sekarang harganya sudah naik lagi. Minggu lalu cabe masih bisa saya beli Rp25 per kilogram, sekarang sudah naik Rp30 ribu per kilogram. Belum lagi harga kebutuhan lainnya. Kondisi seperti ini sangat membuat para IRT merasa terbebani,” keluh Ida (40) seorang IRT di Simpangempat.
Kenaikan harga cabe merah ini, kata Ida karena menurut para pedagang barang yang dibelinya dari agen juga tinggi, makanya mereka terpaksa pula menaikkan harga jual. Akibatnya masyarakatlah yang merasakan pedihnya harga kebutuhan dapur ini.
Dia menambahkan kalau setiap berbelanja dirinya biasa membeli 1 kilogram cabe merah, namun karena harganya naik, terpaksa harus mengurangi dengan hanya membeli setengah kilogram saja. Ini dilakukan agar kebutuhan pokok lainnya dapat terpenuhi.
Keluhan yang sama juga diutarakan, Umi (38) warga lainnya. Dia cukup terkejut dengan kenaikan harga cabe merah yang begitu drastis. Padahal pada minggu lalu, katanya harga cabe merah masih di kisaran Rp24 ribu perkilogram. Kini malah harganya telah menembus Rp30 ribu per kilogram.
“Bagaimana kita tidak pusing memikirkannya tiba-tiba saja harga melonjak naik. Ini baru satu barang, kalau seandainya barang-barang kebutuhan pokok lainnya juga ikutan naik, bisa stres kita dibuatnya,” keluhnya sembari berharap semoga dalam minggu ini, harga cabe merah bisa kembali normal lagi.
Di tempat terpisah, beberapa pedagang yang ditemui Koran ini, salah seorangnya Inur mengungkapkan terpaksa menaikkan harga cabe merah karena barang yang didapatkannya tersebut juga naik dengan harga tinggi dibanding minggu lalu.
“Sehingga, para pedagang mau tidak mau harus menaikan harga jual. Kalau dijual sama dengan harga minggu lalu, maka pedagang bisa rugi,” ungkapnya.
Dia menambahkan, naiknya harga jual cabe merah ini lebih disebabkan karena persedian stok cabe merah di tingkat agen juga menepis. Pengaruh cuaca yang tidak menentu, sedikitnya mengakibatkan petani mengalami kegagalan panen. Sehingga pasokan cabe merah ke tingkat pengecer atau pedagang berkurang.
Sementara itu, harga komoditas lainnya seperti beras kualitas I masih di harga rata-rata Rp8250 per Kg, minyak goreng curah Rp10 ribu per Kg, gula Rp12 ribu per Kg, bawang merah Rp10 ribu per Kg. Sedangkan harga daging sapi masih Rp70 ribu per Kg, dan daging ayam Rp15 ribu per kilogram. [*]
http://www.padang-today.com/?today=news&id=13352
Bulog Diminta Jaga Kualitas Raskin
10:04:00 AM
Sabtu, 6 Februari 2010
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Komisi II DPRD Provinsi Lampung meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Lampung menjaga kualitas beras untuk keluarga miskin (raskin) yang akan dibagikan kepada masyarakat.
Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung Ahmad Junaidi Auli mengungkapkan beras merupakan kebutuhan pokok utama sebagian besar masyarakat Indonesia. Jadi tidak benar kalau masyarakat miskin hanya mendapatkan beras dengan kualitas buruk.
"Banyak masyarakat miskin yang mengeluhkan kualitas raskin. Ada yang kutuan, pecah, atau berbau tidak sedap. Jadi kami minta Bulog berupaya menjaga kualitas berasnya," kata Junaidi saat hearing dengan Bulog Lampung, Jumat (5-2).
Hal senada juga disampaikan anggota Komisi II lainnya, Nurzaini. Menurut dia, walaupun raskin ini dibeli dengan harga yang murah, Bulog jangan sampai terkesan asal-asalan dalam pemilihan kualitasnya. "Kami sudah sering turun ke lapangan. Masyarakat miskin mengeluhkan kualitas beras yang seperti batik itu. Ada hitam-hitamnya dan setelah dimasak malah buyar. Kami juga tahu kalau kualitas raskin tidak mungkin disejajarkan dengan beras super. Tapi setidaknya, ya jangan terlalu jelek," kata wakil dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bulog Lampung Novi Indiarto mengakui kualitas raskin tidak bisa disamakan dengan kualitas beras yang dipasarkan secara umum. Jenis gabahnya pun, menurut dia, berbeda. Sebab raskin memiliki kadar air 14%. Dengan kadar air seperti ini, menurut Novi, beras dapat bertahan hingga maksimal 6 bulan sehingga saat akan didstribusikan kepada masyarakat beras tersebut masih layak dikonsummi. "Ya memang jelas kualitasnya lebih rendah. Kalau beras yang dijual untuk umum kan kadar airnya lebih tinggi. Beras seperti ini biasanya hanya mampu bertahan hingga dua minggu. Sedangkan raskin tentu harus lebih lama bertahan. Tapi kami juga menjamin raskin yang dapat dibeli masyarakat tidak mampu dengan harga murah ini masih layak konsumsi," ujarnya.
Menurut Novi, untuk mempertahankan kualitas raskin, Bulog juga telah melakukan beberapa perawatan pada raskin di Gudang Bulog, seperti spraying, fumigasi, fogging, dan lainnya. "Perawatan ini dilakukan untuk menghindarkan raskin dari serangan hama, seperti kutu, bakteri, dan lain sebagainya," kata Novi. Dengan perawatan seperti ini, kata Novi, kerusakan beras dapat diminimalisasi, tapi tentu saja tidak dapat disamakan dengan kualitas beras yang dijual di pasaran. MG3/E-1
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010020604360057
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Komisi II DPRD Provinsi Lampung meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Lampung menjaga kualitas beras untuk keluarga miskin (raskin) yang akan dibagikan kepada masyarakat.
Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung Ahmad Junaidi Auli mengungkapkan beras merupakan kebutuhan pokok utama sebagian besar masyarakat Indonesia. Jadi tidak benar kalau masyarakat miskin hanya mendapatkan beras dengan kualitas buruk.
"Banyak masyarakat miskin yang mengeluhkan kualitas raskin. Ada yang kutuan, pecah, atau berbau tidak sedap. Jadi kami minta Bulog berupaya menjaga kualitas berasnya," kata Junaidi saat hearing dengan Bulog Lampung, Jumat (5-2).
Hal senada juga disampaikan anggota Komisi II lainnya, Nurzaini. Menurut dia, walaupun raskin ini dibeli dengan harga yang murah, Bulog jangan sampai terkesan asal-asalan dalam pemilihan kualitasnya. "Kami sudah sering turun ke lapangan. Masyarakat miskin mengeluhkan kualitas beras yang seperti batik itu. Ada hitam-hitamnya dan setelah dimasak malah buyar. Kami juga tahu kalau kualitas raskin tidak mungkin disejajarkan dengan beras super. Tapi setidaknya, ya jangan terlalu jelek," kata wakil dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bulog Lampung Novi Indiarto mengakui kualitas raskin tidak bisa disamakan dengan kualitas beras yang dipasarkan secara umum. Jenis gabahnya pun, menurut dia, berbeda. Sebab raskin memiliki kadar air 14%. Dengan kadar air seperti ini, menurut Novi, beras dapat bertahan hingga maksimal 6 bulan sehingga saat akan didstribusikan kepada masyarakat beras tersebut masih layak dikonsummi. "Ya memang jelas kualitasnya lebih rendah. Kalau beras yang dijual untuk umum kan kadar airnya lebih tinggi. Beras seperti ini biasanya hanya mampu bertahan hingga dua minggu. Sedangkan raskin tentu harus lebih lama bertahan. Tapi kami juga menjamin raskin yang dapat dibeli masyarakat tidak mampu dengan harga murah ini masih layak konsumsi," ujarnya.
Menurut Novi, untuk mempertahankan kualitas raskin, Bulog juga telah melakukan beberapa perawatan pada raskin di Gudang Bulog, seperti spraying, fumigasi, fogging, dan lainnya. "Perawatan ini dilakukan untuk menghindarkan raskin dari serangan hama, seperti kutu, bakteri, dan lain sebagainya," kata Novi. Dengan perawatan seperti ini, kata Novi, kerusakan beras dapat diminimalisasi, tapi tentu saja tidak dapat disamakan dengan kualitas beras yang dijual di pasaran. MG3/E-1
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010020604360057
Harga Sembako Melonjak Tajam
10:44:00 AM
Kamis, 4 Februari 2010 | 08:02 WITA
Beras dan Gula Impor Paling Tinggi
Watampone, Tribun - Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok dalam sepekan terakhir, melonjak tajam di Kabupaten Bone. Dua bahan kebutuhan rumah tangga seperti beras dan gula impor merupakan dua item yang kenaikannya cukup drastis.
Pantauan Tribun di Pasar Sentral Palakka, Rabu (3/2), kenaikan hampir terjadi di seluruh bahan pokok.
Beras misalnya, dari awalnya dijual Rp 3.800 per kilogram kini dijual seharga Rp 5.000. Begitu juga dengan gula impor yang mengalami kenaikan cukup drastis dari Rp 9.000 per kg menjadi Rp 14 ribu.
"Gula impor pada bulan puasa lalu cuma Rp 9.000, terus naik Rp 10 ribu menjelang lebaran. Sesudah Lebaran naik lagi jadi Rp 11 ribu. Awal tahun naik Rp 12 ribu, sekarang Rp 14 ribu," kata Sri, salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jl Sungai Citarum, Kota Watampone.
Tidak hanya gula dan beras, sayur-sayuran dan ikan juga mengalami kenaikan, meskipun tidak terlalu tinggi. Begitu juga dengan bahan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan cabe. Untuk bawang merah, harga tidak terlalu tinggi bahkan ada juga sebagian pedagang menurunkan harganya.
"Sekarang kan bawang merah stoknya banyak karena musim panen. Tapi turunnya tidak terlalu banyak. Tapi kalau lagi permintaan banyak, biasanya naik lagi," kata Hasna, pedagang di Sentral Baru Palakka.
Harga sayur kol, juga mengalami penurunan.
Namun untuk harga ikan, yang empat ekornya ukuran lima jari biasa dibeli dengan harga Rp 20 ribu, kini pembeli harus menambah karena kini dijual Rp 25 ribu.
Ikan yang biasanya dijual dengan harga Rp 10 ribu, kini dijual dengan harga Rp 15 ribu. Kenaikan harga ikan disebabkan masih kurangnya nelayan yang melaut. (ans)
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/75335
Beras dan Gula Impor Paling Tinggi
Watampone, Tribun - Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok dalam sepekan terakhir, melonjak tajam di Kabupaten Bone. Dua bahan kebutuhan rumah tangga seperti beras dan gula impor merupakan dua item yang kenaikannya cukup drastis.
Pantauan Tribun di Pasar Sentral Palakka, Rabu (3/2), kenaikan hampir terjadi di seluruh bahan pokok.
Beras misalnya, dari awalnya dijual Rp 3.800 per kilogram kini dijual seharga Rp 5.000. Begitu juga dengan gula impor yang mengalami kenaikan cukup drastis dari Rp 9.000 per kg menjadi Rp 14 ribu.
"Gula impor pada bulan puasa lalu cuma Rp 9.000, terus naik Rp 10 ribu menjelang lebaran. Sesudah Lebaran naik lagi jadi Rp 11 ribu. Awal tahun naik Rp 12 ribu, sekarang Rp 14 ribu," kata Sri, salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jl Sungai Citarum, Kota Watampone.
Tidak hanya gula dan beras, sayur-sayuran dan ikan juga mengalami kenaikan, meskipun tidak terlalu tinggi. Begitu juga dengan bahan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan cabe. Untuk bawang merah, harga tidak terlalu tinggi bahkan ada juga sebagian pedagang menurunkan harganya.
"Sekarang kan bawang merah stoknya banyak karena musim panen. Tapi turunnya tidak terlalu banyak. Tapi kalau lagi permintaan banyak, biasanya naik lagi," kata Hasna, pedagang di Sentral Baru Palakka.
Harga sayur kol, juga mengalami penurunan.
Namun untuk harga ikan, yang empat ekornya ukuran lima jari biasa dibeli dengan harga Rp 20 ribu, kini pembeli harus menambah karena kini dijual Rp 25 ribu.
Ikan yang biasanya dijual dengan harga Rp 10 ribu, kini dijual dengan harga Rp 15 ribu. Kenaikan harga ikan disebabkan masih kurangnya nelayan yang melaut. (ans)
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/75335
Harga Beras Melambung DPRD Palu Minta Perindagkop Survei Pasar
10:15:00 AM
Rabu, 03 Pebruari 2010
Palu – Masyarakat Kota Palu saat ini sedang diresahkan dengan naiknya harga beras yang begitu tinggi. Akhir Januari 2010 saja, harga beras yang berkualitas sedang bisa mencapai Rp6.500. Meski Bulog sedang menyuplai beras ditingkat kelurahan akan tetapi makanan pokok masyarakat ini tidak mempenguruhi harga ditingkat pasar.
Ketua Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kota Palu Arfandi Labanu menyatakan, pihaknya saat ini sudah membicarakan diinternal komisi untuk menangani persoalan tersebut.
“Masalah ini sebelumnya sudah ada laporan yang masuk dan kami telah membicarakan di komisi. Komisi akan mendorong Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait untuk melakukan survei di lapangan, apakah benar hal itu terjadi sehingga ini tidak hanya sekedar laporan saja,’’ terang Arfandi, Senin (01/10).
Untuk DPRD sendiri belum bisa melakukan sidak. Namun Perindagkop sebagai leading sector di Pemkot Palu yang harus turun ke lapangan. Setelah itu, lanjut politisi Partai Demokrat ini menambahkan, setelah ada hasil yang diperoleh dari Perindagkop maka komisi II yang membidangi ekonomi bersama Perindakop akan bersama-sama turun lapangan.
Anggota Komisi II Hadiyanto Rasyid, bahwa apa yang dirasakan masyarakat saat ini Pemkot Palu harus merespon dengan cepat. Untuk itu Perindagkop sebagai leading sector dalam hal ini turun kelapangan untuk melihat secara langsung yang terjadi.
“Makanya kita akan mengkordinasikan persoalan ini ke Perindagkop agar melihat secara langsung. Bila memang benar, maka Perindagkop segera melakukan Operasi Pasar (OP) sebab hal ini tidak bisa dibiarkan,” ujarnya.
Untungnya, kata Hadiyanto Rasyid, ada beras di kelurahan yang sedikit murah sehingga tidak ada beban beli beras diluar yang harganya mahal. Meski beras jatah yang penting keluarga tetap makan. ‘’Naiknya harga beras saat ini harus menjadi perhatian pemerintah,” pintanya.
Saat ini harga beras dipasaran seperti beras Kepala, Cimandi, Buri-buri maupun beras C4, harganya mencapai Rp6.500/liter. Tahun 2009, harganya masih Rp4.500/liter. (Hady)
http://mediaalkhairaat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5664&Itemid=1
Palu – Masyarakat Kota Palu saat ini sedang diresahkan dengan naiknya harga beras yang begitu tinggi. Akhir Januari 2010 saja, harga beras yang berkualitas sedang bisa mencapai Rp6.500. Meski Bulog sedang menyuplai beras ditingkat kelurahan akan tetapi makanan pokok masyarakat ini tidak mempenguruhi harga ditingkat pasar.
Ketua Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kota Palu Arfandi Labanu menyatakan, pihaknya saat ini sudah membicarakan diinternal komisi untuk menangani persoalan tersebut.
“Masalah ini sebelumnya sudah ada laporan yang masuk dan kami telah membicarakan di komisi. Komisi akan mendorong Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait untuk melakukan survei di lapangan, apakah benar hal itu terjadi sehingga ini tidak hanya sekedar laporan saja,’’ terang Arfandi, Senin (01/10).
Untuk DPRD sendiri belum bisa melakukan sidak. Namun Perindagkop sebagai leading sector di Pemkot Palu yang harus turun ke lapangan. Setelah itu, lanjut politisi Partai Demokrat ini menambahkan, setelah ada hasil yang diperoleh dari Perindagkop maka komisi II yang membidangi ekonomi bersama Perindakop akan bersama-sama turun lapangan.
Anggota Komisi II Hadiyanto Rasyid, bahwa apa yang dirasakan masyarakat saat ini Pemkot Palu harus merespon dengan cepat. Untuk itu Perindagkop sebagai leading sector dalam hal ini turun kelapangan untuk melihat secara langsung yang terjadi.
“Makanya kita akan mengkordinasikan persoalan ini ke Perindagkop agar melihat secara langsung. Bila memang benar, maka Perindagkop segera melakukan Operasi Pasar (OP) sebab hal ini tidak bisa dibiarkan,” ujarnya.
Untungnya, kata Hadiyanto Rasyid, ada beras di kelurahan yang sedikit murah sehingga tidak ada beban beli beras diluar yang harganya mahal. Meski beras jatah yang penting keluarga tetap makan. ‘’Naiknya harga beras saat ini harus menjadi perhatian pemerintah,” pintanya.
Saat ini harga beras dipasaran seperti beras Kepala, Cimandi, Buri-buri maupun beras C4, harganya mencapai Rp6.500/liter. Tahun 2009, harganya masih Rp4.500/liter. (Hady)
http://mediaalkhairaat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5664&Itemid=1
Pemerintah Menjamin Ketersedian Stok Beras Aman Walaupun Harga Beras Mahal
10:14:00 AM
Friday, 29 January 2010 10:53
Kondisi ini menepis kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan beras yang menimbulkan naiknya harga sejak beberapa bulan lalu.
Berdasarkan pantauan pemerintah yang dilakukan oleh tiga kementerian, yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Negara BUMN, serta Bulog di Pasar Induk Beras Cipinang pada pekan lalu menunjukkan harga beberapa jenis beras di tingkat pedagang grosir mengalami kenaikan. Sebagai contoh, beras jenis IR64 – II mengalami kenaikan Rp 250 menjadi Rp 6.250.
Menteri Pertanian Suswono mengakui ada beberapa masalah yang timbul sehingga menyebabkan pasokan beras berkurang. Masalah itu di antaranya mundurnya musim tanam 2009/2010 akibat dampak perubahan iklim.
"Terjadinya banjir di beberapa provinsi seperti Riau, NAD, Sumatera Utara, dan Jambi menyebabkan tanaman rusak sampai puso, sehingga perlu penanaman ulang," kata Menteri Suswono
Meski demikian, Suswono mengatakan, pemerintah menjamin bahwa stok beras yang dimiliki Bulog masih aman dengan total stok beras mencapai 1,7 juta ton.
Apalagi berdasarkan realisasi tanam Oktober – Desember 2009, maka diperkirakan panen akan terjadi pada Januari, Februari, dan Maret dengan luas panen 3,213 juta hektar. Dengan rincian pada Januari panen seluas 398 ribu hektar, Februari panen 1,033 juta hektar dan Maret panen 1,781 juta hektar.
Jika luas panen periode Januari – Maret 2010 mencapai 3,213 juta hektar, maka diperkirakan akan menghasilkan produksi beras 16,44 juta ton gabah kering giling. Sedangkan pada bulan itu produksi beras akan mengalami surplus sebesar 2,387 juta ton.rri.co.id/ABU
http://www.rri.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5778:pemerintah-menjamin-ketersedian-stok-beras-amanq-walaupun-harga-beras-mahalq&catid=18:ekonomi&Itemid=206
Kondisi ini menepis kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan beras yang menimbulkan naiknya harga sejak beberapa bulan lalu.
Berdasarkan pantauan pemerintah yang dilakukan oleh tiga kementerian, yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Negara BUMN, serta Bulog di Pasar Induk Beras Cipinang pada pekan lalu menunjukkan harga beberapa jenis beras di tingkat pedagang grosir mengalami kenaikan. Sebagai contoh, beras jenis IR64 – II mengalami kenaikan Rp 250 menjadi Rp 6.250.
Menteri Pertanian Suswono mengakui ada beberapa masalah yang timbul sehingga menyebabkan pasokan beras berkurang. Masalah itu di antaranya mundurnya musim tanam 2009/2010 akibat dampak perubahan iklim.
"Terjadinya banjir di beberapa provinsi seperti Riau, NAD, Sumatera Utara, dan Jambi menyebabkan tanaman rusak sampai puso, sehingga perlu penanaman ulang," kata Menteri Suswono
Meski demikian, Suswono mengatakan, pemerintah menjamin bahwa stok beras yang dimiliki Bulog masih aman dengan total stok beras mencapai 1,7 juta ton.
Apalagi berdasarkan realisasi tanam Oktober – Desember 2009, maka diperkirakan panen akan terjadi pada Januari, Februari, dan Maret dengan luas panen 3,213 juta hektar. Dengan rincian pada Januari panen seluas 398 ribu hektar, Februari panen 1,033 juta hektar dan Maret panen 1,781 juta hektar.
Jika luas panen periode Januari – Maret 2010 mencapai 3,213 juta hektar, maka diperkirakan akan menghasilkan produksi beras 16,44 juta ton gabah kering giling. Sedangkan pada bulan itu produksi beras akan mengalami surplus sebesar 2,387 juta ton.rri.co.id/ABU
http://www.rri.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5778:pemerintah-menjamin-ketersedian-stok-beras-amanq-walaupun-harga-beras-mahalq&catid=18:ekonomi&Itemid=206
FWK: Wali Kota Padang Lakukan Pembohongan Publik
9:58:00 AM
Selasa, 02/02/2010 07:53 WIB
Husnal Hayati - Padang Today
Pernyataan walikota yang akan merelokasi pasar 2010 dinilai pembohongan puplik oleh Forum Warga Kota (FWK). Pasalnya dana relokasi yang berasal dari APBN itu baru diusahakan oleh DPR RI .
FWK mengatakan bahwa Walikota Padang sudah melakukan pembohongan publik terkait akan diadakanya relokasi pasar pada tahun 2010 ini. Pasalnya Pernyataan Walikota bahwa komisi VI DPR RI telah menyetujui pembiayaan relokasi pasar raya Padang dengan menggunan dana APBN 2010 yang akan di anggarkan pada APBN Perubahan belum pasti adanya.
Roni Putra Wakil FWK yang juga hadir pada saat pertemuan walikota dengan komisi VI DPR RI mengatakan, bahwa itu baru diusahakan oleh komisi VI ini. Komisi VI belum menyatakan kepastiannya.
“Ketika saya tanya langsung kepada ketua DPR RI, Menurut ketua DPR RI Marzuki Alie melihat angka yang diajukan untuk relokasi pasar oleh Pemko Padang yaitu RP 237 M itu mustahil. Pasalnya untuk satu daerah angka tersebut terlalu besar. Walaupun nanti di anggarkan di APBN 2011 itu juga sangat kecil kemungkinannya”, terang Roni.
Dalam hal ini Walikota dinilai FWK terlalu berani menyatakan hal yang belum jelas duduk perkaranya. “Dari sini jelas terlihat kalau Walikota kita adalah pembohong”, ungkap Ketua FWK Afrizal. (*)
http://www.padang-today.com/?today=news&id=13273
Husnal Hayati - Padang Today
Pernyataan walikota yang akan merelokasi pasar 2010 dinilai pembohongan puplik oleh Forum Warga Kota (FWK). Pasalnya dana relokasi yang berasal dari APBN itu baru diusahakan oleh DPR RI .
FWK mengatakan bahwa Walikota Padang sudah melakukan pembohongan publik terkait akan diadakanya relokasi pasar pada tahun 2010 ini. Pasalnya Pernyataan Walikota bahwa komisi VI DPR RI telah menyetujui pembiayaan relokasi pasar raya Padang dengan menggunan dana APBN 2010 yang akan di anggarkan pada APBN Perubahan belum pasti adanya.
Roni Putra Wakil FWK yang juga hadir pada saat pertemuan walikota dengan komisi VI DPR RI mengatakan, bahwa itu baru diusahakan oleh komisi VI ini. Komisi VI belum menyatakan kepastiannya.
“Ketika saya tanya langsung kepada ketua DPR RI, Menurut ketua DPR RI Marzuki Alie melihat angka yang diajukan untuk relokasi pasar oleh Pemko Padang yaitu RP 237 M itu mustahil. Pasalnya untuk satu daerah angka tersebut terlalu besar. Walaupun nanti di anggarkan di APBN 2011 itu juga sangat kecil kemungkinannya”, terang Roni.
Dalam hal ini Walikota dinilai FWK terlalu berani menyatakan hal yang belum jelas duduk perkaranya. “Dari sini jelas terlihat kalau Walikota kita adalah pembohong”, ungkap Ketua FWK Afrizal. (*)
http://www.padang-today.com/?today=news&id=13273
Harga Beras Turun Rp 200/Kg
10:22:00 AM
Sabtu, 30 Januari 2010 | 09:15 WITA
KUPANG, POS-KUPANG.Com -- Setelah dilakukan operasi pasar (OP) beras oleh Bulog Divre Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam tiga hari terakhir, para pedagang mulai menurunkan harga beras. Rata-rata pedagang menurunkan harga beras Rp 200/kg.
Pantauan Pos Kupang, Jumat (29/1/2010), harga beras yang dijual pedagang pada pasar sasaran OP di Kota Kupang, yakni Pasar Oeba, Oebobo, Kuanino dan Pasar Kasih Naikoten I, sudah turun.
Meski demikian, ada juga pedagang yang belum menurunkan harga beras yang dijualnya. Adapun beras yang belum mengalami penurunan harga, yakni beras lonceng, beras maringki. Sedangkan jenis beras lainnya, telah mengalami penurunan harga.
Kalau sebelumnya harga jual beras mencapai Rp 6.400-Rp 6.500/kg, saat ini turun menjadi Rp 6.200/kg. Sedangkan yang dijual sebelumnya Rp 6.200/kg, kini turun menjadi Rp 6.000/kg.
Sementara itu, beras bulog yang dikeluhkan pedagang lantaran mutunya kurang bagus, kini beras itu sudah diganti oleh Bulog Divre NTT. Petugas Bulog langsung mengecek semua pedagang yang menjual beras bulog dan mengganti dengan beras yang lebih baik.
Makmur, salah satu pedagang beras di Pasar Oeba, mengatakan harga beras mulai turun sejak ada operasi pasar beras.
"Beras bulog yang dijual saat ini harganya di bawah harga beras yang lain. Hal ini sangat berpengaruh terhadap para pembeli," kata Makmur.
Dia menyebutkan, beras bulog yang dijual pada hari pertama OP, mutunya kurang bagus. Tapi sejak diganti dengan beras yang lebih bagus, banyak warga yang membeli beras bulog.
"Saat ini, masyarakat hanya melihat harga. Kalau ada beras yang jual murah, pasti banyak konsumen akan beli. Sekarang ini konsumen peka sekali. Berbeda harga Rp 50 saja, mereka pindah ke tempat lain. Mereka cari beras yang harganya lebih murah," katanya.
Kepala Bulog Divre NTT, Marwan Lintang, melalui Kepala Seksi Humas, Marselina B Radja-Rihi, mengatakan, jika dalam penyaluran beras itu terdapat beras yang dinilai tidak memenuhi standar, maka bulog segera menggantinya.
"Kalau ditemukan beras yang mutunya kurang bagus, kami langsung ganti dengan beras yang lebih baik. Beras yang masuk kategori standar," ujar Marselina. (*)
http://www.pos-kupang.com/read/artikel/42536/harga-beras-turun-rp-200kg
KUPANG, POS-KUPANG.Com -- Setelah dilakukan operasi pasar (OP) beras oleh Bulog Divre Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam tiga hari terakhir, para pedagang mulai menurunkan harga beras. Rata-rata pedagang menurunkan harga beras Rp 200/kg.
Pantauan Pos Kupang, Jumat (29/1/2010), harga beras yang dijual pedagang pada pasar sasaran OP di Kota Kupang, yakni Pasar Oeba, Oebobo, Kuanino dan Pasar Kasih Naikoten I, sudah turun.
Meski demikian, ada juga pedagang yang belum menurunkan harga beras yang dijualnya. Adapun beras yang belum mengalami penurunan harga, yakni beras lonceng, beras maringki. Sedangkan jenis beras lainnya, telah mengalami penurunan harga.
Kalau sebelumnya harga jual beras mencapai Rp 6.400-Rp 6.500/kg, saat ini turun menjadi Rp 6.200/kg. Sedangkan yang dijual sebelumnya Rp 6.200/kg, kini turun menjadi Rp 6.000/kg.
Sementara itu, beras bulog yang dikeluhkan pedagang lantaran mutunya kurang bagus, kini beras itu sudah diganti oleh Bulog Divre NTT. Petugas Bulog langsung mengecek semua pedagang yang menjual beras bulog dan mengganti dengan beras yang lebih baik.
Makmur, salah satu pedagang beras di Pasar Oeba, mengatakan harga beras mulai turun sejak ada operasi pasar beras.
"Beras bulog yang dijual saat ini harganya di bawah harga beras yang lain. Hal ini sangat berpengaruh terhadap para pembeli," kata Makmur.
Dia menyebutkan, beras bulog yang dijual pada hari pertama OP, mutunya kurang bagus. Tapi sejak diganti dengan beras yang lebih bagus, banyak warga yang membeli beras bulog.
"Saat ini, masyarakat hanya melihat harga. Kalau ada beras yang jual murah, pasti banyak konsumen akan beli. Sekarang ini konsumen peka sekali. Berbeda harga Rp 50 saja, mereka pindah ke tempat lain. Mereka cari beras yang harganya lebih murah," katanya.
Kepala Bulog Divre NTT, Marwan Lintang, melalui Kepala Seksi Humas, Marselina B Radja-Rihi, mengatakan, jika dalam penyaluran beras itu terdapat beras yang dinilai tidak memenuhi standar, maka bulog segera menggantinya.
"Kalau ditemukan beras yang mutunya kurang bagus, kami langsung ganti dengan beras yang lebih baik. Beras yang masuk kategori standar," ujar Marselina. (*)
http://www.pos-kupang.com/read/artikel/42536/harga-beras-turun-rp-200kg
Pemerintah Lakukan Operasi Pasar Stabilkan Harga Beras
9:32:00 AM
Selasa, 26 Januari 2010 22:24 WIB
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga beras yang semakin meningkat di beberapa daerah.
"Kita akan melakukan operasi pasar hingga harga beras stabil, namun kita harus antisipasi dan waspada, karena masa panen yang mundur, sehingga pada April dan Mei panen menumpuk dan harga akan tertekan," ujarnya saat ditemui di Gedung Menko Perekonomian Jakarta, Selasa.
Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat harga beras melambung di pasaran dalam beberapa minggu terakhir, padahal secara umum produksi beras tidak menunjukkan adanya masalah.
Ia mengatakan harga beras menunjukkan adanya kenaikan, karena masa panen yang mundur akibat iklim serta hujan yang terjadi di beberapa wilayah yang mencegah masa panen.
"Mundurnya masa panen ini di sekitar 10-15 persen wilayah di Indonesia, membuat harga naik," ujarnya.
Dari pantauan di berbagai daerah, ia mengatakan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat akan segera menuai masa panen pada pertengahan Februari dan diharapkan akan segera menstabilkan harga beras.
Kemudian kenaikan harga beras juga dipicu adanya pengaruh harga pembelian pemerintah (HPP), serta adanya gangguan transportasi antarpulau di berbagai wilayah karena ombak yang tinggi.
"Ini yang membuat serapan beras di luar Jawa pada seminggu ini sangat tinggi," ujarnya.
Menurut dia, Operasi pasar yang telah dilakukan di wilayah Yogyakarta, NTB, Jakarta dan Jayapura sangat sedikit serapannya, walau beras operasi pasar masih memiliki persediaan hingga 1,6 ton.
"Saat ini serapannya secara nasional baru mencapai 90 ton," ujarnya.
Beras operasi pasar yang disubsidi pemerintah memiliki harga sekitar Rp200-Rp500 lebih murah dibandingkan harga beras normal dan pemerintah tidak memiliki target minimum karena tujuan dari operasi pasar adalah agar harga beras tidak terlalu naik.
"Yang penting harga jangan naik dan itu sudah kita tahan, karena dalam sebulan terakhir beras naik rata2 Rp1000 kalaupun tidak turun Rp1000 bisa turun Rp500 dan yang penting jangan naik lagi," ujarnya.
Untuk itu, jika diperlukan pemerintah akan memasok beras melalui operasi pasar istimewa lewat pasar induk dengan memberikan stok sebanyak 1000 ton per hari.
"Pasokan ke Cipinang normalnya 2.500-3.000 ton per hari, kalau perlu nanti kita buat operasi pasar lewat grosir atau pasar induk dimungkinkan 1000 ton per hari,"ujarnya.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan kenaikan harga beras sudah menjadi perhatian pemerintah dan salah satu usaha untuk mencegahnya adalah dengan operasi besar untuk mempercepat penyaluran beras bersubsidi untuk rakyat miskin.
"Ada efek psikologis terhadap kenaikan HPP beras sebesar 10 persen yang juga mempengaruhi kenaikan beras," ujarnya.(*)
http://www.antaranews.com/berita/1264519465/pemerintah-lakukan-operasi-pasar-stabilkan-harga-beras
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga beras yang semakin meningkat di beberapa daerah.
"Kita akan melakukan operasi pasar hingga harga beras stabil, namun kita harus antisipasi dan waspada, karena masa panen yang mundur, sehingga pada April dan Mei panen menumpuk dan harga akan tertekan," ujarnya saat ditemui di Gedung Menko Perekonomian Jakarta, Selasa.
Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat harga beras melambung di pasaran dalam beberapa minggu terakhir, padahal secara umum produksi beras tidak menunjukkan adanya masalah.
Ia mengatakan harga beras menunjukkan adanya kenaikan, karena masa panen yang mundur akibat iklim serta hujan yang terjadi di beberapa wilayah yang mencegah masa panen.
"Mundurnya masa panen ini di sekitar 10-15 persen wilayah di Indonesia, membuat harga naik," ujarnya.
Dari pantauan di berbagai daerah, ia mengatakan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat akan segera menuai masa panen pada pertengahan Februari dan diharapkan akan segera menstabilkan harga beras.
Kemudian kenaikan harga beras juga dipicu adanya pengaruh harga pembelian pemerintah (HPP), serta adanya gangguan transportasi antarpulau di berbagai wilayah karena ombak yang tinggi.
"Ini yang membuat serapan beras di luar Jawa pada seminggu ini sangat tinggi," ujarnya.
Menurut dia, Operasi pasar yang telah dilakukan di wilayah Yogyakarta, NTB, Jakarta dan Jayapura sangat sedikit serapannya, walau beras operasi pasar masih memiliki persediaan hingga 1,6 ton.
"Saat ini serapannya secara nasional baru mencapai 90 ton," ujarnya.
Beras operasi pasar yang disubsidi pemerintah memiliki harga sekitar Rp200-Rp500 lebih murah dibandingkan harga beras normal dan pemerintah tidak memiliki target minimum karena tujuan dari operasi pasar adalah agar harga beras tidak terlalu naik.
"Yang penting harga jangan naik dan itu sudah kita tahan, karena dalam sebulan terakhir beras naik rata2 Rp1000 kalaupun tidak turun Rp1000 bisa turun Rp500 dan yang penting jangan naik lagi," ujarnya.
Untuk itu, jika diperlukan pemerintah akan memasok beras melalui operasi pasar istimewa lewat pasar induk dengan memberikan stok sebanyak 1000 ton per hari.
"Pasokan ke Cipinang normalnya 2.500-3.000 ton per hari, kalau perlu nanti kita buat operasi pasar lewat grosir atau pasar induk dimungkinkan 1000 ton per hari,"ujarnya.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan kenaikan harga beras sudah menjadi perhatian pemerintah dan salah satu usaha untuk mencegahnya adalah dengan operasi besar untuk mempercepat penyaluran beras bersubsidi untuk rakyat miskin.
"Ada efek psikologis terhadap kenaikan HPP beras sebesar 10 persen yang juga mempengaruhi kenaikan beras," ujarnya.(*)
http://www.antaranews.com/berita/1264519465/pemerintah-lakukan-operasi-pasar-stabilkan-harga-beras
Di Peureulak, Harga Sayur Mayur Turun
9:24:00 AM
23 Januari 2010, 11:25
IDI – Harga sayur mayur di pasar Peureulak, Aceh Timur, dilaporkan turun. Penurunan itu terjadi sejak dua minggu terakhir karena banyaknya pasokakan lokal. Bahagia, seorang pedagang sayur kepada Serambi, Jumat (22/1) menyebutkan, harga cabai rawit yang sebelumnya mencapai Rp 20.000 per kilogram kini turun menjadi Rp 16.000/kg. Sementara harga cabai hijau yang sebelumnya berkisar Rp 12.000/kg, kini juga turun menjadi Rp 6.000/kg. Sedangkan cabai merah dan bawang putih masih stabil masing-masing Rp 20.000/kg, dan Rp16.000/kg.
Harga tomat yang sebelumnya Rp 10.000/kg, turun menjadi Rp 9.000/kg. Begitu pula halnya dengan harga jeruk nipis yang sebelumnya Rp 6.000/kg, turun menjadi Rp 4.000/kg. Sementara itu harga daun sop pre kini turun menjadi Rp 16.000/kg setelah sebelumnya mencapai Rp 20.000/kg. Harga kelapa yang sebelumnya Rp 2.500 kini turun menjadi Rp 2.000 dan harga kol yang sebelumnya Rp 3.000/kg, kini turun menjadi Rp 2.500/kg serta harga bawang merah yang sebelumnya berkisar Rp 14.000/kg, turun menjadi Rp 12.000/kg. Harga sejumlah sayur lainnya seperti kacang panjang dan lainnya juga mengalami penurunan sebesar Rp 1.000/kilogram.(na)
http://www.serambinews.com/news/view/22390/di-peureulak-harga-sayur-mayur-turun
IDI – Harga sayur mayur di pasar Peureulak, Aceh Timur, dilaporkan turun. Penurunan itu terjadi sejak dua minggu terakhir karena banyaknya pasokakan lokal. Bahagia, seorang pedagang sayur kepada Serambi, Jumat (22/1) menyebutkan, harga cabai rawit yang sebelumnya mencapai Rp 20.000 per kilogram kini turun menjadi Rp 16.000/kg. Sementara harga cabai hijau yang sebelumnya berkisar Rp 12.000/kg, kini juga turun menjadi Rp 6.000/kg. Sedangkan cabai merah dan bawang putih masih stabil masing-masing Rp 20.000/kg, dan Rp16.000/kg.
Harga tomat yang sebelumnya Rp 10.000/kg, turun menjadi Rp 9.000/kg. Begitu pula halnya dengan harga jeruk nipis yang sebelumnya Rp 6.000/kg, turun menjadi Rp 4.000/kg. Sementara itu harga daun sop pre kini turun menjadi Rp 16.000/kg setelah sebelumnya mencapai Rp 20.000/kg. Harga kelapa yang sebelumnya Rp 2.500 kini turun menjadi Rp 2.000 dan harga kol yang sebelumnya Rp 3.000/kg, kini turun menjadi Rp 2.500/kg serta harga bawang merah yang sebelumnya berkisar Rp 14.000/kg, turun menjadi Rp 12.000/kg. Harga sejumlah sayur lainnya seperti kacang panjang dan lainnya juga mengalami penurunan sebesar Rp 1.000/kilogram.(na)
http://www.serambinews.com/news/view/22390/di-peureulak-harga-sayur-mayur-turun
Tiga Daerah di Jawa Barat Minta Operasi Pasar Beras
11:21:00 AM
Sabtu, 23 Januari 2010 | 01:13 WIB
TEMPO Interaktif, BANDUNG - Baru tiga daerah di Jawa Barat yang minta operasi pasar beras. Tiga daerah itu antara lain Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Bandung Barat. "Kami akan segera mengirimkan surat permintaan ke Menteri Perdagangan agar memerintahkan Bulog menyalurkan beras" kata Ferry Sofwan Arif, Ketua Forum Kordinasi Pengendalian Inflasi Jawa Barat yang juga Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Bandung, Jumat (22/1).
Menurut Ferry, operasi pasar baru dilakukan setelah ada permintaan dari daerah. Diantaranya melalui gubernur dan ditujukan ke Menteri Perdagangan. Ia menjanjikana kan segera memangkas birokrasi.
Menteri sendiri, telah mengirim surat edaran yang isinya operasi baru akan dilakukan asal kenaikan harga mencapai 15 persen." Provinsi menargetkan harga beras turun sampai Rp 5.500 per kilogram. Terutama beras kualitas nomor dua: ujarnya.
Di Sukabumi sendiri, harga beras sudah naik 20 persen. Adapun di Bandung Barat, perbedaannya sudah 16 persen. Khusus di Tasikmalaya, kenaikan harga mencapai 13 persen.
Menurut Ferry, kenaikan harga dikarenakan dua hal. Pertama karena kenaikan harga padi oleh pemerintah pada tahun ini. Selain juga karena bergesernya musim panen.
AHMAD FIKRI
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/01/23/brk,20100123-220935,id.html
TEMPO Interaktif, BANDUNG - Baru tiga daerah di Jawa Barat yang minta operasi pasar beras. Tiga daerah itu antara lain Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Bandung Barat. "Kami akan segera mengirimkan surat permintaan ke Menteri Perdagangan agar memerintahkan Bulog menyalurkan beras" kata Ferry Sofwan Arif, Ketua Forum Kordinasi Pengendalian Inflasi Jawa Barat yang juga Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Bandung, Jumat (22/1).
Menurut Ferry, operasi pasar baru dilakukan setelah ada permintaan dari daerah. Diantaranya melalui gubernur dan ditujukan ke Menteri Perdagangan. Ia menjanjikana kan segera memangkas birokrasi.
Menteri sendiri, telah mengirim surat edaran yang isinya operasi baru akan dilakukan asal kenaikan harga mencapai 15 persen." Provinsi menargetkan harga beras turun sampai Rp 5.500 per kilogram. Terutama beras kualitas nomor dua: ujarnya.
Di Sukabumi sendiri, harga beras sudah naik 20 persen. Adapun di Bandung Barat, perbedaannya sudah 16 persen. Khusus di Tasikmalaya, kenaikan harga mencapai 13 persen.
Menurut Ferry, kenaikan harga dikarenakan dua hal. Pertama karena kenaikan harga padi oleh pemerintah pada tahun ini. Selain juga karena bergesernya musim panen.
AHMAD FIKRI
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/01/23/brk,20100123-220935,id.html
Bisnis Tanah di Pasar Niaga Daya
11:13:00 AM
Sabtu, 23-01-10 | 20:05
Aktivitas pembangunan kios semi permanen di sepanjang jalan masuk Kompleks Pusat Niaga Daya (PND), hingga Kamis, 21 Januari, masih berlangsung. Di lahan ini sudah berdiri puluhan kios. Para pemilik kios berani membangun dan melakukan aktivitas dagang di lokasi ini setelah mengeluarkan uang Rp 6.500.000 untuk luas lahan 2x2 meter. Mereka mengaku membayar ke pengelola pasar.
"Saya membeli tiga tempat yang luasnya 2 x 6 meter, seharga Rp 19.500.000. Harga ditetapkan pihak PD Pasar Daya setiap kapling seluas 2 X 2 meter seharga Rp 6.500.000. Kebetulan saya mengambil tiga tempat," jelas pemilik Warung Coto Makassar "Buana", Ny Kadir.
Sayangnya, ketika Fajar memintanya menunjukkan bukti kuitansi pembayaran, wanita ini mengaku tidak punya. "Kami hanya diberi kartu terdaftar sebagai pedagang Pasar Daya. Uang itu langsung kami bayarkan," jelasnya, yang juga diiyakan sejumlah pedagang baru di tempat tersebut.
Seorang penjual lainnya, Mantasia Dg Senga mengaku mengambil dua kapling seharga Rp 13.000.000. Namun penjual beras ini baru membayar sebesar Rp 8.000.000. Uang itu diperolehnya dari kredit bank. "Sisa pembayaran sekira Rp 5.000.000, akan saya bayar kemudian," sebutnya, sembari menyebut juga tidak mendapatkan kuitansi selain hanya didaftar sebagai pedagang Pasar Daya.
Mantasia terdaftar sebagai anggota dengan SK-000/10/XI/PND/09, yang ditandatangani Kepala Unit Pusat Niaga Daya, Nur Ali Tunru. surat itulah satu-satunya yang menjadi pegangan bagi Mantasia sebagai pedagang resmi di pasar itu.
Selain lahan, pengelola juga menawarkan lokasi lengkap dengan bangunannya dengan harga Rp 9 juta. "Bagi yang berminat tinggal masuk dan langsung menjual. Tapi kami rata-rata memilih ambil lahan dan membangunnya sendiri," terang Pergimus, juga pedagang di lokasi itu.
"Yang jelas, kami berani membeli karena atas jaminan Direktur Utama PD Pasar Makassar Raya, Kadir Halid (waktu itu, Dirut PD Pasar Makassar Raya masih dijabat Kadir Halid, red), bahwa yang sudah membayar tempat kaplingnya, sudah bisa menempati.
Kalau membayar seharga Rp 9 juta, langsung menempati dengan bangunan yang disediakan. Sedangkan jika hanya membayar Rp 6,5 juta, maka hanya berhak menempati tempatnya, sedangkan bangunannya harus membangun sendiri," terang para penjual baru tersebut.
Sementara itu, pihak PT Kalla Inti Karsa (KIK), yang merupakan pihak ketiga yang diberi kewenangan mengelola pasar daya tersebut dari PD Pasar Makassar Raya, sejumlah stafnya yang dihubungi mengakui tidak tahu masalah tersebut.
"Kami hanya mengelola yang telah dibangun sesuai perjanjian kontrak kerja kami dengan pihak Pemkot Makassar atau PD Pasar Makassar Raya. Mengenai tempat baru itu, siapa yang memberinya izin membangun, serta bagaimana pengelolaannya, kami tidak tahu," ujar beberapa staf PT KIK, yang enggan dimediakan namanya, dengan alasan yang berhak memberikan keterangan adalah pimpinan mereka. Sayangnya, pimpinan mereka, Subhan, tidak masuk kantor.
Kepala Unit Pusat Niaga Daya, Nur Ali Tunru, yang berusaha dikonfirmasi terkait aktivitas jual beli lahan tersebut, tidak berhasil dihubungi. Nur Ali Tunru, selama dua hari berusaha dihubungi langsung ke kantor dan rumahnya. Saat dihubungi Rabu siang, 20 Januari, stafnya mengatakan Nur Ali sedang keluar.
Dia lantas memberikan alamat rumah di Jalan Maccini Baru Makassar, namun Ali juga tidak ada di rumahnya. Hanya seorang pria yang keluar menemui Fajar dan mengatakan bahwa Nur Ali sedang sakit. "Bapak sedang sakit. Sekarang dia keluar cari obat," kata pria itu.
Keesokan harinya Fajar mendatangi kantornya di Pusat Niaga Daya. Stafnya mengatakan, Ali sakit. Ketika nomor hp Nur Ali diminta, stafnya enggan memberikan dengan alasan tidak tahu nomor hp Nur Ali. Fajar yang menitip nomor telepon, juga tidak dikontak.
Dirut PD Pasar: Pembangunan Langgar Aturan
Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Makassar Raya, Djamaluddin Yunus, yang dikonfirmasi di kantornya, menegaskan bahwa pembangunan kios di Jalan Parrumpa Blok III Kompleks Pasar Niaga Daya sebagai sebuah pelanggaran.
"Apapun alasannya, pembangunan tersebut sudah menyalahi aturan dan tidak ada laporannya kepada kami. Siapapun yang melakukan pembangunan tersebut, pasti kami tidak akan beri izin," tegas dia.
Jika pembangunan itu dilakukan pihak ketiga atau mitra PD Pasar pun, kata dia, tetap merupakan pelanggaran. "Kita memang melakukan kerja sama dengan PT KIK (Kalla Inti Karsa). Namun, jika mereka mempersewakan atau melakukan pembangunan baru di tempat itu tanpa memberi tahu kami, jelas sudah merupakan pelanggaran," tandasnya.
Disinggung mengenai pembangunan tersebut atas izin dan tanda tangan di atas kartu anggota pasar oleh Nur Ali Tunru, Djamaluddin mengakui tidak mengenal yang bersangkutan. "Kami tidak mengenal yang namanya Nur Ali Tunru," ujarnya.
Ketika disebutkan bahwa Nur Ali Tunru itu adalah Kepala PD Pasar Daya atau Kepala Unit Pusat Niaga Daya, ia menyatakan akan memberikan sanksi.
"Tolong dicatat, kalau memang itu adalah kepala pasar yang terbukti melakukan pelanggaran, datang saja ke sini dan saksikan saya akan pecat dia," kata Djamaluddin dengan nada tinggi. Menurutnya, apapun aktivitas pembangunan di Pasar Niaga Daya harus seizin Dirut PD Pasar Makassar Raya. Sekalipun pembangunan itu atas izin PD Pasar Daya atau KIK. (litbang)
http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=79739
Aktivitas pembangunan kios semi permanen di sepanjang jalan masuk Kompleks Pusat Niaga Daya (PND), hingga Kamis, 21 Januari, masih berlangsung. Di lahan ini sudah berdiri puluhan kios. Para pemilik kios berani membangun dan melakukan aktivitas dagang di lokasi ini setelah mengeluarkan uang Rp 6.500.000 untuk luas lahan 2x2 meter. Mereka mengaku membayar ke pengelola pasar.
"Saya membeli tiga tempat yang luasnya 2 x 6 meter, seharga Rp 19.500.000. Harga ditetapkan pihak PD Pasar Daya setiap kapling seluas 2 X 2 meter seharga Rp 6.500.000. Kebetulan saya mengambil tiga tempat," jelas pemilik Warung Coto Makassar "Buana", Ny Kadir.
Sayangnya, ketika Fajar memintanya menunjukkan bukti kuitansi pembayaran, wanita ini mengaku tidak punya. "Kami hanya diberi kartu terdaftar sebagai pedagang Pasar Daya. Uang itu langsung kami bayarkan," jelasnya, yang juga diiyakan sejumlah pedagang baru di tempat tersebut.
Seorang penjual lainnya, Mantasia Dg Senga mengaku mengambil dua kapling seharga Rp 13.000.000. Namun penjual beras ini baru membayar sebesar Rp 8.000.000. Uang itu diperolehnya dari kredit bank. "Sisa pembayaran sekira Rp 5.000.000, akan saya bayar kemudian," sebutnya, sembari menyebut juga tidak mendapatkan kuitansi selain hanya didaftar sebagai pedagang Pasar Daya.
Mantasia terdaftar sebagai anggota dengan SK-000/10/XI/PND/09, yang ditandatangani Kepala Unit Pusat Niaga Daya, Nur Ali Tunru. surat itulah satu-satunya yang menjadi pegangan bagi Mantasia sebagai pedagang resmi di pasar itu.
Selain lahan, pengelola juga menawarkan lokasi lengkap dengan bangunannya dengan harga Rp 9 juta. "Bagi yang berminat tinggal masuk dan langsung menjual. Tapi kami rata-rata memilih ambil lahan dan membangunnya sendiri," terang Pergimus, juga pedagang di lokasi itu.
"Yang jelas, kami berani membeli karena atas jaminan Direktur Utama PD Pasar Makassar Raya, Kadir Halid (waktu itu, Dirut PD Pasar Makassar Raya masih dijabat Kadir Halid, red), bahwa yang sudah membayar tempat kaplingnya, sudah bisa menempati.
Kalau membayar seharga Rp 9 juta, langsung menempati dengan bangunan yang disediakan. Sedangkan jika hanya membayar Rp 6,5 juta, maka hanya berhak menempati tempatnya, sedangkan bangunannya harus membangun sendiri," terang para penjual baru tersebut.
Sementara itu, pihak PT Kalla Inti Karsa (KIK), yang merupakan pihak ketiga yang diberi kewenangan mengelola pasar daya tersebut dari PD Pasar Makassar Raya, sejumlah stafnya yang dihubungi mengakui tidak tahu masalah tersebut.
"Kami hanya mengelola yang telah dibangun sesuai perjanjian kontrak kerja kami dengan pihak Pemkot Makassar atau PD Pasar Makassar Raya. Mengenai tempat baru itu, siapa yang memberinya izin membangun, serta bagaimana pengelolaannya, kami tidak tahu," ujar beberapa staf PT KIK, yang enggan dimediakan namanya, dengan alasan yang berhak memberikan keterangan adalah pimpinan mereka. Sayangnya, pimpinan mereka, Subhan, tidak masuk kantor.
Kepala Unit Pusat Niaga Daya, Nur Ali Tunru, yang berusaha dikonfirmasi terkait aktivitas jual beli lahan tersebut, tidak berhasil dihubungi. Nur Ali Tunru, selama dua hari berusaha dihubungi langsung ke kantor dan rumahnya. Saat dihubungi Rabu siang, 20 Januari, stafnya mengatakan Nur Ali sedang keluar.
Dia lantas memberikan alamat rumah di Jalan Maccini Baru Makassar, namun Ali juga tidak ada di rumahnya. Hanya seorang pria yang keluar menemui Fajar dan mengatakan bahwa Nur Ali sedang sakit. "Bapak sedang sakit. Sekarang dia keluar cari obat," kata pria itu.
Keesokan harinya Fajar mendatangi kantornya di Pusat Niaga Daya. Stafnya mengatakan, Ali sakit. Ketika nomor hp Nur Ali diminta, stafnya enggan memberikan dengan alasan tidak tahu nomor hp Nur Ali. Fajar yang menitip nomor telepon, juga tidak dikontak.
Dirut PD Pasar: Pembangunan Langgar Aturan
Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Makassar Raya, Djamaluddin Yunus, yang dikonfirmasi di kantornya, menegaskan bahwa pembangunan kios di Jalan Parrumpa Blok III Kompleks Pasar Niaga Daya sebagai sebuah pelanggaran.
"Apapun alasannya, pembangunan tersebut sudah menyalahi aturan dan tidak ada laporannya kepada kami. Siapapun yang melakukan pembangunan tersebut, pasti kami tidak akan beri izin," tegas dia.
Jika pembangunan itu dilakukan pihak ketiga atau mitra PD Pasar pun, kata dia, tetap merupakan pelanggaran. "Kita memang melakukan kerja sama dengan PT KIK (Kalla Inti Karsa). Namun, jika mereka mempersewakan atau melakukan pembangunan baru di tempat itu tanpa memberi tahu kami, jelas sudah merupakan pelanggaran," tandasnya.
Disinggung mengenai pembangunan tersebut atas izin dan tanda tangan di atas kartu anggota pasar oleh Nur Ali Tunru, Djamaluddin mengakui tidak mengenal yang bersangkutan. "Kami tidak mengenal yang namanya Nur Ali Tunru," ujarnya.
Ketika disebutkan bahwa Nur Ali Tunru itu adalah Kepala PD Pasar Daya atau Kepala Unit Pusat Niaga Daya, ia menyatakan akan memberikan sanksi.
"Tolong dicatat, kalau memang itu adalah kepala pasar yang terbukti melakukan pelanggaran, datang saja ke sini dan saksikan saya akan pecat dia," kata Djamaluddin dengan nada tinggi. Menurutnya, apapun aktivitas pembangunan di Pasar Niaga Daya harus seizin Dirut PD Pasar Makassar Raya. Sekalipun pembangunan itu atas izin PD Pasar Daya atau KIK. (litbang)
http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=79739
Beras Mahal, Warga Bantul Makan Tiwul
10:51:00 AM
Rabu, 20 Januari 2010 09:18 WIB
Metrotvnews.com, Bantul: Warga Dusun Kebo Sungu, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta, terpaksa beralih makan ubi. Pasalnya, harga beras di dusun ini dalam satu bulan terakhir mencapai Rp 7.000 setiap kilogram. Padahal, sebelumnya harga beras hanya Rp 5.200 tiap kilogram.
Warga mengaku mulai mengkonsumsi ubi sejak sepekan terakhir. Mereka tak lagi mampu membeli cukup beras. Untuk dikonsumsi, ubi diolah menjadi makanan khas setempat, yakni tiwul. Salah seorang warga bernama Partinah mengaku kini mereka hanya makan nasi sebagai campuran saja.
Warga berharap pemerintah segera menurunkan bantuan beras murah dengan menggelar operasi pasar, sehingga agar harga beras dapat kembali turun.(BEY/Fatih Gama)
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/01/20/9209/Beras-Mahal-Warga-Bantul-Makan-Tiwul/168
Metrotvnews.com, Bantul: Warga Dusun Kebo Sungu, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta, terpaksa beralih makan ubi. Pasalnya, harga beras di dusun ini dalam satu bulan terakhir mencapai Rp 7.000 setiap kilogram. Padahal, sebelumnya harga beras hanya Rp 5.200 tiap kilogram.
Warga mengaku mulai mengkonsumsi ubi sejak sepekan terakhir. Mereka tak lagi mampu membeli cukup beras. Untuk dikonsumsi, ubi diolah menjadi makanan khas setempat, yakni tiwul. Salah seorang warga bernama Partinah mengaku kini mereka hanya makan nasi sebagai campuran saja.
Warga berharap pemerintah segera menurunkan bantuan beras murah dengan menggelar operasi pasar, sehingga agar harga beras dapat kembali turun.(BEY/Fatih Gama)
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/01/20/9209/Beras-Mahal-Warga-Bantul-Makan-Tiwul/168
Pemerintah Siapkan Subsidi Atasi Lonjakan Harga
10:00:00 AM
Selasa, 19 Januari 2010 | 20:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah akan menyiapkan berbagai instrumen fiskal untuk mengantisipasi gejolak harga komoditas tahun ini. Potensi lonjakan inflasi memang sangat besar berasal dari komoditas global. Oleh sebab itu, pemerintah akan melakukan langkah-langkah antisipasi pengamanan.
Salah satunya, merujuk pengalaman dua tahun terakhir, ketika pemerintah meluncurkan berbagai kebijakan subsidi sementara seperti pada pangan. "Itu semua kita lakukan supaya kalau ada tekanan yang sifatnya drastis, bisa diminimalkan," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam kunjungan ke Kantor Pelayanan Utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (19/1).
Tahun ini, menurut Sri Mulyani, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2010 cukup bisa menampung instrumen atau berbagai kebijakan serupa. "Saya rasa potensi itu bisa dilakukan," ujarnya. Meski demikian, dia berharap semua pihak tak perlu khawatir dengan potensi tekanan inflasi tahun ini.
Pasalnya, tak seperti 2007 dan 2008, tingkat inflasi akibat barang-barang impor (imported inflation) masih terkontrol. Apalagi, pada periode dua tahun lalu, nilai tukar rupiah melemah sehingga ikut mendorong lonjakan harga komoditas dan menyebabkan inflasi melampaui 10 persen. "Sekarang situasinya sangat berbeda, meski komoditas naik tapi nilai tukar kita cukup solid dan stabil," ujarnya.
Selain menyiapkan instrumen fiskal, Sri Mulyani menilai faktor pasokan barang juga perlu diperhatikan. "Kalau enggak ada suplainya akan menimbulkan volatilitas." Oleh sebab itu, menurut dia, komoditas seperti beras, gula, tepung terigu, kedelai, dan minyak goreng adalah lima komodtas yang selama ini pemerintah akan pantau dengan sangat detail.
Menteri Sri Mulyani optimistis inflasi tahun ini terkendali di kisaran 5 plus-minus 1 persen. Meski, pemerintah akan menggunakan target 5,5 persen, berubah dari asumsi awal APBN 2010 sebesar 5 persen. "Itu lebih karena potensi yang terjadi dari sisi harga komoditas," katanya. Untuk alasan itu pula, target SBI tiga bulanan juga diubah menjadi 6,8 persen dari sebelumnya 6,5 persen.
AGOENG WIJAYA
http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2010/01/19/brk,20100119-220176,id.html
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah akan menyiapkan berbagai instrumen fiskal untuk mengantisipasi gejolak harga komoditas tahun ini. Potensi lonjakan inflasi memang sangat besar berasal dari komoditas global. Oleh sebab itu, pemerintah akan melakukan langkah-langkah antisipasi pengamanan.
Salah satunya, merujuk pengalaman dua tahun terakhir, ketika pemerintah meluncurkan berbagai kebijakan subsidi sementara seperti pada pangan. "Itu semua kita lakukan supaya kalau ada tekanan yang sifatnya drastis, bisa diminimalkan," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam kunjungan ke Kantor Pelayanan Utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (19/1).
Tahun ini, menurut Sri Mulyani, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2010 cukup bisa menampung instrumen atau berbagai kebijakan serupa. "Saya rasa potensi itu bisa dilakukan," ujarnya. Meski demikian, dia berharap semua pihak tak perlu khawatir dengan potensi tekanan inflasi tahun ini.
Pasalnya, tak seperti 2007 dan 2008, tingkat inflasi akibat barang-barang impor (imported inflation) masih terkontrol. Apalagi, pada periode dua tahun lalu, nilai tukar rupiah melemah sehingga ikut mendorong lonjakan harga komoditas dan menyebabkan inflasi melampaui 10 persen. "Sekarang situasinya sangat berbeda, meski komoditas naik tapi nilai tukar kita cukup solid dan stabil," ujarnya.
Selain menyiapkan instrumen fiskal, Sri Mulyani menilai faktor pasokan barang juga perlu diperhatikan. "Kalau enggak ada suplainya akan menimbulkan volatilitas." Oleh sebab itu, menurut dia, komoditas seperti beras, gula, tepung terigu, kedelai, dan minyak goreng adalah lima komodtas yang selama ini pemerintah akan pantau dengan sangat detail.
Menteri Sri Mulyani optimistis inflasi tahun ini terkendali di kisaran 5 plus-minus 1 persen. Meski, pemerintah akan menggunakan target 5,5 persen, berubah dari asumsi awal APBN 2010 sebesar 5 persen. "Itu lebih karena potensi yang terjadi dari sisi harga komoditas," katanya. Untuk alasan itu pula, target SBI tiga bulanan juga diubah menjadi 6,8 persen dari sebelumnya 6,5 persen.
AGOENG WIJAYA
http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2010/01/19/brk,20100119-220176,id.html
Harga Beras di Jateng Meroket
9:54:00 AM
20/01/2010 05:50
Liputan6.com, Tegal: Harga beras di sejumlah daerah terus mengalami kenaikan. Pantauan SCTV di pasar beras Martoloyo, Tegal, Jawa Tengah, Selasa (19/1), kenaikan harga terjadi pada semua jenis beras, dari kualitas rendah sampai super. Bahkan, harga beras di pasar-pasar tradisional di Tegal lebih mahal Rp 500 per kilogram dibandingkan di Martoloyo.
Sementara di Pasar Induk Wonosobo, Jateng, situasi serupa juga terjadi. Sejak dua pekan terakhir beras IR-64 harganya mencapai Rp 6.500 atau naik Rp 1.200 per kilogram dari sebelumnya seharga Rp 5.300 per kilogram. Sedang beras ketan naik Rp 1.500 per kilogram yakni dari Rp 6.000 menjadi Rp 7.500 per kilogram.
Menurut sejumlah pedagang, kenaikan disebabkan sebagian petani mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus. Untuk menambah stok, pedagang mengaku kesulitan lantaran pedagang besar juga kehabisan stok. Sementara pembeli sendiri juga sepi.
Lain lagi di Bantul, Yogyakarta. Menumbuk gaplek kini menjadi keseharian Partinah. Ketidakmampuan membeli beras, membuat Partinah kembali mengonsumsi tiwul, yaitu gaplek atau ketela yang dikeringkan. Kini Partinah hanya bisa berharap pemerintah segera mendistribusikan jatah raskin bagi warga dan harga beras kembali normal.(ADO)
http://berita.liputan6.com/ekbis/201001/259829/Harga.Beras.di.Jateng.Meroket
Liputan6.com, Tegal: Harga beras di sejumlah daerah terus mengalami kenaikan. Pantauan SCTV di pasar beras Martoloyo, Tegal, Jawa Tengah, Selasa (19/1), kenaikan harga terjadi pada semua jenis beras, dari kualitas rendah sampai super. Bahkan, harga beras di pasar-pasar tradisional di Tegal lebih mahal Rp 500 per kilogram dibandingkan di Martoloyo.
Sementara di Pasar Induk Wonosobo, Jateng, situasi serupa juga terjadi. Sejak dua pekan terakhir beras IR-64 harganya mencapai Rp 6.500 atau naik Rp 1.200 per kilogram dari sebelumnya seharga Rp 5.300 per kilogram. Sedang beras ketan naik Rp 1.500 per kilogram yakni dari Rp 6.000 menjadi Rp 7.500 per kilogram.
Menurut sejumlah pedagang, kenaikan disebabkan sebagian petani mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus. Untuk menambah stok, pedagang mengaku kesulitan lantaran pedagang besar juga kehabisan stok. Sementara pembeli sendiri juga sepi.
Lain lagi di Bantul, Yogyakarta. Menumbuk gaplek kini menjadi keseharian Partinah. Ketidakmampuan membeli beras, membuat Partinah kembali mengonsumsi tiwul, yaitu gaplek atau ketela yang dikeringkan. Kini Partinah hanya bisa berharap pemerintah segera mendistribusikan jatah raskin bagi warga dan harga beras kembali normal.(ADO)
http://berita.liputan6.com/ekbis/201001/259829/Harga.Beras.di.Jateng.Meroket
Pedagang Keluhkan Minimnya Beras Kualitas Rendah
9:43:00 AM
Rabu, 20 Januari 2010 | 08:16 WIB
TEMPO Interaktif, Cirebon - Beras jenis kualitas ketiga atau kualitas paling rendah yang biasanya banyak dicari masyarakat menengah ke bawah semakin langka di pasaran. Pedagang beras mengaku kesulitan mendapatkan beras tersebut karena pasokannya semakin minim.
Seperti diungkapkan seorang pedagang beras di Pasar Pagi, Kota Cirebon, Madi. "Sekarang ini beras kualitas III yang banyak digemari masyarakat ekonomi ke bawah justru semakin langka," katanya.
Tidak hanya langka, harga beras jenis itu pun saat ini sudah naik berkali-kali lipat. Dari semula Rp 4.500 per kilogram kini sudah naik berkali-kali lipat hingga mencapai Rp 5.800 per kilogram.
Kondisi seperti ini, lanjut Madi, sudah berlangsung sejak Desember lalu. "Diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga Maret mendatang seiring dengan datangnya musim panen di wilayah Cirebon," kata Madi. Saat ini Madi mengaku hanya menjual beras kualitas dua seharga Rp 6.500 per kilogram dan kualitas satu seharga Rp 7 ribu per kilogram.
Hal senada diungkapkan seorang pedagang lainnya, yaitu Udin. "Sudah hampir sebulan ini pasokan beras seret dan berkurang drastis," katanya. Bahkan berkurangnya pasokan di kios milik Udin itu hampir mencapai 50 persen, yaitu dari biasanya 15 ton kini hanya mendapatkan pasokan dari penggilingan sebanyak 7,5 ton per hari.
Tidak hanya pasokan yang seret, beras kualitas tiga yang biasanya banyak dibeli pembeli ekonomi ke bawah pun, menurut Udin, terus berkurang. "Bukannya kami tidak mau menjual beras kualitas ketiga, tapi memang barangnya memang sudah semakin langka," katanya.
IVANSYAH
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2010/01/20/brk,20100120-220212,id.html
TEMPO Interaktif, Cirebon - Beras jenis kualitas ketiga atau kualitas paling rendah yang biasanya banyak dicari masyarakat menengah ke bawah semakin langka di pasaran. Pedagang beras mengaku kesulitan mendapatkan beras tersebut karena pasokannya semakin minim.
Seperti diungkapkan seorang pedagang beras di Pasar Pagi, Kota Cirebon, Madi. "Sekarang ini beras kualitas III yang banyak digemari masyarakat ekonomi ke bawah justru semakin langka," katanya.
Tidak hanya langka, harga beras jenis itu pun saat ini sudah naik berkali-kali lipat. Dari semula Rp 4.500 per kilogram kini sudah naik berkali-kali lipat hingga mencapai Rp 5.800 per kilogram.
Kondisi seperti ini, lanjut Madi, sudah berlangsung sejak Desember lalu. "Diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga Maret mendatang seiring dengan datangnya musim panen di wilayah Cirebon," kata Madi. Saat ini Madi mengaku hanya menjual beras kualitas dua seharga Rp 6.500 per kilogram dan kualitas satu seharga Rp 7 ribu per kilogram.
Hal senada diungkapkan seorang pedagang lainnya, yaitu Udin. "Sudah hampir sebulan ini pasokan beras seret dan berkurang drastis," katanya. Bahkan berkurangnya pasokan di kios milik Udin itu hampir mencapai 50 persen, yaitu dari biasanya 15 ton kini hanya mendapatkan pasokan dari penggilingan sebanyak 7,5 ton per hari.
Tidak hanya pasokan yang seret, beras kualitas tiga yang biasanya banyak dibeli pembeli ekonomi ke bawah pun, menurut Udin, terus berkurang. "Bukannya kami tidak mau menjual beras kualitas ketiga, tapi memang barangnya memang sudah semakin langka," katanya.
IVANSYAH
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2010/01/20/brk,20100120-220212,id.html
