Showing posts with label Animal. Show all posts
Susu Unta Lebih Bergizi Dibandingkan Susu Sapi
11:22:00 AM
Jumat, 26 Pebruari 2010 09:55 WIB
Jakarta (ANTARA News) - Susu unta lebih bergizi dibandingkan dengan susu sapi karena susu itu lebih rendah lemak dan kolesterol, namun lebih kaya potassium, zat besi dan mineral seperti sodium dan magnesium.
Kesimpulan adalah isi dokumen Konferensi Kelima Keselamatan Makanan Internasional di Dubai, yang diselenggarakan 22-25 Februari di Dubai International Convention and Exhibition Center.
Dokumen itu menyebutkan, "Unta adalah bagian penting dalam tradisi dan kebudayaan Arab dan susunya adalah komponen makanan penting di Emirat dan negara lain Arab."
Dokumen berjudul "Standrds for Camel Milk" ini diajukan oleh Fatima AbdulRahman, pemimpin Ahli Mikrobiologi Makanan di Laboratorium Pusat Dubai di Kotapraja Dubai, Uni Emirat Arab (UAE).
"Sekarang, susu unta sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia di banyak negara lain," kata Fatima dalam dokumen itu.
"Terdapat 18 juta unta di dunia yang mendukung kelangsungan hidup manusia di daerah setengah tandus," demikian antara lain isi dokumen itu sebagaimana dikutip Kantor Berita Uni Emirat Arab, WAM.
Fatima mengatakan rasa susu unta biasanya manis dan tajam, tapi kadangkala terasa asin dan pada saat lain terasa berair.
"Kualitas susu dipengaruhi oleh jumlah anak unta, usia hewan tersebut, kadar hewan itu menyusui anak, kualitas dan jumlah makanan, serta jumlah air yang tersedia," kata Fatima.
Ketika berbicara mengenai manfaat susu unta, Fatima mengatakan susu unta adalah sumber protein yang berlimpah dengan kegiatan perlindungan dan potensi antimikroba.
"Sebagian protein itu tak ditemukan pada susu sapi, kalaupun ditemukan hanya sedikit. Susu unta tak perlu dimasak sampai mendidih seperti susu sapi atau kambing. Susu unta, yang kaya akan rasa, harus diminum secara perlahan untuk memungkinkan perut mencernanya," kata Fatima.
Ia mengatakan beberapa studi telah dilakukan sehubungan dengan komposisi susu unta.
"Semua studi tersebut menunjukkan bahwa kandungan lemak per unit susu unta adalah 1,8 persen-3,8 persen. Vitamin C dan Niacin jauh lebih tinggi pada susu unta. Kandungan vitamin dan protein berbeda pada susu unta. Namun jumlah laktosa pada susu unta sama dengan laktosa pada susu sapi," papar Fatima.
Dia melanjutkan, "Susu unta berisi lebih sedikit vitamin A, B2, folic acid dan panthonthenic acid dibandingkan dengan pada susu sapi, yang dapat dipandang tak menguntungkan pada susunan susu unta."
Mengenai meminum susu unta mentah-mentah, ia mengatakan susu unta yang tak dimasak dapat menciptakan "brucellosis".
"Bakteri `brucellosis` menular ke manusia melalui produk susu yang tak diolah. Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan pencemaran lingkungan melalui darah hewan itu dan jaringan yang terinfeksi juga dapat mengakibatkan `brucellosis`," katanya.
Susu unta juga memiliki berumur lebih lama dibandingkan jenis susu lain karena adanya beberapa susunan khusus dan kuat.
"Temuan ini memiliki kepentingan besar bagi manusia yang hidup di daerah gurun, tempat instlasi pendingin tak tersedia. Nilai Lactoferrin dan immunoglobulin diperkirakan agak lebih tinggi pada susu unta dibandingkan dengan yang dilaporkan pada susu sapi," kata Fatima.
Spesifikasi bagi susu unta itu disiapkan oleh Kotapraja Dubai setelah bekerjasama dengan Emirates Standards and Metrological Authority (ESMA), Emirates Industry for Camel Milk & Products dan Central Veterinary Research Laboratory di Dubai.
"Pentingnya spesifikasi ini menjadi pengejawantahan dari perawatan yang diberikan oleh negara dan disajikan oleh para tetuanya, bagi unta yang menjadi warisan kebudayaan negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)," kata Fatima.
Dia mengatakan, produk susu unta berbeda dari yang lain karena banyak ciri khas luar biasa yang menjadikannya produk yang kaya dan kemudian dikembangkan melalui penelitian ilmiah secara luas.
"Spesifikasi ini dipandang unik oleh negara ini (UEA) sehingga perlu dilindung melalui jejak kebudayaan. Negara ini memiliki instalasi pengolahan susu unta di Dubai dan al Ain," kata Fatima.
UAE telah melaksanakan tugas mempersiapkan spesifikasi bagi susu unta melalui ESMA dan badan lain yang mengkhususkan diri dalam menyetujui spesifikasi internasional.
"Pertemuan regional Codex Middle East memberi persetujuan mengenai spesifikasi susu unta ini," demikian Fatiman. (*)
WAM/C003/AR09
http://www.antaranews.com/berita/1267152915/susu-unta-lebih-bergizi-dibandingkan-susu-sapi
Jakarta (ANTARA News) - Susu unta lebih bergizi dibandingkan dengan susu sapi karena susu itu lebih rendah lemak dan kolesterol, namun lebih kaya potassium, zat besi dan mineral seperti sodium dan magnesium.
Kesimpulan adalah isi dokumen Konferensi Kelima Keselamatan Makanan Internasional di Dubai, yang diselenggarakan 22-25 Februari di Dubai International Convention and Exhibition Center.
Dokumen itu menyebutkan, "Unta adalah bagian penting dalam tradisi dan kebudayaan Arab dan susunya adalah komponen makanan penting di Emirat dan negara lain Arab."
Dokumen berjudul "Standrds for Camel Milk" ini diajukan oleh Fatima AbdulRahman, pemimpin Ahli Mikrobiologi Makanan di Laboratorium Pusat Dubai di Kotapraja Dubai, Uni Emirat Arab (UAE).
"Sekarang, susu unta sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia di banyak negara lain," kata Fatima dalam dokumen itu.
"Terdapat 18 juta unta di dunia yang mendukung kelangsungan hidup manusia di daerah setengah tandus," demikian antara lain isi dokumen itu sebagaimana dikutip Kantor Berita Uni Emirat Arab, WAM.
Fatima mengatakan rasa susu unta biasanya manis dan tajam, tapi kadangkala terasa asin dan pada saat lain terasa berair.
"Kualitas susu dipengaruhi oleh jumlah anak unta, usia hewan tersebut, kadar hewan itu menyusui anak, kualitas dan jumlah makanan, serta jumlah air yang tersedia," kata Fatima.
Ketika berbicara mengenai manfaat susu unta, Fatima mengatakan susu unta adalah sumber protein yang berlimpah dengan kegiatan perlindungan dan potensi antimikroba.
"Sebagian protein itu tak ditemukan pada susu sapi, kalaupun ditemukan hanya sedikit. Susu unta tak perlu dimasak sampai mendidih seperti susu sapi atau kambing. Susu unta, yang kaya akan rasa, harus diminum secara perlahan untuk memungkinkan perut mencernanya," kata Fatima.
Ia mengatakan beberapa studi telah dilakukan sehubungan dengan komposisi susu unta.
"Semua studi tersebut menunjukkan bahwa kandungan lemak per unit susu unta adalah 1,8 persen-3,8 persen. Vitamin C dan Niacin jauh lebih tinggi pada susu unta. Kandungan vitamin dan protein berbeda pada susu unta. Namun jumlah laktosa pada susu unta sama dengan laktosa pada susu sapi," papar Fatima.
Dia melanjutkan, "Susu unta berisi lebih sedikit vitamin A, B2, folic acid dan panthonthenic acid dibandingkan dengan pada susu sapi, yang dapat dipandang tak menguntungkan pada susunan susu unta."
Mengenai meminum susu unta mentah-mentah, ia mengatakan susu unta yang tak dimasak dapat menciptakan "brucellosis".
"Bakteri `brucellosis` menular ke manusia melalui produk susu yang tak diolah. Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan pencemaran lingkungan melalui darah hewan itu dan jaringan yang terinfeksi juga dapat mengakibatkan `brucellosis`," katanya.
Susu unta juga memiliki berumur lebih lama dibandingkan jenis susu lain karena adanya beberapa susunan khusus dan kuat.
"Temuan ini memiliki kepentingan besar bagi manusia yang hidup di daerah gurun, tempat instlasi pendingin tak tersedia. Nilai Lactoferrin dan immunoglobulin diperkirakan agak lebih tinggi pada susu unta dibandingkan dengan yang dilaporkan pada susu sapi," kata Fatima.
Spesifikasi bagi susu unta itu disiapkan oleh Kotapraja Dubai setelah bekerjasama dengan Emirates Standards and Metrological Authority (ESMA), Emirates Industry for Camel Milk & Products dan Central Veterinary Research Laboratory di Dubai.
"Pentingnya spesifikasi ini menjadi pengejawantahan dari perawatan yang diberikan oleh negara dan disajikan oleh para tetuanya, bagi unta yang menjadi warisan kebudayaan negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)," kata Fatima.
Dia mengatakan, produk susu unta berbeda dari yang lain karena banyak ciri khas luar biasa yang menjadikannya produk yang kaya dan kemudian dikembangkan melalui penelitian ilmiah secara luas.
"Spesifikasi ini dipandang unik oleh negara ini (UEA) sehingga perlu dilindung melalui jejak kebudayaan. Negara ini memiliki instalasi pengolahan susu unta di Dubai dan al Ain," kata Fatima.
UAE telah melaksanakan tugas mempersiapkan spesifikasi bagi susu unta melalui ESMA dan badan lain yang mengkhususkan diri dalam menyetujui spesifikasi internasional.
"Pertemuan regional Codex Middle East memberi persetujuan mengenai spesifikasi susu unta ini," demikian Fatiman. (*)
WAM/C003/AR09
http://www.antaranews.com/berita/1267152915/susu-unta-lebih-bergizi-dibandingkan-susu-sapi
Hayo..Seafood Harus Ramah Lingkungan Lho..
11:21:00 AM
Ahad, 28 Februari 2010, 14:59 WIB
JAKARTA--LSM WWF Singapura meluncurkan panduan makanan laut (seafood) yang ramah lingkungan untuk membantu menyelamatkan Segitiga Karang Dunia (Coral Reef Triangle).
Panduan Seafood Singapura buatan WWF itu membantu menambah informasi bagi penikmat makanan laut dan perusahaan seafood serta memberi pilihan konsumsi seafood yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
"Ekosistem laut yang rentan dari Segitiga Karang Dunia sedang dalam tekanan dari meningkatnya penangkapan ikan yang lebih cepat dibandingkan yang tersedia," kata Program Coral Triangle WWF, Geoffrey Muldoon dalam siaran pers WWF yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu.
Dengan rata-rata 100.000 ton konsumsi seafood setiap tahun, Singapura menjadi salah satu pengkonsumsi seafood terbesar di Asia Pasifik. Singapura juga menjadi pusat perdagangan seafood dan hampir semua ikan impor yang diperdagangkan tersebut berasal dari Coral Triangle -- kawasan laut paling tinggi tingkat keanekaragaman hayatinya.
"Di masa lampau, hampir semua orang tidak peduli dari mana ikan yang tersaji di piringnya berasal atau ikan yang mereka makan telah 'overfishing' atau ditangkap dengan cara yang merusak ekosistem laut," kata Direktur Pelaksana WWF Singapura, Amy Ho. Amy mengatakan hampir semua seafood yang terlihat di Singapura berasal dari kawasan yang telah mengalami "overfishing" selama bertahun-tahun.
Dalam sebuah jajak pendapat di Singapura yang dilakukan WWF, 80 persen responden mengatakan ingin berhenti atau mengurangi memakan seafood jika mereka diberitahu bahwa seafood tersebut ditangkap secara tidak ramah lingkungan. Panduan Seafood WWF dengan ukuran kantong yang mudah dibawa ketika berbelanja atau makan di restoran seafood, menyajikan pilihan ikan yang ditangkap atau dipanen secara bertanggung jawab.
Panduan tersebut menerangkan jenis ikan seperti lampu hijau untuk seafood yang direkomendasikan untuk dimakan, kuning untuk seafood yang sesekali bisa dimakan dan merah untuk seafood yang perlu dihindari. Panduan Seafood Singapura menjadi salah satu elemen luas dan lebar yang menjangkau konservasi laut dari jaringan WWF untuk mempromosikan seafood berkelanjutan yang bekerja menyeluruh dari perubahan kebiasaan dari laut ke piring makanan.
Di Singapura, WWF tidak hanya bekerja bersama dengan konsumen tetapi juga dengan ritel, hotel, restoran, dan pedagang untuk meningkatkan kepedulian terhadap keberlanjutan dan perikanan laut yang bertanggung jawab. "Di masa mendatang, kami menunggu kerjasama untuk kampanye Seafood Singapura untuk meningkatkan kepedulian yang lebih besar dari para pengunjung mengenai pentingnya menjadi ramah lingkungan dengan pilihan makanan yang tepat," kata Manajer Fairmont Singapura, Ian Wilson.
Ian menambahkan pihaknya segera memulai program panduan Seafood WWF dalam daftar menu mereka. Panduan Seafood Singapura dapat diunduh gratis di laman WWF Singapura dan akan didistribusikan gratis di beberapa tempat di Singapura.
Red: krisman
Sumber Berita: ant
http://www.republika.co.id/berita/105169/hayoseafood-harus-ramah-lingkungan-lho
JAKARTA--LSM WWF Singapura meluncurkan panduan makanan laut (seafood) yang ramah lingkungan untuk membantu menyelamatkan Segitiga Karang Dunia (Coral Reef Triangle).
Panduan Seafood Singapura buatan WWF itu membantu menambah informasi bagi penikmat makanan laut dan perusahaan seafood serta memberi pilihan konsumsi seafood yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
"Ekosistem laut yang rentan dari Segitiga Karang Dunia sedang dalam tekanan dari meningkatnya penangkapan ikan yang lebih cepat dibandingkan yang tersedia," kata Program Coral Triangle WWF, Geoffrey Muldoon dalam siaran pers WWF yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu.
Dengan rata-rata 100.000 ton konsumsi seafood setiap tahun, Singapura menjadi salah satu pengkonsumsi seafood terbesar di Asia Pasifik. Singapura juga menjadi pusat perdagangan seafood dan hampir semua ikan impor yang diperdagangkan tersebut berasal dari Coral Triangle -- kawasan laut paling tinggi tingkat keanekaragaman hayatinya.
"Di masa lampau, hampir semua orang tidak peduli dari mana ikan yang tersaji di piringnya berasal atau ikan yang mereka makan telah 'overfishing' atau ditangkap dengan cara yang merusak ekosistem laut," kata Direktur Pelaksana WWF Singapura, Amy Ho. Amy mengatakan hampir semua seafood yang terlihat di Singapura berasal dari kawasan yang telah mengalami "overfishing" selama bertahun-tahun.
Dalam sebuah jajak pendapat di Singapura yang dilakukan WWF, 80 persen responden mengatakan ingin berhenti atau mengurangi memakan seafood jika mereka diberitahu bahwa seafood tersebut ditangkap secara tidak ramah lingkungan. Panduan Seafood WWF dengan ukuran kantong yang mudah dibawa ketika berbelanja atau makan di restoran seafood, menyajikan pilihan ikan yang ditangkap atau dipanen secara bertanggung jawab.
Panduan tersebut menerangkan jenis ikan seperti lampu hijau untuk seafood yang direkomendasikan untuk dimakan, kuning untuk seafood yang sesekali bisa dimakan dan merah untuk seafood yang perlu dihindari. Panduan Seafood Singapura menjadi salah satu elemen luas dan lebar yang menjangkau konservasi laut dari jaringan WWF untuk mempromosikan seafood berkelanjutan yang bekerja menyeluruh dari perubahan kebiasaan dari laut ke piring makanan.
Di Singapura, WWF tidak hanya bekerja bersama dengan konsumen tetapi juga dengan ritel, hotel, restoran, dan pedagang untuk meningkatkan kepedulian terhadap keberlanjutan dan perikanan laut yang bertanggung jawab. "Di masa mendatang, kami menunggu kerjasama untuk kampanye Seafood Singapura untuk meningkatkan kepedulian yang lebih besar dari para pengunjung mengenai pentingnya menjadi ramah lingkungan dengan pilihan makanan yang tepat," kata Manajer Fairmont Singapura, Ian Wilson.
Ian menambahkan pihaknya segera memulai program panduan Seafood WWF dalam daftar menu mereka. Panduan Seafood Singapura dapat diunduh gratis di laman WWF Singapura dan akan didistribusikan gratis di beberapa tempat di Singapura.
Red: krisman
Sumber Berita: ant
http://www.republika.co.id/berita/105169/hayoseafood-harus-ramah-lingkungan-lho
Harga Pakan Naik, Tak Sebanding Harga Susu
11:22:00 AM
Kamis, 11 Februari 2010 | 03:23 WIB
BANDUNG, KOMPAS - Peternak sapi perah di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengeluhkan kenaikan harga pakan konvensional, sementara pakan alternatif, seperti ongok atau ampas tahu dan ketela, juga naik.
Tingginya biaya produksi tersebut tidak sebanding dengan harga beli susu oleh koperasi yang anjlok sejak akhir Januari.
Danuri (54), peternak susu di Cisarua, Lembang, Rabu (10/2), mengatakan, harga konsentrat sejak awal Desember naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.300- Rp 2.000 per kilogram. Sementara harga pakan rumput yang semula Rp 300-Rp 500 menjadi Rp 600-Rp 800 per kilogram.
”Biaya pakan semakin mahal. Mau pakai pakan alternatif juga susah mendapatnya. Kalaupun ada, harganya tinggi,” ujar Danuri.
Awaludin (58), peternak sapi perah di Desa Pasirhalang, Cisarua, Bandung Barat, menuturkan, harga pakan alternatif, seperti ongok atau ampas ketela dan tahu, mencapai Rp 18.000 per karung setara dengan 25 kg. Dua bulan lalu harga ongok masih Rp 9.000 per karung. Tingginya harga ongok sangat membebani peternak.
”Pakan ongok delapan ekor sapi menghabiskan 70 karung ampas tahu untuk 15 hari. Ampas tahu yang sebagian besar disuplai dari Cibuntu digunakan sebagai makanan tambahan selain rumput,” ujarnya.
Tingginya harga pakan ternak konsentrat diakui Ketua Pengawas Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Jawa Barat, Jajang Sumarna. Menurut dia, belum turunnya harga konsentrat karena masih tingginya harga sembilan bahan baku pembuatannya, misalnya dedak yang harganya mencapai Rp 1.700 per kg. Pada musim hujan, dedak juga sulit didapat. ”Kalau ada, juga harus bersaing dengan peternak ayam,” ujarnya.
Harga pakan yang tinggi tersebut sangat membebani para peternak sapi perah. Awaludin mengungkapkan, biaya pemeliharaan empat sapi miliknya Rp 132.500 per hari. Untuk itu, jika ingin impas, harga beli susu dari koperasi seharusnya Rp 3.600 per liter. Namun, harga beli susu dari koperasi saat ini maksimal hanya Rp 3.100 per liter.
Harga susu turun
Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat Dedi Setiadi membenarkan kesulitan peternak tersebut. Meski demikian, pihak koperasi tidak bisa berbuat banyak karena harga beli ke peternak juga tergantung dari harga jual susu ke industri pengolahan susu (IPS).
Dedi mengaku, pihaknya bukannya belum pernah memperjuangkan kenaikan harga susu. Awal Januari, GKSI telah mengajukan kenaikan harga susu sebesar 10 persen kepada pihak IPS.
”Namun, saat itu harga susu dunia justru turun dari 3.600 dollar AS per metrik ton menjadi 2.800 dollar AS per metrik ton. Akibatnya, harga pembelian susu ke peternak juga harus turun,” ujarnya.
Saat ini pihak koperasi membeli susu sapi segar dari peternak dengan harga berkisar Rp 2.800- Rp 3.400 per liter, tergantung dari kualitas. Adapun pada akhir tahun lalu harga pembelian susu bisa mencapai Rp 3.600 per liter. (GRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/11/03230944/harga.pakan.naik.tak.sebanding..harga.susu.
BANDUNG, KOMPAS - Peternak sapi perah di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mengeluhkan kenaikan harga pakan konvensional, sementara pakan alternatif, seperti ongok atau ampas tahu dan ketela, juga naik.
Tingginya biaya produksi tersebut tidak sebanding dengan harga beli susu oleh koperasi yang anjlok sejak akhir Januari.
Danuri (54), peternak susu di Cisarua, Lembang, Rabu (10/2), mengatakan, harga konsentrat sejak awal Desember naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.300- Rp 2.000 per kilogram. Sementara harga pakan rumput yang semula Rp 300-Rp 500 menjadi Rp 600-Rp 800 per kilogram.
”Biaya pakan semakin mahal. Mau pakai pakan alternatif juga susah mendapatnya. Kalaupun ada, harganya tinggi,” ujar Danuri.
Awaludin (58), peternak sapi perah di Desa Pasirhalang, Cisarua, Bandung Barat, menuturkan, harga pakan alternatif, seperti ongok atau ampas ketela dan tahu, mencapai Rp 18.000 per karung setara dengan 25 kg. Dua bulan lalu harga ongok masih Rp 9.000 per karung. Tingginya harga ongok sangat membebani peternak.
”Pakan ongok delapan ekor sapi menghabiskan 70 karung ampas tahu untuk 15 hari. Ampas tahu yang sebagian besar disuplai dari Cibuntu digunakan sebagai makanan tambahan selain rumput,” ujarnya.
Tingginya harga pakan ternak konsentrat diakui Ketua Pengawas Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Jawa Barat, Jajang Sumarna. Menurut dia, belum turunnya harga konsentrat karena masih tingginya harga sembilan bahan baku pembuatannya, misalnya dedak yang harganya mencapai Rp 1.700 per kg. Pada musim hujan, dedak juga sulit didapat. ”Kalau ada, juga harus bersaing dengan peternak ayam,” ujarnya.
Harga pakan yang tinggi tersebut sangat membebani para peternak sapi perah. Awaludin mengungkapkan, biaya pemeliharaan empat sapi miliknya Rp 132.500 per hari. Untuk itu, jika ingin impas, harga beli susu dari koperasi seharusnya Rp 3.600 per liter. Namun, harga beli susu dari koperasi saat ini maksimal hanya Rp 3.100 per liter.
Harga susu turun
Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat Dedi Setiadi membenarkan kesulitan peternak tersebut. Meski demikian, pihak koperasi tidak bisa berbuat banyak karena harga beli ke peternak juga tergantung dari harga jual susu ke industri pengolahan susu (IPS).
Dedi mengaku, pihaknya bukannya belum pernah memperjuangkan kenaikan harga susu. Awal Januari, GKSI telah mengajukan kenaikan harga susu sebesar 10 persen kepada pihak IPS.
”Namun, saat itu harga susu dunia justru turun dari 3.600 dollar AS per metrik ton menjadi 2.800 dollar AS per metrik ton. Akibatnya, harga pembelian susu ke peternak juga harus turun,” ujarnya.
Saat ini pihak koperasi membeli susu sapi segar dari peternak dengan harga berkisar Rp 2.800- Rp 3.400 per liter, tergantung dari kualitas. Adapun pada akhir tahun lalu harga pembelian susu bisa mencapai Rp 3.600 per liter. (GRE)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/11/03230944/harga.pakan.naik.tak.sebanding..harga.susu.
30 Provinsi belum Bebas Flu Burung
11:05:00 AM
Sabtu, 06 Februari 2010 08:12 WIB
SUKABUMI--MI: Sebanyak 30 provinsi di Indonesia masih belum terbebas dari penyebaran penyakit flu burung, yang berdampak pada larangan ekspor unggas ke luar negeri secara menyeluruh, kata Menteri Pertanian (Mentan) RI Suswono.
Seusai mencanangkan gerakan nasional Peternak Sehat dan Ternak Sehat di Desa Tenjolaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (5/2), Suswono menegaskan, kini pemerintah memprioritaskan penanganan kasus flu burung, sehingga pada tahun berikutnya, ada sejumlah provinsi lainnya yang terbebas dari penyakit tersebut.
Menurut dia, penanganan kasus flu burung tetap dilakukan oleh Komnas flu burung dan didalamnya termasuk Menteri Pertanian. Keberadaan Komnas Flu Burung sendiri dalam waktu dekat ini akan segera diganti dengan kelembagaan yang baru.
Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan baru ada tiga provinsi yang bebas flu burung, yakni Maluku Utara, Gorontalo, dan baru-baru ini Kalimantan Barat.
Mentan mengatakan, jika masalah flu burung bisa diatasi, maka Indonesia bisa memanfaatkan peluang ekspor ke luar negeri yang luar biasa, tetapi potensi sektor perunggasan di Indonesia yang sudah terealisasi baru mencapai 60 persen.
"Salah satu penyebabnya adalah flu burung. Gerakan pencanangan peternakan sehat ini merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi penyebaran flu burung," tutur Suswono.
Pemeliharaan unggas nantinya tidak terbuka atau dilepas karena tidak akan menguntungkan dan sangat rentan terhadap penyebaran penyakit dan sulit untuk mengendalikannya.
Di tempat yang sama, Bupati Sukabumi, Sukmawijaya, mendukung upaya penanganan flu burung yang dilakukan pemerintah pusat, antara lain, dengan melakukan kegiatan pengetatan atau 'bio security', pemusnahan unggas positif flu burung, vaksinasi ternak unggas yang sehat.
Ia menjelaskan, pada awal tahun 2010 ini, di Kabupaten Sukabumi, telah terjadi satu kasus kematian massal unggas sebanyak 569 ekor. "Kasus tersebut saat ini tengah ditangani oleh Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Sukabumi, sehingga permasalahan flu burung segera diatasi," ujarnya. (Ant/OL-03)
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/06/121541/71/14/30-Provinsi-belum-Bebas-Flu-Burung
SUKABUMI--MI: Sebanyak 30 provinsi di Indonesia masih belum terbebas dari penyebaran penyakit flu burung, yang berdampak pada larangan ekspor unggas ke luar negeri secara menyeluruh, kata Menteri Pertanian (Mentan) RI Suswono.
Seusai mencanangkan gerakan nasional Peternak Sehat dan Ternak Sehat di Desa Tenjolaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (5/2), Suswono menegaskan, kini pemerintah memprioritaskan penanganan kasus flu burung, sehingga pada tahun berikutnya, ada sejumlah provinsi lainnya yang terbebas dari penyakit tersebut.
Menurut dia, penanganan kasus flu burung tetap dilakukan oleh Komnas flu burung dan didalamnya termasuk Menteri Pertanian. Keberadaan Komnas Flu Burung sendiri dalam waktu dekat ini akan segera diganti dengan kelembagaan yang baru.
Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan baru ada tiga provinsi yang bebas flu burung, yakni Maluku Utara, Gorontalo, dan baru-baru ini Kalimantan Barat.
Mentan mengatakan, jika masalah flu burung bisa diatasi, maka Indonesia bisa memanfaatkan peluang ekspor ke luar negeri yang luar biasa, tetapi potensi sektor perunggasan di Indonesia yang sudah terealisasi baru mencapai 60 persen.
"Salah satu penyebabnya adalah flu burung. Gerakan pencanangan peternakan sehat ini merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi penyebaran flu burung," tutur Suswono.
Pemeliharaan unggas nantinya tidak terbuka atau dilepas karena tidak akan menguntungkan dan sangat rentan terhadap penyebaran penyakit dan sulit untuk mengendalikannya.
Di tempat yang sama, Bupati Sukabumi, Sukmawijaya, mendukung upaya penanganan flu burung yang dilakukan pemerintah pusat, antara lain, dengan melakukan kegiatan pengetatan atau 'bio security', pemusnahan unggas positif flu burung, vaksinasi ternak unggas yang sehat.
Ia menjelaskan, pada awal tahun 2010 ini, di Kabupaten Sukabumi, telah terjadi satu kasus kematian massal unggas sebanyak 569 ekor. "Kasus tersebut saat ini tengah ditangani oleh Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Sukabumi, sehingga permasalahan flu burung segera diatasi," ujarnya. (Ant/OL-03)
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/06/121541/71/14/30-Provinsi-belum-Bebas-Flu-Burung
Kerusakan Hutan Akibatkan Gajah Masuk Kompleks Chevron
11:05:00 AM
Rabu, 3 Pebruari 2010 13:19 WIB
Pekanbaru (ANTARA News) - Kawanan gajah liar yang memasuki kompleks PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) di Kecamatan Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau, adalah akibat satwa dilindungi tersebut kesulitan mencari makan di hutan habitatnya yang rusak parah .
"Gajah yang masuk kompleks perusahaan berasal dari Kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja. Namun, karena habitat mereka di Balai Raja telah rusak parah, maka gajah kini sulit mendapatkan makanan dan terpaksa masuk di areal perusahaan," kata Humas WWF Riau Syamsidar kepada ANTARA di Pekanbaru, Rabu.
Syamsidar mengatakan hal itu terkait masuknya puluhan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di kompleks CPI Duri sejak 24 Januari.
Syamsidar mengatakan, kondisi hutan di Balai Raja yang merupakan habitat gajah kini tinggal bersisa sekitar 120 hektare. atau kurang dari 10 persen, dari luas sebelumnya yang mencapai 18 ribu hektare saat ditetapkan Menteri Kehutanan pada 1986.
Kondisi habitat tempat mencari makan satwa bongsor itu juga makin sempit karena hutan yang tersisa merupakan rawa-rawa dan sering meluap saat musim hujan.
"Kompleks Chevron sebenarnya bukan lintasan gajah, tapi sekarang sepertinya menjadi jalur lintasan alternatif karena habitat mereka makin sempit akibat beralih fungsi menjadi kebun sawit dan perumahan warga," katanya.
Berdasarkan catatan ANTARA, kawanan gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebelumnya pernah berkeliaran di dalam kompleks CPI Duri akibat meningkatnya konflik dengan manusia sejak tahun 2006.
Ia menambahkan, WWF kini bekerja sama dengan CPI berupa melakukan pembekalan pada sekuriti perusahaan agar tidak terjadi konflik antara gajah dengan manusia di dalam areal perusahaan.
"Kami hanya melakukan pembekalan kepada sekuriti karena penghalauan gajah semestinya dilakukan BKSDA Riau," katanya.
(F012/B010)
http://www.antaranews.com/berita/1265177954/kerusakan-hutan-akibatkan-gajah-masuk-kompleks-chevron
Pekanbaru (ANTARA News) - Kawanan gajah liar yang memasuki kompleks PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) di Kecamatan Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau, adalah akibat satwa dilindungi tersebut kesulitan mencari makan di hutan habitatnya yang rusak parah .
"Gajah yang masuk kompleks perusahaan berasal dari Kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja. Namun, karena habitat mereka di Balai Raja telah rusak parah, maka gajah kini sulit mendapatkan makanan dan terpaksa masuk di areal perusahaan," kata Humas WWF Riau Syamsidar kepada ANTARA di Pekanbaru, Rabu.
Syamsidar mengatakan hal itu terkait masuknya puluhan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di kompleks CPI Duri sejak 24 Januari.
Syamsidar mengatakan, kondisi hutan di Balai Raja yang merupakan habitat gajah kini tinggal bersisa sekitar 120 hektare. atau kurang dari 10 persen, dari luas sebelumnya yang mencapai 18 ribu hektare saat ditetapkan Menteri Kehutanan pada 1986.
Kondisi habitat tempat mencari makan satwa bongsor itu juga makin sempit karena hutan yang tersisa merupakan rawa-rawa dan sering meluap saat musim hujan.
"Kompleks Chevron sebenarnya bukan lintasan gajah, tapi sekarang sepertinya menjadi jalur lintasan alternatif karena habitat mereka makin sempit akibat beralih fungsi menjadi kebun sawit dan perumahan warga," katanya.
Berdasarkan catatan ANTARA, kawanan gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) sebelumnya pernah berkeliaran di dalam kompleks CPI Duri akibat meningkatnya konflik dengan manusia sejak tahun 2006.
Ia menambahkan, WWF kini bekerja sama dengan CPI berupa melakukan pembekalan pada sekuriti perusahaan agar tidak terjadi konflik antara gajah dengan manusia di dalam areal perusahaan.
"Kami hanya melakukan pembekalan kepada sekuriti karena penghalauan gajah semestinya dilakukan BKSDA Riau," katanya.
(F012/B010)
http://www.antaranews.com/berita/1265177954/kerusakan-hutan-akibatkan-gajah-masuk-kompleks-chevron
Lima Dokter Sisir Anjing-anjing Peliharaan
11:11:00 AM
Jumat, 29 Januari 2010 | 20:41 WIB
CIAMIS, TRIBUN -- Dinas Peternakan Ciamis menurunkan dua tim untuk memvaksin anjing, kera dan kucing peliharaan di kawasan Ciamis Kota sejak Kamis (28/1). Tim khusus ini melibatkan lima dokter hewan. Baru 24 ekor anjing peliharaan yang sudah divaksin antirabies (VAR).
"Hari ini kita tidak turun ke lapangan, vaksinasi anjing, kucing dan kera peliharaan ini akan dilanjutkan kembali Senin (1/2)," ujar Kabid Keswan Dinas Peternakan Ciamis Otong Bustami kepada Tribun, Jumat (29/1).
Ke-24 anjing yang berhasil divaksin merupakan anjing-anjing peliharaan warga di wilayah Kelurahan Ciamis bagian barat, yakni mulai Jalan Kaum hingga sekitar Olvado, Jalan Sudirman.
Menurut Budiono Spt dan drh Intan selaku tim lapangan, vaksinasi ini netelah adanya kejadian warga digigit anjing peliharaan beberapa hari lalu. Korban, Angga (8) penduduk Jalan Stasiun Lingkungan Kelapa Jajar RT 03/RW 11 digigit anjing peliharaan di dekat RM Nikmat Jl A Yani Ciamis. "Saat kejadian korban baru pulang sekolah. Korban kita beri suntikan vaksin antirabies (VAR), sementara anjingnya setelah kita periksa ternyata sehat," ujar Budiono. (sta)
http://tribunjabar.co.id/read/artikel/15223/lima-dokter-sisir-anjing-anjing-peliharaan
CIAMIS, TRIBUN -- Dinas Peternakan Ciamis menurunkan dua tim untuk memvaksin anjing, kera dan kucing peliharaan di kawasan Ciamis Kota sejak Kamis (28/1). Tim khusus ini melibatkan lima dokter hewan. Baru 24 ekor anjing peliharaan yang sudah divaksin antirabies (VAR).
"Hari ini kita tidak turun ke lapangan, vaksinasi anjing, kucing dan kera peliharaan ini akan dilanjutkan kembali Senin (1/2)," ujar Kabid Keswan Dinas Peternakan Ciamis Otong Bustami kepada Tribun, Jumat (29/1).
Ke-24 anjing yang berhasil divaksin merupakan anjing-anjing peliharaan warga di wilayah Kelurahan Ciamis bagian barat, yakni mulai Jalan Kaum hingga sekitar Olvado, Jalan Sudirman.
Menurut Budiono Spt dan drh Intan selaku tim lapangan, vaksinasi ini netelah adanya kejadian warga digigit anjing peliharaan beberapa hari lalu. Korban, Angga (8) penduduk Jalan Stasiun Lingkungan Kelapa Jajar RT 03/RW 11 digigit anjing peliharaan di dekat RM Nikmat Jl A Yani Ciamis. "Saat kejadian korban baru pulang sekolah. Korban kita beri suntikan vaksin antirabies (VAR), sementara anjingnya setelah kita periksa ternyata sehat," ujar Budiono. (sta)
http://tribunjabar.co.id/read/artikel/15223/lima-dokter-sisir-anjing-anjing-peliharaan
Ratusan Ayam di Sukabumi Positif Flu Burung
10:03:00 AM
Jumat, 29 Januari 2010 16:24 WIB
Sukabumi (ANTARA News) - Sebanyak 300 ekor ayam kampung yang mati mendadak di dua RW yakni di RW 05 dan 11 Kampung Anggayuda, Desa Pamuyuran, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dinyatakan positif terjangkit virus H5N1 atau flu burung.
"Setelah dilakukan pengujian cepat (rapid test) terhadap ayam yang mati menunjukan, ayam yang mati mendadak disebabkan oleh virus flu burung. Uji rapid ini tingkat kepercayaannya sampai 70 persen," kata Kabid Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner dr Asep Kurnadi usai melakukan pengambilan sampel darah ayam, Jumat.
Kendati demikian, kata dia, pihaknya akan tetap mengambil sampel darah ayam tersebut untuk diuji di laboratorium di Bandung untuk mengetahui lebih tepat apakah ayam yang mati tersebut 100 persen karena virus flu burung atau bukan.
Untuk mengantisipasi penyebaran virus itu, kata dia, ayam yang masih hidup akan dikarantina dan diberi vitamin agar kekebalan tubuhnya meningkat.
"Bila ada warga yang menemukan ayam yang sakit, diminta segera laporkan kepada pihak desa dan langsung mengubur atau membakarnya. Penyebaran virus ini sangat cepat, sehingga masyarakat yang memelihara ayam harus selalu waspada dan membersihkan kandang ayam dengan desinfektan," tuturnya.
Sementara itu, Ketua RW 05 Desa Pamuyuran Mimi Mintarsih menyebutkan, kejadian seperti ini sudah berlangsung selama satu minggu.
"Hingga saat ini, ayam yang mati mendadak mencapai 300 ekor yang berada di RW 05 dan RW 12. Pada awalnya, kami tidak mengetahui ada ayam yang mati mendadak, tetapi lama kelamaan ayam yang mati mendadak tersebut jumlahnya terus bertambah," katanya.
Menurut dia, warga sekitar seringkali menemukan bangkai ayam yang sudah membusuk karena sebelum mati ayam-ayam tersebut tidak menunjukkan gejala sakit dan langsung tiba-tiba mati.
Salah seorang warga setempat, Ence, mengatakan, sejumlah warga menguburkan ayam yang telah mati karena khawatir penyakit yang menyerang ayam mati mendadak ini menjalar ke ayam lain.
Menurut dia, sementara waktu ini pihaknya hanya mengamankan ayam-ayamnya yang masih hidup dan memberikan disinfektan untuk mencegah kembali kematian mendadak ayamnya tersebut. (*)
http://www.antaranews.com/berita/1264757062/ratusan-ayam-di-sukabumi-positif-flu-burung
Sukabumi (ANTARA News) - Sebanyak 300 ekor ayam kampung yang mati mendadak di dua RW yakni di RW 05 dan 11 Kampung Anggayuda, Desa Pamuyuran, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dinyatakan positif terjangkit virus H5N1 atau flu burung.
"Setelah dilakukan pengujian cepat (rapid test) terhadap ayam yang mati menunjukan, ayam yang mati mendadak disebabkan oleh virus flu burung. Uji rapid ini tingkat kepercayaannya sampai 70 persen," kata Kabid Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner dr Asep Kurnadi usai melakukan pengambilan sampel darah ayam, Jumat.
Kendati demikian, kata dia, pihaknya akan tetap mengambil sampel darah ayam tersebut untuk diuji di laboratorium di Bandung untuk mengetahui lebih tepat apakah ayam yang mati tersebut 100 persen karena virus flu burung atau bukan.
Untuk mengantisipasi penyebaran virus itu, kata dia, ayam yang masih hidup akan dikarantina dan diberi vitamin agar kekebalan tubuhnya meningkat.
"Bila ada warga yang menemukan ayam yang sakit, diminta segera laporkan kepada pihak desa dan langsung mengubur atau membakarnya. Penyebaran virus ini sangat cepat, sehingga masyarakat yang memelihara ayam harus selalu waspada dan membersihkan kandang ayam dengan desinfektan," tuturnya.
Sementara itu, Ketua RW 05 Desa Pamuyuran Mimi Mintarsih menyebutkan, kejadian seperti ini sudah berlangsung selama satu minggu.
"Hingga saat ini, ayam yang mati mendadak mencapai 300 ekor yang berada di RW 05 dan RW 12. Pada awalnya, kami tidak mengetahui ada ayam yang mati mendadak, tetapi lama kelamaan ayam yang mati mendadak tersebut jumlahnya terus bertambah," katanya.
Menurut dia, warga sekitar seringkali menemukan bangkai ayam yang sudah membusuk karena sebelum mati ayam-ayam tersebut tidak menunjukkan gejala sakit dan langsung tiba-tiba mati.
Salah seorang warga setempat, Ence, mengatakan, sejumlah warga menguburkan ayam yang telah mati karena khawatir penyakit yang menyerang ayam mati mendadak ini menjalar ke ayam lain.
Menurut dia, sementara waktu ini pihaknya hanya mengamankan ayam-ayamnya yang masih hidup dan memberikan disinfektan untuk mencegah kembali kematian mendadak ayamnya tersebut. (*)
http://www.antaranews.com/berita/1264757062/ratusan-ayam-di-sukabumi-positif-flu-burung
Peternak Dianjurkan Mengonsumsi Vitamin
11:43:00 AM
Rabu, 27 Januari 2010 10:17 WIB
Metrotvnews.com, Sumber: Peternak di Kabupaten Cirebon, Cirebon, yang bersentuhan langsung dengan unggas pada musim hujan dianjurkan mengonsumsi vitamin atau buah-buahan. Aksi ini untuk memperkuat daya tahan tubuh agar terhindari flu burung.
"Bagi peternak unggas dianjurkan memperkuat daya tahan tubuh antara lain mengonsumsi vitamin," kata Kepala Seksi Ternak, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon, Setio Utomo di Sumber, Rabu (27/1).
Setio mengatakan, mengingat di daerah itu akhir-akhir ini banyak ternak unggas terindikasi terserang flu burung, maka para peternak harus meningkatkan daya tahan tubuh.
Populasi unggas di Kabupaten Cirebon kini sekitar 1,8 juta ayam dan 400 ribu itik tersebar di 40 kecamatan. Sebanyak 1,8 juta ayam pada umumnya adalah ayam buras. Khusus ayam ras yang diternakkan secara intensif, vasksinasi dilakukan secara rutin, sehingga kecil kemungkinan terserang virus flu burung (H1N1).
Berbeda dengan ayam buras yang dikandangkan hanya pada malam hari dan hampir tidak pernah divaksinasi, mereka sangat rentan terinfeksi H1N1. Karena itu, Dinas Pertanian Cirebon kini terus memantau perkembangan ternak unggas di daerahnya. Termasuk memberi penyuluhan ke masyarakat peternak mengenai langkah yang harus ditempuh jika terjadi serangan flu burung.
Berdasarkan data, hampir sebulan terakhir sekitar 90 ayam mati mendadak di Kabupaten Cirebon yang diduga terkena flu burung. Seorang warga Kabupaten Cirebon bernama DR (41) hingga kini masih ditangani intensif di Rumah Sakit Gunungjati, Cirebon. Ia diduga terjangkit flu burung.(Ant/BEY)
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/01/27/9650/Peternak-Dianjurkan-Mengonsumsi-Vitamin/92
Metrotvnews.com, Sumber: Peternak di Kabupaten Cirebon, Cirebon, yang bersentuhan langsung dengan unggas pada musim hujan dianjurkan mengonsumsi vitamin atau buah-buahan. Aksi ini untuk memperkuat daya tahan tubuh agar terhindari flu burung.
"Bagi peternak unggas dianjurkan memperkuat daya tahan tubuh antara lain mengonsumsi vitamin," kata Kepala Seksi Ternak, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon, Setio Utomo di Sumber, Rabu (27/1).
Setio mengatakan, mengingat di daerah itu akhir-akhir ini banyak ternak unggas terindikasi terserang flu burung, maka para peternak harus meningkatkan daya tahan tubuh.
Populasi unggas di Kabupaten Cirebon kini sekitar 1,8 juta ayam dan 400 ribu itik tersebar di 40 kecamatan. Sebanyak 1,8 juta ayam pada umumnya adalah ayam buras. Khusus ayam ras yang diternakkan secara intensif, vasksinasi dilakukan secara rutin, sehingga kecil kemungkinan terserang virus flu burung (H1N1).
Berbeda dengan ayam buras yang dikandangkan hanya pada malam hari dan hampir tidak pernah divaksinasi, mereka sangat rentan terinfeksi H1N1. Karena itu, Dinas Pertanian Cirebon kini terus memantau perkembangan ternak unggas di daerahnya. Termasuk memberi penyuluhan ke masyarakat peternak mengenai langkah yang harus ditempuh jika terjadi serangan flu burung.
Berdasarkan data, hampir sebulan terakhir sekitar 90 ayam mati mendadak di Kabupaten Cirebon yang diduga terkena flu burung. Seorang warga Kabupaten Cirebon bernama DR (41) hingga kini masih ditangani intensif di Rumah Sakit Gunungjati, Cirebon. Ia diduga terjangkit flu burung.(Ant/BEY)
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/01/27/9650/Peternak-Dianjurkan-Mengonsumsi-Vitamin/92
Sekeluarga Keracunan Ayam Bangkai
9:34:00 PM
Kamis, 14 Januari 2010 | 9:55 WIB
Jombang - Surya- Satu keluarga beranggotakan lima orang asal Dusun Tanggungan, Desa Bandung, Kecamatan Diwek, harus dilarikan ke Puskesmas Cukir, akibat pusing, mual, dan muntaber hebat, Selasa (12/1) malam. Mereka diduga keracunan setelah siangnya menyantap ayam yang diduga bangkai dimasak bumbu bali.
Keluarga yang mengalami keracunan ini adalah pasangan Saifullah, 40, dan Gina, 35, serta tiga anaknya, Hery Siswanto, 15, Rindi, 13, dan Nanda, 10. Mereka mengeluh mual dan muntah disertai berkali-kali buang air besar hingga menyebabkan badan mereka lemas.
Setelah diperiksa, hanya dua orang yang diharuskan menjalani perawatan intensif di Puskesmas Cukir, yakni Saifullah dan Hery Siswanto. Kondisi korban yang rawat inap masih terbaring lemas di atas ranjang hingga Rabu (13/1) siang. Dokter Puskesmas Cukir, dr Ainun Zubaidah, mengatakan, dari hasil uji laboratorium atas sampel muntahan korban, ditemukan populasi kuman cukup tinggi disebabkan makanan busuk yang dikonsumsi korban.
Namun Ainun tidak berani memastikan apakah keluarga ini keracunan makanan. Sebab, kuman juga bisa ditimbulkan dari kondisi lingkungan yang kurang bersih dan sehat.nuto
http://www.surya.co.id/2010/01/14/sekeluarga-keracunan-ayam-bangkai.html
Jombang - Surya- Satu keluarga beranggotakan lima orang asal Dusun Tanggungan, Desa Bandung, Kecamatan Diwek, harus dilarikan ke Puskesmas Cukir, akibat pusing, mual, dan muntaber hebat, Selasa (12/1) malam. Mereka diduga keracunan setelah siangnya menyantap ayam yang diduga bangkai dimasak bumbu bali.
Keluarga yang mengalami keracunan ini adalah pasangan Saifullah, 40, dan Gina, 35, serta tiga anaknya, Hery Siswanto, 15, Rindi, 13, dan Nanda, 10. Mereka mengeluh mual dan muntah disertai berkali-kali buang air besar hingga menyebabkan badan mereka lemas.
Setelah diperiksa, hanya dua orang yang diharuskan menjalani perawatan intensif di Puskesmas Cukir, yakni Saifullah dan Hery Siswanto. Kondisi korban yang rawat inap masih terbaring lemas di atas ranjang hingga Rabu (13/1) siang. Dokter Puskesmas Cukir, dr Ainun Zubaidah, mengatakan, dari hasil uji laboratorium atas sampel muntahan korban, ditemukan populasi kuman cukup tinggi disebabkan makanan busuk yang dikonsumsi korban.
Namun Ainun tidak berani memastikan apakah keluarga ini keracunan makanan. Sebab, kuman juga bisa ditimbulkan dari kondisi lingkungan yang kurang bersih dan sehat.nuto
http://www.surya.co.id/2010/01/14/sekeluarga-keracunan-ayam-bangkai.html
Peternakan Segera Direlokasi
8:41:00 PM
Senin, 11 Januari 2010 , 07:52:00
Soal DAS Manggar yang Tercemar
BALIKPAPAN - Badan Lingkungan Hidup (BLH) menyangkal jika disebut penanganan pencemaran daerah aliran sungai (DAS) Manggar lambat. Ini seperti yang dikatakan oleh Ketua Komisi II DPRD Balikpapan Mukhlis yang menyebut, pemkot terkesan lamban dalam menanganai pencemaran DAS Manggar oleh peternakan, khususnya ternak babi. Mukhlis menilai, masalah pencemaran ini sebenarnya sudah mencuat sejak 2007, tapi belum ada langkah konkret yang diambil pihak eksekutif.
Kepada harian ini Kepala BLH Syahrumsyah kemarin mengatakan, semua pihak yang menyorot masalah pencemaran DAS Manggar harus melihat dari segi persepsi dan prosedur sehingga tidak simpang siur. Pihaknya, kata dia, sudah melakukan dua upaya agar DAS Manggar bisa steril dari peternakan. Yakni, pemkot telah membebaskan lahan di satu kawasan pinggiran kota untuk lokasi pemindahan. Tapi, nyatanya warga setempat menolak kehadiran peternak-peternak tersebut alasannya dapat mengganggu permukiman karena bau dan limbahnya. “Karena adanya penolakan ini, rencana kita jadi terhambat lagi,” katanya kemarin (10/1).
Upaya lain yang juga sudah dilakukan adalah kerja sama dengan salahsatu kabupaten untuk menyediakan lokasi pemindahan. Tapi sayangnya, upaya ini juga gagal. Meski demikian, dia optimistis dalam waktu dekat lokasi peternakan bisa segera dipindahkan. “Mereka (peternak, red) mendukung saja dipindahkan asal ada lokasi,” terangnya. (*/ede)
http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=49437
Soal DAS Manggar yang Tercemar
BALIKPAPAN - Badan Lingkungan Hidup (BLH) menyangkal jika disebut penanganan pencemaran daerah aliran sungai (DAS) Manggar lambat. Ini seperti yang dikatakan oleh Ketua Komisi II DPRD Balikpapan Mukhlis yang menyebut, pemkot terkesan lamban dalam menanganai pencemaran DAS Manggar oleh peternakan, khususnya ternak babi. Mukhlis menilai, masalah pencemaran ini sebenarnya sudah mencuat sejak 2007, tapi belum ada langkah konkret yang diambil pihak eksekutif.
Kepada harian ini Kepala BLH Syahrumsyah kemarin mengatakan, semua pihak yang menyorot masalah pencemaran DAS Manggar harus melihat dari segi persepsi dan prosedur sehingga tidak simpang siur. Pihaknya, kata dia, sudah melakukan dua upaya agar DAS Manggar bisa steril dari peternakan. Yakni, pemkot telah membebaskan lahan di satu kawasan pinggiran kota untuk lokasi pemindahan. Tapi, nyatanya warga setempat menolak kehadiran peternak-peternak tersebut alasannya dapat mengganggu permukiman karena bau dan limbahnya. “Karena adanya penolakan ini, rencana kita jadi terhambat lagi,” katanya kemarin (10/1).
Upaya lain yang juga sudah dilakukan adalah kerja sama dengan salahsatu kabupaten untuk menyediakan lokasi pemindahan. Tapi sayangnya, upaya ini juga gagal. Meski demikian, dia optimistis dalam waktu dekat lokasi peternakan bisa segera dipindahkan. “Mereka (peternak, red) mendukung saja dipindahkan asal ada lokasi,” terangnya. (*/ede)
http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=49437
Korsel Laporkan Penyakit Hewan
7:15:00 PM
Jumat, 08 Januari 2010 00:00 WIB
Korea Selatan melaporkan wabah penyakit kaki dan mulut pada hewan muncul pertama kalinya setelah delapan tahun negara tersebut bebas dari penyakit itu. Akibatnya, petugas bersiap-siap melakukan pembunuhan massal terhadap sapi, babi, dan hewan lainnya untuk menghentikan penyebarannya.
Menurut petugas kementerian agrikultural Korsel, Lee Chang-buhm, enam dari 185 sapi perah yang berada di peternakan Pocheon, sekitar 45 kilometer utara Seoul, terdeteksi positif menderita penyakit kaki dan mulut. Katanya lagi, petugas karantina akan segera membunuh 1.500 babi, 346 sapi perah, dan belasan rusa serta kambing di radius 500 meter dari tempat wabah pertama kali merebak. "Pembunuhan massal akan dilakukan secepatnya," ujar Lee.
Dia juga mengatakan pemerintah akan segera memberlakukan pelarangan atas pergerakan hewan-hewan tersebut. Pemerintah akan memerintahkan segera dilakukan penyemprotan disinfektan pada area-area yang memiliki peternakan hewan-hewan tersebut. Penyemprotan disinfektan akan dilakukan hingga radius 10 kilometer dari tempat wabah pertama merebak.
Penyakit kaki dan mulut merupakan penyakit fatal bagi hewan berkuku belah termasuk sapi, kerbau, babi, dan kambing. Penyakit itu menyebabkan mulut dan kaki hewan melepuh. (*/AP/I-1)
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/08/115796/75/19/Korsel-Laporkan-Penyakit-Hewan
Korea Selatan melaporkan wabah penyakit kaki dan mulut pada hewan muncul pertama kalinya setelah delapan tahun negara tersebut bebas dari penyakit itu. Akibatnya, petugas bersiap-siap melakukan pembunuhan massal terhadap sapi, babi, dan hewan lainnya untuk menghentikan penyebarannya.
Menurut petugas kementerian agrikultural Korsel, Lee Chang-buhm, enam dari 185 sapi perah yang berada di peternakan Pocheon, sekitar 45 kilometer utara Seoul, terdeteksi positif menderita penyakit kaki dan mulut. Katanya lagi, petugas karantina akan segera membunuh 1.500 babi, 346 sapi perah, dan belasan rusa serta kambing di radius 500 meter dari tempat wabah pertama kali merebak. "Pembunuhan massal akan dilakukan secepatnya," ujar Lee.
Dia juga mengatakan pemerintah akan segera memberlakukan pelarangan atas pergerakan hewan-hewan tersebut. Pemerintah akan memerintahkan segera dilakukan penyemprotan disinfektan pada area-area yang memiliki peternakan hewan-hewan tersebut. Penyemprotan disinfektan akan dilakukan hingga radius 10 kilometer dari tempat wabah pertama merebak.
Penyakit kaki dan mulut merupakan penyakit fatal bagi hewan berkuku belah termasuk sapi, kerbau, babi, dan kambing. Penyakit itu menyebabkan mulut dan kaki hewan melepuh. (*/AP/I-1)
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/08/115796/75/19/Korsel-Laporkan-Penyakit-Hewan
Ternyata, Katak Bawa Wabah Salmonella
6:59:00 PM
09/01/2010 23:01
Liputan6.com, Washington: Menurut US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), wabah Salmonella sedang berkembang biak, karena ada 85 kasus infeksi Salmonella di 31 negara yang teridentifikasi, akhir Desember silam. Wabah salmonella sebelumnya dikaitkan pada hewan peliharaan kecil lainnya, seperti kura-kura. Tapi sekarang ini, wabah tersebut juga ditemukan pada katak, terutama kodok kurcaci Afrika. Demikian dilansir HealthDay News, Kamis (7/1).
Kebanyakan infeksi wabah ini terjadi pada anak-anak, kata penulis dan epidemiologi CDC, Shauna Mettee. Tanda-tanda pertama wabah ini terjadi April silam di Utah, tempat pejabat mengidentifikasi lima kasus infeksi Salmonella pada anak-anak. Kasus itu kemudian ditemukan di negara-negara lain, termasuk Colorado, Ohio, New Mexico dan California.
Seperti kura-kura, katak diketahui membawa Salmonella. Penyakit ini diberikan kepada manusia tidak hanya dengan menyentuh katak itu sendiri, tetapi dari air di akuarium. "Ada katak yang terkontaminasi Salmonella melakukan kontak langsung dengan manusia. Bahkan ketika Anda menukar air di akuarium, beberapa
Salmonella tetap berada di dalam air, kerikil akuarium atau permukaan lain di dalam tangki," ujar Mattee.
Saat ini, US Food and Drug Administration melarang penjualan cangkang kura-kura yang panjangnya kurang dari 10 sentimeter, karena memiliki risiko tinggi Salmonella. Mettee tidak mengecilkan hati orang-orang untuk memelihara kodok ini, tetapi penting untuk mengikuti beberapa panduan sederhana agar Anda dan anak-anak terlindung dari wabah. "Jika Anda memiliki kontak dengan kodok, air atau habitat mereka, cuci tangan dengan sabun dan air secara menyeluruh," katanya.
Di samping itu, akuarium tidak boleh dibersihkan di dekat tempat makanan. Jika tangki dibersihkan di bak mandi, bak mandi juga harus dibersihkan dengan pemutih dan air. "Kami juga merekomendasikan, akuarium tidak akan disimpan dalam sebuah kamar tidur anak," tambahnya.
Kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella mengembangkan diare, demam dan kram perut dalam waktu 12 hingga 72 jam setelah kontak dengan kuman. Infeksi biasanya bersih dalam jangka waktu lima hingga tujuh hari. Tapi, infeksi berat dapat terjadi, terutama pada bayi, orang tua dan orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Dalam kasus yang berat, infeksi Salmonella dapat menyebar dari usus ke aliran darah dan bagian lain dari tubuh, dan dapat menyebabkan kematian kecuali jika diberikan antibiotik.
Dr Pascal James Imperato, dari School of Public Health di SUNY Downstate Medical Center di New York, mengatakan, "Sudah lama bahwa katak, penyu, ular dan reptil lain, serta anak ayam dan anak bebek, dapat berfungsi sebagai pembawa sehat berbagai spesies salmonella yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia."(YUS)
http://kesehatan.liputan6.com/berita/201001/258207/Ternyata.Katak.Bawa.Wabah.Salmonella
Liputan6.com, Washington: Menurut US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), wabah Salmonella sedang berkembang biak, karena ada 85 kasus infeksi Salmonella di 31 negara yang teridentifikasi, akhir Desember silam. Wabah salmonella sebelumnya dikaitkan pada hewan peliharaan kecil lainnya, seperti kura-kura. Tapi sekarang ini, wabah tersebut juga ditemukan pada katak, terutama kodok kurcaci Afrika. Demikian dilansir HealthDay News, Kamis (7/1).
Kebanyakan infeksi wabah ini terjadi pada anak-anak, kata penulis dan epidemiologi CDC, Shauna Mettee. Tanda-tanda pertama wabah ini terjadi April silam di Utah, tempat pejabat mengidentifikasi lima kasus infeksi Salmonella pada anak-anak. Kasus itu kemudian ditemukan di negara-negara lain, termasuk Colorado, Ohio, New Mexico dan California.
Seperti kura-kura, katak diketahui membawa Salmonella. Penyakit ini diberikan kepada manusia tidak hanya dengan menyentuh katak itu sendiri, tetapi dari air di akuarium. "Ada katak yang terkontaminasi Salmonella melakukan kontak langsung dengan manusia. Bahkan ketika Anda menukar air di akuarium, beberapa
Salmonella tetap berada di dalam air, kerikil akuarium atau permukaan lain di dalam tangki," ujar Mattee.
Saat ini, US Food and Drug Administration melarang penjualan cangkang kura-kura yang panjangnya kurang dari 10 sentimeter, karena memiliki risiko tinggi Salmonella. Mettee tidak mengecilkan hati orang-orang untuk memelihara kodok ini, tetapi penting untuk mengikuti beberapa panduan sederhana agar Anda dan anak-anak terlindung dari wabah. "Jika Anda memiliki kontak dengan kodok, air atau habitat mereka, cuci tangan dengan sabun dan air secara menyeluruh," katanya.
Di samping itu, akuarium tidak boleh dibersihkan di dekat tempat makanan. Jika tangki dibersihkan di bak mandi, bak mandi juga harus dibersihkan dengan pemutih dan air. "Kami juga merekomendasikan, akuarium tidak akan disimpan dalam sebuah kamar tidur anak," tambahnya.
Kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella mengembangkan diare, demam dan kram perut dalam waktu 12 hingga 72 jam setelah kontak dengan kuman. Infeksi biasanya bersih dalam jangka waktu lima hingga tujuh hari. Tapi, infeksi berat dapat terjadi, terutama pada bayi, orang tua dan orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Dalam kasus yang berat, infeksi Salmonella dapat menyebar dari usus ke aliran darah dan bagian lain dari tubuh, dan dapat menyebabkan kematian kecuali jika diberikan antibiotik.
Dr Pascal James Imperato, dari School of Public Health di SUNY Downstate Medical Center di New York, mengatakan, "Sudah lama bahwa katak, penyu, ular dan reptil lain, serta anak ayam dan anak bebek, dapat berfungsi sebagai pembawa sehat berbagai spesies salmonella yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia."(YUS)
http://kesehatan.liputan6.com/berita/201001/258207/Ternyata.Katak.Bawa.Wabah.Salmonella
Bali Habiskan Rp12 Miliar Cegah Rabies
6:14:00 PM
Sabtu, 9 Januari 2010 12:22 WIB
Denpasar (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Bali menghabiskan dana Rp12 miliar untuk pengadaan vaksin anti rabies (VAR) untuk warga yang digigit anjing selama 2009.
"Pemprov sebenarnya hanya menyiapkan dana Rp5 miliar, sehingga masih berutang ke RSUP Sanglah sebesar Rp7 miliar," kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Denpasar Sabtu, usai pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Bali periode 2009-2014.
Da mengharapkan utang di RSUP itu segera lunas, dan mengakui vaksin yang selama ini disalurkan ke RSUP Sanglah dan rumah sakit lainnya di kabupaten dan kota se-Bali cepat habis.
Padahal harga satu dosis mencapai Rp117.000 dan masyarakat yang digigit anjing minimal mendapat empat suntikan empat, ditambah biaya pelayanan lain paling tidak Rp1 juta.
Pastika menjelaskan, pengadaan VAR hanya cukup untuk memenuhi keperluan 2.000 orang yang tergigit anjing.
Oleh sebab itu masyarakat hendaknya menghindari digigit anjing sebagai upaya mencegah virus rabies dari anjing ke manusia, harap Gubernur Pastika.
Gigitan anjing di Bali dalam setahun sejak November 2008 tercatat 16.680 kali, hampir sama dengan tingkat nasional yang rata-rata 16.000 kasus per tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Sutedja menyebut hal itu membuat persediaan VAR semakin menipis, apalagi penyalur dan distributor VAR hanya dari satu perusahaan. (*)
http://www.antaranews.com/berita/1263014557/bali-habiskan-rp12-miliar-cegah-rabies
Denpasar (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Bali menghabiskan dana Rp12 miliar untuk pengadaan vaksin anti rabies (VAR) untuk warga yang digigit anjing selama 2009.
"Pemprov sebenarnya hanya menyiapkan dana Rp5 miliar, sehingga masih berutang ke RSUP Sanglah sebesar Rp7 miliar," kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Denpasar Sabtu, usai pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Bali periode 2009-2014.
Da mengharapkan utang di RSUP itu segera lunas, dan mengakui vaksin yang selama ini disalurkan ke RSUP Sanglah dan rumah sakit lainnya di kabupaten dan kota se-Bali cepat habis.
Padahal harga satu dosis mencapai Rp117.000 dan masyarakat yang digigit anjing minimal mendapat empat suntikan empat, ditambah biaya pelayanan lain paling tidak Rp1 juta.
Pastika menjelaskan, pengadaan VAR hanya cukup untuk memenuhi keperluan 2.000 orang yang tergigit anjing.
Oleh sebab itu masyarakat hendaknya menghindari digigit anjing sebagai upaya mencegah virus rabies dari anjing ke manusia, harap Gubernur Pastika.
Gigitan anjing di Bali dalam setahun sejak November 2008 tercatat 16.680 kali, hampir sama dengan tingkat nasional yang rata-rata 16.000 kasus per tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Sutedja menyebut hal itu membuat persediaan VAR semakin menipis, apalagi penyalur dan distributor VAR hanya dari satu perusahaan. (*)
http://www.antaranews.com/berita/1263014557/bali-habiskan-rp12-miliar-cegah-rabies
Hutan Menyempit, Orang Utan Nyaris Bunuh Manusia
5:27:00 PM
Minggu, 10 Januari 2010 07:13 WIB
Muara Teweh (ANTARA News) - Seekor orang utan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) hampir menewaskan seorang petani karet bernama Yani (40), warga Desa Lemo II Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.
"Kalau tidak ada penyadap karet lainnya, saya tidak tahu apakah masih hidup atau tidak," kata Yani ketika ditemui di Desa Lemo II Kecamatan Teweh Tengah, Sabtu.
Peristiwa yang baru pertama kali terjadi dipedalaman Kalteng ini terjadi Jumat pagi lalu sekitar pukul 07:00 WIB di Sungai Inun, pedalaman anak Sungai Lemo (anak Sungai Barito).
Orang utan raksasa berkelamin betina bertinggi 2,5 meter dan berat 200 kilogram menyerang korban hingga luka-luka di sekujur tubuhnya akibat gigitan dan cakaran kuku terutama di bagian tangan kiri, pangkal kaki kanan dan dada sebelah kiri.
"Pada bagian kaki kanan ada 20 jahitan dan tangan kiri 10 jahitan," katanya.
Seperti biasanya, pagi itu korban menyadap karet, namun tidak mengetahui keberadaan binatang yang selama ini tidak pernah muncul di sekitar kawasan hutan atau kebun karet rakyat tersebut.
Namun saat dia baru memulai menyadap karet, tiba-tiba dari arah belakang ada `orang` memegang kedua kaki dan tubuhnya kemudian langsung membanting ke belakang.
"Saya terkejut karena saat tiba di kebun karet tidak ada orang selain teman-teman penyadap karet lainnya, namun setelah melihat ternyata seekor orang utan yang besar tiga kali ukuran tubuh orang dewasa," jelasnya.
Ketika terjatuh dari bantingan orang utan, posisi korban tertelantang, saat itu juga binatang tersebut memeluk tubuh pria tersebut sambil menusukan kukunya ke tubuh korban.
Saat itu korban tidak bisa bergerak bahkan mau mengambil mandau (senjata tajam khas suku Dayak) yang biasa digunakan pergi ke hutan terselip di pinggang.
"Bayangkan sepatu plastik yang saya gunakan tembus akibat kuku orang utan itu hingga melukai kaki," katanya.
Meski masih dalam pelukan orang utan, korban masih bisa berteriak meminta bantuan penyadap lain dan datanglah dua orang yang juga keluarga korban, Miswan dan Mulyadi.
Kedua orang langsung menancapkan senjata tajam ke tubuh orang utan itu. Orang utan itu melepaskan korban sambil memandang dua orang penyadap karet tersebut.
"Kedua orang itu sempat lari tidak jauh dari orang utan yang mau mengejar, saya juga mau menyelamatkan diri, namun tidak bisa bergerak karena lemas," tuturnya.
Karena kedua orang itu menjauh, orang utan kembali menerkam Yani yang tergeletak di tanah sambil memeluk erat, ketika itu korban langsung tidak sadarkan diri.
"Saya tidak tahu apa-apa lagi karena pingsan setelah dipeluk kembali oleh orang utan tersebut," katanya.
Sementara seorang penyadap karet lainnya, Miswan mengatakan mereka cukup lama berupaya melumpuhkan orang utan.
Orang utan dilukai lagi ketika memeluk korban, saat itu kaki binatang dipegang dan dilumpuhkan oleh mandau ke tubuhnya.
Binatang itu bertahan dan meronta-ronta. Kedua orang lalu menusukan tombak ke tubuh orang utan sampai cengkeramannya kepada korban terlepas.
"Kami terus menusukan tombak dan mandau ke tubuh orang utan itu hingga jatuh tidak bernyawa lagi," katanya.
Bangkai orang utan itu lalu dibawa ke Desa Lemo II menggunakan perahu bermotor (kelotok).
Untuk membawa orang utan ke dalam kelotok tersebut, warga mengikat tubuh binatang dengan tali kemudian diangkat menggunakan kayu oleh empat orang dewasa.
Menurut warga, orang utan terpaksa masuk ke kawasan perkebunan karet milik masyarakat itu untuk mencari buah-buahan makanannya karena kawasan hutan tempat binatang itu hidup sudah berkurang, diantaranya karena pembukaan lahan oleh perusahaan perkayuan, perkebunan dan pertambangan batubara.
"Warga di sini bisa dikatakan hampir tidak pernah melihat orang utan, karena mereka hidup jauh di hutan," katanya.
Kejadian ini membuat warga setempat dalam beberapa hari terakhir takut menyadap karet, karena teman-teman orang utan lainnya dikhawatirkan masih berkeliaran di sekitar kebun karet warga.
Kepala Seksi Konservai Sumber Daya Alam Wilayah IV Muara Teweh, Yusuf Trismanto mengatakan orang utan yang ada di wilayah Kabupaten Barito Utara habitatnya berada di dalam Cagar Alam Pararawen di Kecamatan Teweh Tengah dan di luar kawasan hutan yang dilindungi itu.
Menurut dia, kehidupan orang utan ini sifatnya berkumpul misalnya satu jantan dan sejumlah jenis betina serta anaknya yang hidup di hutan belentara.
"Binatang ini tidak menganggu, kalau dia tak terusik atau diganggu oleh manusia. Mereka senang hidup di kawasan belantara yang banyak buah-buahan hutan," katanya.
Sedangkan mengenai orang utan yang masuk kawasan kebun karet masyarakat hingga menganggu warga, karena habitatnya terusik dan terganggu akibat aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, tambang batu bara dan pembalakan liar.
Hutan yang menjadi tempat makan binatang itu, kata dia, mulai berkurang sehingga orang utan jauh mencari makan hingga ke luar kawasan hutan atau mendekati perkebunan warga yang banyak buah-buahan hutan.
"Mungkin karena terkejut melihat manusia, binatang itu mengamuk," katanya. Dia mengaku belum meinventarisir populasi urang hutan di salah satu pedalaman Sungai Barito ini. (*)
http://www.antaranews.com/berita/1263082421/hutan-menyempit-orang-utan-nyaris-bunuh-manusia
Muara Teweh (ANTARA News) - Seekor orang utan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) hampir menewaskan seorang petani karet bernama Yani (40), warga Desa Lemo II Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.
"Kalau tidak ada penyadap karet lainnya, saya tidak tahu apakah masih hidup atau tidak," kata Yani ketika ditemui di Desa Lemo II Kecamatan Teweh Tengah, Sabtu.
Peristiwa yang baru pertama kali terjadi dipedalaman Kalteng ini terjadi Jumat pagi lalu sekitar pukul 07:00 WIB di Sungai Inun, pedalaman anak Sungai Lemo (anak Sungai Barito).
Orang utan raksasa berkelamin betina bertinggi 2,5 meter dan berat 200 kilogram menyerang korban hingga luka-luka di sekujur tubuhnya akibat gigitan dan cakaran kuku terutama di bagian tangan kiri, pangkal kaki kanan dan dada sebelah kiri.
"Pada bagian kaki kanan ada 20 jahitan dan tangan kiri 10 jahitan," katanya.
Seperti biasanya, pagi itu korban menyadap karet, namun tidak mengetahui keberadaan binatang yang selama ini tidak pernah muncul di sekitar kawasan hutan atau kebun karet rakyat tersebut.
Namun saat dia baru memulai menyadap karet, tiba-tiba dari arah belakang ada `orang` memegang kedua kaki dan tubuhnya kemudian langsung membanting ke belakang.
"Saya terkejut karena saat tiba di kebun karet tidak ada orang selain teman-teman penyadap karet lainnya, namun setelah melihat ternyata seekor orang utan yang besar tiga kali ukuran tubuh orang dewasa," jelasnya.
Ketika terjatuh dari bantingan orang utan, posisi korban tertelantang, saat itu juga binatang tersebut memeluk tubuh pria tersebut sambil menusukan kukunya ke tubuh korban.
Saat itu korban tidak bisa bergerak bahkan mau mengambil mandau (senjata tajam khas suku Dayak) yang biasa digunakan pergi ke hutan terselip di pinggang.
"Bayangkan sepatu plastik yang saya gunakan tembus akibat kuku orang utan itu hingga melukai kaki," katanya.
Meski masih dalam pelukan orang utan, korban masih bisa berteriak meminta bantuan penyadap lain dan datanglah dua orang yang juga keluarga korban, Miswan dan Mulyadi.
Kedua orang langsung menancapkan senjata tajam ke tubuh orang utan itu. Orang utan itu melepaskan korban sambil memandang dua orang penyadap karet tersebut.
"Kedua orang itu sempat lari tidak jauh dari orang utan yang mau mengejar, saya juga mau menyelamatkan diri, namun tidak bisa bergerak karena lemas," tuturnya.
Karena kedua orang itu menjauh, orang utan kembali menerkam Yani yang tergeletak di tanah sambil memeluk erat, ketika itu korban langsung tidak sadarkan diri.
"Saya tidak tahu apa-apa lagi karena pingsan setelah dipeluk kembali oleh orang utan tersebut," katanya.
Sementara seorang penyadap karet lainnya, Miswan mengatakan mereka cukup lama berupaya melumpuhkan orang utan.
Orang utan dilukai lagi ketika memeluk korban, saat itu kaki binatang dipegang dan dilumpuhkan oleh mandau ke tubuhnya.
Binatang itu bertahan dan meronta-ronta. Kedua orang lalu menusukan tombak ke tubuh orang utan sampai cengkeramannya kepada korban terlepas.
"Kami terus menusukan tombak dan mandau ke tubuh orang utan itu hingga jatuh tidak bernyawa lagi," katanya.
Bangkai orang utan itu lalu dibawa ke Desa Lemo II menggunakan perahu bermotor (kelotok).
Untuk membawa orang utan ke dalam kelotok tersebut, warga mengikat tubuh binatang dengan tali kemudian diangkat menggunakan kayu oleh empat orang dewasa.
Menurut warga, orang utan terpaksa masuk ke kawasan perkebunan karet milik masyarakat itu untuk mencari buah-buahan makanannya karena kawasan hutan tempat binatang itu hidup sudah berkurang, diantaranya karena pembukaan lahan oleh perusahaan perkayuan, perkebunan dan pertambangan batubara.
"Warga di sini bisa dikatakan hampir tidak pernah melihat orang utan, karena mereka hidup jauh di hutan," katanya.
Kejadian ini membuat warga setempat dalam beberapa hari terakhir takut menyadap karet, karena teman-teman orang utan lainnya dikhawatirkan masih berkeliaran di sekitar kebun karet warga.
Kepala Seksi Konservai Sumber Daya Alam Wilayah IV Muara Teweh, Yusuf Trismanto mengatakan orang utan yang ada di wilayah Kabupaten Barito Utara habitatnya berada di dalam Cagar Alam Pararawen di Kecamatan Teweh Tengah dan di luar kawasan hutan yang dilindungi itu.
Menurut dia, kehidupan orang utan ini sifatnya berkumpul misalnya satu jantan dan sejumlah jenis betina serta anaknya yang hidup di hutan belentara.
"Binatang ini tidak menganggu, kalau dia tak terusik atau diganggu oleh manusia. Mereka senang hidup di kawasan belantara yang banyak buah-buahan hutan," katanya.
Sedangkan mengenai orang utan yang masuk kawasan kebun karet masyarakat hingga menganggu warga, karena habitatnya terusik dan terganggu akibat aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, tambang batu bara dan pembalakan liar.
Hutan yang menjadi tempat makan binatang itu, kata dia, mulai berkurang sehingga orang utan jauh mencari makan hingga ke luar kawasan hutan atau mendekati perkebunan warga yang banyak buah-buahan hutan.
"Mungkin karena terkejut melihat manusia, binatang itu mengamuk," katanya. Dia mengaku belum meinventarisir populasi urang hutan di salah satu pedalaman Sungai Barito ini. (*)
http://www.antaranews.com/berita/1263082421/hutan-menyempit-orang-utan-nyaris-bunuh-manusia
Warga Cengkareng Desak Pindah RPH Babi
9:51:00 PM
Rabu, 6 Januari 2010 - 16:58 WIB
CENGKARENG (Pos Kota) – Rumah Potong Hewan (RPH) Babi di Kelurahan kapuk, Kexcamatan Cengkareng didesak warga agar dipindahkan ke lokasi lain atau ditutup.”Toh tidak ada unutungnya palagi manfaatnya baik bagi Pemprov, Dharma Jaya sebagai pengelola merugi terus, sedang bagi warga menahan penderitaan berkepanjangan,” kata Ketua RW 04 Kapuk, Rachmat.
Menurutnya, lebih efisien, jika kebutuhan daging babi untuk warga DKI Jakarta, import atau mendatangkan babi potong dari daerah, ketimbang memiliki RPH tapi tidak bisa merawatnya dan menghamburkan biaya yang besar.
”Sudah 38 tahun Pemprov tidak bisa mengatasi limbahnya, saluran air melimpas ke jalan akibat saluran air tak dibersihkan. Bagaimana mungkin Pemprov akan mewujudka motto Jakarta hijau royo-royo, kecuali hijaunya kotoran babi,” ujar Rachmat kesal.
Rachmat menilai, pemprov tidak punya keseriusan membebanhi wilayah Kelurahan Kapuk sebagi kawasan bersih tertata, tapi justru menunjukan kelemahan Pemprov mengatasinya.”Hampir seluruh saluran air di kawasan bekas peternkan maupun di RPH Babi Kapuk tidak berfungsi. Padahal Flu Babi yang bisa menjangkiti warga sagat berbahaya,” katanya.
Dan yang lebih memprihatinkan limbah pemotongan dari RPH babi masih dibuang ke saluran warga,”Ini yang menyebabkan menimbulkan pencemaran bau tak sedap, dan menimbulkan berbagai bacteri penyakit. Bahayanya lagi jika banjir limbah mencemari lingkungan pemukiman warga.
Kawasan RPH ini setidknya lebih dari 5000KK dari 7 RW yakni RW 01-02-04-05 RW.07 dan RW 010 yang bermukim belum termasuk kelurahan Kedaung Kaliangke RW 01.
”Bisa dibayangkan setiap hari RPH Babi ini memotong 500 ekor sampai 600 ekor babi, limbahnya tidak sedikit dan membusuk di saluran air yang dialirkan ke pemukiman warga. Kami juga meminta DPRD DKI harus bertanggung jawab atas penderitaan warga jangan pura-pura tidak tahu karena sudah puluhan tahun,” harapnya.
Sementara itu Kasubidit Penanganan Kasus Lingkungan Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Barat, Dulles Manurung,mengakui pihaknya belummeneliti kembali, upaya dari Dharma Jaya sebagai pengelola RPH Babi tersebut. ”Walikota Jakarta Barat sudah berupaya membentuk tim,meneliti RPH dan memperingatkan. Kami segera meneliti kembali, ” tegasnya.
Peternakan babi di Kapuk sudah sejak tahun 1962, dan oleh Gubernur Ali Sadikin, dijadikan lokalisasi RPH dengan luas 125 ha dari rencana 250 Ha. Kala itu tak kurang dari 82 peternak menanamkan modalnya berupa 40.000 ekor babi, masing-masing peternak mengelola peternakan di atas lahan 1.500M2 sampai 2.000M2, babi tersebut diperoleh dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Sumatera Utara dan Batam.
Tahun 1997 peternakan ditutup Walikota Jakarta Barat Drs.H,.Sutardjianto, dan kini hanya tinggal RPH yang masih terus berlangsungan meskipun kondisinya memprihatinkan, tap – entah mengapa - tetap dipertahankan Pemprov (herman/dms)
http://www.poskota.co.id/metro/jakbar/2010/01/06/warga-cengkareng-desak-pindah-rph-babi
CENGKARENG (Pos Kota) – Rumah Potong Hewan (RPH) Babi di Kelurahan kapuk, Kexcamatan Cengkareng didesak warga agar dipindahkan ke lokasi lain atau ditutup.”Toh tidak ada unutungnya palagi manfaatnya baik bagi Pemprov, Dharma Jaya sebagai pengelola merugi terus, sedang bagi warga menahan penderitaan berkepanjangan,” kata Ketua RW 04 Kapuk, Rachmat.
Menurutnya, lebih efisien, jika kebutuhan daging babi untuk warga DKI Jakarta, import atau mendatangkan babi potong dari daerah, ketimbang memiliki RPH tapi tidak bisa merawatnya dan menghamburkan biaya yang besar.
”Sudah 38 tahun Pemprov tidak bisa mengatasi limbahnya, saluran air melimpas ke jalan akibat saluran air tak dibersihkan. Bagaimana mungkin Pemprov akan mewujudka motto Jakarta hijau royo-royo, kecuali hijaunya kotoran babi,” ujar Rachmat kesal.
Rachmat menilai, pemprov tidak punya keseriusan membebanhi wilayah Kelurahan Kapuk sebagi kawasan bersih tertata, tapi justru menunjukan kelemahan Pemprov mengatasinya.”Hampir seluruh saluran air di kawasan bekas peternkan maupun di RPH Babi Kapuk tidak berfungsi. Padahal Flu Babi yang bisa menjangkiti warga sagat berbahaya,” katanya.
Dan yang lebih memprihatinkan limbah pemotongan dari RPH babi masih dibuang ke saluran warga,”Ini yang menyebabkan menimbulkan pencemaran bau tak sedap, dan menimbulkan berbagai bacteri penyakit. Bahayanya lagi jika banjir limbah mencemari lingkungan pemukiman warga.
Kawasan RPH ini setidknya lebih dari 5000KK dari 7 RW yakni RW 01-02-04-05 RW.07 dan RW 010 yang bermukim belum termasuk kelurahan Kedaung Kaliangke RW 01.
”Bisa dibayangkan setiap hari RPH Babi ini memotong 500 ekor sampai 600 ekor babi, limbahnya tidak sedikit dan membusuk di saluran air yang dialirkan ke pemukiman warga. Kami juga meminta DPRD DKI harus bertanggung jawab atas penderitaan warga jangan pura-pura tidak tahu karena sudah puluhan tahun,” harapnya.
Sementara itu Kasubidit Penanganan Kasus Lingkungan Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Barat, Dulles Manurung,mengakui pihaknya belummeneliti kembali, upaya dari Dharma Jaya sebagai pengelola RPH Babi tersebut. ”Walikota Jakarta Barat sudah berupaya membentuk tim,meneliti RPH dan memperingatkan. Kami segera meneliti kembali, ” tegasnya.
Peternakan babi di Kapuk sudah sejak tahun 1962, dan oleh Gubernur Ali Sadikin, dijadikan lokalisasi RPH dengan luas 125 ha dari rencana 250 Ha. Kala itu tak kurang dari 82 peternak menanamkan modalnya berupa 40.000 ekor babi, masing-masing peternak mengelola peternakan di atas lahan 1.500M2 sampai 2.000M2, babi tersebut diperoleh dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Sumatera Utara dan Batam.
Tahun 1997 peternakan ditutup Walikota Jakarta Barat Drs.H,.Sutardjianto, dan kini hanya tinggal RPH yang masih terus berlangsungan meskipun kondisinya memprihatinkan, tap – entah mengapa - tetap dipertahankan Pemprov (herman/dms)
http://www.poskota.co.id/metro/jakbar/2010/01/06/warga-cengkareng-desak-pindah-rph-babi
Kotoran Hewan Pun Kini Punya Harga
11:07:00 AM
Sabtu, 2 Januari 2010 | 07:30 WIB
KOMPAS.com - Setelah diuji coba selama 15 hari, pabrik pupuk organik Petroganik, milik Pemerintah Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, siap menggenjot produksi. Kelayakan pabrik pupuk tersebut membuat PT Petrokimia Gresik selaku mitra yakin akan kualitas produk Petroganik.
Selama uji coba, total produksi Petroganik 20 ton. Keseluruhan hasil diserahkan ke Petrokimia guna dicek kandungan unsur haranya. ”Ternyata, mereka sudah oke dan siap menampung. Makanya kami siap menggenjot produksi sesuai kapasitas mesin,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto beberapa waktu lalu di Bantul.
Petroganik diresmikan 7 Oktober 2009 dengan kapasitas 7,5 ton per hari. Bahan baku pupuk organik tersebut dari kotoran sapi, kambing, dan ayam yang diperoleh dari peternak di wilayah Bantul.
Bahan baku pupuk diambil dari seluruh kelompok ternak di Bantul. Untuk kotoran ayam dibeli seharga Rp 350 per kilogram, kotoran sapi dan kambing Rp 250 per kilogram. Nantinya pemerintah akan menetapkan peraturan daerah yang mengatur larangan penjualan kotoran ternak ke luar daerah.
Untuk membeli mesin, Pemerintah Kabupaten Bantul mengeluarkan dana Rp 980 juta. Adapun untuk pembangunan prasarana fisik Rp 700 juta.
Pabrik Petroganik berlokasi di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden. Terdapat tiga mesin produksi di dalam pabrik berdaya listrik 33.000 watt. Wujud fisik Petroganik hampir sama dengan pupuk kimia.
Petroganik dijual kepada Petrokimia Rp 1.400 per kilogram. Oleh Petrokimia pupuk diedarkan ke pasar dengan harga Rp 500 per kilogram. Selisih harga Rp 900 per kilogram disubsidi oleh pemerintah.
Meski dijual ke Petrokimia, sejak awal Pemkab Bantul sudah mengingatkan agar distribusinya diprioritaskan untuk Bantul. Bila Bantul sudah cukup, baru diedarkan ke daerah lain. ”Kami sudah bersusah payah memproduksi pupuk, jangan sampai dinikmati orang lain,” kata Edy.
Pulihkan kesuburan
Bupati Bantul Idham Samawi menjelaskan, kotoran ternak sangat penting untuk memulihkan tingkat kesuburan tanah. Selama ini banyak peternak menjual kotoran ternaknya ke luar daerah karena tidak terserap di Bantul. Akibatnya, manfaat kotoran lebih banyak dinikmati masyarakat luar Bantul.
Padahal, tingkat kesuburan lahan pertanian di Bantul saat ini hanya 60-80 persen. Untuk memulihkannya ke angka 100 persen diperlukan pupuk organik.
Awalnya pupuk organik masih berujud kotoran sapi. Hal ini membuat sebagian petani enggan menggunakannya karena kurang praktis. Alasan itu tidak berlaku lagi karena sudah ada Petroganik.
Idham mengatakan, peraturan daerah sangat penting untuk mengintegrasikan sektor peternakan dan pertanian. Kotoran ternak harus dipakai untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.
”Dulu petani menggunakan pupuk kimia hingga satu ton per hektar. Sekarang perlahan-lahan mulai turun, meski masih sekitar dua kuintal per hektar. Angka itu harus terus ditekan dengan hadirnya Petroganik. Kalau tidak ada langkah penyelamatan, anak cucu kita akan menerima warisan lahan tandus dan gersang karena keserakahan kita,” ujar Idham.
Potensi kotoran ternak di Bantul tergolong tinggi. Satu ekor sapi rata-rata setiap hari menghasilkan 7 kilogram kotoran kering. Di Bantul, populasi sapi potong 49.957 ekor sehingga setiap hari produksi kotoran sapi mencapai 349,7 ton atau senilai Rp 87,4 juta. Jumlah itu masih ditambah dengan kotoran kambing dan domba yang populasinya 61.370 ekor dan ayam sekitar 1 juta ekor.
Jumlah kotoran ternak yang tersedia memang tidak sebanding dengan kapasitas pabrik. Oleh karena itu, diharapkan muncul inisiatif masyarakat untuk mengolah pupuk organik secara swadaya.
Awalnya keprihatinan
Ide awal pendirian pabrik berawal dari keprihatinan Pemerintah Kabupaten Bantul akan tingginya ketergantungan petani pada pupuk kimia. Setiap tahun kuota pupuk yang disediakan selalu tidak cukup. Tiap tahun kebutuhan urea lebih dari 17.000 ton lebih.
”Kalau sedang musim tanam, biasanya kami susah memperoleh urea karena pengecer mengaku kehabisan stok. Dengan hadirnya pabrik pupuk organik secara perlahan kami mulai mengurangi penggunaan urea,” kata Maryono, petani di Bulak Mandingan, Bantul.
Sebelumnya Maryono enggan menggunakan pupuk organik karena merepotkan. Pertama, ia harus mengumpulkan dulu kotoran ternak dan selanjutnya mengangkutnya ke sawah. ”Kalau pupuk kemasan lebih praktis, tidak merepotkan,” ujarnya.
Kehadiran Petroganik juga disambut gembira kalangan peternak. Sarujo (30), misalnya, warga Dusun Banyakan II, Desa Sitimulyo, Piyungan, menegaskan, kotoran sapi yang selama ini dimanfaatkan untuk biogas ternyata masih bisa mendatangkan rezeki.
”Kalau biogas yang dipakai kotoran saat masih baru. Setelah gasnya diambil, kotoran keringnya masih bisa dijual untuk bahan baku Petroganik,” katanya.
Semangat Pemkab Bantul menyinergikan sektor pertanian dan peternakan sepertinya perlu dicontoh daerah lain.
Apalagi, bila pemerintah akhirnya melepaskan subsidi pupuk. Bisa dibayangkan betapa mahalnya harga pupuk kimia dan petani belum disiapkan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Masalah lain adalah lahan pertanian akan semakin rusak karena penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus. (ENY)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2010/01/02/07300795/Kotoran.Hewan.Pun.Kini.Punya.Harga
KOMPAS.com - Setelah diuji coba selama 15 hari, pabrik pupuk organik Petroganik, milik Pemerintah Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, siap menggenjot produksi. Kelayakan pabrik pupuk tersebut membuat PT Petrokimia Gresik selaku mitra yakin akan kualitas produk Petroganik.
Selama uji coba, total produksi Petroganik 20 ton. Keseluruhan hasil diserahkan ke Petrokimia guna dicek kandungan unsur haranya. ”Ternyata, mereka sudah oke dan siap menampung. Makanya kami siap menggenjot produksi sesuai kapasitas mesin,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto beberapa waktu lalu di Bantul.
Petroganik diresmikan 7 Oktober 2009 dengan kapasitas 7,5 ton per hari. Bahan baku pupuk organik tersebut dari kotoran sapi, kambing, dan ayam yang diperoleh dari peternak di wilayah Bantul.
Bahan baku pupuk diambil dari seluruh kelompok ternak di Bantul. Untuk kotoran ayam dibeli seharga Rp 350 per kilogram, kotoran sapi dan kambing Rp 250 per kilogram. Nantinya pemerintah akan menetapkan peraturan daerah yang mengatur larangan penjualan kotoran ternak ke luar daerah.
Untuk membeli mesin, Pemerintah Kabupaten Bantul mengeluarkan dana Rp 980 juta. Adapun untuk pembangunan prasarana fisik Rp 700 juta.
Pabrik Petroganik berlokasi di Dusun Karanganyar, Gadingharjo, Sanden. Terdapat tiga mesin produksi di dalam pabrik berdaya listrik 33.000 watt. Wujud fisik Petroganik hampir sama dengan pupuk kimia.
Petroganik dijual kepada Petrokimia Rp 1.400 per kilogram. Oleh Petrokimia pupuk diedarkan ke pasar dengan harga Rp 500 per kilogram. Selisih harga Rp 900 per kilogram disubsidi oleh pemerintah.
Meski dijual ke Petrokimia, sejak awal Pemkab Bantul sudah mengingatkan agar distribusinya diprioritaskan untuk Bantul. Bila Bantul sudah cukup, baru diedarkan ke daerah lain. ”Kami sudah bersusah payah memproduksi pupuk, jangan sampai dinikmati orang lain,” kata Edy.
Pulihkan kesuburan
Bupati Bantul Idham Samawi menjelaskan, kotoran ternak sangat penting untuk memulihkan tingkat kesuburan tanah. Selama ini banyak peternak menjual kotoran ternaknya ke luar daerah karena tidak terserap di Bantul. Akibatnya, manfaat kotoran lebih banyak dinikmati masyarakat luar Bantul.
Padahal, tingkat kesuburan lahan pertanian di Bantul saat ini hanya 60-80 persen. Untuk memulihkannya ke angka 100 persen diperlukan pupuk organik.
Awalnya pupuk organik masih berujud kotoran sapi. Hal ini membuat sebagian petani enggan menggunakannya karena kurang praktis. Alasan itu tidak berlaku lagi karena sudah ada Petroganik.
Idham mengatakan, peraturan daerah sangat penting untuk mengintegrasikan sektor peternakan dan pertanian. Kotoran ternak harus dipakai untuk mengembalikan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan.
”Dulu petani menggunakan pupuk kimia hingga satu ton per hektar. Sekarang perlahan-lahan mulai turun, meski masih sekitar dua kuintal per hektar. Angka itu harus terus ditekan dengan hadirnya Petroganik. Kalau tidak ada langkah penyelamatan, anak cucu kita akan menerima warisan lahan tandus dan gersang karena keserakahan kita,” ujar Idham.
Potensi kotoran ternak di Bantul tergolong tinggi. Satu ekor sapi rata-rata setiap hari menghasilkan 7 kilogram kotoran kering. Di Bantul, populasi sapi potong 49.957 ekor sehingga setiap hari produksi kotoran sapi mencapai 349,7 ton atau senilai Rp 87,4 juta. Jumlah itu masih ditambah dengan kotoran kambing dan domba yang populasinya 61.370 ekor dan ayam sekitar 1 juta ekor.
Jumlah kotoran ternak yang tersedia memang tidak sebanding dengan kapasitas pabrik. Oleh karena itu, diharapkan muncul inisiatif masyarakat untuk mengolah pupuk organik secara swadaya.
Awalnya keprihatinan
Ide awal pendirian pabrik berawal dari keprihatinan Pemerintah Kabupaten Bantul akan tingginya ketergantungan petani pada pupuk kimia. Setiap tahun kuota pupuk yang disediakan selalu tidak cukup. Tiap tahun kebutuhan urea lebih dari 17.000 ton lebih.
”Kalau sedang musim tanam, biasanya kami susah memperoleh urea karena pengecer mengaku kehabisan stok. Dengan hadirnya pabrik pupuk organik secara perlahan kami mulai mengurangi penggunaan urea,” kata Maryono, petani di Bulak Mandingan, Bantul.
Sebelumnya Maryono enggan menggunakan pupuk organik karena merepotkan. Pertama, ia harus mengumpulkan dulu kotoran ternak dan selanjutnya mengangkutnya ke sawah. ”Kalau pupuk kemasan lebih praktis, tidak merepotkan,” ujarnya.
Kehadiran Petroganik juga disambut gembira kalangan peternak. Sarujo (30), misalnya, warga Dusun Banyakan II, Desa Sitimulyo, Piyungan, menegaskan, kotoran sapi yang selama ini dimanfaatkan untuk biogas ternyata masih bisa mendatangkan rezeki.
”Kalau biogas yang dipakai kotoran saat masih baru. Setelah gasnya diambil, kotoran keringnya masih bisa dijual untuk bahan baku Petroganik,” katanya.
Semangat Pemkab Bantul menyinergikan sektor pertanian dan peternakan sepertinya perlu dicontoh daerah lain.
Apalagi, bila pemerintah akhirnya melepaskan subsidi pupuk. Bisa dibayangkan betapa mahalnya harga pupuk kimia dan petani belum disiapkan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Masalah lain adalah lahan pertanian akan semakin rusak karena penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus. (ENY)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2010/01/02/07300795/Kotoran.Hewan.Pun.Kini.Punya.Harga
Virus SARS Lebih Bahaya dari Flu Babi
12:23:00 PM
Selasa, 29/12/2009 18:00 WIB
Nurul Ulfah - detikHealth
Jakarta, Flu babi (H1N1) memang lebih banyak menelan korban jiwa dibanding penyakit sindrom pernafasan akut parah atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Namun dari sisi keganasan dan kemudahan penyebarannya, SARS lebih berbahaya dari flu babi.
Kemunculan SARS memang sebentar, namun penyakit SARS tidak bisa dianggap sepele. Kasus infeksi SARS pertama kali ditemukan di Provinsi Guangdong, China pada November 2002. Pada Februari 2003 virus telah menyebar secara global sehingga dalam kurun waktu 3-4 bulan sudah menginfeksi 8.096 orang dan menewaskan 774 jiwa.
Sementara itu hingga Desember 2009, World Health Organisation (WHO) mencatat total kasus kematian akibat flu babi sebanyak 11.749 jiwa. Meski jumlah kematian akibat flu babi lebih banyak daripada penyakit SARS, namun ilmuwan sepakat virus SARS lebih berbahaya.
Pakar biomedik, Dr Andi Yasmon, SPi, M.Biomed mengatakan banyak ilmuwan yang berspekulasi virus ini akan muncul lagi dalam bentuk yang berbeda karena kemudahannya melakukan mutasi dan jumping hospes (perpindahan inang) antar spesies.
"Kita tinggal tunggu waktunya saja karena menurut teori virologi, virus yang masuk kategori zoonist (bisa berpindah dari hewan ke manusia) akan terus bermutasi dan akan muncul lagi walaupun sudah pernah dimusnahkan. Akan selalu ada emerging virus," jelas Dr Andi di sela-sela acara sidang disertasinya yang digelar di FKUI Salemba, Jakarta, Selasa (29/12/2009).
SARS disebabkan oleh virus baru yang merupakan anggota Coronavirus dan gejalanya tidak banyak berbeda dengan flu burung atau babi, yaitu demam tinggi, sulit bernafas tapi disertai dengan batuk kering dan gejala pneumonia (radang paru-paru).
"Tapi virus ini lebih berbahaya, bahkan dari flu babi. Itu karena virus ini gampang terbawa udara dan bisa bertahan lama sekitar 2-3 minggu dalam tubuh dan bisa menular pada manusia," kata Andi yang baru mendapat gelar doktor di bidang ilmu biomedik di Universias Indonesia.
Berbeda dengan manusia yang tingkat mutasinya sangat rendah, makhluk hidup yang bernama virus justru memiliki kemampuan mutasi yang sangat tinggi.
"Proses sintesis DNA pada virus tidak punya program perbaikan jika terjadi kesalahan sintesis, jadi kalau salah ya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi dan muncullah virus baru. Bayangkan kalau sistem DNA manusia sama seperti virus, bisa-bisa tangan ada di kepala dan kepala ada di kaki. Jadi beruntunglah menjadi manusia," ujar Andi.(fah/ir)
http://health.detik.com/read/2009/12/29/180018/1268056/763/virus-sars-lebih-bahaya-dari-flu-babi
Nurul Ulfah - detikHealth
Jakarta, Flu babi (H1N1) memang lebih banyak menelan korban jiwa dibanding penyakit sindrom pernafasan akut parah atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Namun dari sisi keganasan dan kemudahan penyebarannya, SARS lebih berbahaya dari flu babi.
Kemunculan SARS memang sebentar, namun penyakit SARS tidak bisa dianggap sepele. Kasus infeksi SARS pertama kali ditemukan di Provinsi Guangdong, China pada November 2002. Pada Februari 2003 virus telah menyebar secara global sehingga dalam kurun waktu 3-4 bulan sudah menginfeksi 8.096 orang dan menewaskan 774 jiwa.
Sementara itu hingga Desember 2009, World Health Organisation (WHO) mencatat total kasus kematian akibat flu babi sebanyak 11.749 jiwa. Meski jumlah kematian akibat flu babi lebih banyak daripada penyakit SARS, namun ilmuwan sepakat virus SARS lebih berbahaya.
Pakar biomedik, Dr Andi Yasmon, SPi, M.Biomed mengatakan banyak ilmuwan yang berspekulasi virus ini akan muncul lagi dalam bentuk yang berbeda karena kemudahannya melakukan mutasi dan jumping hospes (perpindahan inang) antar spesies.
"Kita tinggal tunggu waktunya saja karena menurut teori virologi, virus yang masuk kategori zoonist (bisa berpindah dari hewan ke manusia) akan terus bermutasi dan akan muncul lagi walaupun sudah pernah dimusnahkan. Akan selalu ada emerging virus," jelas Dr Andi di sela-sela acara sidang disertasinya yang digelar di FKUI Salemba, Jakarta, Selasa (29/12/2009).
SARS disebabkan oleh virus baru yang merupakan anggota Coronavirus dan gejalanya tidak banyak berbeda dengan flu burung atau babi, yaitu demam tinggi, sulit bernafas tapi disertai dengan batuk kering dan gejala pneumonia (radang paru-paru).
"Tapi virus ini lebih berbahaya, bahkan dari flu babi. Itu karena virus ini gampang terbawa udara dan bisa bertahan lama sekitar 2-3 minggu dalam tubuh dan bisa menular pada manusia," kata Andi yang baru mendapat gelar doktor di bidang ilmu biomedik di Universias Indonesia.
Berbeda dengan manusia yang tingkat mutasinya sangat rendah, makhluk hidup yang bernama virus justru memiliki kemampuan mutasi yang sangat tinggi.
"Proses sintesis DNA pada virus tidak punya program perbaikan jika terjadi kesalahan sintesis, jadi kalau salah ya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi dan muncullah virus baru. Bayangkan kalau sistem DNA manusia sama seperti virus, bisa-bisa tangan ada di kepala dan kepala ada di kaki. Jadi beruntunglah menjadi manusia," ujar Andi.(fah/ir)
http://health.detik.com/read/2009/12/29/180018/1268056/763/virus-sars-lebih-bahaya-dari-flu-babi
Warga Sukatani Protes Kandang Ayam
1:01:00 PM
Sabtu, 26 Desember 2009 - 10:03 WIB
DEPOK (Pos Kota)- Puluhan Warga Sukatani, Cimanggis Depok, Sabtu pagi ini demo memprotes peternakan ayam yang ada di permukiman penduduk. Bahkan sebelumnya di lokasi tersebut sudah ada perang spanduk yang isinya pro dan kontra soal keberadaan peternakan ayam tersebut.
Menurut warga sebetulnya, sudah ada SK Walikota Depok agar kandang ayam tersebut ditutup. Namun pemilik menolaknya bahkan menggugatnya ke pengadilan dan hingga kini masih dalam proses persidangan.
Sumarwan, satu warga mengatakan, selama ini keberadaan kandang ayam tersebut membuat mereka resah karena menimbulkan bau terutama pada musim hujan seperti sekarang.
Namun diakui, kandang ayam tersebut sudah ada sebelum permukiman penduduk padat seperti sekarang.
“Betul kandang ayam itu sudah ada sejak lama. Namun kan dalam perkembangannya sesuai dengan peruntukan, sekarang Sukatani berkembang jadi perumahan, seharusnya ini jadi pertimbangan,”tambah Bambang warga lain. (binsar)
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/12/26/warga-sukatani-protes-kandang-ayam
DEPOK (Pos Kota)- Puluhan Warga Sukatani, Cimanggis Depok, Sabtu pagi ini demo memprotes peternakan ayam yang ada di permukiman penduduk. Bahkan sebelumnya di lokasi tersebut sudah ada perang spanduk yang isinya pro dan kontra soal keberadaan peternakan ayam tersebut.
Menurut warga sebetulnya, sudah ada SK Walikota Depok agar kandang ayam tersebut ditutup. Namun pemilik menolaknya bahkan menggugatnya ke pengadilan dan hingga kini masih dalam proses persidangan.
Sumarwan, satu warga mengatakan, selama ini keberadaan kandang ayam tersebut membuat mereka resah karena menimbulkan bau terutama pada musim hujan seperti sekarang.
Namun diakui, kandang ayam tersebut sudah ada sebelum permukiman penduduk padat seperti sekarang.
“Betul kandang ayam itu sudah ada sejak lama. Namun kan dalam perkembangannya sesuai dengan peruntukan, sekarang Sukatani berkembang jadi perumahan, seharusnya ini jadi pertimbangan,”tambah Bambang warga lain. (binsar)
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/12/26/warga-sukatani-protes-kandang-ayam
4:21:00 PM
Read On
0
comments
Konsumsi Daging Berlebih, Jalan Menuju Kanker Usus
By Republika Newsroom
Rabu, 02 Desember 2009 pukul 10:50:00
Font Size A A A
Email EMAIL
Print PRINT
Facebook
Bookmark and Share
Konsumsi Daging Berlebih, Jalan Menuju Kanker UsusCORBIS
HEWANI: Makanan tinggi lemak terutama dari hewani, daging merah yang dibakar serta makanan cepat saji merupakan faktor yang memperbesar risiko kanker usus besar atau kolon.
JAKARTA--Dibandingkan pria, kaum wanita terhitung sedikit mengonsumsi daging. Sebagian besar kaum wanita juga cenderung memahami efek negatif yang terjadi bila mengonsumsi daging secara berlebih.
Ironisnya, sebagian besar pria yang cenderung mengonsumsi daging berlebih tidak tahu efek negatifnya. Demikian kesimpulan yang riset yang dilakukan World Cancer Research Fund (WRCF) baru-baru ini.
Berdasarkan survei yang dilakukan WRCF, dari 1000 sukarelawan yang terdiri dari pria dan wanita ini disebutkan hanya 36% pria yang mengerti dampak negatif dari mengkonsumsi daging. Sementara untuk perempuan sedikit lebih baik dengan prosentase 41% perempuan yang mengerti efek negatif dari mengkonsumsi daging.
Di Inggris, total 50 gram daging dihabiskan kaum pria dalam sehari. Sedangkan, kaum perempuannya jauh lebih baik dengan hanya menghabiskan daging rata-rata 24 gram dalam sehari.
Catatan angka tersebut dinilai para kalangan medis di Inggris sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, berdasarkan prediksi WCRF peningkatan jumlah kasus kanker terkait konsumsi daging berlebih terjadi bila rata-rata masyarakat mengkonsumsi daging lebih dari 50 gram sehari. Hal itu secara otomatis meningkatkan angka perbandingan yang semula 5 : 100 menjadi 6:100.
Kalangan medis di Inggris juga meramalkan jumlah kasus kanker usus bisa ditekan bila rata-rata masyarakat mengkonsumsi daging kurang dari 70 gram dalam sehari.
Perlu diketahui, WRCF dalam risetnya juga menyebutkan, konsumsi daging berlebih merupakan awal jalan menuju kanker. Makanan seperti Bacon, Ham, Salami dan lainnya merupakan pemicu resiko kanker. Bahkan, ERCF mencatat, mengkonsumsi bacon memperbesar resiko terkena kanker sebesar 20%.
Manager Program, WRCFm Rachel Thompson, seperti yang dilansir dari Telegraph, Selasa (1/12), menyatakan bukti terkait peningkatan angka kasus kanker usus sebagai akibat mengkonsumsi daging berlebih sangat kuat. Sebabnya, pihak WRCF merekomendasikan masyarakat untuk mengurangi konsumsi daging dalam sehari.
"Meski memiliki bukti kuat, perhatian yang terhitung minim dan terutama dari kalangan pria harus mendapatkan perhatian lebih. Pria lebih banyak mengkonsumsi daging ketimbang perempuan, mereka akan bisa membuat perubahan besar bila mengurangi konsumsi daging," tegasnya
Dia menambahkan, adalah penting bagi pihaknya untuk merekomdasikan minimalisasi konsumsi daging. Memang tidak perlus secara ekstrim untuk menghentikan konsumsi daging, tapi mengurangi jauh lebih penting.
"Jika anda tidak berharap untuk menyerah, anda bisa lakukan perubahan untuk mencegah risiko kanker usus dengan cara mengurangi. Sebagai contoh, boleh mengkonsumsi bacon setiap hari tapi setengah porsi saja, setengahnya lagi berikan pada pasangan,"pungkasnya. cr2/rin
http://www.republika.co.id/berita/92979/Konsumsi_Daging_Berlebih_Jalan_Menuju_Kanker_Usus
By Republika Newsroom
Rabu, 02 Desember 2009 pukul 10:50:00
Font Size A A A
Email EMAIL
Print PRINT
Bookmark and Share
Konsumsi Daging Berlebih, Jalan Menuju Kanker UsusCORBIS
HEWANI: Makanan tinggi lemak terutama dari hewani, daging merah yang dibakar serta makanan cepat saji merupakan faktor yang memperbesar risiko kanker usus besar atau kolon.
JAKARTA--Dibandingkan pria, kaum wanita terhitung sedikit mengonsumsi daging. Sebagian besar kaum wanita juga cenderung memahami efek negatif yang terjadi bila mengonsumsi daging secara berlebih.
Ironisnya, sebagian besar pria yang cenderung mengonsumsi daging berlebih tidak tahu efek negatifnya. Demikian kesimpulan yang riset yang dilakukan World Cancer Research Fund (WRCF) baru-baru ini.
Berdasarkan survei yang dilakukan WRCF, dari 1000 sukarelawan yang terdiri dari pria dan wanita ini disebutkan hanya 36% pria yang mengerti dampak negatif dari mengkonsumsi daging. Sementara untuk perempuan sedikit lebih baik dengan prosentase 41% perempuan yang mengerti efek negatif dari mengkonsumsi daging.
Di Inggris, total 50 gram daging dihabiskan kaum pria dalam sehari. Sedangkan, kaum perempuannya jauh lebih baik dengan hanya menghabiskan daging rata-rata 24 gram dalam sehari.
Catatan angka tersebut dinilai para kalangan medis di Inggris sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, berdasarkan prediksi WCRF peningkatan jumlah kasus kanker terkait konsumsi daging berlebih terjadi bila rata-rata masyarakat mengkonsumsi daging lebih dari 50 gram sehari. Hal itu secara otomatis meningkatkan angka perbandingan yang semula 5 : 100 menjadi 6:100.
Kalangan medis di Inggris juga meramalkan jumlah kasus kanker usus bisa ditekan bila rata-rata masyarakat mengkonsumsi daging kurang dari 70 gram dalam sehari.
Perlu diketahui, WRCF dalam risetnya juga menyebutkan, konsumsi daging berlebih merupakan awal jalan menuju kanker. Makanan seperti Bacon, Ham, Salami dan lainnya merupakan pemicu resiko kanker. Bahkan, ERCF mencatat, mengkonsumsi bacon memperbesar resiko terkena kanker sebesar 20%.
Manager Program, WRCFm Rachel Thompson, seperti yang dilansir dari Telegraph, Selasa (1/12), menyatakan bukti terkait peningkatan angka kasus kanker usus sebagai akibat mengkonsumsi daging berlebih sangat kuat. Sebabnya, pihak WRCF merekomendasikan masyarakat untuk mengurangi konsumsi daging dalam sehari.
"Meski memiliki bukti kuat, perhatian yang terhitung minim dan terutama dari kalangan pria harus mendapatkan perhatian lebih. Pria lebih banyak mengkonsumsi daging ketimbang perempuan, mereka akan bisa membuat perubahan besar bila mengurangi konsumsi daging," tegasnya
Dia menambahkan, adalah penting bagi pihaknya untuk merekomdasikan minimalisasi konsumsi daging. Memang tidak perlus secara ekstrim untuk menghentikan konsumsi daging, tapi mengurangi jauh lebih penting.
"Jika anda tidak berharap untuk menyerah, anda bisa lakukan perubahan untuk mencegah risiko kanker usus dengan cara mengurangi. Sebagai contoh, boleh mengkonsumsi bacon setiap hari tapi setengah porsi saja, setengahnya lagi berikan pada pasangan,"pungkasnya. cr2/rin
http://www.republika.co.id/berita/92979/Konsumsi_Daging_Berlebih_Jalan_Menuju_Kanker_Usus
Panggang Ikan Agar Manfaat Maksimal
3:21:00 PM
Kamis, 19 November 2009 10:00 WIB
Penulis : Ikarowina Tarigan
IKAN memang baik bagi kesehatan. Namun, jika Anda ingin manfaat maksimal yang sehat, perhatikanlah cara memasak. Menurut studi yang dilakukan para peneliti dari University of Hawaii, manfaat ikan akan maksimal jika dipanggang atau merebus dibandingkan dengan ikan yang digoreng atau ikan kering yang diasinkan. Selain itu, studi ini juga menemukan kalau menambah kecap rendah sodium atau tahu, baik untuk perempuan.
"Ikan rebus atau panggang dengan kecap rendah sodium dan tahu terlihat menguntungkan, sedang makan ikan goreng, bergaram atau ikan kering tidak. Pada faktanya, cara memasak juga berpengaruh terhadap risiko kesehatan Anda," tutur penulis studi Lixin Meng, seperti dikutip situs healthday.
Menurut pengakuan Meng, mereka tidak membandingkan ikan panggang atau ikan rebus dengan ikan kering asin secara langsung. Tetapi, terang dia, semua orang bisa melihat dari rasio risiko. Ikan panggang atau ikan rebus berada dalam jalur yang bersifat melindungi sedang ikan goreng tidak.
Kedelai
Dalam studi ini, para peneliti mempelajari sumber, tipe, jumlah dan frekuensi asupan diet omega-3 di antara 82.243 laki-laki dan 103.884 perempuan di Los Angeles County dan Hawaii. Partisipan berusia 45-75 dan tidak memiliki sejarah penyakit jantung. Selama 11.9 tahun masa follow-up, terdapat 4.516 kematian yang berkaitan dengan penyakit jantung.
Peneliti menemukan, laki-laki yang paling banyak mengonsumsi asam lemak omega-3 (sekitar 3.3 gram per hari) berisiko 23 persen lebih rendah mengalami kematian akibat gangguan jantung dibandingkan mereka yang hanya makan 0.8 gram per hari.
"Pada laki-laki, kita bisa melihat dengan jelas kalau semakin tinggi asupan omega-3, maka semakin rendah risiko kematian akibat penyakit jantung." Sedang pada perempuan, lanjut Meng, hubungan antara asupan asam lemak omega-3 dan pengurangan risiko kematian akibat jantung tidak terlihat jelas.
Akan tetapi, terang Meng lagi, studi menemukan manfaat sehat yang jelas pada perempuan yang mengonsumsi banyak kecap kedelai dan tahu."Menurut dugaan saya, untuk perempuan, omega-3 dari kecap kedelai dan tahu yang juga mengandung komponen aktif lainnya seperti fitoestrogen, mempunyai efek perlindungan jantung yang lebih kuat dibandingkan dengan mengonsumsi omega-3 saja."(OL-O8)
http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2009/11/19/1842/2/Panggang-Ikan-Agar-Manfaat-Maksimal
Penulis : Ikarowina Tarigan
IKAN memang baik bagi kesehatan. Namun, jika Anda ingin manfaat maksimal yang sehat, perhatikanlah cara memasak. Menurut studi yang dilakukan para peneliti dari University of Hawaii, manfaat ikan akan maksimal jika dipanggang atau merebus dibandingkan dengan ikan yang digoreng atau ikan kering yang diasinkan. Selain itu, studi ini juga menemukan kalau menambah kecap rendah sodium atau tahu, baik untuk perempuan.
"Ikan rebus atau panggang dengan kecap rendah sodium dan tahu terlihat menguntungkan, sedang makan ikan goreng, bergaram atau ikan kering tidak. Pada faktanya, cara memasak juga berpengaruh terhadap risiko kesehatan Anda," tutur penulis studi Lixin Meng, seperti dikutip situs healthday.
Menurut pengakuan Meng, mereka tidak membandingkan ikan panggang atau ikan rebus dengan ikan kering asin secara langsung. Tetapi, terang dia, semua orang bisa melihat dari rasio risiko. Ikan panggang atau ikan rebus berada dalam jalur yang bersifat melindungi sedang ikan goreng tidak.
Kedelai
Dalam studi ini, para peneliti mempelajari sumber, tipe, jumlah dan frekuensi asupan diet omega-3 di antara 82.243 laki-laki dan 103.884 perempuan di Los Angeles County dan Hawaii. Partisipan berusia 45-75 dan tidak memiliki sejarah penyakit jantung. Selama 11.9 tahun masa follow-up, terdapat 4.516 kematian yang berkaitan dengan penyakit jantung.
Peneliti menemukan, laki-laki yang paling banyak mengonsumsi asam lemak omega-3 (sekitar 3.3 gram per hari) berisiko 23 persen lebih rendah mengalami kematian akibat gangguan jantung dibandingkan mereka yang hanya makan 0.8 gram per hari.
"Pada laki-laki, kita bisa melihat dengan jelas kalau semakin tinggi asupan omega-3, maka semakin rendah risiko kematian akibat penyakit jantung." Sedang pada perempuan, lanjut Meng, hubungan antara asupan asam lemak omega-3 dan pengurangan risiko kematian akibat jantung tidak terlihat jelas.
Akan tetapi, terang Meng lagi, studi menemukan manfaat sehat yang jelas pada perempuan yang mengonsumsi banyak kecap kedelai dan tahu."Menurut dugaan saya, untuk perempuan, omega-3 dari kecap kedelai dan tahu yang juga mengandung komponen aktif lainnya seperti fitoestrogen, mempunyai efek perlindungan jantung yang lebih kuat dibandingkan dengan mengonsumsi omega-3 saja."(OL-O8)
http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2009/11/19/1842/2/Panggang-Ikan-Agar-Manfaat-Maksimal
