Rabu, 1 Juli 2009 | 11:37 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu
DEPOK, KOMPAS.com - Mahalnya obat di Indonesia akibat bahan baku obat sekitar 95 persennya mengandalkan impor. Kondisi tersebut tentu saja memprihatinkan jika mengingat potensi keanekaragaman hayati Indonesia yang diposisikan pada nomor dua dunia.
Padahal di hutan tropis Indonesia ada 30.000 spesies tumbuhan. Sebanyak 9.600 spesies di antaranya diketahui berkhasiat obat, tetapi baru 200 yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri obat tradisional.
Kenyataan tersebut disampaikan Atiek Soemiati dalam pengukuhan dirinya sebagai Guru besar Tetap Imu Farmasi pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia di Depok, Rabu (1/7). Ia menyampaikan pidato pengukuhan berjudul Potensi Mikroba Endofit Dalam Eksplorasi Bahan Baku Obat Yang Ramah Lingkungan.
Atiek menjelaskan, Indonesia mengimpor sebanyak 250 jenis bahan baku obat senilai Rp 6 triliun per tahun. Pasakon bahan baku impor didominasi Cina sebanyak 75 persen, India 20 persen, dan sisanya dari Eropa. "Sebagian besar industri farmasi Indonesia tidak tertarik pada bidang penelitian dan pengembangan bahan baku obat. Mereka hanya menganggarkan 0,5-1 persen untuk riset dan pengembangan," ujar Atiek.
Saat ini Indonesia tidak memiliki industri bahan baku farmasi. Sebenarnya Indonesia pernah punya industri bahan obat sintetis yaitu paracetamol dan acetosal, tetapi kemudian tutup karena bahan bakunya masih impor, sehingga harganya lebih mahal dari negara lain.
Menurut Atiek, untuk memutus mata rantai impor salah satunya dengan cara mengaplikasikan hasil riset lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi dalam negeri. Pemerintah juga mesti membantu penelitian produk obat baru, khususnya untuk penyakit menular, serta membantu pengembangan industri farmasi supaya lebih mandiri.
Selain itu, insentif perpajakan atau bea cukai, serta perlunya proteksi pemerintah terhadap bahan baku obat. Sebagai contoh, di Amerika Serikat memberikan subsidi industri farmasi sebesar 15 persen.
http://www.kompas.com/read/xml/2009/07/01/1137354/Bahan.Baku.Obat.di.Indonesia.Andalkan.Impor

Post a Comment