Kamis, 18 Juni 2009 | 20:39 WIB
TEMPO Interaktif, Bandung:Hasil rating dikhawatirkan bisa menamatkan program berita di televisi. Soalnya, kata Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Imam Wahyudi, para pemilik media jadi mengganggap tayangan berita kurang banyak ditonton sehingga seret iklan. ”Di mata programmer TV, hasil rating itu tidak benar,” katanya, saat berbicara di seminar rating publik di Universitas Padjadajaran, Bandung, Kamis (18/6).
Menurut dia, pemilik stasiun televisi di Tanah Air tidak bisa menghapus acara berita dari layar kaca. Alasannya, frekuensi televisi yang dipakai adalah milik masyarakat. ”Publik berhak mendapat informasi atau berita,” tandasnya.
Imam juga meminta agar pemilik televisi tak hanya berpatokan pada hasil rating yang kini diartikan mencakup seluruh acara, bukan per program. ”Lihat juga kesesuaian jumlah penonton dan target iklannya,” katanya. Cara pandang seperti itu, imbuhnya, sekarang banyak diterapkan untuk program acara non-berita.
Sementara itu, dari hasil rating publik ke-4 yang dibuat yayasan SET, TIFA, dan IJTI, yang dipaparkan hari ini, program berita televisi dipilih 212 responden sebagai salah satu program terbaik. Di seluruh stasiun TV, program berita bersanding dengan acara hiburan, sinetron, juga talkshow.
ANWAR SISWADI
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/06/18/brk,20090618-182692,id.html

Post a Comment