Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Semua Orang Berisiko Sakit Hati Golongan C

Labels: ,
Kamis, 11 Juni 2009 | 11:18 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pria itu kita sebut saja Amin. Perawakannya tergolong kurus tinggi. Namun, perutnya mengalami pembengkakan. Bila sore, ia terlihat duduk di beranda rumahnya. Orang sekampungnya pun terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Pria dengan perut membesar itu hanya bisa berjalan perlahan atau duduk-duduk saja. Salah satu tetangga menyebut pria paruh baya itu mengidap kelainan hati. Namun, tak jelas virus apa yang menyerangnya. Mungkin karena tinggal di perkampungan, tak ada informasi lebih dalam mengenai penyakit itu. Apalagi kemudian pria itu tak bisa lagi bertahan dan mengembuskan napas terakhirnya.

Derita pada hati, yang dikenal dengan sebutan hepatitis, sesungguhnya bisa dipicu oleh beberapa jenis virus. Hingga kini ada tujuh virus yang diberi nama sesuai abjad: A, B, C, D, E, G, dan TT. Perbedaannya terletak pada derajat infeksi dan kerusakan jangka panjang yang ditimbulkan. Tentunya tak ada yang lebih baik, semua menyakitkan. Sebab, menyebabkan peradangan hingga kanker pada hati. Paling umum ditemukan kasusnya adalah hepatitis A, B, dan C. Di antara ketiga jenis hepatitis ini, cuma virus hepatitis C yang belum ditemukan vaksin pencegahannya.

Padahal penularan virus hepatitis C (VHC) begitu cepat. Ditambah virus ini amat produktif, per hari bisa mencapai 10 triliun virus. Tak hanya itu, secara genetik juga bervariasi. Dengan angka mutasi tinggi pula, sering muncul virus mutan yang dapat menghindar dari antibodi tubuh. VHC juga tak pandang bulu. Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dr Unggul Budihusodo, SpPD-KEGH(K), pun menyebutkan, semua orang berisiko tertular virus hepatitis C. Bahaya pun mengancam hati karena termasuk organ tubuh terpenting--fungsinya saja mencapai 500 poin.

Ia menjelaskan, virus menyebar melalui darah dan cairan tubuh, serta masuk melalui, seperti transfusi darah, hubungan seks yang tidak aman, tato, tindik, juga injeksi. Ia menempel pada manusia tanpa menimbulkan keributan. "Sebanyak 90 persen kasus hampir tanpa gejala," katanya. Ia menambahkan, kondisi ini meningkatkan risiko penularan hepatitis C yang tidak disadari oleh pembawa virus.

Virus ini pun sudah menjelajahi dunia. Menurut data Badan Kesehatan Dunia, penduduk yang terkena virus itu sekitar 3 persen atau 170 juta orang, dengan 3-4 juta kasus baru setiap tahunnya. Dengan mengacu pada data tersebut, menurut Unggul, diprediksi penderita hepatitis C di Indonesia mencapai 7 juta orang. Tanpa vaksin, tak pandang bulu, dan tanpa gejala menyebabkan penyakit ini menyebar dengan cepat. Apalagi jika dibiarkan, penderitanya akan mengalami hepatitis kronis, pengerasan hati, hingga kanker hati. "Kondisi ini akan memperberat beban kesehatan, ekonomi, dan sosial," ujarnya beberapa waktu yang lalu.

Data di Amerika Serikat, yang dikutip dari Hepatitis Center, menunjukkan, dalam 10-20 tahun hepatitis C kronis bisa menjadi beban kesehatan karena penderita dalam level ringan beranjak ke kelas berat dan akhirnya menderita kanker hati. Karena itu, dalam kurun waktu tersebut ada kenaikan 60 persen insiden kanker hati, 68 persen kenaikan hepatoma (kanker hati primer), dan 279 persen lonjakan dekompensasi hati--di mana fungsi hati sangat buruk: 528 persen kenaikan kebutuhan untuk transplantasi dan 223 persen peningkatan kematian karena penyakit hati.

Unggul menjelaskan bahwa hepatitis C kronis adalah peradangan hati yang telah menahun serta bisa memicu kerusakan sel hati, yang kemudian menjadi sirosis (pengerasan hati), gagal fungsi hati, dan kanker hati yang berujung pada kematian. "Perjalanannya dapat berlangsung hingga 20-30 tahun," ia mengingatkan. Ujung-ujungnya, 80 persen hati yang terinfeksi akan masuk ke dalam fase kronis. Dari jumlah tersebut, sering kali 25 persennya akan mengalami sirosis dan kanker hati.

Hati adalah organ terbesar kedua di dalam tubuh setelah kulit. Beratnya sekitar 1,25 kilogram. Dengan ukuran sebesar bola rugby, manusia tak dapat hidup tanpanya. Kerusakan menghambat kemampuan hati untuk melawan infeksi serta menjalankan fungsi lainnya. Karena itu, pemeriksaan dini sangat penting. Unggul menyatakan dengan memahami siapa pun berisiko terkena hepatitis C, orang harus mencegah penyebaran lebih lanjut dengan cara tersebut. "Karena pemeriksaan diri secara mandiri juga membuka peluang keberhasilan penatalaksanaan penyakit. Meski dapat menyebabkan komplikasi berat, kemajuan pengobatan memberi peluang besar bagi yang terinfeksi untuk sembuh," ujar Unggul memberi harapan.

Dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ini menyebutkan, keberhasilan pengobatannya mencapai 85 persen, meski bergantung pada faktor usia, jenis kelamin, berat badan, serta jumlah dan tipe virus. Ia menjabarkan, semakin tua usia akan semakin sulit diobati, kemudian peluang perempuan sembuh lebih besar daripada laki-laki. Lantas kelebihan berat badan juga membuat keberhasilan sembuh lebih rendah.

RITA

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/06/11/brk,20090611-181322,id.html
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts