Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Kemakmuran Ala Sepotong Burger

22/07/2009 - 10:31

INILAH.COM, Jakarta - Selain pendapatan penduduk per kapita, ternyata harga sepotong burger bisa dipakai untuk mengukur kemakmuran penduduk sebuah negara. Pekan lalu, majalah The Economist mengeluarkan indeks Big Mac terbaru. Hasilnya mengejutkan.

Amerika, berdasarkan daya beli terhadap Big Mac, masih diperingkat pertama. China dan India mampu menggungguli negara-negara Eropa. Bagaimana dengan Indonesia yang pendapatan per kapitanya cuma US$ 2.000? Cukup membanggakan.

Berdasarkan peringkat kesepadanan daya beli itu, kekayaan Indonesia lebih tinggi dari Thailand, Taiwan, dan Iran. Lebih dari itu, ternyata Indonesia pun lebih “kaya” daripada Australia, Belanda, dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Selama ini, kemakmuran penduduk sebuah negara ditentukan berdasarkan pendapatan per kepala (GDP dibagi jumlah penduduk). Namun angka-angka itu dicurigai tak mencerminkan daya beli masing-masing mata uang tiap negara.

Kenyataan itulah yang membuat para ekonom dunia mencoba mencari cara lain untuk menemukan nilai tukar mata uang yang bisa mendekati kekuatan ekonomi suatu negara secara relatif akurat.

Majalah The Economist termasuk salah satu pejuang kesepadanan daya beli ini. Sejak 1986, majalah ini menyusun daftar nilai tukar mata uang tiap negara terhadap dolar menurut kesepadanan daya beli.

Untuk memperoleh kesepadanan tersebut, The Economist mengambil harga hamburger dari McDonald’s (Big Mac). Alasannya, Big Mac dijual di 120 negara, dengan ongkos produksi dan harga jual yang kira-kira sepadan.

Yang menarik adalah perhitungan nilai tukar yang dilakukan The Economist menurut harga jual Big Mac. Dolar AS terhadap rupiah, umpamanya, menurut perhitungan Big Mac tersebut pada 2009 ini, US$ 1 hanyalah sama dengan Rp 5.854.

Di pasar uang Jakarta, sedolar Amerika akan ditukar dengan sekitar Rp 10.200. Ini berarti, menurut The Economist, harga Big Mac di Jakarta lebih murah 43% dibandingkan harga di Amerika.

Memang, kesepadanan daya beli bukannya tanpa kelemahan. Perhitungan yang didasarkan rasio harga barang dan jasa yang sama ini melupakan ongkos angkut barang.

Juga, kalkulasi ini mengabaikan budaya dalam belanja. Dengan demikian, membandingkan kekayaan kedua masyarakat berdasarkan hamburger itu bisa kurang akurat. [E1]

http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2009/07/22/131241/kemakmuran-ala-sepotong-burger/
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts