Gerakan Konsumen Indonesia
The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing. (Kejahatan hanya bisa terjadi ketika orang baik tidak berbuat apa-apa). ---Edmund Burke

Ketika CCTV Tidak Bermanfaat

2009-07-10

Petugas operator Trafic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya tengah memantau arus lalu lintas wilayah Jakarta dari layar monitor di kantor TMC, Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

eberapa tahun terakhir ini, keberadaan CCTV (closed-circuit television) di Indonesia mulai sering disebut-sebut dan dirasakan perlu. Apalagi, sejak rangkaian peristiwa bom yang melanda Bali dan Jakarta. Dalam sebuah peristiwa besar pada bulan Mei 2009 yang melibatkan seorang pejabat KPK, kembali CCTV disebut sebagai alat yang dapat membantu petugas kepolisian dalam mengurai sebagian dari peristiwa yang terjadi.

Akan tetapi, benarkah CCTV dapat membantu petugas keamanan, kepolisian, dan pemilik gedung ? Ataukah malah keberadaan CCTV hanya sekadar mengikuti peraturan pemerintah tanpa tujuan khusus yang ingin dicapai?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, di bawah ini akan diuraikan terlebih dahulu mengenai komponen-kompenen yang ada di dalam suatu sistem CCTV.

Komponen pertama dalam sistem CCTV adalah kamera yang dilengkapi dengan lensa. Kamera dengan bantuan lensa berfungsi untuk menangkap gambar objek, mengubah informasi optik ini menjadi sinyal listrik (disebut sinyal video) yang selanjutnya akan di-transmisikan untuk diproses oleh unit pemroses dan juga untuk ditampilkan di monitor.

Unit pemroses sinyal video ada bermacam-macam jenisnya. Yang umum kita kenal adalah digital video recorder (DVR), yaitu suatu unit yang menerima sinyal video dari satu kamera atau lebih kemudian memproses sinyal-sinyal ini sehingga satu gambar atau lebih dapat ditampilkan di satu layar monitor atau lebih. Gambar yang ditampilkan dapat berupa gambar satu layar penuh dari satu kamera atau gambar dari beberapa kamera sekaligus (gambar hasil multiplexing). Gambar dapat ditampilkan diam atau tampil bergantian dari satu kamera bergilir ke kamera berikutnya sampai akhir dan kemudian kembali ke gambar awal lagi dan seterusnya. Selain menampilkan gambar, DVR juga melakukan proses perekaman (recording) sinyal-sinyal video ini ke media rekam yang dimilikinya, umumnya menggunakan media harddisk.

Sebagai komponen penangkap gambar, kamera dan lensa harus dipasang di tempat yang tepat, yakni di titik pengamatan yang tepat. Jika kamera dipasang di depan, tapi penyusup masuk dari belakang, apa gunanya kita memasang kamera CCTV? Artinya, waktu mendesain sistem CCTV pertama kali, Anda harus bisa menentukan dengan tepat di titik mana saja Anda harus menempatkan kamera. Selain itu, Anda juga harus memilih lensa yang tepat untuk bisa merekam objek yang dibutuhkan. Hal lain yang tak kalah penting adalah pilihan terhadap jenis kamera yang tepat. Hal ini penting karena dengan kamera yang tepat maka informasi gambar yang dibutuhkan pun bisa diperoleh baik pada waktu siang atau malam hari saat daerah sekitar kamera menjadi gelap. Di sisi lain, alat pemroses CCTV juga turut menentukan berfungsi tidaknya CCTV sesuai harapan. Tak berfungsinya sistem CCTV bisa bersumber dari kesalahan setting salah satu atau beberapa komponen CCTV, tidak ada perawatan atas sistem CCTV yang dimiliki, dan juga tidak ada kejelasan program keamanan dari pemilik sistem CCTV.

Kesalahan setting pada kamera dapat mengakibatkan tidak berfungsinya fitur-fitur penting yang dimiliki kamera. Misalnya fungsi day/night pada kamera tertentu. Kamera day/night ini dapat melihat objek dengan jelas, baik pada siang hari maupun pada malam hari hanya dengan melakukan setting pada kamera. Jika tidak dilakukan, kamera akan memperlihatkan gambar yang gelap pada malam hari. Fungsi ini hanya dimiliki oleh kamera-kamera tertentu yang harganya lebih mahal dari kamera biasa. Setting yang salah pada lensa mengakibatkan Anda mendapat gambar yang lebih lebar atau lebih sempit pada layar monitor.

Selain itu, perlu diingat, sebagai alat elektronik, komponen CCTV mempunyai umur pakai tertentu. Perawatan yang baik atas sistem CCTV akan menambah umur pakai alat tersebut. Tanpa perawatan, dapat saja peralatan CCTV mendadak 'mogok kerja' di tengah operasional hariannya.

Hal penting lain yang seringk dilupakan oleh pemilik sistem CCTV adalah tujuan pengadaan sistem CCTV itu sendiri. Sistem CCTV adalah alat bantu elektronik dari suatu sistem keamanan yang melibatkan orang dan prosedur. Jika hanya punya CCTV tanpa memiliki orang yang terlatih dalam bidang keamanan dan tanpa prosedur keamanan, hanya akan menjadikan sistem CCTV sebuah barang mahal yang manis untuk dipajang. Karena itu, sebelum membeli dan memasang sistem CCTV, tentukanlah terlebih dahulu tujuan yang jelas dari sistem keamanan yang Anda miliki. Kemudian, tentukan juga tujuan dari komponen-komponen sistem keamanan yang Anda miliki. Jika sudah tiba pada kesimpulan untuk memiliki dan memasang sistem CCTV, rencanakanlah dengan baik penempatan titik-titik kamera, tentukan jumlah kamera yang harus dipasang, pilih jenis-jenis kamera yang harus dipasang, tentukan jenis lensa yang harus dipakai, rancang jalur kabel, pilih jenis alat pemroses, dan seterusnya. Susun juga anggarannya. Sebaiknya, Anda berkonsultasi dengan orang yang ahli di bidang ini untuk mendapatkan masukan-masukan yang dibutuhkan.

Memasang sistem CCTV ibarat memasang tangga darurat di gedung tinggi. Tangga darurat sering dirasa tidak berguna, menghabiskan tempat, dan menguras kantong. Tapi, siapa yang tidak lari ke tangga darurat saat terjadi kebakaran atau gempa bumi? Ingat, memiliki sistem CCTV bisa mengakibatkan pemborosan jika tidak direncanakan dengan baik.

Reiner Francis, Praktisi CCTV, tinggal di Jakarta

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=9119
0 comments:

Post a Comment

Selamat Datang

Blog ini diproyeksikan untuk menjadi media informasi dan database gerakan konsumen Indonesia. Feed-back dari para pengunjung blog sangat diharapkan. Terima kasih.

Followers


Labels

Visitors

You Say...

Recent Posts