Senin, 6 Juli 2009 | 18:31 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Eny Prihtiyani
BANTUL, KOMPAS.com - Belum banyak petani Bantul yang melirik singkong sebagai komoditas pertanian. Rendahnya nilai tukar singkong dan minimnya perhatian pemerintah terhadap teknologi pengembangan singkong menjadi faktor penyebabnya. Padahal, kebutuhan singkong di Bantul cukup tinggi, khususnya untuk industri gatot-tiwul.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Edy Suharyanto, Senin (6/7) mengatakan, selama ini petani hanya menanam singkong di lahan-lahan marjinal seperti di daerah pegunungan. Di Bantul ada lima kecamatan yang memiliki wilayah pegunungan yakni Dlingo, Imogiri, Pajangan, Pundong, dan Piyungan.
Petani tidak mau menanam singkong di lahan produktif persawahan karena hasilnya tidak terlalu menjanjikan. Mereka memiilih menanam padi atau jenis palawija lainnya, katanya.
Nilai tukar singkong saat ini hanya berkisar Rp 1.000-Rp 1.400 per kilogram. Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kedelai yang mencapai Rp 5.000/Kg dan jagung Rp 4.000/Kg. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, luas areal tanam singkong tahun 2008 tercatat 2.556 hektar dengan produktivitas 114,69 kuintal/hektar. Total produksi singkong sepanjang tahun lalu mencapai 29.141 ton.
Edy menambahkan, selain faktor harga jual, petani-petani di Bantul juga belum merasa kepepet. Bila kondisi sudah terdesak, petani bisa saja memanfaatkan lahan di sekitar rumah dan lahan pasir. Petani Bantul sudah merasa tercukupi dengan mengandalkan lahan persawahan mereka, katanya.
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/07/06/18315687/Tak.Banyak.Petani.yang.Mau.Tanam.Singkong

Post a Comment